
POV: Author
Di dalam tempat yang begitu gelap itu, seorang remaja berambut kuning tampak mengambang bagaikan di dalam air. Deru nafasnya begitu lembut, kelopak matanya tertutup rapat-rapat.
Dingin, ringan, dan nyaman. Begitulah yang remaja itu rasakan di dalam kegelapan ini, hingga seberkas api mulai membakar ruang hampa itu. Sky membuka matanya saat merasakan hawa panas yang kian menghangatkan tubuhnya.
"... Ini dimana?" ucapnya sembari melihat ke kiri dan kanan. Namun yang bisa dia temukan, hanyalah kegelapan dan api semerah darah di sekelilingnya.
"Kau sudah bangun?" Suara berat yang menggetarkan ruang gelap ini terasa begitu nyata. Sky mulai mencarinya, ke semua arah. Hingga dia melihat sesosok pria dengan kepala yang terbakar di sana. Pria itu menoleh, dan dalam sekejap tubuh pria itu berubah menjadi kobaran api raksasa.
Tanpa tubuh, hanya mulut dan mata. Kobaran api itu semakin mendekati Sky. Remaja itu bisa merasakan bahwa kulitnya kian memanas hingga rasanya begitu menyiksa. Namun dia tidak bisa menghindar, hanya bisa diam melihat kobaran api semerah darah yang mendekatinya.
"Sky ... aku selalu bertanya-tanya. Bagaimana bisa sosok lemah sepertimu menghasilkan iblis sepertiku?" ucap sosok itu. Sky awalnya masih diam, dia mencoba mengingat-ingat sesuatu, yaitu suara kobaran api tadi terdengar begitu familiar.
"... Hades?" tanya Sky ragu. Kobaran api raksasa itu mulai mengecil, hingga apinya hanya sebesar butiran api lilin.
"Aku, adalah wujud dari darahmu. Hades, adalah wujud dari amarah.
Tapi ... kenapa aku justru tidak merasakan sedikitpun amarah dari dalam hatimu?" Pertanyaan yang Hades lontarkan itu, membuat Sky terdiam. Tentu saja Sky tahu, bahwa nama Hades adalah perwujudan dari iblis amarah. Dibandingkan dengannya, Hades lebih cocok dijadikan nama senjata Seas.
"Sebenernya siapa dirimu itu? Bagaimana bisa kau menciptakan aku, padahal tidak ada sedikitpun amarah dari dalam hatimu? Justru yang kurasakan hanyalah rasa kecewa yang amat besar," ujar Hades sekali lagi. Kobaran apinya mulai meluas, membakar tubuh Sky dari kaki hingga ke lehernya.
"... Aku akan menantikan jawabanmu, Sky. Sekarang kembalilah, belum waktunya kau mati."
WUSHH!
"UHUK! UHUK UHUK!" Sky terbangun dan langsung batuk berdarah. Dia merasakan sakit yang amat perih setiap kali dia batuk. Untungnya batuk itu segera reda, sehingga dia bisa mulai berpikir secara logis.
Dinding mewah yang berhiaskan ornamen dari emas dan berlian. Langit-langit elegan dengan lampu gantung dari berlian. Dan kasur empuk selembut sutra yang dia kotori dengan darahnya.
Ah ... jadi begitu ya? Aku dibawa kembali pulang,-batin Sky.
Sky meremas sprei putih tulang yang ada di bawahnya, rahangnya mengeras menahan emosi yang mulai membuncah.
__ADS_1
Pada akhirnya aku kembali ke sini, sialan!-batin Sky.
Krieeett.
Sky melirik ke arah samping, melihat pintu besar dua belah yang mulai membuka. Sosok pertama yang dia lihat adalah pria yang cukup tua dengan pakaian mewah yang glamor, lalu beberapa pria dan wanita lain yang memakai pakaian serba putih.
Yang pakai baju putih, pasti dokternya,-batin Sky menebak.
Dugaan Sky benar, pria yang memakai pakaian mewah itu memilih untuk berdiri agak jauh dan Sky, dan hanya mengamatinya ketika para dokter mengobati Sky. Tak butuh waktu lama, mereka segera melapor pada pria dengan pakaian mewah itu dan izin keluar dari kamar.
Sekarang, tinggal Sky dan pria itu di kamar ini.
Pria itu mulai berjalan mendekati Sky, tangannya menarik kursi kayu yang ada di samping ranjang untuk dia duduki. Setelah dia duduk, dia menatap Sky yang tampaknya enggan membalas tatapannya.
"Kenapa kau pulang? Bukankah kau bilang kau tidak akan pulang?" Suara pria itu terdengar begitu dingin dan tanpa perasaan. Hati Sky langsung terasa sakit, dia menggertakkan giginya beberapa kali sebelum akhirnya menjawab.
"Aku juga tidak mau pulang. Leonax yang membawaku ke sini," jawab Sky acuh.
"Tch, lebih baik kau segera pergi lagi saja. Aib sepertimu memang lebih baik menghilang dari keluarga ini." Pria itu berdiri dan langsung keluar dari kamar sambil membanting pintu. Suara yang cukup keras untuk menggetarkan hati Sky. Beberapa menit setelahnya, pintu itu kembali terbuka, menampakkan sosok remaja seusia Sky dengan satu pria lain di belakangnya.
"... Aku mau tidur, bisakah kalian keluar?" ujar Sky tanpa ekspresi, Dira agak tersentak mendengar ucapan Sky, namun dia menurutinya dan segera keluar dari kamar. Tetapi, tepat sebelum dia menutup pintu, dia kembali berbicara.
"Semoga cepat sembuh, Sky."
Cklak.
"... Bukankah aku juga menyuruhmu keluar? Leonax?" ujar Sky dingin sambil melirik seorang pria yang masih berdiri tegap, menatap Sky dari samping kasur. Leonax melihat ke arah Sky, lalu dia berbicara.
"... Saya akan tetap di sini saja."
"Tck, kau pasti mencegah aku kabur dari rumah lagi, kan?" ujar Sky dengan senyuman yang dipenuhi rasa muak. Sky memutar bola matanya malas, dan lebih memilih untuk melihat ke arah jendela kali ini.
"... Kenapa anda kabur-"
__ADS_1
"Pertanyaan bodoh macam apa itu? Bukankah kau yang paling tau, aku diperlakukan seperti apa di rumah ini?" selak Sky cepat sebelum Leonax menyelesaikan pertanyaannya. Suasana di kamar itu langsung menjadi hening dan canggung, Sky yang terlihat memendam emosinya seorang diri, dan Leonax yang tampaknya tidak bisa memahami Sky.
"... Selalu begitu, selalu saja begitu ... memangnya mereka pernah melihatku sekali saja? Tidak, kan? Tidak pernah!" ucap Sky tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.
"Mereka selalu memperhatikan anda Tuan-"
"TIDAK PERNAH!" Sky membentak dengan keras, emosinya sudah sangat membuncah sekarang. Dengan gerakan yang tertatih, dia berusaha untuk duduk di atas kasurnya. Leonax berusaha membantunya, tapi Sky dengan keras menghempaskan tangan Leonax.
Sky melihat ke arah dadanya yang kini terperban rapi, ada sedikit bercak darah di dada bagian kirinya. Sky memandang langit fajar yang kian menjadi cerah. Matahari telah terbit, mengakhiri malam mencekam yang mereka lalui.
"Tidak pernah ... untuk sekalipun mereka tidak pernah memandangku, Leon! Padahal ...
Padahal aku juga sudah berusaha ... kenapa yang mereka lihat hanya Dira? Tidak ... lebih dari itu, apakah mereka benar-benar menganggapku anak mereka?" tanya Sky dengan mata yang berkaca-kaca, suaranya gemetar, hatinya tak kuasa menahan rasa perih yang kembali teringat di benaknya. Leonax tidak bisa menyangkal, karena dia jugalah yang melihat Sky tumbuh dari kecil hingga beranjak remaja.
"Tuan muda ..."
"Cukup, aku bukan lagi tuan muda. Aku sudah membuang sebutan itu sejak 3 tahun yang lalu." Sky turun dari ranjang, mengambil pakaiannya yang digantung di sebuah tiang pendek. Mata Sky melihat jubah putihnya yang kini dipenuhi darah, yang tentu saja itu adalah darahnya sendiri.
Sky mulai melepaskan pakaian pasien yang dia pakai, dan berhenti kembali ke seragam Underworld School. Leonax yang melihat apa yang Sky lakukan, panik dan menghalangi pintu keluar.
"... Apakah anda akan pergi lagi?"
Sky menoleh, sorot matanya kosong, dia menatap Leonax sambil tersenyum hampa.
"Aku ... tidak pergi, Leon." Sesaat kemudian, sorot mata Sky kembali bersinar.
"Aku hanya pulang, ke tempatku seharusnya berada. Yaitu bersama dengan Seas dan Valeria." Sky melupakan rasa sakit yang menyengat di jantungnya, dia berlari dengan cepat dan memecahkan jendela dengan bahunya.
PRANGG!
"TUAN MUDA!" Leonax yang tidak menyangka bahwa Sky akan keluar dari jendela, tidak bisa bereaksi tepat waktu, dia hanya bisa menatap kepergian Sky yang melompat kamar istana yang tingginya 100 meter ini.
Sky sebenarnya masih bisa mendengar teriakan Leonax, tapi dia memilih untuk mengabaikannya. Sakit hati yang dia terima sejak dulu, sudah terlalu membekas hingga bernanah.
__ADS_1
TBC.
Eps selanjutnya-> Sky si Siput!