
POV: Alio
Aku benar-benar tidak menyangka kita akan menang. Seas sepertinya tertidur, wajar saja ... dia adalah orang yang paling berkontribusi dalam siasat ini. Dan Ned juga sudah berusaha dengan keras, lihat saja jarinya yang terus meneteskan darah.
Sepertinya malah aku yang jarang berbuat sesuatu. Bertarung dalam ruangan terbuka seperti ini membuatku sadar akan kekuranganku.
"SELAMAAAT!" Erea berteriak keras lalu memelukku dari belakang. Yang lainnya juga ikut turun dan berlari ke arah kami.
"Kalian benar-benar keren!" ucap Fani sambil menyentil dahi Ned. Ned mengaduh kesakitan tapi itu malah membuat Fani lebih menjahili Ned.
"Selamat!" ucap Kuo sambil mengepalkan tangan ke arahku. Aku terdiam sejenak, lalu menyadari apa yang ingin dia lakukan.
"Ya." Aku tersenyum lalu membalas tos tinjunya.
"Hey ... apakah Seas baik-baik saja? Badannya masih sedikit kaku, tapi dia tidak terlihat kesakitan," ucap Ruo sambil mengangkat kepala Seas lalu menaruhnya di paha.
"Oh! Aku tadi melihatnya meminum sesuatu!" ucap Ned. Hmm, benar juga. Aku tadi melihatnya meminum sesuatu.
"Itu mungkin obat dari Venom," ucap C sambil mendekat ke arah kami.
"Duduklah, kita akan melakukan evaluasi dalam pelajaran ini," ucap C lalu dia duduk bersila. Kami mengikuti apa yang C lakukan dan duduk menghadap ke arahnya.
"Hey Seas, bangunlah! C bilang mau bicara!" Ruo menepuk pipi Seas beberapa kali. Tapi Seas tak merespon dan masih tertidur nyenyak.
"Tidak apa-apa. Aku bisa berbicara nanti dengan Seas," ucap C pada Ruo. Ruo mengangguk lalu membiarkan Seas tidur di pahanya.
"Di pelajaran kali ini dan juga sebelumnya. Apa yang sudah kalian pelajari?" tanya C.
"Di pelajaran pertama, kami tahu bahwa ini adalah pekerjaan yang selalu berhubungan dengan nyawa. Kau lengah, kau mati. Kau lemah, temanmu mati," ucap Erea. C mengangguk sambil tersenyum.
"Di pelajaran ke-dua. Kami harus bertahan hidup seorang diri, itu sebuah perumpamaan jika dalam misi hanya tinggal kita sendiri yang bertahan hidup dan harus kabur dari lawan yang kuat," ucap Fani sambil berpegangan tangan dengan Ned.
"Tunggu, sejak kapan kalian pacaran?!" ucap C saat sadar bahwa Fani dan Ned berpegangan tangan.
"KAMI TIDAK PACARAN!" Fani dengan cepat menghempaskan tangan Ned, Ned terlihat mendengus kesal.
__ADS_1
"Dan di pelajaran ke-tiga ini. Kami tau pentingnya kerja sama tim dan strategi," ucapku dengan yakin. C mengangguk lalu mengeluarkan sebuah pulpen.
"Dengan ketiga pelajaran yang sudah kuberikan, kalian juga sudah mengevaluasi diri kalian sendiri.
Fani, kau lebih hebat dalam kecepatan. Jangan terlalu fokus pada kekuatan, semakin cepat dirimu, semakin kuat juga tenagamu.
Erea, berlatihlah menambah serta mengontrol staminamu. Kau cepat, tapi kau terlalu banyak membuang energi.
Ruo dan Kuo, tenaga kalian luar biasa. Berlatihlah ilmu bela diri yang sesuai dengan diri sendiri.
Ned, kupikir kau lebih baik mengganti senjatamu. Daripada jaring besi yang hanya bisa digunakan sebagai senjata pendukung. Aku menyarankan 'untaian laba-laba perak'. Itu adalah benang dengan kualitas yang bagus, dan kau bisa menyerang tanpa harus menggunakan pola. Tentu saja kau juga masih bisa menggunakan pola pada saat yang dibutuhkan.
Begitu juga dengan kau, Alio. Dalam pelajaran kali ini, kau pasti sadar kekurangan yang kau kira tidak ada itu. Aku menyarankanmu mengganti senjatamu. Daripada cambuk dengan satu untai. Lebih baik kau menggunakan cambuk dengan lima untai. Tentu saja akan sulit untuk menggunakannya, tapi jika kau bisa menguasainya. Bukan hanya kekuatan yang bertambah, tapi kontrol yang kau miliki juga akan semakin berkembang.
Lalu untuk Seas ... ah, dia masih tertidur. Aku akan menyampaikannya pada Rex nanti," ucap C panjang lebar. Kami mengangguk, ini pertama kalinya C memberikan saran pada kami. Biasanya dia hanya memberi tau kekurangan kami tanpa memberi tau cara memperbaiki.
"Setelah ini, kalian akan semakin jarang bertemu. Kalian akan dimasukkan ke dalam tim yang terdiri dari kelas lain.
Tim kalian ada 3 orang, dan tiap orang berasal dari jurusan yang berbeda. Kalian akan mendapat surat yang menyampaikan anggota tim kalian.
Aku pergi dulu," ucap C lalu dia berdiri dan berjalan pergi. Kami terdiam dan saling bertatapan.
"Kupikir kita akan terus bersama sampai naik ke tingkat atas," ucap Erea dengan sedih. Aku juga agak sedih, tapi mau bagaimana lagi. Ini adalah aturan di sini.
Tunggu, memang dunia ini punya aturan?
"Bersama kalian beberapa hari ini sangat menyenangkan, sampai jumpa. Semoga kita dapat berkumpul tanpa kehilangan satupun teman kita," ucap Ned lalu pergi. Aku juga ikut berdiri dan pergi setelah berpamitan pada teman-temanku.
"Yah sepertinya ... cinta pertamaku berakhir hari ini," ucapku pelan sambil tertawa kecil.
"Kau benar-benar suka pada anak itu?" tanya Ned di sampingku. Aku mengangguk. Ned menatapku kesal lalu berjalan dengan cepat mendahuluiku.
"Ada apa dengannya?" ucapku bingung.
***
__ADS_1
POV: Sky
Aku sedikit takut ... ini benarkan tempat belajar Seas? Kenapa terlihat menakutkan? Semoga teman-temannya tidak memandangku dengan tatapan aneh.
Tapi sepertinya rambutku sangat mencolok! Apa aku harus menutupinya?! Ahh! Aku benar-benar tidak suka ini! Venom memintaku untuk menjemput Seas, memangnya Seas anak kecil?!
Aku membuka pintu dengan pelan, aku melihat Seas sedang ... PINGSAN?!
Aku berlari menghampirinya, saat hendak mencapainya, seseorang mengarahkan pisau belati ke leherku.
"Siapa kau?" ucap perempuan dengan rambut biru laut. Matanya menatapku dengan tajam, begitu juga dengan teman-temannya yang lain ... .
BENAR JUGA! KAN AKU LANGSUNG BERLARI KE SEAS TANPA MEMPERKENALKAN DIRIKU! AAAAA BODOH SEKALI AKU INI!
Bagaimana sekarang?! Mereka akan percaya atau tidak jika aku bilang bahwa Seas adalah teman satu asrama ku?!
"Dia adalah teman satu asrama Seas."
Aku menoleh saat mendengar suara yang kukenal. Valeriaaa~ kau benar-benar penyelamatku!
"Kenapa kami harus percaya dengan kalian?" tanya seorang laki-laki yang memangku kepala Seas di pahanya.
"Um ... a-aku disuruh oleh Venom ke sini ... K
karena sepertinya Seas akan tetap kesakitan meskipun meminum obat yang Venom berikan j-jadi aku membuatkannya obat untuk meredakan rasa sakit ...," ucapku sambil mengeluarkan sebuah ramuan. Aaaaa! Tanganku masih bergetar hebat!
"Kenapa kau begitu gugup?" tanya seorang perempuan dengan rambut merah.
"Dia punya kecemasan soal menghadapi orang asing. Jadi wajar saja dia begitu ... kalau kalian benar-benar tak percaya pada kami, perlukah kalian ikut kami ke asrama Seas?" ucap Valeria. Woahh! Aku bersyukur Valeria dapat diandalkan di situasi ini!
"Aku dan Ruo akan ikut mereka, kalian bisa pulang lebih dulu.l," ucap perempuan dengan rambut merah yang tadi. Mereka mengangguk dan membiarkan kami berempat membawa Seas pulang.
Aku tidak mau menerima permintaan seperti ini lagi!
TBC.
__ADS_1