Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Berangkat!


__ADS_3

POV: Author


Langit sudah menjelang malam, sinar jingga matahari sore menerpa mata X yang tidur di atap rumah. Dia mulai membuka matanya lalu menguceknya beberapa kali.


X menguap sambil menutup mulutnya lalu berkata, "Sudah jam segini? Waktunya membangunkan mereka!"


X melompat turun ke arah balkon di bawahnya dan masuk ke kamar itu. Terlihat seorang anak laki-laki berambut putih yang tertidur nyenyak di balik selimut.


"AYO BANGUN!" X menarik selimut dengan cepat, membuat anak itu seketika terbangun.


"Kita akan berangkat?" ucapnya dengan mata sayu. X tertawa kecil lalu mengacak-acak rambut anak itu.


"Bangunkan temanmu, Seas." X kemudian keluar dari kamar Seas. Setelah X keluar dari kamarnya, Seas segera bangun dan merapikan pakaiannya.


"Baiklah! Ayo kita bangunkan mereka dengan spektakuler!" ucap Seas pada dirinya sendiri. Seas mengambil sebuah stun gun dan pisau belati. Dia melompat keluar dari balkon sambil berpegangan di pagar.


"Seingatku itu kamar Valeria!" ucap Seas. Dia bergelantungan dan bersiap melempar stun gun yang sudah dia nyalakan.


"Hup!" Seas berhasil melemparkan stun gun itu, beruntung jendela Valeria terbuka, jadi stun gun yang Seas lemparkan masuk dengan mulus.


"AAAAAAA!"


Seas tertawa lepas saat mendengar teriakan Valeria.


"SEAS SIALAN! KE SINI KAU!" Valeria terbangun lalu pergi ke arah jendela dengan rambut yang bermekaran. Seas tertawa semakin kencang karena penampilan Valeria.


Cklek.


Seas terdiam ... dia merasakan sebuah firasat yang tidak menyenangkan. Matanya melihat ke arah Valeria, ternyata Valeria mengeluarkan pistol.


"Tu-tunggu Val! Jangan menembak!" ucap Seas dengan nada takut. Valeria tersenyum miring, dia mengarahkan pistolnya ke arah Seas.


Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!


"DASAR CEWEK GILA! AAAAAA! SKY TOLONG AKUU!" Seas melepaskan pegangannya dari pagar balkon dan mendarat, dia berlarian di pinggir rumah sambil dikejar oleh peluru Valeria.


Dor! Dor! Dor! Dor! Cklek.

__ADS_1


Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!


Valeria menembak tanpa ampun, rasa senang terpampang jelas di wajahnya, sementara di atas atap, X masih memperhatikan adik kelasnya bermain-main.


***


POV: Sky


Dor! Dor! Dor!


Orang gila, bagaimana aku bisa tidur jika suaranya seperti ini?! Aku bangun dengan kesal lalu membuka jendelaku.


"HEI ORANG-ORANG SIALAN! BISAKAH KALIAN JANGAN RIBUT?!" teriakku pada Seas dan Valeria. Mereka terdiam sesaat, lalu melanjutkan lagi aksi tembak-menembak.


Ah, tidak. Sepertinya ini bisa disebut dengan penembakan satu arah. Seas sama sekali tidak mahir menggunakan pistol. Aku melihat ke arah atap.


"X? Apa yang kau lakukan di sana?" tanyaku padanya. Dia menatapku lalu melambaikan tangan.


"Sedang menikmati drama pembunuh~," ucapnya sambil tersenyum. Aku menatap X sambil tersenyum canggung, tidak ada yang waras di sini.


"Hei kalian berdua! Sebaiknya cepat bersiap-siap, kita akan segera berangkat!" ucapku pada Seas dan Valeria. Mereka mengangguk bersamaan. Valeria segera masuk lagi ke dalam kamar, sedangkan Seas sudah berlari ke arah pintu masuk.


Modelnya memang sedikit mirip dengan seragam Seas, tapi seragamku lebih banyak kantung karena harus membawa berbagai macam alat.


Setelah selesai, aku segera turun. Aku sudah melihat bahwa Seas dan Dev sedang berbicara di ruang tengah.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanyaku ikut bergabung dalam pembicaraan mereka. Seas menoleh ke arahku, begitu juga dengan Dev.


"Ah, temanmu ini bertanya seperti apa negara Valord dan Evagiria itu," ucap Dev menjelaskan padaku. Aku mengangguk mengerti.


"Negara Valord adalah negara yang terkenal dengan saljunya. Sejujurnya, negara ini mengalami musim dingin tanpa henti. Tapi anehnya, flora dan fauna negara ini bisa menyesuaikan iklim. Karena itu negara Valord mempunyai fauna yang unik," ucap Dev sambil menunjuk sebuah tupai ... TUNGGU?! KENAPA BULU TUPAI ITU SANGAT TEBAL?! ASTAGA ITU SANGAT IMUT! SEPERTI BUNTELAN KAPAS.


"Dan kalian coba makan ini." Dev memberikan sebuah buah berwarna merah padaku dan Seas. Kami berdua memakannya.


Rasanya ... hangat? Bagaimana bisa?! Apa kandungan gula bisa membuat buah ini begitu hangat?


"Ini adalah salah satu buah khas negara Valord, rasanya hangat saat kau menelannya bukan? Buah ini sangat bermanfaat saat perjalanan panjang kita nanti," ucap Dev menunjukkan beberapa karung yang berisi buah ini. Aku dan Seas melongo, apakah butuh sebanyak ini?

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan negara Evagiria?" tanya Valeria tiba-tiba. Rupanya dia sudah turun dari kamarnya.


"Hmm, kekaisaran Evagiria itu terkenal dengan teknologinya. Bukan hal yang mustahil jika kalian menemukan mobil terbang atau bahkan robot di sana," ucap Dev sambil tersenyum simpul. Kami bertiga melotot saat Dev tersenyum. Sejak kemarin Dev hanya melihat kami dengan tatapan datar!


"Yap! Itu benar! Senjata yang kebanyakan kita gunakan, itu didesain di negara Evagiria! Karena itu kita memiliki sebuah hubungan khusus dengan negara Evagiria!" ucap X yang tiba-tiba muncul di belakang kami. Seas yang terkejut segera melompat ke arahku, dan aku jadi harus menggendongnya ... Sial, dia berat.


"Turunlah! Apakah kau tidak sadar kau itu berat?" ucapku pada Seas, dia berdehem lalu turun dari gendonganku.


"Kalau aku berat, kenapa waktu itu kau bisa menggendongku sampai keluar asrama?" tanya Seas sambil memanyunkan bibirnya.


"Waktu itu kau sangat kurus, aku tidak bohong. Sekarang kau jadi semakin berat," ucapku pada Seas. Tapi memang benar, saat pertama kali aku melihatnya dulu, dia sangat kurus. Mungkin dia mengalami sebuah shock mental sebelumnya hingga kehilangan berat badan secara drastis tanpa dia sadari.


Yah, yang pasti. Keadaannya sekarang sudah jauh lebih baik.


"Baiklah! Ayo kita bersiap berangkat!" ucap X penuh semangat. Kami mengangguk dan sudah menyiapkan tas kami.


"Semakin dekat dengan ibukota, semakin banyak salju yang menumpuk. Dan pasti suhu udara juga semakin dingin, pastikan kalian memakai baju yang cukup hangat," ucap Dev pada kami. Seas memakai sebuah syal berwarna hitam di lehernya, begitu juga dengan Valeria yang memakai penghangat telinga.


Aku sudah memakai jaket yang cukup tebal, ini sudah cukup kan? Lagipula saat kita berlari nanti, kita akan berkeringat.


***


Aku sangat lelah! Nafasku tak beraturan, kenapa Seas dan Valeria masih bisa berlari?!


"Tu ... tunggu. B-bisakah ... kalian lebih pe ... lan?" ucapku sambil terengah-engah. Mereka berhenti lalu menatapku dengan bingung.


"Kau kenapa?" tanya Valeria sambil berlari kecil ke arahku. Saljunya sudah semakin tebal, ini sudah setebal mata kaki.


"Jaketmu terlalu tebal, itu sangat berat, kan?" tanya Seas sambil tersenyum ke arahku. Yah, dia benar. Jaket ini rasanya sangat berat.


Dan aku juga tak pernah melakukan aktifitas fisik yang melelahkan seperti ini!


"Um ... Seas, tolong gendong aku," ucapku dengan sedikit malu. Seas menatapku dengan sedikit terkejut.


"Apa?"


..."Aku akan menggendongmu."...

__ADS_1


TBC.


__ADS_2