Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Dirawat.


__ADS_3

POV: Sky


Aku terdiam sambil menatap Seas dari luar jendela. Sekarang kami berada di asrama lain, karena asrama asli kami sudah rusak. Di dalam sini, Seas sedang dirawat oleh Venom dan beberapa agen tingkat atas yang ahli dalam obat-obatan.


Seas kehilangan hampir setengah darahnya, tapi dia masih bisa bertarung dengan kondisi itu. Bahkan darah yang mengalir ke otak dan jantungnya sudah hampir tidak ada.


Anehnya, hatiku kini yang merasa hampa. Dua kali aku melihat Seas dalam kondisi yang kritis, dan aku selalu terlambat untuk menyelamatkannya. Tapi setidaknya, aku merasa lega karena Valeria yang tidak terluka parah.


"Val, kau yakin tidak apa-apa?" tanyaku sambil menoleh ke arah samping. Tapi Valeria sudah tidak ada.


"Lah? Bukankah tadi dia di sini?! Kemana?!" ucapku panik sambil melihat ke kiri dan kanan, tapi Valeria tak ada di manapun.


Sial! Dia kemana lagi?! Apa aku harus meninggalkan Seas dan mencarinya?! Tapi bagaimana jika Seas butuh sesuatu?!


Ah tidak apa-apa! Aku cari Valeria dulu saja sebentar!


Brak!


"Permisi, apakah kau teman Seas?" Baru saja aku berbalik dan hendak mencari Valeria, tapi sudah ada seorang agen kelas atas yang keluar dari ruangan Seas. Aku jadi berbalik lagi dan menatap agen kelas atas yang ternyata seorang perempuan itu.


"Benar, aku teman Seas. Bagaimana keadaannya? Um ..." Aku ragu-ragu untuk memanggil siapa namanya, karena aku masih belum tau panggilannya. Wanita itu tersenyum lembut sambil mengusap pucuk kepalaku pelan.


"Codenameku adalah Bloom," ucapnya ramah.


"Bagaimana keadaan temanku, Bloom?" tanyaku pada wanita berambut pink cerah serta eyeshadow ungu muda di kelopak matanya.


"Temanmu sudah melewati masa kritis, mungkin dia akan sadar sebentar lagi. Dan jika dia sudah sadar, segera panggil aku atau Venom." Bloom segera pergi dengan Venom yang mengikutinya dari belakang. Ruangan itu langsung sepi, perlahan-lahan aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam ruangan ini.


Tanganku menyentuh tepi ranjang Seas, serta mataku menatap ke arah banyaknya selang untuk tambah darah di lengan Seas. Bahkan wajahnya juga diperban hampir setengah. Hanya mata kirinya saja yang tidak ditutup oleh perban.


Rambut putihnya terlihat basah karena dibersihkan dengan air, sepertinya darahnya juga mengotori rambut Seas.


Drap drap drap drap!


Aku mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat, sepertinya dia berlari. Meskipun aku sudah bisa menduga ini siapa, tapi syukurlah dia tetap kembali ke sini.

__ADS_1


Valeria.


"Akhirnya ketemu! Hah hah hah!" Valeria berhenti di pintu sambil terengah-engah. Tangan kanannya bersandar pada dinding, sedangkan tangan kirinya memegang sebuah kertas.


Itu ... surat untuk lulus ujian?! Kukira kita sudah kehilangan suratnya!


"Kau tadi pergi untuk mengambil surat itu?" tanyaku tidak percaya. Valeria mengatur nafasnya lebih dulu, lalu menatap ke arahku sambil tersenyum cerah. Tangan kirinya melambai-lambaikan surat itu.


"Aku tidak bisa gagal di ujian ini! Tidak, kita tidak boleh gagal di ujian ini! Pengorbanan Seas dalam menjaga surat ini tidak main-main, untung saja aku paham maksud Seas saat dia bilang surat ini terbakar tadi!" ucap Valeria sambil masuk ke dalam ruangan. Dia kemudian duduk di tepi ranjang Seas yang dekat dengan jendela, dan menarik surat itu di meja.


"Tadi Seas bilang suratnya terbakar?" tanyaku bingung.


"Iya, tapi hanya untuk mengelabui musuh," jawab Valeria sambil berbisik. Aku segera berdiri dan mendekatkan diri ke arah Valeria.


"Kenapa kau berbisik?" tanyaku sambil ikut berbisik.


"Aku tadi baru sadar, bahwa penyusupnya bukan ada 3 ... tapi 4." Valeria berbisik dengan sangat pelan. Rasanya jantungku berhenti berdetak untuk sesaat.


Ada 4? Tapi yang kami lihat hanya 3 ... 2 terbunuh, dan satunya dibawa oleh para agen tingkat atas ... satunya kemana?!


"Seas menyimpan suratnya di dalam pintu kayu. Aku tadi sampai harus memporak-porandakan kamar Seas untuk menemukan suratnya tahu!" Valeria tersenyum sambil mengatakan hal itu. Meskipun dia mengatakannya dengan nada yang kesal, tapi Valeria terlihat bahagia saat menatap Seas yang terbaring.


Aku segera berdiri dan berjalan keluar dari kamar. Sebelum menutup pintu, aku menatap ke arah Valeria dan Seas yang tertidur pulas.


Benar, seharusnya aku berusaha lebih keras lagi. Tunggulah aku, Seas! Valeria!


***


POV: Seas


Ugh ... sakit ... berat ... ini ... dimana?


Aku terbangun di sebuah tempat yang gelap dan dingin. Tanpa cahaya, tanpa angin yang berhembus. Satu-satunya yang bisa kulihat, adalah sebuah tunas di depan sana.


Tunas itu bercahaya ... seperti memanggilku untuk mendekat ke arahnya.

__ADS_1


Cplak ... cplak ... cplak ... clak.


Aku berjalan pelan ke arah tunas itu, tanganku secara tidak sadar mulai berniat untuk memetiknya. Tunas ini hanya punya daun kecil di ujungnya, tapi terlihat sangat menggoda untuk dipetik.


Baru saja aku hendak menyentuhnya, tunas itu berubah wujud menjadi seseorang.


"Ka ... kak?!" Aku mengepalkan kedua tangannya erat. Amarahku membuncah naik begitu melihat wajah orang yang membunuh keluargaku.


"Ha ... HAHAHAHAHA!" Dia tertawa kencang, rasanya gendang suaraku ingin pecah saat mendengarnya.


GREB!


"OKHH!" Aku dicekik olehnya, tenaganya sangat kuat, bahkan aku bisa merasakan tubuhku yang terangkat karena tenaganya itu. Mata ungu yang kulihat, perlahan berubah menjadi merah.


Dia ... bukan kakakku!


"Kau marah? Karena aku meniru wujud kakakmu?" tanyanya dengan suara yang menggema. Aku hanya bisa terdiam, karena tenggorokanku dicekik, sangat sulit untuk menjawab pertanyaannya.


"Kenapa kau marah?~ Bukankah keluargamu terbunuh ... KARENA KAU LEMAH?!" Dia berteriak di akhir kalimatnya. Aku semakin kesulitan bernapas karena cekikannya semakin kuat, wujud kakakku perlahan luntur, digantikan oleh cahaya ungu yang aneh.


"Aku heran ... kenapa aku punya tuan sepertimu. Padahal di tubuhku juga ada darahmu, tapi kau sangat lemah. Apa kau pikir kau pantas jadi tuanku?" ucapnya sambil menatapku nyalang.


Suara ini ... senjataku?! Dia bisa masuk ke dalam mimpi?! Kenapa Ron tidak memberitau ada hal semacam ini!


"Baru sadar sekarang? BANGUNLAH BODOH! KALAU KAU TIDAK BANGUN, TUBUHMU AKAN HANGUS TERBAKAR!"


DEG!


"HAH! UHUK UHUK UHUK!" Aku terbangun dengan tergesa-gesa. Di sekelilingku sudah tersulut api, entah ini dimana, tapi yang pasti ... ini bukan kamarku yang dulu.


Aku tertegun sejenak melihat Valeria yang masih tidur pulas.


Bahkan Valeria tidak bangun?! Kalau begitu ... di ruangan ini, ada yang sengaja memberi obat bius di udara!


TBC.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya ya guys!


__ADS_2