
"Aku tidak akan jatuh ke lubang yang sama kali ini."
POV: Seas
"..." Semua yang ada di dalam labirin ini terdiam, wujud Arma yang berhenti bergerak seolah waktunya telah berhenti. Serta Seas 'lemah' yang tergeletak tak berdaya di genangan darah.
Tapi kenapa aku belum keluar dari mimpi ini? Apakah masih ada yang selanjutnya?
"Kenapa ... KE NA PA?! KENAPA KAU MALAH MEMBUNUHKU?!" Suara yang sangat mengerikan di telinga seperti kayu keras yang digaruk oleh besi. Aku menatap 'Seas' yang kepalanya masih tertancap dagger yang kulempar sendiri.
"Kau tanya kenapa? Karena aku tidak membutuhkan Seas yang lemah," jawabku tenang sambil melihat berjalan ke arahku. Langkah kaki gontai yang meneteskan darah di setiap kakinya mendarat, tubuh yang kurus serta mata yang kini memerah darah.
"Kau tidak membutuhkanku yang lemah? Tapi pada kenyataannya aku tetaplah dirimu! Kau tidak bisa menolak keberadaanku! Kau hidup sebagai aku selama 17 tahun!"
Apa ini benar-benar di dalam hatiku?
Apa yang dia katakan itu benar. Seas yang lemah, sudah hidup selama 17 tahun. Sedangkan Seas yang sekarang, barulah hidup selama beberapa bulan.
Greb!
"Apa?!" Aku menatap ke arah kedua kakiku, rasanya seperti ada tangan yang memeganginya.
Deg!
"Ayah? Ibu?" Aku menatap horor ke arah kedua wajah orangtuaku, dengan mata serta mulut yang mengalirkan darah, mereka memegang kakiku dengan erat.
"Kenapa? Kenapa kau meninggalkan kami waktu itu?"
"Kenapa kau lari sendirian Seas?"
"Kau bahkan tidak membuatkan pemakaman untuk kami ... "
"Kenapa kau tidak menyelamatkan kami Seas?"
Deg deg deg deg!
Jantungku berpacu dengan cepat. Salah satu mimpi buruk yang berusaha ku-kubur dalam-dalam. Sebuah mimpi dan angan-angan yang ku-kunci rapat di peti hati dan pikiranku.
Penyesalan karena melarikan diri.
"Lihatlah ... Seas yang kuat bukanlah Seas yang disayangi oleh orangtua kita. Seas yang lemah, akulah yang mendapat kasih sayang mereka!"
Deg deg deg!
"Seas ... Seas ... Seas ..."
Aku tidak tau.
Aku tidak tau!
Rasanya kepalaku sangat sakit, nafasku begitu sesak. Seolah ...
Seolah cambuk kakak berhasil menggapai diriku. Cambuk berduri yang menancap di kulit hingga sarafku, rasanya mengakar hingga ke sumsum tulangku.
__ADS_1
Ini adalah penyesalan yang dulu kupendam jauh di dalam hati.
Bukannya mati, ternyata malah tumbuh subur. Sekarang ... bagaimana caranya aku lepas dari ini? Kapan mimpi buruk ini berakhir?
[Seseorang yang nyaman di dalam kegelapan, berbeda dengan seseorang yang nyaman di dalam bayangan.]
Suara ... wanita itu?
Tap ... tap ... tap ...
Samar-samar, kudengar langkah kaki yang semakin mendekat. Di dalam mimpi ini, apakah memang ada orang yang bisa menolongku?
"Hei, Seas. Apakah kau masih menunggu pertolongan? Bukankah kau yang bilang akan menjadi kuat?"
Deg!
Suara ini ... suaraku? Lagi?
Aku melirik ke asal suara itu. Di balik kegelapan yang pekat, aku melihatnya. Mata ungu yang tajam serta rambut putih seperti siluman. Senyuman yang percaya diri hingga menampilkan gigi taringnya.
Itu ... aku?
"Lumius, bebaskan Seas."
WHUS!
CRATTTT!
"Halo, Seas. Ini pertama kalinya kita bertemu bukan? Maksudku dalam wujud ini." Anak itu menoleh ke arahku, matanya sama denganku.
Berwarna ungu.
"Ini aku, Lumius."
Lumius? Dia punya wujud seperti ini?
"Hm aku tau apa yang kau pikirkan, tapi aku hanya bisa menggunakan wujud ini di alam bawah sadar," ucapnya sambil tersenyum manis, walaupun ada darah di kedua pipinya.
"Apa ... APA-APAAN INI! KENAPA ADA SEAS LAGI?! SIAPA KAU! KENAPA KAU MENGGANGGUKU MENGAMBIL KEMBALI 'SEAS'!" Seas yang lemah itu berteriak padaku dan Seas yang baru muncul. Sekarang ada 3 Seas di labirin ini. Seas yang lemah dan Seas yang baru muncul, keduanya menggambarkan masa lalu dan diriku yang sekarang.
Sepertinya ... sepertinya aku paham apa maksud dari teka-teki ini.
"Apa maksudku? Aku hanya mencegah agar Seas yang sekarang tidak tenggelam di dalam masa lalu sepertimu."
Ya ... aku sudah tau apa yang harus kulakukan.
"KAU!"
Tep.
"Apa?" Seas yang lemah itu terlihat terkejut saat aku menggapai tangannya. Dengan hati-hati, aku menariknya keluar dari genangan darah.
"KAU! KAU MAU MEMBAWAKU KEMANA!?" Seas lemah itu memberontak kecil di tanganku.
__ADS_1
"Kau benar, harusnya aku tidak menguburmu waktu itu. Apapun yang terjadi di masa depan dan masa lalu, dan masa sekarang. Semuanya adalah aku.
Karena itu ... aku akan menerimamu lagi. Tapi ... aku tidak ingin kau tetap terjebak di rasa sakit masa lalu.
Aku ingin kau mengingat dan memahaminya, tapi aku tidak berharap kau terus merasakannya.
Jangan menjadikan masa lalu seperti duri pada kaki. Hal itu justru akan membuatmu kesakitan setiap kali melangkah maju.
Buatlah masa lalu seperti sepatu, yang akan menebal setiap kali kau melangkah. Yang akan membuatmu lebih kuat menghadapi diri serta rintangan di depanmu.
Karena itu! Penyesalanmu sudah aku rasakan! Tapi aku tidak ingin selamanya terpuruk di sana! Aku harus bangkit dan melaksanakan balas dendamku!" Aku terus menarik diriku yang lemah dari masa lalu hingga ke hadapan diriku yang sekarang.
Kedua mata mereka sama-sama ungu, namun memiliki cahaya yang berbeda. Rambut mereka juga berbeda, satu dari mereka menolak masa lalu, dan satu dari mereka terlalu mencintai masa lalu.
"Kalian semua adalah diriku, karena itu. Aku tidak bisa menolak ataupun menghapus keberadaan kalian seenaknya. Terimakasih, sudah membentuk diriku yang sekarang.
Selanjutnya, aku harus bangun. Tolong bantu aku." Aku menatap mata kedua diriku yang lain. Mereka saling tersenyum dan mulai mendorong tubuhku ke belakang.
Sebelum aku mulai kehilangan kesadaran, aku melihat sosok Lumius yang melambaikan tangan padaku. Mulutnya mengatakan sesuatu. "Kita akan bertemu lagi lain kali." Aku hanya tersenyum padanya.
Sekarang aku benar-benar mengerti maksudnya.
Seas di masa lalu, adalah orang yang nyaman dalam bayangan.
Dan Seas di masa sekarang, adalah orang yang nyaman di dalam kegelapan.
Jawaban teka-teki ini sudah jelas walaupun tidak perlu dikatakan.
Hanya orang yang bisa bangun dari mimpi ini yang bisa lulus ujian ke 4!
***
"Engh ... " Aku membuka mataku perlahan, merasakan dahiku yang masih menempel pada kayu yang keras. Dengan kepala yang masih sedikit berat, aku mencoba untuk duduk bersandar dan melihat ke arah depan.
"Oh? Kau sudah bangun?"
Aku menatap ke arah wanita yang memberi obat mimpi buruk sebelumnya itu. Dia bersandar di dinding sambil menghisap sesuatu yang mirip rokok. Aku menatap ke arah meja di depan, obat pembuat mimpi buruk itu sudah tidak ada.
"Kau termasuk siswa yang cepat ya. Kau adalah nomor 5 yang bangun kali ini," ucap wanita itu seraya menyelipkan benda berasap di kedua jarinya.
Nomor 5? Artinya sudah ada 4 orang sebelum aku yang sudah bangun.
"Aku yakin kau sudah tau jawaban dari teka-teki yang kuberikan, melihatmu bisa bangun dengan cepat sepertinya kau adalah anak yang tanggap dalam merespon lingkungan sekitarmu," ucapnya lagi sambil tersenyum padaku. Aku hanya menghela nafas menanggapi ocehannya. Aku menoleh ke belakang untuk melihat Valeria serta Sky.
Tapi mereka berdua masih tertidur pulas.
"Jangan membangunkan temanmu, justru kau akan mengacaukan alur mimpinya nanti." Peringatnya sambil menatapku. Aku menganggukkan kepala lalu segera berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar.
"Aku boleh keluar bukan? Dimana aku harus menunggu rekanku?" tanyaku pada wanita itu. Dia tersenyum lalu menghisap benda berasap aneh itu.
"Pergilah ke ruang sebelah, dan jangan buat keributan."
TBC.
__ADS_1