Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Menemukan dasarnya!


__ADS_3

..."Sambil menunggu mobil, aku akan mengajari kalian dengan cepat."...


POV: Seas


Aku dan Sky sudah berdiri, menghadap ke arah Dev yang menatap kami dengan datar.


"Apa kalian pernah mendengar tentang 'pembuktian'?" tanya Dev pada kami. Aku dan Sky menganggukkan kepala, Dev masih diam.


"Jadi diantara kalian belum ada yang mengalami 'pembuktian' ya ... ini cukup sulit," ucapnya lalu menghela nafas. Aku dan Sky saling bertatapan lalu mengangkat bahu kami.


Yah, jika dia tidak bisa mengajari kami juga tidak masalah. Setidaknya di daerah kota saljunya tidak setebal di sini, kan?


"Baiklah, aku langsung saja. Ini akan sedikit sakit, tapi aku harus membuka 'jalan pembuktian' kalian. Memang tidak bisa terbuka sepenuhnya, tapi tanpa itu, kalian tidak bisa mempelajari 'seni' milikku," ucap Dev. Dia turun ke arah Sky lalu memukul Sky hingga pingsan.


Bugh! Bruk.


"Apakah ... prosesnya memang seperti ini?" tanyaku sambil melihat Sky yang dibaringkan di tumpukan salju.


Dev melirik ke arahku lalu berkata, "Buah yang kalian makan tadi, selain menghangatkan tubuh, buah itu juga membuat aliran darah kalian lebih lancar. Dan tugasku di sini adalah, menyatukan aliran darah dan emosi dalam diri kalian." Dev menekan pergelangan tangan Sky. Aku merinding saat tangan Sky tiba-tiba menjadi sangat berurat, bahkan urat itu terlihat hidup. Menggeliat seperti cacing.


"Uhh." Sky merintih dalam keadaan pingsan. Urat-urat itu perlahan menyebar hingga ke wajah Sky.


Kret!


"Hah? Suara apa itu? Seperti karet yang ditarik hingga ketat?" tanyaku pada Dev. Beberapa detik setelah itu, tubuh Sky mulai bereaksi.


"ARGHHH!"


Aku terlonjak kaget saat Sky meronta-ronta. Dia bahkan belum membuka matanya! Dev masih terlihat tenang, seperti menunggu sesuatu muncul.


"Oh, ketemu," ucap Dev lalu melepaskan pergelangan tangan Sky. Urat-urat itu memudar seolah tak pernah ada. Perlahan Sky mulai bangun dan menatap kami dengan bingung.


"Ack! Tubuhku keram!" ucap Sky saat mencoba bangun. Dia membaringkan tubuhnya lagi, berguling ke kiri dan kanan. Entah apa yang dia lakukan ... dia terlihat menikmati kegiatannya itu.


"Sekarang giliranmu," ucap Dev tepat di sampingku. Aku spontan menahan tangan Dev yang mencoba membuatku pingsan.


"T-tunggu ... entah kenapa aku merasa takut ...," ucapku gugup. Dev menatapku dengan datar lalu memegang leherku dengan pelan.


Aku menatap matanya yang tanpa emosi itu, tangannya terasa sangat dingin di leherku. Aku menelan ludahku dengan susah.


Sial, kenapa aku baru merasa takut sekarang? Tapi Dev terlihat menakutkan saat ini ... .


Dev tertegun sejenak, setelah itu dia melepaskan tangannya dari leherku. Tatapan matanya menatapku dengan tajam, seolah bisa menembus isi pikiranku.

__ADS_1


"Kau ... sudah pernah mempelajari 'seni'?" tanya Dev padaku. Aku termenung sejenak, terkadang aku memang merasa bingung.


"Mungkin? Apa teknik seperti 'ini' bisa disebut 'seni' ya?" ucapku pelan, tapi Dev masih memperhatikanku.


"Coba tunjukkan padaku," ucap Dev dengan serius. Aku mengangguk dan mengambil posisi. Aku menarik nafas dengan dalam, dan menghembuskannya perlahan.


Jangan panik, lakukan seperti waktu itu. Jangan membuang oksigen dengan percuma. Jangan membuat suara yang tidak perlu.


...[Teknik nomor 3. Langkah bayangan.]...


Aku melangkah dengan cepat, meninggalkan bayanganku yang sedang berdiri di depan Dev. Detik selanjutnya, aku sudah berada di belakang Dev dengan posisi siap menikamnya.


Dev terpaku melihat bayanganku, ekspresinya terlihat terkejut dibandingkan dengan C atau Venom.


"Kau punya 'seni' yang hebat. Harusnya dengan teknik seperti ini kau bisa berjalan dengan mudah bahkan di atas air," ucap Dev saat aku sudah menurunkan dagger yang kuarahkan ke lehernya.


Aku berpikir sejenak. Memang benar, harusnya dengan teknik seperti ini aku bisa dengan mudah menerobos tumpukan salju. Tapi masalahnya ada di tubuh-


"T-tunggu ... a-aku baik-baik saja?" tanyaku sambil meraba tubuhku sendiri. Ini benar-benar aneh! Padahal biasanya aku akan merasa sedikit keram, apalagi di cuaca sedingin ini. Kenapa aku malah sehat-sehat saja?


"Apa maksudmu?" tanya Dev. Aku mendongak untuk menatapnya.


"Biasanya tubuhku akan merasakan keram yang cukup parah setelah menggunakan teknik ini, tapi kenapa sekarang baik-baik saja?" Aku masih bingung dengan tubuhku sendiri. Dev menyentuh dagunya dengan tangan kanan lalu menganggukkan kepalanya.


"Dan ada satu lagi masalah." Dev menatapku dengan dingin. Aku sedikit takut jika ekspresinya seperti itu, terlebih di sini tidak ada X yang mengawasi kami.


"Kau menggunakannya dengan benar, tapi kau salah urutan dalam memahaminya! Karena itu tubuhmu jadi rusak!" bentak Dev ke arahku. Aku terdiam, mana aku tau! Aku hanya membaca dari buku dan merasakan apa yang kakakku ajarkan!


"Jadi ... bagaimana urutan yang benar?" tanyaku pada Dev.


"Ada 3 urutan dalam memahami 'seni'. Yang pertama persiapan, lalu dasar, dan yang terakhir adalah eksekusi," ucap Dev sambil mengangkat jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis.


"Dalam kasusmu, kau hanya menggunakan persiapan lalu langsung ke eksekusi, itulah sebabnya tubuhmu terkejut dengan efeknya," ucap Dev padaku. Aku mengangguk tanda mengerti.


"Uh!"


Aku mendengar suara Sky. Saat aku melihatnya, dia sudah berdiri lalu berjalan pelan ke arahku dan Dev.


"Jadi apa yang harus kulakukan?" tanyaku pada Dev. Tapi dia menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tau 'seni' macam apa yang kau pelajari, karena itu kau harus mengingatnya sendiri. Aku akan mengajari temanmu di tempat lain, jangan lupa untuk memberitahuku jika mobilnya sudah sampai," ucap Dev lalu membawa pergi Sky. Seperti tadi, Sky digendong seperti karung beras dan dibawa pergi.


...

__ADS_1


JADI TINGGAL AKU SENDIRIAN DI SINI?!


...


Aku mengacak rambutku dengan frustasi. Terakhir kali aku membaca buku itu saat umurku 12 tahun! Mana mungkin aku mengingat isinya! Apalagi dalamnya sangat membosankan!


Oh! Tapi tunggu, kalau tidak salah ... aku beberapa kali melihat kakakku melakukan hal aneh.


"Cih, tak disangka ingatanku tentang bajingan itu akan membantu saat ini," ucapku pelan. Aku mengingat-ingat kembali apa yang dilakukan oleh kakakku.


"Pertama, dia mengambil nafas dengan lembut ... lah? Berarti 'seni' yang dia gunakan berbeda denganku!" Aku berteriak frustasi di tengah tumpukan salju.


"HAH?! JADI KAKAKKU JUGA MENGUASAI 'SENI'?!" Aku berguling dengan cepat ke kanan dan kiri. Aku benar-benar kesal sekarang! Saat aku sadar bahwa ternyata kakakku adalah orang yang sangat hebat!


"Apa yang saat itu dia lakukan ya?" Aku menangkan diriku sambil membenamkan wajahku ke salju.


Setelah dia menarik nafas dengan lembut, muncul suara yang merdu seperti hembusan angin, lalu ... lalu ... lalu apa?!


"Tenanglah Seas! Ayo pikirkan lagi!" Aku berdiri lalu mencari salju yang lebih tebal.


Seni milikku berbeda dengan kakakku. Jika aku mengingatnya juga tidak menjamin bahwa ini akan berjalan lancar, aku harus mencari inspirasi lain!


"Bagus! Kau melakukan persiapannya dengan bagus! Jangan lupa, dasar dari 'seni seribu benih' adalah kaki! Fokuskan konsentrasi dan kekuatanmu di sana, lakukan terus hingga kau bisa melakukannya seperti bernafas!"


Aku mendengar suara Dev. Kakiku berjalan ke arahnya dan mengintip latihan Sky.


Sial ... bahkan Sky sudah cukup mahir. Aku bahkan tidak bisa menguasai dasar 'seni' milikku!


Aku menyandarkan dahiku ke batang pohon. Tekadku mulai lemah, saat mengetahui bahwa dinding yang harus kulewati begitu tinggi, semangatku hancur dalam sekejap.


..."Jangan terburu-buru Seas. Waktu kita masih lama, dan jalan yang kau lewati masih panjang."...


Aku tersentak, entah kenapa suara Venom terngiang-ngiang di kepalaku. Aku tersenyum simpul lalu tertawa kecil.


Yah, Venom benar. Tak perlu terburu-buru. Bodoh sekali aku hampir menyerah hanya karena hal sepele ini!


"Tak terburu-buru ... OH ITU DIA! ITU DASARNYA!" teriakku hingga membuat Sky dan Dev menatapku.


Aku tertawa lepas lalu melihat ke arah Dev.


"Aku sudah tau Dev! Terimakasih!"


...Dan terimasih juga, Venom....

__ADS_1


TBC.


__ADS_2