
POV: Author
-Esok malam.
Ini adalah malam yang cerah namun juga sedikit mendung, terlihat bulan sabit yang tertutup oleh awan yang tipis di langit. Besok pagi adalah hari eksekusi para agen Underworld School.
Di dalam sel tahanan, Seas merenung sambil menatap jeruji besi yang mengurungnya. "Hm ... harusnya sebentar lagi dimulai," gumam Seas sambil kembali merebahkan diri di atas lantai keras.
"Apanya yang dimulai?" tanya Valeria dari jeruji yang ada di depan Seas.
"Negara ini ... sebentar lagi akan dilanda bencana yang mengerikan," ujar Seas dengan seringaian santainya.
.
.
.
DUUAARR!
DUUUAAAR! BOOOM! DUUUAARR!
Suara ledakan terdengar dari berbagai penjuru kota. Gedung-gedung hancur lebur, terbakar oleh nyala api yang bahkan bisa menerangi malam. Asap-asap hitam nan panas mengepul ke udara, membuat langit yang gelap menjadi lebih hitam.
Dari atas gedung, terlihat Razeks yang berdiri tenang sambil melihat kekacauan yang kelompoknya buat. Dia mengedarkan pandangannya, merasa janggal dengan keadaan yang saat ini terjadi.
"... Kenapa sangat sepi ... bukankah harusnya ada banyak orang yang berteriak dan mati?" gumam Razeks sambil terus melihat ke bawah. Tapi tak peduli kemanapun matanya bergerak, yang dia lihat hanyalah jalanan kosong serta rumah yang tak berpenghuni walaupun lampunya menyala.
Di sisi lain kota, Cosses juga merasakan hal yang sama. Dia tidak melihat satupun manusia yang tampaknya menangis dan ketakutan dengan banyaknya bom yang mereka lancarkan. Begitu juga dengan lokasi yang ditangani oleh Parrot, hanya suara bom dan bangunan yang ambruk yang terdengar. Suara jeritan, suara tangisan, dan suara ketakutan, tak ada satupun dari mereka yang terdengar.
"... Ini, terlalu aneh," gumam Parrot. Firasatnya mengatakan bahwa mereka akan berselisih dengan hal yang merepotkan sekali lagi.
"Apanya yang aneh?"
"Karena aku tidak mendengar suara jeritan sama sekali! Harusnya kita berhasil membuat banyak korban jiwa dengan rencana kali ini!" jawab Parrot tanpa menoleh ke asal suara. Untuk beberapa detik, Parrot masih terdiam, dia segera sadar bahwa dia tidak mengenal suara orang yang mengajaknya berbicara.
Dia menoleh ke belakang, bersamaan dengan itu, wajahnya ditendang dengan sepatu boot berwarna hitam.
BUAGH!
GRUSAAKK! BRUK!
__ADS_1
Parrot terlempar ke lantai, dia merasakan sesuatu yang mengalir dari hidungnya. Saat dia menyentuh cairan apa itu, ternyata adalah darah. Parrot langsung menatap orang yang menendangnya dengan sorot mata penuh amarah.
"SIAPA KAU?!" Dia berteriak pada seorang wanita yang memakai gaun hitam dengan keranjang rotan di tangannya, wanita itu memakai penutup kain berwarna hitam yang menutupi hidung hingga mulutnya.
Dia adalah Nera.
"Siapa aku? Mimpi burukmu." Nera mengeluarkan sebuah bola kaca dengan cairan berwarna kuning di dalamnya. Bola kaca yang seukuran dengan bola kasti itu dia lemparkan ke Parrot. Namun Parrot bisa dengan mudah menghindarinya karena lemparan Nera memanglah lambat.
"Dengan lemparan begini kau mau mengenaiku?" sindir Parrot dengan senyuman meremehkan. Nera kembali mengeluarkan sesuatu, kini yang dia keluarkan bukanlah obat lagi, melainkan sebuah pistol.
"Aku tahu, karena itu aku sudah bersiap." Nera membidik ke arah bola kacanya yang masih melambung di udara, di belakang tubuh Parrot.
Dor!
PRAANGG!
Peluru itu berhasil mengenai bola kaca tersebut, membuatnya pecah di udara. Cairan kuning yang ada di dalamnya tumpah, berserakan ke sekitar.
Bzzzt.
"Apa?" Parrot sedikit kaget karena ketika cairan itu mengenainya, dia merasakan sedikit perasan tersengat listrik.
BBZZZZTTTT!
"... Dia pingsan, padahal aku mau bertanya dimana lokasi ahli parfum itu," gumam Nera agak menyesal karena menggunakan cairan listrik dengan dosis kuat. Nera kembali berlari di antara gedung-gedung yang terbakar, memburu seorang pria yang bernama Cosses.
'Aku tidak akan melepaskannya ... teknik pria itu ... akan merepotkan bila ada yang terkena selain aku!' batin Nera.
.
.
.
Sementara itu, di tempat Seas dan kawanannya ditahan.
Drrrrkkkk!
Bahkan tempat mereka beberapakali bergetar setiap terjadi ledakan. Meskipun begitu, Seas dan yang lainnya masih santai, X sedang sibuk membersihkan sepatunya, C sedang memotong kukunya dengan pisau kecil, Valeria yang mencoba memodel rambutnya dengan bentuk kelabang, dan Seas yang masih tiduran di lantai.
BRAK!
__ADS_1
Pintu ruang utama tahanan terbuka, menampilkan sesosok pria yang memakai seragam. Pria itu berjalan ke arah Seas terlebih dahulu, dan membuka kunci pintu selnya. Saat Seas melihat ke arah pria itu lagi, Seas sadar bahwa pria itu bukanlah manusia.
"Hoo, jadi ini rencanamu, X? Kau menyuruh Mores untuk meniru pegawai dan mencuri kuncinya?" tanya Seas dengan tawa renyahnya. X yang baru saja dikeluarkan dari sel, menggelengkan kepala sambil meregangkan otot tubuhnya.
"Tidak juga sih, aku hanya memberitahu bahwa tekniknya itu akan sangat hebat jika dia bisa memanfaatkannya dengan benar. Pengendalian boneka memang agak lemah dalam pertarungan, tapi ... bukankah teknik ini sangat keren sebagai pencari informasi?" ucap X sambil tersenyum miring. C yang baru saja keluar dari sel langsung menghela nafasnya.
"Kau memang cocok jadi agen mata-mata, sepertinya itu sudah mendarah daging di tubuhmu ya," ujar C yang dibalas dengan gelak tawa X.
"Nah, sekarang, apa yang harus kita lakukan?" Valeria baru saja keluar dari sel, dia ikut berkumpul bersama Seas dan X serta C. Untuk sejenak, ketiga laki-laki itu tidak ada yang berbicara, mereka menatap model rambut kelabang Valeria di kiri dan kanannya.
"Val ... kenapa kelabangnya besar sebelah?" tanya X dengan raut muka menahan tawa. Sedangkan Seas, dia sudah berguling-guling di lantai karena perutnya keram kebanyakan tertawa.
Valeria yang mendengar ucapan X, merasa agak malu, pipinya menjadi sedikit merah. "A-aku pikir model ini akan cocok, aku tidak tahu malah jadi terlihat cupu," ucap Valeria sambil melepaskan ikatan kelabang di rambutnya.
"Ekhem, permisi para agen Underworld School~ bukankah kita sangat sibuk sekarang? Kenapa kalian malah ngobrol dengan santai?!"
Keempat orang yang sibuk berbicara tadi, menoleh ke asal suara. Mereka melihat Mores yang sedang menatap mereka dengan tatapan kesal. "Kita tidak punya banyak waktu, Sky berhasil mengevakuasi semua warga. Jadi di kota ini, hanya tersisa kita dan para penjahat, oh dan juga keluarga kaisar." Mores menjelaskan.
Aku tersenyum bangga. 'Sky berhasil melakukannya! Kalau begitu, harusnya sekarang dia sudah ada di tempat janjian kita' batin Seas bersemangat. Seas segera berjalan lebih dulu, dia menarik pergelangan tangan Valeria supaya ikut dengannya.
"Ayo Val, kita berburu orang pitak!" ucap Seas semangat. Kedua remaja itu meninggalkan area tahanan lebih dulu, mereka berangkat tanpa para agen tingkat atas.
.
.
.
Di sisi Razeks, pria itu terlihat sangat gelisah. Dia menggigiti kuku jarinya dengan cepat, matanya melotot tajam penuh kebencian. "Siapa ... siapa yang menggagalkan rencana ini?!" gumamnya sendirian.
Tap ... tap ... tap ...
Razeks berhenti menggigiti kukunya ketika mendekat suara sepatu yang melangkah mendekat. Dia menoleh ke belakang, melihat seorang laki-laki yang berambut kuning dengan membawa pedang.
"Sky ... kau tidak ditangkap ya?" ujar Razeks sambil membalik badannya, berhadapan dengan Sky yang sekarang memakai jas laboratorium hitam bersama dengan sebuah pedang tipis yang cukup panjang.
"Tidak, memangnya apa pentingnya untukmu? Hari ini, adalah hari kematianmu, Razeks. Aku bersumpah, kali ini kau akan mati." Sky mengangkat pedangnya, dia merubah posisinya menjadi posisi siaga dengan mengarahkan mata pedang ke lurus ke dada Razeks.
Razeks tersenyum, dia juga mulai mengeluarkan jarum kacanya.
"Kali ini, aku tidak akan dipermainkan oleh trik kalian."
__ADS_1
TBC.