
1 minggu sebelum ujian tahap ke-3.
POV: Seas
Sudah seminggu berlalu semenjak terakhir kali, dan sekarang Valeria serta Sky juga sudah keluar dari pusat perawatan. Tapi ... entah ini hanya perasaanku saja atau ... mereka jadi lebih pendiam?
Dan ... sedikit ... apa namanya? Sensitif? Overprotektif?
Oke-contohnya seperti, saat aku sedang berlatih dengan daggerku, lalu aku tak sengaja merintih karena lututku lelah. Mereka langsung ... membawakan satu lusin perban baru untukku. Lututku kemudian dibalut perban itu hingga rasanya sangat tebal.
Karena itu sekarang aku sedang merenungkan diri sambil duduk di atas genteng asrama. Mataku tidak lepas dari lututku yang masih diperban oleh mereka.
Ini terlalu tebal ... seperti aku harus memasangnya sendiri.
Aku membuka perbannya dan memasangnya sesuai kebutuhanku. Mulai dari putaran pertama hingga putaran ke-5. Setelah dirasa cukup, aku memotong perban yang tersisa dan menggulungnya, lalu memasukkannya ke dalam saku.
Sky akhir-akhir ini sering keluar asrama, entah dia pergi kemana, tapi yang pasti, setiap dia kembali bajunya akan jadi sangat lusuh dan kotor. Valeria malah kebalikannya, dia hampir tidak pernah keliatan kecuali saat jam makan. Dia seperti orang yang mengurung di kamar.
Apa jangan-jangan jiwa mereka tertukar??
Klik ... brak!
Aku menatap ke arah bawah, melihat Sky yang keluar asrama lagi dan berjalan cepat ke arah gang kecil. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk masuk ke dalam asrama dan mulai memeriksa kamar Sky.
Cklik cklik!
Untungnya dia tidak mengunci pintunya dengan benar. Jadi aku mudah untuk membobolnya. Aku langsung memperhatikan sekeliling, masih ada alat penelitian, bahan obat kimia, dan beberapa larutan aneh lainnya.
Yang mengganjal hanyalah bau asam yang entah berasal dari mana ini, rasanya baunya asam tapi bukan asam yang beracun. Bagaimana mengatakannya ya, mungkin ini mirip seperti gas atau aroma yang makhluk hidup keluarkan.
"Hah? Aroma? ... Keringat?" Aku langsung sadar dengan bau yang familiar ini. Padahal selama ini aku tidak pernah mencium bau badan orang lain yang separah ini, apalagi Sky, tubuhnya selalu dipenuhi bau obat-obatan, begitu juga dengan kamarnya. Sekarang saat aku tau bahwa kamarnya dipenuhi bau keringat, aku jadi mulai menebak apa yang Sky lakukan selama ini.
Apa aku harus memeriksa kamar Valeria juga?
***
__ADS_1
Tok tok tok!
Aku mengetuk pintu kamar Valeria sebanyak 3 kali.
"Masuk saja! Tidak dikunci!" teriak Valeria dari dalam kamar. Aku mulai menarik kenop pintu ke bawah, dan menatap langsung ke arah Valeria yang duduk tenang di atas kasur.
Aku terbengong sejenak, menatap Valeria yang sangat tenang.
"Ini ... kalian masih sehat kan? Apa mungkin otak dan akhlak kalian ikut tergeser saat patah tulang?" tanyaku dengan ekspresi yang horor. Valeria hanya membalasku dengan tatapan yang malas lalu fokus kembali dengan apa yang sebelumnya dia lihat.
Karena penasaran, aku jadi mengikuti arah pandangan Valeria. Mataku kini tertuju pada sebuah kotak kayu yang digantung di sana. Entah apa yang Valeria lihat dengan serius.
"Kau melihat kotak kayu?" tanyaku bingung.
"Ya." Valeria menjawab dengan cepat.
"Apanya yang kau lihat?" tanyaku lagi.
"Sssst! Aku sedang menghitung pori-pori kayunya!" ucap Valeria tanpa mengalihkan pandangannya.
Detik itu aku langsung tertegun.
"Tunggu-tunggu, kenapa kalian tiba-tiba berlatih keras? Kekalahan kita itu bukan salah kalian- ah, maksudku ... kalian kan baru saja keluar dari rumah sakit, bagaimana kalau kalian istirahat hingga pulih total?" tanyaku dengan nada yang kubuat sebaik mungkin. Valeria tidak merespon ucapanku dan masih fokus di papan kayu itu.
"5.983, nah tadi kau bilang apa?" Valeria baru menoleh lagi padaku setelah selesai menghitung pori-pori kayu tadi. Aku menatap ke arah mata Valeria yang sudah berair dan keliatan sangat lelah.
"Jangan ... terlalu memaksakan diri. Kekalahan kita waktu itu bukan hanya kesalahan kita saja," ucapku lagi dengan tatapan yang kasihan.
"Aku tidak peduli itu salah siapa. Tapi jika kita kalah, bukankah artinya kita memang kalah?" Perkataan Valeria langsung membuatku tertegun.
"Aku tau kau khawatir pada kami. Tapi, kami juga tidak bisa membebankan semuanya padamu. Aku sudah mendengarnya dari agen yang bernama Ghost saat masih berada di ruang perawatan, katanya kau sudah menyelesaikan ujian tahap ke-3 demi kami.
Aku dan Sky hanya tidak mau tertinggal lebih jauh lagi darimu," jawab Valeria dengan senyuman yang lebar. Aku meremas kain celanaku sambil menahan perasaan geli yang mengalir di hatiku.
Ternyata aku salah paham, kukira mereka frustasi karena kalah. Ternyata mereka masih memiliki motivasi yang jernih.
__ADS_1
"Baiklah, tapi jangan sampai kau kelelahan. Oh dan satu lagi! Nanti saat Sky sudah pulang, bisakah kalian menemuiku di kamar? Ada sesuatu yang harus kukatakan tentang ujian ini." Aku berbalik sambil melambaikan tangan ke arah Valeria. Setelah itu aku segera menutup pintu, dan berjalan kembali ke kamarku.
***
"138 ... 139 ... 140." Aku sedang berolahraga di kamarku sekarang. Aku berdiri dengan kedua lenganku sambil berusaha menjaga keseimbangan.
Tok tok tok!
"Masuklah!" ucapku sambil menurunkan posisi tubuhku kembali seperti semula.
Cklek.
Valeria dan Sky memasuki kamarku dengan tatapan penasaran, Sky masih memakai baju biasa dengan jaket laboratorium yang selalu menempel padanya, sedangkan Valeria memakai tank-top dengan celana hitam panjang serta sepatu.
"Duduklah dulu di sebelah sana, aku akan mengambil handuk terlebih dahulu." Aku mengarahkan mereka ke sebelah meja di kamarku, sedangkan aku sendiri berjalan pergi untuk mengambil handuk, karena aku harus mengeringkan keringatku.
"Nah, jadi bagaimana? Apa ada sesuatu yang lain?" Sky bertanya sambil duduk membelakangi arah kursi. Valeria memilih duduk di pinggir meja dan bersandar di dinding kamar.
"Oh? Sejauh mana yang sudah kalian ketahui?" tanyaku sambil mengelap pelipis serta daguku.
"Tentang misi untuk mencari informasi obat halusinasi? Ya, setidaknya sudah sampai situ." Valeria berbicara dengan santai. Aku mengernyitkan dahiku, menatap mereka dengan bingung.
"Siapa yang memberitahu kalian?" tanyaku.
"Ghost," jawab mereka serempak.
"Tck, padahal aku yang ingin memberitahu, tapi keduluan. Yah, kalian sudah tau semua sih ...," ucapku dengan nada yang sedikit kecewa. Aku melemparkan handuk yang basah karena keringatku ke pojok ruangan, dan mulai teringat sesuatu.
"Oh! Ada lagi! Aku ... menemukan kelemahan dari seni yang ku-kuasai saat ini!" ucapku sambil menatap Sky. Valeria dan Sky langsung terkejut, mereka saling bertatapan satu sama lain, lalu ganti menatapku.
"Apa? Ada kelemahannya? Kenapa kau baru sadar sekarang?" tanya Sky.
"Karena selama ini, kita belum pernah mencoba bertarung di medan yang terang."
TBC.
__ADS_1
Jangan lupa likenya ya guys!
PS: mohon maaf karena akhir2 ini kayaknya yang terupdate cuma 500 kata:) apalagi sampai kedobelan bab. Entah ini sananya yang eror atau memang jaringan saya yang ga beres:)