
"Apa kau tidak penasaran dimana kakakmu berada?"
POV: Author
Mendengar pertanyaan dari Melga, Seas terdiam sejenak lalu tersenyum.
"Tidak butuh. Kalau aku belum mampu menemukannya dengan kekuatanku sendiri, artinya aku belum cukup kuat.
Jadi ... apa kau paham maksudku?
Jawabanmu tidak dibutuhkan di sini." Seas tersenyum ganas, dia langsung menggoreskan daggernya ke arah cincin di tangan Melga.
SRANGG!
"Kau tidak pantas pakai cincin, bagaimana kalau serius sekarang?" tanya Seas sambil melihat cincin Melga yang terbelah menjadi dua. Pria tanpa baju itu tertawa kecil, dia sungguh telah meremehkan Seas.
Bruk.
"Tiga menit bukan? Sekarang sudah lewat waktunya. Racunnya akan bereaksi. Nikmati saja~." Melga menarik nafas lalu menghembuskannya, dia lalu berbalik pergi, meninggalkan Seas yang terbaring dengan mulut yang memuntahkan darah.
Jleb.
"Hah? Suara apa?" Melga menoleh ke belakang, dia melihat seorang remaja perempuan yang tengah menyuntikkan sesuatu ke lengan Seas. Remaja perempuan itu ... adalah Remi.
"He ... hehe. Kau berhasil," ucap Seas dengan wajah yang cukup pucat. Remi masih menyuntikkan penawar racun itu ke tubuh Seas, wajahnya dipenuhi keringat karena dikejar oleh waktu dalam membuat penawarnya.
"Mana Sky?! Aku harus memberikan jaket laboratorium ini kepadanya!" tanya Remi pada Seas dengan ekspresi yang panik.
"Mereka dibawa oleh Cedrik, aku yakin Sky dan Valeria sedang terluka parah. Jadi mereka tida bisa ikut di rencana kita," ucapku berbisik pada Remi.
"Apa ... kau membuat penawarnya?" Melga melotot pada Remi, dia terlihat shock karena Remi berhasil membuat penawarnya.
"Kenapa aku tidak bisa? Racun murahan seperti ini bukan masalah besar untukku." Remi berkata dengan nada yang dingin dan tajam. Seas langsung mencoba untuk berdiri.
Kling.
"Em? Lumius? Kau membawanya?" Seas terkejut karena Remi tiba-tiba memberikan Lumius di depan muka Seas.
Remi menghela nafasnya kesal, matanya menatap Melga dengan tatapan yang dingin,"Kau butuh itu untuk bertarung."
Mendengar perkataan Remi, Seas tersenyum.
Tak! Tak!
Cedrik dan Ruo juga sudah datang, mereka mengepung Melga dengan dengan posisi penjagaan segi empat.
"Nah nah~ sepertinya baru ini akan jadi menarik~".
***
POV: Seas
Racunnya sudah hampir terdetoksi sempurna, tubuhku juga sudah jauh lebih ringan sekarang!
Tadi saat Remi menyuntikkan penawarnya padaku, dia sudah memberikan beberapa informasi. Pria di depanku ini bernama Melga.
Pembunuh otodidak yang lahir dari antah berantah. Dia masuk ke peringkat 100 bulan dengan kekuatannya sendiri, seni yang dia kuasai adalah seni piton putih.
Dan dia terobsesi pada kekuatan semenjak dikalahkan oleh kakakku.
Sial ... aku jadi bersemangat karena menemukan lawan yang kuat!
WHUS!
__ADS_1
Ruo dan Cedrik mulai maju serentak, Remi langsung melompat mundur dan mulai menjaga jarak, karena Remi adalah jenis pembunuh jarak jauh yang menggunakan racun.
Aku juga langsung maju, tapi tidak ke arah Melga, aku memutari Melga beberapa kali untuk mengincar Celah yang terlihat. Inti serangan kali ini ...
Adalah kami berempat.
Tidak ada orang yang diandalkan dalam tim, semua boleh membunuhnya jika ada kesempatan. Karena lawan yang kita hadapi bukan orang yang akan mengalah pada pemula.
"[Teknik naga merah: nomor 2, whirly.]"
Ruo melompat sambil memutar kakinya di udara, dengan menggunakan bahunya sebagai poros berat, ditambah putaran kaki yang akan menambah rasa sakit bagi yang menerima tendangannya.
WHUNG!
"[Teknik piton putih: nomor 1, sisik baja.]"
BUAGHHH!
Tendangan kuat Ruo ditahan hanya dengan punggung tangan Melga. Ruo berdecak kesal karena serangannya gagal, saat dia hendak menarik kakinya, tiba-tiba Melga mencengkeram pergelangan kaki Ruo.
Greb!
"Apa kau mau mundur? Tidak boleh dong~," ucap Melga dengan senyuman yang mengerikan.
WHUNG!
Ruo dilempar ke udara dengan sangat mudah, seperti melempar bantal.
Kretek.
Melga mulai melemaskan otot jarinya, dia terlihat bersiap untuk memukul Ruo yang jatuh ke arahnya.
Klik.
WHUNGG!
Sebuah serpihan batu melayang dengan cepat ke wajah Melga. Cedrik lah yang melemparkan serpihan batu itu.
Tak!
Tentu saja Melga akan dengan mudah menangkisnya, tapi ... bukan itu tujuan Cedrik.
Tujuan asli Cedrik adalah ... bom elektrik yang ada di belakang batu tadi!
TTITTT.
DUAARRR!
BZZZZTTT!
Medan listrik bertegangan tinggi mulai meledak dan mengenai Melga yang tepat berada di samping bok tadi. Karena tidak siap oleh serangan mendadak, Melga jadi terkena telak.
Whus!
Tentu saja aku tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini!
Melihat tengkuk Melga yang terbuka, insting membunuhku mengatakan bahwa ini adalah timing yang tepat. Aku langsung berlari ke arah tengkuk Melga sambil bersiap untuk memotong lehernya.
CKLING.
"[Teknik bayangan: nomor 5, bayangan pohon.]"
Whutt!
__ADS_1
Teknik tercepat yang kumiliki saat ini, bayangan pohon. Teknik ini membuatku bergerak langsung menempuh puluhan meter dalam hanya beberapa detik.
"Apa? Kau ... juga menguasai seni?!" Melga menyadari keberadaanku tepat sebelum aku memotong lehernya.
"Kalian ... anak yang merepotkan."
BUAGH!
GREB!
Apa?! Apa yang terjadi! Ukhh?
"UHUK UHUK!" Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi Melga tiba-tiba sudah mencekik leherku sekarang.
Luar biasa! Gerakannya sangat cepat! Tidak sampai satu detik, dia memukul pelipis, siku, serta pergelangan kakiku!
"Bukankah kalian sudah meremehkanku?" tanya Melga dengan tatapan yang sangat menakutkan.
DEG DEG DEG DEG!
Te-tekanan macam apa ini?!
"Seas!"
***
POV: Author
"Seas!" Remi berteriak khawatir melihat Seas yang tercekik di genggaman Melga. Pria dengan mata yang berbeda itu hanya tersenyum miring, dia menatap wajah tampan Seas seolah merencanakan sesuatu.
"Jika aku mengambil mata kirimu, dan memakainya untukku. Bukankah aku akan menjadi orang Veldaveol?!" Melga bertanya dengan nada yang pelan.
Deg deg!
"Uhkk!" Seas masih berusaha untuk meronta, tapi cengkraman Melga begitu kuat.
Tidak ... masih ada cara itu!,-batin Seas.
[Teknik bayangan: nomor 3, langkah bayangan.]
Fuut!
Dengan teknik langkah bayangan, Seas berhasil meloloskan diri dari cengkeraman Melga.
Tapi ...
BUAGH!
"AKHH!" Melga sudah menyadari trik Seas. Sesaat setelah Melga merasakan tubuh Seas menjadi transparan, Melga langsung memakai instingnya untuk menginjak punggung Seas yang kabur dari sisi kanannya.
"Apa? Kenapa tidak berhasil?!" ucap Seas sambil meronta kesakitan.
"Seni yang kau kuasai itu ... seni terlarang ya? Dasar ... kakak dan adik sama sama monster. Yah tapi berkat itu ... pola seranganmu jadi terbaca olehku," ucap Melga sambil menekan punggung Seas.
"ARKHHH!" Seas menjerit sambil mencakar-cakar lantai. Ruo sudah bersiap untuk menyerang Melga, begitu juga Cedrik serta Remi yang siap dengan peralatan mereka.
"Kalau kalian berani maju sedikit saja, aku pastikan punggung bocah ini akan berlubang!" ancam Melga dengan serius.
DEG!
Saat itu, tidak ada yang berani untuk menyelamatkan Seas.
TBC.
__ADS_1
Jangan lupa likenya ya guys!