Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Siapakah mereka?


__ADS_3

..."Nah sampai kapan mereka akan mengikuti kita, sialan?!"...


POV: Ares


Aku menoleh ke arah X, dia terlihat marah. Rahangnya mengeras, matanya memicing tajam ke arah kegelapan di belakang kami.


"Hati-hati Pangeran!" Dev segera mendekat ke arah Ron, dan memasang dirinya di sebelah kiri. Mungkin itu adalah cara untuk melindungi jantung Ron.


"Ada yang mengikuti? Kenapa aku tidak merasakan apapun?!" tanyaku sambil berbisik.


"Aku juga tidak merasakan apapun!" ucap Sky.


"Begitu juga denganku," ucap Valeria. X mempercepat langkahnya, lalu berhenti di pucuk sebuah pohon yang terlihat runcing.


SRAK!


X mengeluarkan snipernya dengan kasar, dan langsung membidik ke arah belakangku.


"Sepertinya, yang mengikuti kita ... setingkat dengan agen tingkat atas!" ucap Sky mengambil kesimpulan.


"Hihihi~ kalian terlalu lambat~"


Deg.


Rasanya waktu berjalan dengan lambat. Aku bisa melihat jubah hitam yang mulai menutupi mataku.


SIAL! APAKAH AKU YANG DIINCAR?!


"SEAS!" Valeria langsung mengeluarkan pistolnya.


CKLEK.


"JANGAB MENYENTUH SEAS!" Begitu juga dengan Sky yang langsung mengeluarkan jarum beracun miliknya.


CRING.


"AHAHAHAHAHAHA! KALIAN BENAR-BENAR PEMBUNUH YANG MANIS~," ucap perempuan gila yang hendak menyekapku. Rambutnya sama putihnya denganku, tapi warna matanya mirip seperti Venom.


Merah darah yang menyala dalam kegelapan.


MESKIPUN BEGITU, AKU TIDAK BOLEH MENJADI BEBAN DALAM TIM INI!


"Kau salah mengincar orang, nona," ucapku dengan dingin. Aku menatapnya dengan tajam, sembari tangan kananku menahan jubah hitamnya, tangan kiriku mengambil dagger di pinggangku.


SEKARANG!

__ADS_1


DOR!


DUAR!


CRASH!


Aku, Valeria dan Sky secara bersamaan menyerang perempuan itu. Asap putih langsung mengepul di depanku, Valeria bersembunyi di balik pohon sambil bersiap membidik. Sedangkan Sky sudah menyiapkan bom kimia miliknya kali ini.


"Apakah kita berhasil?" tanyaku gugup. Asap putih itu semakin menghilang, jantungku jadi ikut berdebar ingin melihat hasilnya.


"Kerjasama kalian sangat bagus~ tapi kerjasama saja tidak cukup untuk mengalahkanku."


DEG.


Perempuan itu sudah berdiri di belakang Valeria, seolah dia menyatu dengan kegelapan. Dia menarik Valeria masuk bersamanya ke dalam hutan. Aku melihat ke bekas ledakan dengan cepat ... ternyata yang tadi kita kenai hanyalah jubah luarnya!


"SEAS! IKUTI VALERIA!"


Suara X terdengar keras. Aku langsung mengejar Valeria, membiarkan Sky sendirian di belakangku.


"Maafkan aku Seas, tapi musuh kita sangat berat kali ini. Aku tidak menyangka akan ada 5 orang yang setingkat denganku," ucap X dengan nada datar.


***


"Haah ... haaah .... Valeria?" tanyaku dengan nafas tak beraturan. Udara dingin ini mulai merusak paru-paruku. Ini seperti memaksa agar paru-paruku membeku. Bahkan setelah latihan seperti neraka yang kujalani, tetap saja aku tidak bisa menang melawan cuaca.


Hening. Aku sendirian di tengah hutan, dikelilingi pohon-pohon besar dan semak yang tebal.


Kemana mereka? Aku yakin tadi tidak kehilangan jejak. Bagaimana bisa dia menyembunyikan hawa keberadaan hingga setingkat ini?


Aku menarik nafas dalam. Lalu mengeluarkan kedua daggerku. Kita harus segera keluar dari negara penuh salju ini. Semakin lama di sini, semakin merugikan untuk kita semua.


"Apa kau yakin akan menang?"


Sebuah suara muncul dan bergema di hutan. Tidak ada asal yang pasti dimana tempatnya, tapi aku yakin ini suara wanita itu. Aku mulai menutup mataku, memikirkan apa yang harus kulakukan.


***


POV: Author


Seas masih menutup matanya, mencoba untuk menajamkan indra pendengarannya.


"Ayolah~ tidak seru kalau kau hanya diam saja~" Lagi-lagi suara itu muncul dan memancing emosi Seas. Tapi anak laki-laki dengan mata ungun itu masih diam, hingga tiba-tiba dia memunculkan senyuman iblis khas miliknya.


"Nah, kau dengar 'kan? Valeria? Tidak akan seru jika kau diam saja-," ucap Seas terpotong karena dia mengubah posisi dagger di tangannya agar menghadap ke bawah.

__ADS_1


"AYO LAKUKAN DENGAN BRUTAL SEPERTI BIASA!" teriak Seas. Dalam hitungan detik, suara tembakan bagai hujan turun. Mata Seas langsung menangkap kilatan cahaya yang yang berasal dari pistol Valeria.


DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!


"WANITA SIALAN! JANGAN KIRA KAU BISA MEMANFAATKANKU DENGAN MUDAH!" kesal Valeria sambil terus menembak ke arah depannya. Tapi perempuan dengan jubah hitam itu menghindar dengan sangat gesit, hingga dia bisa sampai tepat di depan wajah Valeria.


"Jika kau diam tadi, aku tidak akan melukai wajah cantikmu," ucap perempuan itu sambil mengeluarkan tangan kanannya. Valeria tertegun untuk sesaat, kukunya berwarna merah, seolah memang dibuat untuk mencicipi darah.


"Harusnya kau mencari tau tentang kami." Seas sudah ada di belakang perempuan itu. Dia sudah memposisikan daggernya tepat ke arah leher si perempuan.


TANG!


Tapi perempuan itu langsung menepis dagger yang bahkan belum sempat diayunkan. Kukunya ternyata lebih kuat dari besi, buktinya adalah dagger Seas yang langsung terpental begitu saja.


"Kalian ternyata lebih merepotkan dari dugaanku~," ucapnya sambil tersenyum menjijikkan. Seas menggertakkan giginya keras, dia merasa harga dirinya sebagai pembunuh diinjak-injak oleh perempuan itu. Saat baru saja Seas maju satu langkah, Valeria menghalangi tubuh Seas dengan tangan kirinya.


"Huuf, tenanglah Seas." Valeria ganti yang melangkah maju, dia berjalan bak diatas fashion show, mata coklat merahnya memicing ke arah si perempuan dengan tudung.


"Aduh~ sepertinya harapanku terlalu tinggi~ kau bahkan tidak setara dengan agen tingkat atas milik sekolah kami~," ucap Valeria dengan senyuman dan tatapan meremehkan. Seas langsung terdiam, dia baru tau bahwa Valeria punya sisi untuk memprovokasi seperti ini.


"Wah~wah~ mulutmu lumayan tajam juga ya?" Perempuan itu mulai memudarkan senyumannya. Kini matanya menatap tajam ke arah Valeria.


Valeria semakin tersenyum beringas, dia mengarahkan pistolnya ke si perempuan itu, sembari melotot ke arahnya.


"Mulutku yang tajam? Atau memang faktanya kau yang lemah? HAHAHAHAHA!" Valeria tertawa keras di akhir kalimatnya. Seas mundur beberapa langkah, dia merasakan sebuah firasat yang buruk.


Sama seperti kejadian di mansionnya waktu itu.


"Haaah. Sepertinya aku harus serius," ucap perempuan itu. Dia melepaskan tudung dan jubahnya. Kini dia hanya tampil dengan pakaian hitam ketat di seluruh tubuhnya. Mata merahnya menatap lurus ke arah Seas dan Valeria.


"Sebelum kalian mati, biar kuberitahu namaku. Aku adalah Siol, orang yang akan membunuh kalian hari ini." Siol menundukkan kepalanya, hawa di sekitar Seas dan Valeria mulai terasa mencekam.


CRAT! BRUK!


"Val-leria?" Seas tergagap saat melihat sebuah salju menembus tubuh Valeria. Matanya dengan cepat melihat ke arah Siol. Di depannya, Siol memasang kuda-kuda seperti menyerang, salju di sekitarnya mulai terangkat dan membentuk benda tajam.


"Aku adalah penguasa 'Seni Pengendali Salju'. Di daerah ini, tidak ada yang bisa lolos dariku," ucapnya dengan nada serius.


DEG!


Detik itu juga, Seas kembali merasakan rasa intimindasi oleh orang dengan kekuatan besar. Perasaan yang sudah lama dia lupakan. Perasaan saat melihat kakaknya membunuh semua keluarganya.


Hal ini membangkitkan sesuatu dalam diri Seas.


...[Darah terkutuk milik Keluarga Veldaveol.]...

__ADS_1


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!


__ADS_2