Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
The Abandoned Diamond (2)


__ADS_3

"Malaikat maut jadi-jadian, tidak bisa membunuh malaikat maut yang asli."


POV: Author


"... Kau sangat sombong untuk orang yang akan mati," ujar pria itu dengan tatapan yang datar. Seas tertawa kecil, dia menaikkan baju lengang panjangnya hingga menampakkan gelang kembar yang terikat di pergelangan tangan.


"Kau baru boleh mengatakan itu setelah memotong leherku, dasar hama." Perlahan, asap merah gelap mulai menguar keluar dari tubuh Seas. Sebuah seringaian tampak terukir di wajah remaja itu.


"Ayo mulai, Lumius. Bukankah sudah lama kau tidak bersenang-senang?"


DDRRRKKKK!


Asap merah gelap itu terkumpul, menciptakan dua dagger dengan wujud yang menyeramkan. Bloody weapon milik Seas, Lumius.


Kling.


Seas memasang posisi kuda-kuda dengan memosisikan kedua dagger di depan dada. Dia menarik nafas pelan seraya menutup matanya. Setelah itu, dia membuka matanya lagi. Sorot mata tajam dan dingin yang awalnya terpancar, kini hilang. Digantikan sorot mata hampa tanpa ekspresi.


Satu hal yang kusadari selama bertarung dengan pengguna seni lainnya. Adalah munculnya teknik nomor 0. Itu adalah hal yang tidak kusangka.


Karena itu, aku semakin memerhatikan ... seperti apa saja wujud teknik dari teknik nomor 0. Hingga aku bisa menarik sebuah kesimpulan.


Teknik nomor 0, adalah sebuah teknik yang menyelaraskan pengguna dengan tekniknya. Aku memang masih tidak bisa menguasainya dengan sempurna, tapi aku harus mencobanya pelan-pelan.


Merasakan bagaimana menjadi bayangan, merasakan bagaimana bergerak tanpa beban. Begitulah Seas berusaha untuk mencapai teknik nomor 0. Angka awal yang tidak bisa diawali, dan angka akhir yang tidak ada di akhir.


"Kau banyak gaya."


CRIING!


TRAANGG!


Sebuah jarum melesat cepat ke arah Seas, dengan sigap dia menangkis jarum itu. Mata Seas melihat ke arah jarum yang dia tangkis. Berbeda dengan jarum Sky, jarumnya terlihat lebih jernih. Seperti ... kaca? Atau intan? Berlian?


Cring!


Sebuah jarum lagi-lagi melesat dengan cepat. Untungnya kali ini Seas sadar, jadi dia bisa menghindar dengan menundukkan kepala.


"Heh! Sepertinya aku terlalu banyak berpikir," ucap Seas pada dirinya sendiri.


"[Teknik bayangan, nomor 3: langkah bayangan.]"


Syut.


Tubuh Seas yang terlihat kini diam seperti patung. Perlahan-lahan tubuh itu menghilang bagaikan asap. Pria itu langsung terkesiap, matanya membelalak lebar, mencari ke sekeliling. "Kau pengguna seni terlarang!" ucap pria itu sambil berusaha menemukan Seas.


Cring.


Seas muncul dari sisi kanan, dengan mata dagger tajam yang sudah siap menikam leher pria itu.


CRANG!


Namun pria itu sadar di saat terakhir, dia berhasil menangkis dagger Seas yang hendak mengenainya. "Seni terlarang yang masih cacat," ujar pria itu dengan seringai. Seas memutar tubuhnya, hendak menendang leher pria itu dengan kaki kanan.


"Memang kenapa kalau cacat? Ini saja sudah cukup," jawab Seas tanpa ekspresi.

__ADS_1


WHUNG!


BUAGH!


Tendangan yang Seas lancarkan ditahan oleh lengan pria itu.


Greb!


Tangan si pria langsung mencengkram pergelangan kaki Seas, tapi justru ini yang Seas rencanakan. Seas langsung menyerang tangan yang menyentuh kakinya.


ZRASSH!


CRAAT!


Cipratan darah terlempar jauh. Dengan paksaan rasa sakit, pria itu menjauhkan tubuhnya dari Seas. "... Reflekmu sangat cepat ya." Di depannya, dia sadar bahwa Seas bukanlah sekedar pembunuh cacat.


Mengesampingkan seninya yang belum sempurna, Seas mempunyai otak dan tubuh yang unggul. Pria itu lagi-lagi terdiam, dia melihat mata ungu Seas. Hingga sebuah bayangan pria muncul dari belakang Seas.


Sosok pria itu sebenarnya hanyalah halusinasi, namun pria misterius itu tau betul siapa sosok yang dia lihat.


Sang legenda yang hidup dari balik duri dunia.


Arma Veldaveol.


"... Kau ... keluarga Arma?" tanya pria itu dengan tubuh yang gemetar. Seas langsung menatapnya tajam begitu mendengar kata Arma. "Jangan menyebutku sedarah dengan bajingan itu!" ucapnya kesal. Pria di depannya tiba-tiba jatuh berlutut. Tubuhnya yang gemetar, entah karena ketakutan atau karena sesuatu. Membuat atmosfer suasana gang kecil ini berubah menjadi dingin.


"HAHAHAHAHAHA! LUAR BIASA! DI SAAT AKU INGIN MENGAMBIL SEMUA KEKUASAANNYA! AKU MENEMUKAN KELEMAHAN ARMA!" Pria itu berteriak dengan wajah yang sumringah. Tudung hitamnya lepas, memunculkan sosok pria dewasa dengan rambut kuning yang memiliki banyak pitak.


"Hebat! Hebat! HEBAT SEKALI! AKU AKAN MEMBAWAMU KE HADAPAN ARMA! AKAN KUPAKSA DIA TURUN DARI TAKHTANYA!" Pria itu semakin melantur tidak jelas. Seas yang tidak memahami maksudnya, hanya bisa diam dan mendengarkan. Pria itu lalu juga diam, dia menarik nafas panjang dan menatap Seas.


"Nah, karena kita akan jadi teman dekat. Aku akan memberitahumu namaku! Aku adalah Razeks! Ingat baik-baik namaku! Nah sekarang ... siapa namamu?" Razeks menjulurkan lidahnya, lalu menjilat bibir bagian bawahnya sendiri. Dia menatap Seas seolah remaja itu adalah mangsanya malam ini.


Dia gila. Apa dia orang yang punya dendam pribadi pada Arma? Cara apa yang harus kulakukan, batin Seas sambil terus berpikir.


"Kau tidak perlu tau, toh kau akan segera mati di sini." Seas mengeratkan pegangan pada daggernya, bersiap untuk melancarkan serangan lanjutan.


"[Teknik bayangan, nomor 5: bayangan pohon.]"


SYUSH!


Seas melesat maju dalam sekejap mata, dia berniat untuk membelah perut Razeks jadi dua. Melihat Seas yang menyerang, Razeks jadi semakin bersemangat. "Bagus ... AYO SERANG AKU! WAHAI ADIK ARMA!" teriak Razeks.


Bangsat! Seas berhenti tepat di depan Razeks. Dia mengayunkan daggernya dengan sangat cepat, mengincar pembuluh darah di leher Razeks.


SRAT!


Namun Razeks berhasil membaca gerakan Seas, dia melangkahkan kakinya mundur, menghindari serangan Seas seolah itu hanyalah serangan anak kecil. "Gerakan yang bagus~ namun kurang."


GREB!


Razeks mencengkram leher Seas. Pergerakannya begitu tidak biasa, bahkan Seas tidak sempat bereaksi. "Khuk!" Seas berusaha meronta, tapi jari-jemari Razeks lebih kuat.


"[Teknik bayangan, nomor 3: langkah bayangan.]"


Syush!

__ADS_1


Tubuh yang dicekik oleh Razeks tiba-tiba terasa hampa, seperti memegang udara kosong. Mata hitam Razeks mengernyit dan mulutnya tersenyum.


"Teknik yang serbaguna ya? Kau bisa melarikan diri dengan teknik itu," ucap Razeks sambil menghempaskan tangannya, membuat bayangan Seas menghilang bagaikan kabut. Di sisi kirinya agak jauh beberapa meter, dia melihat ke arah Seas yang terduduk di tanah. Tangan kanannya memegang lehernya sendiri.


"Bagaimana ini ...," gumam Seas bingung. Leher Seas sudah ada bercak merah kehitaman. Cengkraman Razeks benar-benar yang terburuk.


Tap ... tap ... tap ...


Seas mendongak, melihat Razeks yang berjalan ke arahnya. Tubuh gagah serta sorot mata yang mengerikan. Langkah kakinya bagai membawa iblis di belakangnya.


"Bagaimana aku bisa kabur darinya?" ujar Seas sembari tersenyum dengan sorot mata yang bingung.


.


.


.


Sementara itu di sisi lain.


Sky dan Valeria masih ada di atas atap. Mereka masih bersiaga, namun jarum-jarum yang menyerang mereka kini sudah menghilang. Tidak ada jejak sedikitpun. Sky dan Valeria masih berdiri walaupun nafas mereka sudah tersengal-sengal.


"Mereka ... hah ... hah ... hilang?" tanya Sky yang wajahnya dipenuhi keringat.


"Benar ... hah, mereka tidak menyerang kita lagi," jawab Valeria sambil melihat ke kiri dan kanan.


PRAANGG!


"SKY! VALERIA!"


Suara Seas yang terdengar berteriak, membuat kedua remaja itu tersentak. Keduanya langsung menoleh dan berlari ke sumber suara.


"Di sini!"


"Aku di sini!"


Kedua suara itu terdengar dari arah yang berbeda di telinga Sky dan Valeria. Hal ini membuat Valeria bergerak ke Selatan, sedangkan Sky masih lurus ke Timur. Karena kelelahan, mereka tidak sadar bahwa mereka sudah berlari secara terpisah.


Hingga Valeria sampai di sebuah pabrik terbengkalai. Valeria berdiri di atas sebuah tiang listrik, mata coklatnya melihat lurus ke dalam pabrik. "Sky ... sepertinya Seas ada di sana," ucap Valeria pada Sky.


"..." Namun tak ada jawaban.


"Sky?" Valeria menoleh ke sampingnya, mendapati bahwa Sky sudah tidak ada.


.


.


.


Sedangkan Sky, dia kembali ke pasar kuliner, suara hiruk pikuk yang ramai, menyadarkan Sky bahwa dia salah arah. "Val! Kita salah arah! Ayo kita kemba- ... li?" Sky terdiam, mendapati Valeria sudah tidak ada di belakangnya.


"Sky/Val?"


Ketiga remaja itu terpisah begitu jauh.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2