Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Konflik! (5)


__ADS_3

"VAL!"


CRAAT!


POV: Author


Tes ... tes ...


Baik itu Valeria maupun Sky, mereka langsung terdiam. Di depan Valeria, Seas berdiri sambil menghalangi sabit yang dilemparkan oleh Cassio. Sabit itu menusuk lengan Seas, terhimpit diantara tulang lengannya. "... Aku mau mengumpat tapi rasanya hari ini aku sudah terlalu banyak melakukannya. Hei kotoran babi, apa kau tau kalau ini sakit?" geram Seas pelan, tangan kirinya menahan luka di perut, sedangkan tangan kanannya menahan sabit yang Cassio lemparkan.


"Seas!" Valeria dan Sky berucap bersamaan. Kedua remaja itu menatap Seas dengan panik, kondisi Seas juga sama parahnya seperti mereka. Seas kemudian menggenggam sabit yang tertancap di lengannya, lalu dia tarik hingga terlepas. Sebuah senyuman miring terukir di bibir Seas.


"... Hei, Val, Sky. Kenapa kalian diam saja? Dia sudah tidak bersenjata loh. Ayo kita potong tangannya lebih dulu." Mata Seas tertuju pada Cassio yang kini tak bersenjata. Salah satu sabitnya tadi terlempar dan jatuh, tidak sempat dia ambil. Sedangkan sabit satunya dia lemparkan ke arah Valeria namun berakhir diterima oleh Seas.


Tidak ada mangsa yang lebih gampang daripada kelinci yang sudah tidak bisa berlari.


"... Bukankah kalian terlalu sombong? Kalian hanyalah murid di sekolah ini, apa kalian pikir kalian mampu mengalahkanku?"


"Ey ey ey~ bukankah kau yang terlalu naif tuan? Kau bukanlah warga Underworld School, bagaimana bisa kau menilai seorang murid seperti kami jauh lebih lemah darimu?


Kalau memang benar kami lebih lemah, kenapa kau harus sampai memanfaatkan Van dan Aran untuk mengecoh kami? Dasar pengecut." Valeria tersenyum lebar, dia tidak berniat menyembunyikan senyum meremehkan miliknya. Seas dan Valeria hanya tersenyum, memang tidak ada yang bisa mengalahkan Valeria dalam memprovokasi musuh.


Sky tertegun, dia melihat tubuh Cassio sedikit bergetar. Entah apa yang Cassio lakukan, tapi sepertinya dia sedang marah. Di sisi Valeria, Seas melihat bahwa Sky dalam bahaya. "Val, sisa berapa peluru?" tanya Seas cepat.


"Dua."


"Itu sudah cukup, perhatikan momentumnya, aku yang akan membuka jalan. Kesempatanmu hanya dua kali," ucap Seas. Dia melepaskan seragamnya hingga bertelanjang dada. Seragam hitam lengan panjang itu lalu Seas lilitkan di perutnya, mencegah agar dia tidak kehilangan satupun organ dalam.


Seas mengeluarkan kedua dagger pemberian Venom, lalu dia bertatapan mata dengan Sky. Sebuah kontak mata yang singkat namun sangat bermakna, seperti mengirim pesan yang hanya bisa dipahami oleh mereka berdua.


"[Teknik bayangan: nomor 3, langkah bayangan.]"


SYUSH!


Tubuh Seas yang berdiri perlahan memudar, seolah yang barusan mereka lihat hanyalah ilusi. Seas yang asli kini sudah ada di belakang Cassio. Kesempatan pertamamu, Valeria! Dalam satu gerakan, Seas menangkap kedua lengan Cassio.


Di ujung yang agak jauh, Valeria berusaha membidik dengan tenang. Abaikan rasa sakitnya, fokus. Seolah hanya ada dirimu dan target di dunia ini!


"[Teknik mata-mata: peluru bayangan.]"


Dor.


WHUUNGG!


Cassio mengetahui arah serangan Valeria, dengan cepat Cassio membalikkan keadaan. Dada Seas terkena pukulan siku oleh Cassio, membuat remaja itu merintih hingga tak sengaja melonggarkan cengkramannya. Alhasil, Cassio bisa menghindari peluru Valeria. "Rencana kalian terlalu terbaca."


"Benarkah? Lalu bagaimana dengan ini?" Dari depan Cassio, muncul Sky yang membawa satu botol cairan berwarna biru. Dilemparkannya cairan itu ke depan wajah Cassio, lalu Seas tusuk botolnya hingga bocor.

__ADS_1


"Membekulah, dasar bakteri."


KEEERRRKKK!


Cairan dari botol itu berubah menjadi es dengan sangat cepat. Mengurung tubuh Cassio di dalam es dan hanya menyisakan bagian kepala serta tangannya yang berada di luar. "Dokter sialan!" geram Cassio, dia berusaha melepaskan diri dari es milik Sky.


Kesempatan keduamu! Valeria! Sky langsung melangkah mundur, menghindari area es yang kian bertambah.


"Tembakan terakhir.


[Teknik mata-mata: peluru tornado.]"


DOR!


WHUUURRR!


Teknik yang Valeria pelajari dengan susah payah, teknik yang berkebalikan dengan peluru bayangan. Jika peluru bayangan adalah peluru yang senyap. Maka peluru ini sangat berisik.


Namun daya hancurnya 10 kali lebih kuat.


Penyebabnya adalah peluru yang ditembakkan berputar dengan kecepatan tinggi, membuat bising seperti angin yang mengiris bongkahan besi. Karena itulah teknik ini dinamakan peluru tornado.


Dan jika peluru ini mengenai target.


Jangankan menembus tubuh target, peluru ini bahkan sanggup membuat lubang dengan diameter 10 cm di tubuh mereka nanti.


KRAASSSHHH!


CRAAATT!


"KALIAN ANAK UNDERWORLD SCHOOL SIALAN! AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN SEKARANG!"


KRAAAKK!


Cassio berhasil memecahkan penjara es yang dibuat oleh Sky. Dengan langkah kaki yang tegar, Cassio berlari ke arah Valeria. Namun luka yang disebabkan oleh peluru tornado sangat besar, walaupun tidak mengenai titik fatal, itu cukup untuk mengurangi kecepatan larinya.


Dan hal ini memberi kesempatan pada sang bayangan yang terluka, untuk melahap kelinci yang sekarat.


"[Teknik bayangan: nomor 5, bayangan pohon.]"


SRIING!


CRAAATT!


Seas menerobos dari belakang, daggernya membuat lubang persegi di dada kiri Cassio. Seperti kilat yang tak bercahaya, tiba-tiba dan tak terduga. Seas mengambil jantung Cassio dalam satu detik. Pria yang kini kehilangan jantungnya, perlahan mulai kehilangan kecepatan larinya. Matanya mendadak kosong, melihat punggung Seas yang berlutut membelakanginya.


Bruk.

__ADS_1


Hingga akhirnya dia ambruk tak bernyawa.


Di depannya, Seas masih berlutut. Menahan rasa sakit tak terkira yang seperti menusuk-nusuk perutnya. Valeria juga langsung jatuh terduduk, kepalanya seperti baru saja dibebani besi seberat 100 kilo. Sedangkan Sky, dia berusaha berjalan mendatangi Seas.


"Seas ... kau ..."


"Aku baik-baik saja," ucap Seas cepat karena dia tidak ingin rekannya khawatir.


Sky terdiam sambil tetap menatap Seas. "Kau kebelet buang air besar?"


"..."


"..."


Seas dan Valeria langsung terdiam. Seas bahkan sampai meremas tanah yang ada di bawahnya. "SKY! SINI KAU! MULUTMU KUSUMPAL TANAH DULU!" Seas menoleh ke arah Sky dengan marah, sedangkan Valeria dan Sky hanya tertawa ringan. Mereka bertiga ambruk di sana, tidak pingsan namun juga tidak bisa bergerak. Saling diam dan hanya melihat langit hitam Underworld School.


Tak lama kemudian, para agen tingkat atas baru datang. Salah satu diantara agen itu, ada Agen Bloom. Agen yang dulu berperan mengobati ketiga anak itu.


"... Kenapa kalian selalu hampir mati setiap kali bertemu denganku?" ucapnya sambil melihat ketiga remaja yang terbaring sambil tertawa tanpa dosa. Valeria yang wajahnya sudah penuh darah. Seas yang perutnya hampir terbelah. Dan Sky yang seluruh tubuhnya melepuh karena terbakar sengatan listrik.


Begitulah ajaibnya mereka masih hidup.


Tanpa basa-basi, para agen memindahkan ketiga remaja itu ke pusat penanganan kesehatan. Sedangkan para agen yang lain masih mengevakuasi, mereka menemukan Van serta Aran dalam kondisi yang sama mengenaskannya.


Dan, satu mayat yang tak dikenal dengan dada yang berlubang.


"Oh iya! Bloom! Ini jantung penjahatnya! Aku lupa karena kutaruh di saku celana!" Seas menyodorkan jantung Cassio yang sudah loyo. Sedangkan Bloom yang disodori jantung langsung terdiam.


"... AGEN C! MURID DIDIKANMU TIDAK WARAS!" teriak Bloom dari dalam ruangan itu.


.


.


.


Sementara itu, di ruang penelitian dan penyelidikan. Rex datang bersama dengan Agen X. Mereka berdua datang untuk melihat sosok mayat yang baru saja Seas bunuh.


"... Dia bukanlah warga Underworld School," ucap X sambil mengamati wajah Cassio yang agak pucat.


"Benar. Dia adalah orang itu. Nama aslinya bukanlah Cassio, tapi Enderota. Pembunuh yang memakai seni manipulasi pikiran." Rex menjawab setelah dia melihat adanya tato berbentuk mata tertutup di bahu kiri si mayat.


"Seni manipulasi pikiran? Bukankah itu seni terlarang? Ternyata ada yang menguasai seni itu." Agen X lalu diam. Dia melihat dada kiri mayat itu yang berlubang. Dia lalu menatap Rex.


"Yah, sepertinya ... kita harus merasa beruntung karena bocah yang dia hadapi juga pengguna seni terlarang," ucap Agen X lagi. Setelah itu, wajah si mayat ditutup. Mereka berdua keluar dari ruangan.


Namun mereka melupakan bagian lain.

__ADS_1


Yaitu tato yang ada di bagian paha si mayat, yang kini sudah dilubangi oleh tembakan Valeria.


TBC.


__ADS_2