
"Lihatlah ke atasmu."
POV: Seas
Aku langsung menengok ke atas.
DEG!
Rasanya jantungku mau lepas dari tempatnya. Bagaimana tidak? Ada seseorang di atasku dengan posisi badan yang terbalik, jadi sekarang yang kulihat hanyalah topeng serta rambut hitam panjang miliknya yang menggantung ke bawah.
Hampir saja aku menyebutkan nama hewan yang menggonggong.
Suasana langsung hening beberapa saat, kami sama sekali tidak bergerak atau berbicara, dan hanya saling menatap satu sama lain.
"Cih! Kau tidak kaget ya? Tidak seru~ boo~." Orang itu langsung melompat dan turun di hadapanku. Kini dia memunggungiku dan mematikan saklar mercusuar yang menyala tanpa sengaja tadi.
"Untung saja aku tidak memotong lehermu saat aku kaget tadi," ucapku sambil menghela nafas lega. Orang itu melepaskan topengnya, menunjukkan seorang pria dengan paras yang tampan tapi cantik(?).
Warna mata hijau emerald miliknya terlihat begitu indah dan tajam, tapi terasa begitu mengerikan. Dia memakai pakaian hitam ketat dengan celana pendek serta jas putih panjang yang terpasang di bahunya.
Aku tidak tau apakah dia dari kelas mata-mata atau kelas codename, agak sulit membedakan kedua agen yang berada di kelas ini.
"Hm~ jangan terlalu curiga~ aku juga sudah menyangka bahwa kau akan ke sini. Karena ghost sebelumnya sudah memberitahuku.
Kau punya keberuntungan yang buruk ya? Tapi ini juga sebagian besar adalah salah kami karena tidak memperhitungkan bahwa akan ada musuh yang menyerang selama ujian berlangsung.
Kau bisa selamat ya? Sepertinya keberuntungan temanmu juga ikut kau hisap ya. Mereka berdua sedang kritis dan kau masih sehat-sehat saja." Pria itu menatapku dengan senyuman yang lebar tapi tatapan matanya begitu sinis dan tajam.
Ah ... salah satu orang dengan lidah yang busuk.
Bagaimana ya aku harus menghadapinya?
"Kau benar, hati-hati keberuntunganmu terhisap olehku ya, bukankah tidak lucu jika kau tiba-tiba di rumah sakit dan kritis bersama rekanku," ucapku sambil tertawa kecil kepadanya. Pria itu tampak terkejut dengan jawabanku, lalu mulai tertawa lepas.
__ADS_1
"Hahahaha! Kau benar-benar anak yang menarik! Melihatmu datang sendiri ke sini, jangan bilang kau berniat untuk menyelesaikan ujian ke-dua seorang diri?" Pria itu mulai mengeluarkan beberapa pil yang entah dia dapatkan dari mana.
"Entahlah? Sepertinya jawabanku tidak terlalu penting untuk didengar. Ayolah jangan membuang waktu lagi, katakan apa yang harus kulakukan?" Aku bertanya dengan tatapan mata yang serius. Pria di depanku itu melirikku untuk sesaat, lalu melemparkan tiga butuh pil merah aneh ke arahku. Dengan sigap aku menangkap ketiganya, tapi aku bingung dengan apa yang harus kulakukan pada pil ini.
"Jangan khawatir, aku tidak menyuruhmu untuk menelannya. Kau bawa saja pil itu dulu, karena pil itu adalah jalan untuk lulus ujian ke-dua ini," ucap pria itu dengan sangat santai. Aku langsung tercengang mendengarnya.
Bagaimana bisa dia memberikan hal berharga semudah ini?!
"Aku memberikan itu langsung oleh banyak pertimbangan loh, kau dan rekanmu yang berhasil selamat dari pertarungan ranking pembunuh tingkat atas, dan ini juga kesalahan kami karena tidak memberi jawaban yang pasti di ujian ke-dua.
Sebenarnya maksud dari ujian kali ini adalah melihat kalian mencari informasi, dan lebih tepatnya ... informasi pil yang kau bawa saat ini.
Itu adalah pil dengan bahan yang berbahaya. Dia membuat seseorang berhalusinasi ... yah, mungkin kau pasti kenal dengan obat macam apa ini." Pria itu berbicara dengan senyuman. Aku mengangguk pelan lalu langsung memasukkan pil ini ke dalam saku-ku.
Halusinogen? Obat yang membuat orang berhalusinasi. Tapi ... ini pertama kalinya aku melihat benda ini secara langsung. Aku jadi cukup takjub karena memegang benda ini di tanganku tadi.
"Jangka waktu ujian ke-dua lebih lama, yaitu 3 minggu. Kalian masih punya 2 minggu yang tersisa. Pastikan kalian pulih sebelum ujian ke-3 dimulai. Yah~ aku berharap kalian bisa lolos hingga ujian terakhir."
Set.
Yah tidak masalah. 2 minggu ... semoga Sky serta Valeria bisa pulih dalam jangka waktu yang singkat itu. Aku juga ... harus berlatih. Kesalahanku yang terakhir kali ... kenapa ...
Teknikku tidak bekerja?
***
POV: Author
"Kau terlihat sangat senang Rex, ada apa?" tanya X yang sedang duduk sambil minum kopi di ruangan Rex. Mereka berdua tengah berkumpul untuk membahas sesuatu, dan entah karena alasan apa, Rex masih terus tertawa sejak tadi.
"Aku suka melihat sayap gagak yang akan tumbuh. Semakin lebat dan semakin kuat.
Begitu juga dengan cakar mereka, semakin hitam dan semakin beracun. Sebuah kebanggaan tersendiri bagiku saat melihat mereka tumbuh." Rex berkata sambil terus menatap ke luar jendela.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Sayap gagak? ... OH ASTAGA AKU PAHAM HAHAHA! APAKAH ADA YANG AKAN BERKEMBANG LEBIH DULU?!" X yang baru sadar langsung ikut antusias mendengar perkataan Rex.
"Dia adalah permata ungu yang sangat indah, dan dia sudah menyadari seberapa indah dirinya itu. Tapi ... aku tidak tau apakah dia akan mengerti bagaimana cara memoles keindahan miliknya itu? Mungkin akan butuh waktu yang lebih lama.
Tapi tidak apa-apa, dia paham potensi serta kelemahannya saja sudah termasuk perkembangan yang sangat hebat." Rex kini membalikkan badannya, dan duduk di depan X.
Mereka saling diam, dan hanya menikmati secangkir kopi yang tersedia di meja.
Sementara itu di sisi lain, di sebuah gang kecil antar gedung. Ghost dan Venom sibuk berbicara mengenai sesuatu.
"Sudah kuduga. Melga ada hubungannya dengan insiden di negeri bersalju waktu itu, begitu juga dengan insiden sebelumnya. Dan mungkin ... banyak yang kita lewatkan." Ghost berbicara dengan nada datarnya tanpa melepas topeng seram itu. Sementara Venom masih terdiam, memikirkan sesuatu.
"Ini jadi lebih rumit. Mereka pastinya bukan organisasi yang kecil, tapi yang lebih penting ... kenapa mereka menargetkan Underworld School?
Mereka langsung menargetkan sebuah musuh yang tangguh.
Atau mungkin, mereka juga tangguh? Heh." Venom menyeringai, sudah lama tidak ada orang nekat yang berniat menyerang Underworld School. Ghost hanya menaikkan bahunya sebagai tanda tidak tau, mereka lalu berjalan dengan arah yang berlawanan.
"Aku yang akan mencari informasi, jagalah anak-anak." Venom berbicara tanpa menoleh ke arah Ghost.
SRAK!
Venom mengeluarkan kipas hijaunya yang indah dan menyeramkan itu, lalu memainkannya dengan memutarkan porosnya.
Swuhhhshhh.
Dalam hitungan detik, tubuh Venom mulai menghilang, yang tersisa hanyalah bau racun dan obat-obatan yang tertinggal di atas tanah. Begitu juga dengan Ghost, dia langsung lenyap begitu memasuki kegelapan.
~Sebuah perang yang masih diam.
Atau sebuah bom yang belum diaktifkan?~
TBC.
__ADS_1
Jangan lupa likenya ya guys!