Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
5 hari tersisa!


__ADS_3

JREB!


POV: Author


BRUK!


"UHUK! UHUK!" Anak itu malah jatuh tersungkur, hingga pisaunya mengenai perutnya sendiri. Sky hanya diam dan melongo saat melihat anak itu jatuh.


"Hei nak ... kau tidak apa-apa?" tanya Sky dengan nada khawatir. Anak itu langsung bangun lagi dan mencabut pisaunya.


"Sial! Kau pakai jebakan ya?!" teriaknya tak terima.


"Apa kau bodoh atau tol*l? Jatuh sendiri malah menyalahkan orang lain," cerca Sky dengan ekspresi kesal.


"APA?! TAPI BIASANYA AKU TIDAK PERNAH TERPELESET!" teriak anak itu dengan wajah kesal juga.


"Lebih baik kau lihat perutmu yang sepertinya robek itu," ucap Sky sambil melihat ke arah perut si anak. Sontak anak itu langsung terkejut, wajah panik dan takut terpampang jelas di sana.


"Cie yang sebentar lagi mati~," ejek Sky sambil menjulurkan lidahnya.


"TIDAKK! HUEE TOLONG AKU KAK!" Anak itu langsung bergerak dengan cepat dan menarik-narik baju Sky. Dengan ekspresi memohon, dia terus menatap mata Sky.


"Aku bisa saja membantumu, tapi aku harus melepaskan diri dari tumbuhan ini dulu," jelas Sky seraya menatap getah lengket yang dihasilkan tumbuhan itu. Anak itu mengangguk dan mencoba membersihkan getahnya.


Srek.


Prang.


JREB!


Sky menjatuhkan sebuah botol ramuan yang dia racik, ramuan es. Ini adalah ramuan yang dulu dia gunakan untuk menghadang para penyerbu saat mencoba lari dari negara Vanlord dulu.


Es-es tajam itu tumbuh dalam sepersekian detik, membuat anak yang tadinya berjongkok, jadi tertusuk hingga tak berbentuk lagi.


"Kau pikir aku mau memaafkanmu? Temanku hampir saja masuk dalam tidur abadi, bagaimana bisa aku malah membiarkanmu tetap hidup?" ucap Sky dengan ekspresi datar. Es-es itu membuat tumbuhan lengketnya menjadi beku dan mudah dihancurkan.


Prang!


Seperti itulah bagaimana Sky akhirnya lepas dari belenggu tumbuhan lengketnya.


"Tapi ramuannya cukup efektif juga, aku harus menirunya," gumam Sky pelan sambil memungut salah satu es yang mengandung daun lengket itu.


Krak! Kretek!

__ADS_1


"Aku bisa menelitinya nanti, apakah Seas dan Valeria berhasil?" Sky berbicara sendiri, matanya melirik ke arah lantai dan dinding yang terciprat darah anak tadi.


"Tck, ini akan lama untuk membersihkannya."


***


POV: Seas


Setelah berjalan selama 30 menit, kami akhirnya sampai di asrama. Mungkin karena tadi aku keluar sambil berlari, aku tidak sadar bahwa sudah berjalan sejauh ini. Bahkan ada beberapa noda darah di bajuku.


"Loh, asrama kita kenapa?" tanya Valeria yang mengagetkanku. Aku jadi menatap ke arah asrama, banyak asap yang lumayan mengepul dari jendela dan atapnya.


Pasti ini bekas pertarungan Sky.


"Ini ulah Sky, tidak apa-apa. Ayo kita masuk," ucapku santai lalu melenggang pergi. Valeria segera mengikutiku dari belakang.


Begitu aku mendekat ke arah asrama, barulah bau obat kimia ini menyeruak masuk ke hidungku. Tapi baunya sedikit berbeda dengan yang tadi kuhirup. Seperti bercampur dengan bau obat lainnya.


Apa Sky sudah membuat obat penawarnya? Kalau begitu aku harus menghirup asap ini lebih banyak.


"Valeria," panggilku.


"Ada apa?" tanyanya dengan cepat.


Krieet.


Aku membuka pintu kayunya, menampilkan ruangan yang begitu kotor ... dan penuh darah. Terlihat Sky yang sedang berusaha untuk membersihkan noda darahnya.


"Loh? Se-Seas? Kalian sudah pulang?" tanya Sky gelagapan. Dia memakai celemek putih yang sudah terkena noda darah, dan ... aku bisa melihat ada kepala manusia di tong sampah.


"Sky ... harusnya kau mengubur mayatnya dulu," ucapku sambil menatap kepala itu dengan horor. Sky hanya mengangkat bahunya lalu lanjut mengelap noda darah di dinding.


"Noda darah ini biar aku yang bersihkan, tolong kau obati Valeria, nanti kita kubur mayatnya bersama." Aku melangkah ke arah Sky, lalu merebut kain lapnya dengan lembut. Sky langsung melihat ke arah Valeria, wajahnya langsung pucat saat tau banyak kulit Valeria yang terkelupas.


"ASTAGA VAL?! APA KAU BARU SAJA KENA PARUT? ATAU SEDANG DIKUPAS TADI?" teriak Sky histeris.


BUAGH!


"Aku tidak apa-apa bodoh! Ini hanya luka sedang!" ucap Valeria sambil menjitak kepala Sky. Meskipun mereka berdua selalu bertengkar, tapi ada kalanya mereka terlihat sangat akrab. Sepertinya Sky langsung membawa Valeria untuk duduk di kursi, dan dia pergi mengambil obat untuk Valeria.


"Sepertinya Sky sangat brutal kali ini," ucapku dengan ekspresi yang sedikit ngeri. Apalagi saat melihat jasad yang hampir termutilasi sempurna itu.


"Apa? Padahal ini memang gaya Sky," ucap Valeria yang membuatku semakin terkejut.

__ADS_1


"Ayolah kau tau maksudku kan? Mana ada orang yang suka membakar manusia hidup-hidup seperti Sky? Dia itu psikopat yang pintar obat-obatan," tambah Valeria lagi.


Kalau dipikir-pikir, memang benar juga. Maksudku semua teknik yang dimiliki oleh Sky, adalah teknik membunuh perlahan. Yang hampir mirip dengan penyiksaan.


Dan rata-rata jasad mereka akan sulit dikenali kalau berurusan dengan Sky. Tapi bagaimana bisa anak dengan kepribadian seperti itu malah punya sifat pemalu saat di keramaian?!


"Val! Sini!" teriak Sky dari arah lorong. Valeria menghela nafasnya lalu segera berjalan dengan kesal. Aku lalu lanjut membersihkan semua noda darah di dinding ini sendirian.


"Baiklah! Sekarang aku harus mengepel!" ucapku dengan semangat. Aku segera melihat kain lap yang sudah berwarna merah sempurna di tanganku. Bahkan bau amisnya tidak main-main. Mataku langsung mencari apakah ada bak yang biasa digunakan untuk mencuci.


"Dasar Sky, dia taruh mana baknya?" gumamku sambil terus mencari.


Bak sebesar itu bisa tidak kelihatan, apa mungkin Sky memang tidak membawanya ya?


Cplak.


Kakiku menginjak genangan air yang cukup banyak. Dan masih terasa dingin. Mataku langsung menatap lurus, melihat sebuah bukit es kecil di depanku yang belum mencair.


"Sky ... INI BAGAIMANA MENCAIRKANNYA?!" teriakku kesal. Aku langsung mendengar suara ribut dari arah lorong tadi, dan tak lama kemudian Sky serta Valeria datang sambil tergesa-gesa.


"Oh iya astaga! Esnya belum aku lelehkan!" Sky menepuk dahinya dengan ekspresi kaget. Valeria hanya berdecak pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Diledakkan saja bagaimana?" tanya Valeria memberi saran.


"Jangan!" tolak Sky dengan cepat.


"Kenapa?" tanyaku menimpali. Aku menatap mata Sky dengan intens.


"Ada sampel penting di dalam es ini, kalau kalian meledakkannya, maka sampelnya akan ikut hancur!" ucap Sky menggebu-gebu. Pada akhirnya aku dan Valeria mengalah, dan kami memilih untuk mengubur jasad yang termutilasi itu.


"Ini kenapa bisa sampai begini?" tanyaku saat memasukkan tubuh penuh lubang itu ke dalam kantong berwarna hitam.


"Kena tusuk es," jawab Sky. Aku hanya ber-oh saja untuk menjawabnya.


Jadi begini kronologinya, dia benar-benar seorang psikopat.


Hampir 2 jam kami membereskan asrama ini hingga bersih. Setelahnya kami langsung tergeletak lemas di lantai ruang tamu.


..."Sial ... masih ada 5 hari lagi."...


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!

__ADS_1


__ADS_2