
"Terserah Rex."
POV: Seas
Loh anjing?
"HAH?! APA DIA MAU KEPALANYA KUTEMBAK?!" Dari sel sebelah kiriku, Valeria mulai berteriak emosi. Aku tidak tau keadaan Sky karena dia diam saja. Jujur saja, rasanya aku juga emosi sekarang! Tapi ... jika aku pikirkan baik-baik, tindakan Rex memang diluar akal manusia.
Namun ada arti dibaliknya.
Aku, Valeria, dan Sky yang dipenjarakan begini. Pasti ada alasannya. Aku tidak bisa sembarang menebak, pasti Rex tau sesuatu yang tak diketahui olehku. Kalau memikirkan kemungkinan yang terjadi, antara aku sengaja dipenjarakan supaya aku aman.
Atau ... untuk sebuah drama? Kira-kira yang mana ya? Atau justru bukan keduanya?
"Bisakah kau diam? Seas dan Sky tuh jadi anak yang penurut! Kenapa kau berisik sekali sih!" ujar penjaga itu sambil menatap Valeria marah. Valeria lalu menempelkan wajahnya ke jeruji, berusaha mengintip keadaanku dan Sky.
"Yo! Tenang saja! Percayakan ini pada Rex! Bukankah ini waktu yang pas bagi kita istirahat?" ucapku sambil tersenyum pada Valeria. Dia langsung cemberut, bibirnya agak mengerucut lalu dia menjauhkan wajahnya dari jeruji.
"Tch! Baiklah! Paman bawakan kami makanan!" ucap Valeria yang langsung disuguhi tatapan melotot oleh si penjaga. Sabar paman, aku tau isi hatimu. Valeria memang anaknya seperti itu, agak agak tidak tau diri.
Penjaga itu tampak mengepalkan tangannya sambil menarik nafas panjang. Dia kemudian pergi meninggalkan kami, entah mengambil makanan atau justru menghilang. Aku merebahkan badanku di lantai yang terasa dingin, beruntung aku sudah pakai seragam, jadi dinginnya tidak menusuk kulitku.
"Kira-kira kenapa Rex memenjarakan kita, ya?" tanya Sky dari sel sebelah.
"Awas saja om om tua itu! Akan kurontokkan giginya nanti jika ketemu!" geram Valeria yang masih tidak terima.
"Hahahaha! Siapa yang bisa menebak jalan pikiran Rex? Diantara seluruh orang di Underworld School, dia adalah yang paling tidak waras," jawabku sambil tertawa hambar.
"Ugh, kau benar sih ... tapi apakah harus seperti ini? Rasanya aku jadi seperti penjahat yang terjahati," ucap Valeria lagi.
"... Sebelum memasukkan seseorang ke penjara di Underworld School. Memang tidak dibutuhkan sidang dan lain-lainnya. Tapi ... ini membutuhkan persetujuan dari para agen tingkat atas yang teratas.
Karena biasa orang yang dipenjarakan di sini, adalah mereka yang sudah tidak memiliki kepedulian terhadap Underworld School." Dari samping sel, Sky berucap tenang. Aku melirik ke arah tembok di sisi kananku.
"Jadi kau bilang, bahwa tindakan ini salah, kan? Karena kita tidak melakukan hal yang kau sebutkan," ucapku.
"Kalau begitu, berarti ada sesuatu di balik hal ini!" Valeria berucap agak keras dari selnya.
.
.
__ADS_1
.
Setelah itu, kami sepertinya dipenjarakan cukup lama. Mungkin sekitar satu hari lebih. Barulah aku melihat wajah Spinx yang muncul dengan garang. "... Keluarkan mereka bertiga. Masa tahanan mereka sudah selesai," ucapnya pada si penjaga. Sel kami mulai dibuka satu persatu, dan kami keluar lalu berjalan ke arah Spinx.
"Akhirnya! Rasanya di dalam sana sangat sempit," ucapku sambil meregangkan otot badan. Valeria masih terlihat setengah mengantuk, beberapa kali dia menguap. Sedangkan Sky sendiri juga begitu, dia terlihat mengucek matanya beberapa kali.
Puk!
Aku melirik ke arah Spinx, dia mengusap rambutku dan Sky dengan kedua tangannya. "Kalian pasti kaget, maaf karena membuat kalian dalam kebingungan. Sekarang, ikutlah denganku. Kalian akan menemui Rex," ucapnya dengan wajah yang datar.
"OKEH! AYO KITA TONJOK MUKA OM OM ITU!" Valeria langsung menyingsingkan lengan bajunya, sorot matanya berapi-api. Setelahnya, kami berjalan keluar dari tempat penahanan itu. Dengan Spinx yang ada di depan, kami bertiga berjalan di belakangnya.
"Itu mereka, kan?"
"Benar, sepertinya itu mereka. Lihatlah si mata ungu."
"Sudah jelas mereka! Mana ada perempuan berambut merah panjang seperti di tim iblis itu?!"
Aku mengernyitkan keningku, aku yakin mendengar suara orang-orang yang berbisik-bisik. Memang para warga Underworld School tidak banyak, tapi sepertinya aku melihat kerumunan yang cukup ramai hingga kami sampai di gedung Rex.
Ting!
Sraattt!
Cklik.
Begitu liftnya berhenti, pintu lift ini langsung terbuka. Menampakkan sebuah pintu coklat yang masih tertutup rapat. Kami berempat turun dari lift dan berdiri di depan pintu itu.
"Rex kami mas-"
"OYYY REEXXX! CEPAT BUKA PINTUNYA! ATAU KUTENDANG SAJA HAH?!" Valeria memotong ucapan Spinx. Agen tingkat atas itu langsung menghela nafasnya. Sedangkan dari dalam ruangan, terdengar suara tawa yang renyah.
"Masuklah!" sahut Rex dari dalam.
BRAK!
Valeria langsung menendang pintu itu hingga terbuka. Menampilkan sesosok pria berbadan besar yang sedang duduk sambil meminum teh di meja kerjanya. Hm? Tumben dia tidak menghilang lebih dulu? Biasanya dia akan menghilang lebih dulu baru muncul.
"Kebetulan kalian datang di saat waktu istirahatku! Duduklah, aku akan memberi kalian teh," ucap Rex dengan senyuman yang lebar. Aku langsung menatapnya aneh.
"Tidak ada racunnya, kan?"
__ADS_1
"Hahaha! Tidak ada, aku tidak punya hobi menipu orang yang pandai," jawabnya santai.
Berarti kau suka menipu orang bodoh.
Kami berempat masuk ke dalam ruangan, aku, Sky, dan Valeria duduk di kursi panjang berjejeran, sedangkan Spinx berdiri sambil bersandar di dinding belakang kami.
"Katakan kenapa kau menahan kami di penjara!" Valeria langsung menodong Rex dengan pertanyaannya. Aku dan Sky duduk dengan tenang, setelah tehnya datang, kami berdua memilih untuk minum teh.
"Oh itu? Hm~ apakah aku harus memberitahu kalian?" tanya Rex dengan senyumannya.
"Jangan bercanda!" Valeria agak emosi.
"... Selama di jalan tadi. Aku mendengar beberapa orang berbisik tentang kami. Sebenarnya apa yang terjadi selama kami di penjara?" tanyaku pada Rex dengan tenang. Pria itu melirik ke arahku dengan tenang, matanya agak menyipit sambil tersenyum melihatku.
"Yah, ada sebuah fitnah tidak masuk akal yang menyerang kalian. Karena itu, demi menyelesaikan masalah ini, ada tindakan yang harus kuambil," jawab Rex santai. Aku dan teman-temanku langsung bingung bersamaan.
Fitnah apa?
"Nanti kalian akan tau sendiri apa fitnahnya, jadi aku tidak berniat memberitahu kalian hahaha!" ucap Rex lagi. Setelah itu aku mengangguk, rasanya aku sudah tidak perlu bertanya lagi. Jika Rex bilang nanti kami akan tau sendiri, yasudah. Untungnya Valeria juga tampaknya akan diam.
"Oh! Aku memanggil kalian ke sini, karena aku hendak memberi kalian misi baru," ucap Rex yang baru teringat pekerjaannya. Dia berdiri, lalu mengambil sebuah gulungan kertas di dalam lokernya. Kertas berwarna ungu kebiruan yang terlihat mewah, bahkan digulung dengan pita berwarna emas.
"Misi baru? Tepat setelah kami ditahan? Apa kau berencana mengirim kami ke tempat yang jauh?" tanyaku heran. Rex hanya tersenyum, tidak menjawab pertanyaanku. Matanya kemudian melirik ke arah Sky.
"... Apa kalian tau tentang negara yang bernama Hyacinth?" Pertanyaan asing dari mulut Rex, yang tentu saja kujawab dengan gelengan kepala.
"Negara itu dipimpin oleh seorang raja, dan masih menggunakan sistem bangsawan serta kasta. Walaupun sistem mereka masih agak kuno, namun ilmu pengetahuan negara itu cukup berkembang pesat.
Terlebih di bidang farmasi." Rex agak memelankan nada suaranya di kalimat terakhir. Aku sebenarnya tidak cukup paham kenapa dia tampak seperti sedang memancing sesuatu. Tapi aku jadi tau siapa yang hendak dia pancing, saat aku melihat Sky yang agak gemetaran dan mengepalkan tangannya di atas paha.
"... Benarkan? Sky? Misi kali ini akan dilakukan di tanah airmu," ucap Rex yang membuatku melotot tak percaya. Bukan hanya aku, bahkan Valeria sampai meneteskan teh yang baru saja dia minum dari mulutnya.
"Apa?" tanyaku dan Valeria bersamaan. Rex mengangkat bahunya sambil menggeleng.
"Misi kali ini, tujuannya adalah ... menangkap ekor dari organisasi aneh yang sedang menyerang kita."
Organisasi aneh?
"Yak itu saja yang bisa kuberitahukan pada kalian! Agen yang mendampingi kalian dalam misi ini, adalah agen X dan agen C!" ucap Rex lagi.
"HAH? AGEN C IKUT?!"
__ADS_1
TBC.