Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Ujian ke-3 DIMULAI!


__ADS_3

"Ujian ke-tiga adalah ... berikan tanda di tubuh rabbit!" ucap Rabbit dengan suara yang lantang.


"Hah?"


POV: Seas


Aku melongo mendengar pernyataan tidak masuk akal apa yang agen itu ucapkan. Aku dan Sky saling memandang lalu menggelengkan kepala.


Sepertinya lebih baik untuk menunggu agar Rabbit saja yang menjelaskan.


"Baiklah~ baiklah~ karena kalian sangat bergairah biar aku yang menjelaskannya secara rinci~. Peraturannya sederhana, kalian harus berhasil menyentuhku, satu kali saja~."


Perkataan Rabbit sontak membuat seluruh ruangan ini bergemuruh bingung. Sekali menyentuh? Itu syarat yang sangat mudah.


"Tapi. Aku tidak akan membiarkan diriku disentuh begitu saja. Aku tidak akan menahan kekuatanku di sini, dan jika kalian tidak siap ... maka kalian akan mati kikikikiki!" Rabbit tertawa puas, suara tawanya yang membuat telinga ingin pecah ini sangat menyiksa.


"Batas waktu kalian


1 Minggu. Carilah aku di seluruh pelosok Underworld School. Jangan khawatir, aku tidak akan curang. Aku memakai baju yang secara langsung akan merespon sidik jari. Kalau kalian bisa menyentuhku, berarti kalian lolos ujian ini.


Nah ... dimulai hari ini!"


WHUS!


PRANGG! BRUAKK!


Aku terperanjat kaget, angin berhembus kencang bersamaan dengan Rabbit yang meninggalkan ruangan. Seluruh ruangan ini hening, kami semua masih mencerna informasi.


"SIAL! AYO KITA KEJAR SEBELUM DIA SEMAKIN JAUH!"


"AYO!"


Beberapa murid yang sudah sadar langsung keluar dari gedung ini dan mulai berlari keluar. Tidak, hampir semuanya sudah berlari keluar. Di ruangan ini, hanya tinggal sekitar 21 orang yang masih tersisa, termasuk tim kami.


21 orang ya? Berarti 7 tim?


Aku menoleh ke arah samping kanan, dan wanita yang memiliki kesan mirip dengan Venom itu juga ada di sana. Gadis yang menggunakan seni petir.


"Wah, kelihatannya hanya 21 orang ini yang akan bertahan sampai tahap ke-7 ya? Aura kalian jelas berbeda dari pelajar amatir lainnya tadi," ucap seorang remaja laki-laki yang mengenakan jaket hitam tebal hingga menutupi leher dan mulutnya.

__ADS_1


"Haha~ ini akan menjadi menyenangkan. Aku akan menghafalkan wajah kalian, supaya nanti aku bisa tau bahwa kalian juga masih hidup~," ucap seorang gadis dengan rambut putih yang dikucir 2 dengan blush on yang super merah di kedua pipinya.


"Oh? Si rubah putih juga di sini ya?"


Seluruh pandangan kini tertuju padaku. Mereka memandangku dengan berbagai macam arti, kebencian, iri, kagum, amarah, dan ... ada yang tidak bisa ditebak.


"Sepertinya aku cukup terkenal ya? Tapi aku tidak menyukai julukan itu, bisakah kalian berhenti memanggilku dengan nama tadi? Aku punya namaku sendiri," ucapku dengan senyuman yang tidak ingin kubuat ramah. Suasana ruangan ini kembali hening, tidak ada satupun yang berbicara di sini.


"Seperti yang kudengar, kau adalah anak yang jujur dalam mengekspresikan pikiranmu ya. Kelihatan jelas bahwa kau tidak berniat akrab dengan kami," ucap salah seorang remaja perempuan yang memakai hoodie berwarna pink dan hitam serta celana pendek diatas lutut.


"Ya~ Seas memang anak yang jujur. Bukankah harusnya kalian bersyukur? Jika Seas masih jujur, berarti nyawa kalian masih aman." Valeria tiba-tiba terjun dalam pembicaraan dan aku tahu jelas bahwa dia hendak memanaskan atmosfer di ruangan ini.


Dasar, kebiasaan buruknya yang dulu sudah kembali lagi. Dia sangat pandai membuat seseorang marah ya?


Kretek.


"Apa kau bilang?" Seorang pria bertubuh besar dengan palu raksasa di punggungnya langsung menghadap Valeria. Justru anak itu bahkan tidak gentar sama sekali melihat perbedaan tinggi dan berat mereka.


"Maaf tapi, semut kecil seperti bisa kuremukkan dengan mudah." Pria besar itu menatap Valeria dengan tajam.


"Oh ya? Cobalah." Valeria malah menantang sambil membersihkan kuku jarinya.


BUAGH!


WHUS!


Seluruh ruangan ini hening. Mereka menatap Valeria dengan tatapan yang berbeda-beda. Ada tatapan lapar, ada tatapan tidak suka, dan ada tatapan yang biasa saja.


Valeria berhasil menahan lalu sebesar itu dengan tangan kirinya saja.


"Eh~ kupikir kau kuat~ bagaimana ini~ sepertinya kau tidak akan sampai di tahap ke-7 nanti ya? Sayang sekali," ucap Valeria sambil mencengkram palu raksasa itu, dan merebutnya secara paksa dari si pria besar.


"Senjata sekeren ini terlalu sayang kalau digunakan olehmu. Tapi aku juga tidak cocok memakai palu.


...


Jadi ambil saja ya." Valeria langsung melemparkan palu raksasa itu dengan kecepatan tinggi.


WHUNG!

__ADS_1


BUAGHH!


BRUKK!


Si pria besar tak tidak siap dengan serangan mendadak Valeria, dia langsung terkena pukulan telak dan terlempar 20 meter ke belakang hingga menabrak dinding. Valeria membersihkan tangannya lalu kembali berjalan ke arahku.


"Nah apakah sudah cukup? Aku hanya mau memberitahu. Yang harus kalian waspadai bukan hanya si rubah putih.


Kalau kalian terlalu memperhatikan trik liciknya, kalian akan tergelincir oleh sisik ularnya." Perkataan Valeria memberi kesan dalam di akhir pertemuan hari ini. Pandangan yang awalnya hanya berfokus padaku, kini terbagi pada Valeria juga. Kami lalu berjalan keluar dengan tenang, dan barulah aku berbicara saat sudah agak jauh berjalan.


"Kau sengaja melakukannya bukan?" tanyaku pada Valeria. Anak itu berhenti melangkah, lalu menoleh padaku.


"Apa maksudmu? Hm?" tanyanya dengan nada yang jahil.


"Kau sengaja membagi fokus mereka padaku dan dirimu, agar mereka tidak mewaspadaiku saja. Tapi ... bukan itu poin pentingnya di sini.


Kau membuat mereka lupa tentang keberadaan Sky, dan membuat Sky tampak seperti orang yang tidak berguna di tim kita.


Ini kau lakukan, demi membuat Sky kartu As tim kita bukan? Karena aku sudah terlalu dikenal, makanya kau tidak membuatku sebagai kartu As lagi," jelasku panjang lebar pada Valeria. Gadis itu awalnya melongo tapi langsung tertawa.


"Haha! Kau benar-benar pintar! Benar! Itu tujuanku.


Aku akan membuat Sky sebagai kartu As kita, karena itu aku ingin menyembunyikan kekuatan aslinya sebisa mungkin.


Dan jika aku tidak membagi perhatian mereka padaku, maka mereka akan terlalu fokus padamu. Dan kau tidak akan bisa bergerak leluasa nanti.


Karena itu ... Sky! Selama ujian tahap ke-3 hingga ke-5! Kau dilarang menggunakan Hades!" Valeria menunjuk ke arah kalung yang Sky pakai. Orang yang merasa ditunjuk langsung shock dan memegang kalungnya erat-erat.


"Apa?! Tapi bagaimana jika kalian dalam masalah?! Kalian menyuruhku diam saja tidak berusaha?!" Sky bertanya dengan nada yang sedikit kesal. Valeria tersenyum puas lalu menepuk pundak Sky.


"Kalau kau mau menggunakan Hades, boleh saja. Asalkan ...


Pastikan tidak ada orang yang hidup setelah melihatnya."


Aku tertawa mendengar penuturan Valeria. Memang benar sih, tidak ada yang bisa menjaga rahasia sebaik orang yang sudah mati.


"Nah! Kita mulai pencarian kita!"


TBC.

__ADS_1


Jangan lupa likenya ya guys!


__ADS_2