
"Bagaimana? Apa kau sudah bisa bicara?" tanyaku lagi tapi Seas tidak menjawabnya. Setelah kuberi minum, dia masih duduk termenung dengan mata terbuka, seolah nyawanya sedang tak ada di sini.
***
POV: Sky
Seas masih duduk dan termenung seperti tadi, dan aku kini sedang membantunya untuk memakaikan baju atasnya. Warna kulitnya sudah berangsur-angsur membaik, sekarang sudah terlihat seperti manusia lagi. Tapi aku juga tidak tau kenapa dia masih diam saja dan tidak menjawabku sama sekali.
[Hei, mungkin anak itu sedang mengalami konflik batin dengan Lumius.]
Tunggu, suara ini ... Hades? Apa yang kau maksud dengan konflik batin?
[Seperti halnya Seas yang punya sisi gelap, Lumius juga mempunyai sisi gelap karena dia juga menerima darah Seas.]
Apakah itu berbahaya?
[Jika dia salah melangkah, maka dia akan jadi boneka tanpa nyawa. Atau hal yang paling buruk ... dia justru akan diambil alih oleh sisi gelapnya seumur hidup.]
"Apa?! Bukankah ini berbahaya?! Apa yang harus kulakukan untuk membantunya?!" Aku berteriak panik sambil mengguncangkan badan Seas pelan. Mata ungu Seas masih sama, terlihat datar tanpa cahaya, dan bibirnya masih terkatup rapat.
[Kau bisa membantunya, tapi tidak banyak.]
"Apa?" tanyaku.
[Buatlah sebuah aroma yang akan membuat Seas sadar. Tidak perlu aroma yang kuat, asalkan Seas tau aroma apa itu, perlahan Seas akan kembali ke kenyataan.]
Aroma? Aroma apa? Aku tidak pernah mendengar Seas memuji bau sesuatu. Seas juga sangat jarang bilang makanannya enak atau apa ... lalu aroma apa yang harus kubuat.
Aku terdiam sejenak memikirkan hal ini. Hades sudah tidak bersuara, jelas dia tidak mau membantuku lebih jauh. Aku menatap wajah Seas yang kosong dengan cukup lama, hingga aku sadar sesuatu.
Bukankah Seas itu suka Venom? Tapi memangnya Venom pakai parfum? Setahuku Venom malah bau racun. Ini tidak apa-apa kukasih aroma racun? Dia baru saja sadar malah kukasih aroma racun lagi ...
Oh ... mungkin tidak apa-apa. Jika dosisnya kusesuaikan dengan AC beracun di asrama, sepertinya akan aman.
Aku mengangkat bahuku pasrah kaku segera berdiri dan mulai meracik. Untungnya ingatanku sedikit kuat tentang bau Venom karena dia dulu sering mengunjungi kami. Walaupun aku tidak yakin bisa membuat aroma yang 100% mirip, tapi setidaknya aku yakin 90% aromanya akan mirip. Semoga saja hal ini bisa menjadi pemicu untuk Seas sadar.
__ADS_1
Setelah ramuannya jadi, aku menaruh ramuan itu di sebuah wadah kaca yang permukaannya lebar, dan membawanya ke sisi Seas. Ramuan itu kuletakkan di sisi kirinya, dan aku duduk di sisi kanan Seas.
"Oy ... kenapa badanku masih kaku?"
Deg!
Aku kaget bukan main, karena ternyata Rabbit sudah sadar. Dia belum bisa bangun mungkin karena tubuhnya masih kaku. Aku segera berdiri, dan beranjak ke sisi Rabbit. Tangan kiriku menyentuh pergelangan tangan kanan Rabbit yang terbaring, lalu menekannya pelan.
"Hmm ... masih cukup keras, tapi setidaknya sudah 50% mencair. Mau kuolesi salep panas untuk mempercepat pencairan?" tanyaku pada Rabbit yang dibalas dengan anggukan kepala. Aku segera merogoh saku dari dalam jas laboratoriumku dan mencari salep panas yang kumaksud. Setelah salepnya ketemu, aku segera mengeluarkannya dan membuka tutupnya, lalu mengoleskannya ke area nadi yang cukup dekat dengan kulit.
"Ngomong-ngomong, aku belum sempat bertanya. Tadi saat kau menyerangku, tiba-tiba sekitarku berubah menjadi es yang licin. Bagaimana caramu melakukan itu?" Rabbit berkata sambil berusaha untuk duduk. Karena aku sudah selesai mengoleskan salepnya, aku segera menutup dan memasukkannya kembali ke dalam saku jas laboratoriumku.
"Eng? Ohhh! Halusinasi yang kau lihat itu?" tanyaku saat mengingat-ingat daerah es apa yang dia maksud. Rabbit terdiam sejenak sambil menatapku heran.
"Halusinasi? Jadi ... itu efek obat? Tapi kenapa terasa nyata?" tanya Rabbit. Aku mengangguk dengan cepat. "Oh, lebih tepatnya ... ini mirip obat sugesti. Jika halusinasi hanya bisa kau lihat, sugesti juga membuatmu bisa merasakan. Prinsip kerjanya juga tidak sulit kok," ucapku sambil berdiri dan mulai berjalan ke arah meja, tempat alat-alat laboratorium sederhana yang kubawa.
Aku mengambil sebuah kapsul yang seukuran jari dengan bungkus plastik bening, dan tanganku yang lain membawa jarum. Setelah mengambilnya, aku berjalan ke arah Rabbit lagi dan berjongkok di depannya. "Jadi begini, ini adalah obat penguat saraf sensor. Pendengaran, penciuman, penglihatan, perasa, dan peraba, semua indra yang terkena gas ini, akan menjadi lebih sensitif dan menjadi sangat peka," jelas Sky sambil menunjukkan kapsul di tangannya. Sky lalu mengeluarkan satu benda lagi ... dan itu adalah batu putih yang dia temukan di pantai, terkubur bersama pasir hitam.
"Apa hubungannya dengan batu itu?" tanya Rabbit bingung. Aku tersenyum pada Rabbit dan mulai menjelaskan lagi, "Bukankah aku bilang bahwa sensor saraf akan menjadi sangat peka? Tentunya hal ini akan membuat otak menerima sinyal yang lebih kuat. Dan jika dipicu sedikit saja ... bum! Maka akan tercipta sugesti kuat yang membuat korbannya merasa seperti tengah berada di situasi yang asli!" Sky menunjukkan batu putih itu sambil membenturkannya ke kapsul dengan perlahan.
"Tapi dalam kasusmu, kau bukan berhalusinasi karena batu tadi, melainkan karena salah satu tim Reska mempunyai hal yang membuatmu terpikirkan dataran dingin tanpa sengaja." Aku baru saja hendak berdiri, tapi tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku.
BRAK!
Aku dan Rabbit langsung menengok dengan cepat ke sumber suara itu, dan ternyata ... itu adalah Seas yang berdiri sambil memukul tembok.
"Seas?! Hei kau kenapa?!" Aku panik dan langsung berlari ke arahnya. Pikiranku kalut, dipenuhi bayangan kalau yang mengambil alih tubuh Seas bukanlah Seas yang asli.
"Tidak apa-apa ... sejak kapan aku pingsan?" Seas menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Dia menatapku dengan tatapan sayu tapi dengan kepalan tangan yang masih menancap pada tembok.
"Mungkin sekitar 2 jam?" jawabku ragu, karena aku memang tidak menghitung waktu dari tadi. Seas menarik tangannya dari tembok yang retak, lalu duduk di ranjang dan mulai menguap lebar. "Baru 2 jam? Sepertinya aku tidur panjang tadi," gumam Seas dengan tatapan mata yang bingung.
"Oh? TUNGGU! BUKANKAH TADI KITA MASIH BERTARUNG DENGAN RABBIT?! MANA ANAK TADI?! HAH!" Baru saja Seas tenang, dia langsung ingat bahwa dia tadi berkelahi dengan Rabbit. Sekarang dia mengamuk seperti banteng kesurupan. Mata Seas langsung tertuju pada Rabbit yang sudah melepas topengnya.
"... Siapa laki-laki ini?" tanya Seas berbisik padaku. Aku mendekatkan wajahku pada Seas dan ikut berbisik, "Dia Rabbit."
__ADS_1
"... Oh dia Rabbit."
.
.
.
"HAH DIA RABBIT?!" Seas yang baru sadar bahwa dia adalah Rabbit, langsung shock dan menatap Rabbit dengan tatapan tajam. Rabbit yang ditatap hanya memandang Seas datar lalu mengangkat tangan kanannya.
"Aku sudah menyerah, tim kalian sudah lulus semuanya. Kau tidak lihat badanku penuh salep panas ini? Sudah mirip seperti ayam mau digoreng," keluh Rabbit sambil melenturkan otot lehernya. Seas mengamati badan Rabbit dari ujung kepala hingga ujung kaki, memang badannya sudah dipenuhi salep, kan aku yang mengoleskannya.
"Tunggu, siapa yang mengalahkanmu?" Seas bertanya dengan nada yang bingung. Aku langsung mengangkat tangan dengan ekspresi gembira. "Aku! Aku! Aku yang mengalahkannya!" ucapku dengan banggaa, membuat Seas melongo tidak percaya.
"Sudah kuduga ... Sky memang sangat luar biasa!" Seas langsung memujiku dan memberiku pelukan di bahu. Aku membalas pelukannya dan menepuk punggung Seas perlahan.
"ARGHHH! JANGAN DISENTUH! MASIH SAKIT!" teriak Seas tiba-tiba. Aku secara spontan berhenti memeluk Seas dan melihat ke arah punggungnya.
Kalian tau? Kulit punggung Seas langsung mengelupas, padahal aku benar-benar hanya memeluknya dengan lembut. Darah mulai merembes dan menetes, dengan hati-hati aku membantu Seas menanggalkan pakaian atasnya lagi.
"Duduklah dulu Seas, aku akan memeriksanya sekali lagi!" ucapku sambil membantu Seas berjalan untuk duduk di ranjang. Setelah Seas duduk, aku mulai melihat tubuh Seas. Ternyata banyak kulitnya yang sudah tidak menempel, lebih tepatnya ... seperti dipaksa untuk lepas. Tidak di semua bagian tubuhnya, tapi yang pasti, yang paling parah adalah punggung.
Apakah ini reaksi penolakan dua racun tadi? Rencana agar Seas bangun memang berhasil, tapi ternyata ini memberi dampak yang buruk untuk kulit Seas. Sepertinya Seas juga baru menyadarinya ... jika aku memberi ramuan regenerasi, apakah akan berbahaya? Aku tidak tau gejala apalagi yang akan muncul.
...
LOH TUNGGU! JIKA SEAS TERKENA DAMPAK SEPERTI INI, MAKA VALERIA JUGA AKAN MENGALAMINYA! SIAL AKU HARUS SEGERA MENCARI OBAT YANG AMAN!
"Seas! Kau jaga Valeria dan tunggu di sini! Aku harus pergi untuk mencari sesuatu!" Aku pamit dan mulai membawa alat secara sembarangan ke dalam jasku. Seas menatapku bingung dengan keringat yang sudah menetes di dahinya. Padahal hawa di pantai ini dingin, dia berkeringat pasti karena menahan sakit.
Aku harus menemukan obatnya dengan cepat!
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!
__ADS_1