Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Pertanyaan?


__ADS_3

..."Nah, apa lagi yang kalian butuhkan? Aku yakin kalian punya sesuatu untuk ditanyakan."...


POV: Seas


Aku tersenyum kikuk saat mendengar perkataan Rex, dia benar-benar punya insting yang tajam. Aku mengeluarkan dagger baru yang dihadiahkan oleh Ron. Mataku menatap tajam ke arah Rex, saat mata kami bertatapan, aku langsung melemparkan dagger itu ke arahnya.


WUSH!


TAP!


"Wah? Apa ini termasuk pengkhianatan? Menyerang kepala seolah secara langsung itu adalah perbuatan buruk," ucap Rex santai sambil memegang bilah dagger milikku. Rex benar-benar seorang monster, dia bisa menangkap dagger yang kulempar dengan kecepatan tinggi.


"Aku hanya bermain-main Rex," ucapku lalu duduk di sofa depan meja Rex.


"Seperti yang kau lihat, kami mendapat senjata baru. Dan ... ini tentang ujian-," ucapku terpotong karena Rex menyela pembicaraanku.


"Aku tidak akan membocorkan informasi sedikitpun~," ucap Rex langsung.


"Aku juga tau! Aku bukan ingin menanyakan hal itu!" balasku dengan ekspresi kesal.


Aku bukanlah orang yang suka kecurangan, begini-begini aku adalah pembunuh yang adil!


...


Tunggu- memang membunuh itu termasuk adil ya? Ah sudahlah.


"Hoo, jadi apa yang mau kau tanyakan?" tanya Rex dengan senyuman. Aku melirik ke arah Valeria dan Sky lalu mengisyaratkan agar mereka duduk di sampingku.


"Aku hanya ingin minta saranmu, apa yang harus kami persiapkan sebelum ujian?" tanyaku dengan ekspresi yang polos. Rex tiba-tiba jadi kaku, lalu menundukkan kepalanya. Tubuhnya bergetar tapi dia tidak bersuara.


"... Apa kau tertawa?" tanyaku dengan nada malas. Dan benar saja, Rex langsung mengangkat kepalanya sambil mengelap air mata yang jatuh di sana.


"Aku hanya tidak menyangka, kau akan meminta saran seperti ini. Bukankah kau anak yang pintar? Harusnya kau tau apa yang harus kau lakukan, iya 'kan? Rubah putih?" ucap Rex dengan senyum lebarnya.


Sebutan itu lagi. Siapa yang menyebarkannya sih? Aku tidak menyukainya, itu sangat jelek.


"Aku sudah memikirkannya, tapi kami berselisih pendapat, jadi agar adil ... kami akan mempertimbangkan saran darimu," ucapku lagi. Rex mengangguk pelan lalu menatap ke arah plafon. Sepertinya dia sedang berpikir.

__ADS_1


CTAK!


Rex menjentikkan jarinya, beberapa pria dengan jas hitam masuk sambil membawa peralatan minum teh. Sepertinya dia kecanduan teh ya? 


"Aku tidak bisa berpikir jika haus," ucap Rex tanpa melihat ke arahku. Sebenarnya aku ingin menanyakan tentang sebutan 'Rubah Putih' itu, tapi aku terlalu gugup untuk menanyakannya.


"Hmm, kalian pasti sudah tau tujuan dari diadakannya ujian ini bukan? Aku yakin X sudah menjelaskannya pada kalian," ucap Rex lalu menyeruput teh dengan uap yang masih mengepul itu.


Trak.


Para pria dengan jas hitam itu juga memberi teh pada kami. Tapi aku sedikit ragu saat hendak meminumnya, kenangan terakhir aku memegang gelas ini ... aku hampir mati keracunan. Berbeda dengan Valeria dan Sky, mereka meminumnya tanpa ragu. Kalau Valeria sih, aku tidak begitu yakin. Tapi jika Sky bisa meminumnya dengan bebas, artinya ini tidak beracun.


"Iya, kami sudah mendengarnya dari X," ucapku sambil mengambil gelas yang berisi teh di depanku. Aku mulai meminumnya dengan pelan, rasa teh ini masih sama sejak dulu. Sepertinya ini teh kesukaan Rex?


"Sebenarnya, ujian ini juga punya satu lagi tujuan khusus. Yaitu memasukkan kalian ke dalam ranking pembunuh," ucap X dengan ekspresi yang serius. Aku mengernyitkan keningku, kata-kata itu pertama kali kudengar.


"Singkatnya, itu adalah ranking yang memberi peringkat pada seluruh pembunuh di dunia, Ada beberapa sebutan untuk mereka, 1000 besar disebut dengan 1000 bintang. 100 besar disebut dengan 100 bulan. Dan 10 besar disebut dengan 10 matahari," jelas Rex secara singkat. Aku mulai mengangguk paham, jadi pembagian kekuatan antar para pembunuh adalah dengan menggunakan sistem ranking.


"Yah, tapi ini hanyalah angka yang menunjukan kekuatan kalian secara umum. Banyak hal yang bisa berubah di pertarungan yang sebenarnya, pengalaman, keberuntungan, strategi. Ada begitu banyak faktor yang tidak dimasukkan dalam ranking ini," tambah Rex lagi. Dia mulai menyeruput tehnya sambil menutup mata. Saat sedang meminum teh, aku bisa melihat bahwa dia tengah melihatku.


"Sebenarnya Seas tidak perlu mengikuti ujian ini juga tidak apa-apa," ucap Rex lagi. Tentu saja aku langsung terkejut. Bukankah ini adalah ujian yang harus dilakukan seluruh kelas pemula?


"Lalu bagaimana dengan Valeria dan Sky?" tanyaku pada Rex, dia menggelengkan kepalanya, artinya mereka tidak masuk ke dalam ranking.


"Lupakan, aku tidak peduli. Jadi apa saranmu?" tanyaku dengan nada yang cuek. Jika aku terus melanjutkan topik ini, aku takut akan melukai perasaan Valeria dan Sky.


"Hmmm, ini cukup sulit menjelaskannya," ucap Rex sambil menutup mata dan memanyunkan bibirnya. Dia kemudian tersentak, seperti teringat sesuatu. Tangannya mulai mencari ke sekitar mejanya, lalu ke lokernya.


"Nah, daripada kalian bingung. Lebih baik kalian kuberi misi baru!" ucap Rex dengan senyum cerah khas miliknya. Bayangkan sendiri senyuman om-om, tapi Rex masih tetap tampan sih walaupun om-om.


"Tunggu- KAU BILANG MISI?! KENAPA KAU MEMBERI KAMI MISI LAGI?!" tanyaku sambil berteriak. Rex hanya tertawa puas lalu menatapku dengan seringai.


"Jangan khawatir. Aku jamin misi ini akan membantu perkembangan kalian," ucap Rex sambil menautkan jari-jarinya. Dia duduk bersandar di kursinya sambil memutarnya.


"Kami tidak mau Rex, ujiannya tinggal sebentar lagi," ucapku dengan nada memelas.


"Aku bisa menunda ujiannya sampai kalian kembali," balas Rex dengan cepat. Aku, Valeria dan Sky langsung melongo saat mendengarnya. Bukankah ini namanya penyalahgunaan kekuasaan?

__ADS_1


"Bukankah ini tidak adil untuk tim lain?" tanya Sky dengan nada yang cemas.


"Benar, bisa-bisa mereka mengira kita melakukan penyuapan," ucap Valeria. Aku mengangguk setuju setelah mendengarkan mereka berdua.


"Kenapa tidak adil? Mereka tidak mengambil inisiatif untuk bertanya padaku. Mereka lebih memilih untuk berlatih dengan cara mereka sendiri. Sedangkan kalian? Memiliki inisiatif bertanya saat menemui jalan buntu, bahkan berani berbicara santai padaku. Bukankah ini cukup sebagai hadiahnya?" ucap Rex lembut. Aku hanya diam sambil menatap Rex.


"Bukankah mereka takut bertanya padamu karena kau selalu menolak mereka?" tanyaku dengan nada curiga.


"Aku tidak bisa melakukan apapun tentang itu. Asal kau tau, sejak pagi ini saja sudah ada sekitar 10 orang yang ingin meminta data soal ujiannya, ah ... maksudku hendak mencurinya," ucap Rex dengan senyum tanpa beban.


"A-apa?" Sky menganga tidak percaya.


"Pergilah, jangka waktunya tidak lama. Kembalilah setelah misi," ucap Rex lalu mengambil seputung rokok. Dalam satu hembusan nafas, pandangan kami tiba-tiba menjadi gelap.


Saat kami sadar, kami sudah ada di lantai bawah.


***


POV: Rex


Cklik.


"Tidak biasanya kau baik, Rex?" tanya X yang masuk lewat jendela. Rex hanya diam sambil menatap jendela.


"Aku tidak sebaik itu kok~ hahahaha," balas Rex dengan senyuman.


"Kertas misi yang kuserahkan pada mereka. Adalah kertas yang penting, kalau mereka tidak berhati-hati. Mereka akan dirampok di jalan nanti," ucap Rex lalu menaruh rokok yang baru terbakar setengah.


"Apa? Jangan-jangan ..." X menatap Rex dengan curiga.


"Kau benar." Rex membalikkan kursinya, dia menatap X dengan tatapan yang buas.


..."Pertarungan informasi, dimulai sekarang."...


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!

__ADS_1


Oh dan mungkin ini update terakhir di bulan ini ya guys! Maaf banget! Aku mau namatin novel pendekku dulu!


Bagi yang mau baca, judulnya Pacarku Putri Seorang Mafia, mampir yuk!


__ADS_2