
POV: Seas
"Valeria? ... Kau bercanda, kan?" tanyaku dengan wajah tanpa ekspresi. Aku tidak menghiraukan keberadaan Siol, tatapanku terpaku pada Valeria yang pingsan berlumuran darah.
Tidak mungkin. Bukankah Valeria adalah anak yang hebat?
Tidak mungkin dia mati hanya karena ini, kan?
ZRASH! JREB!
Aku merasakan perih di perut sebelah kiriku. Ternyata Siol yang menancapkan salju dari tempatnya berdiri.
Ini aneh, kenapa aku tidak merasakan sakit?
Deg.
Rasanya jantungku berdetak dengan kuat. Seperti meletup-letup ingin keluar dari tempatnya.
Deg.
"Kau ... bilang tidak ada yang bisa lolos darimu?" Aku berdiri lalu mendekat ke arahnya dengan pelan. Sambil menundukkan kepala, aku merasakan sesuatu yang aneh.
Aku ingin membunuhnya, aku ingin merasakan darahnya, aku ingin mengeluarkan lidahnya, aku ingin melepaskan setiap helai rambut dari kepalanya.
***
POV: Author
Siol terdiam kaku, dia merasakan hawa aneh dari Seas. Dalam hatinya, dia selalu bertanya-tanya. Tidak mungkin hawa keberadaan Seas mengancam dirinya. Karena di mata Siol, Seas tidak lebih dari anak yang baru belajar membunuh.
Seas masih berjalan mendekat, membiarkan darah mengucur dari pinggang kirinya. Perlahan-lahan, Seas mendongakkan kepalanya.
DEG!
"A-apa? Matamu kenapa?" tanya Siol dengan gugup. Seluruh mata Seas berwarna merah darah kecuali pupil ungunya. Siol merasakan kengerian yang baru pertama kali dia rasakan.
"Meskipun begitu, tidak ada yang berubah! Kau akan mati di sini!" Siol menenangkan dirinya, dia mulai membuat sebilah pedang dari salju.
Cring. SRAT!
Siol melaju dengan cepat, rambut putihnya terlihat seperti kabur di dalam kegelapan. Seas yang melihat gerakan Siol, langsung memasang posisi bertahan.
TRANG!
Dentingan salju keras milik Siol dengan dagger Seas terdengar memilukan. Seas terdorong mundur beberapa meter setelah menerima serangan Siol.
Selayaknya seorang pembunuh profesional, Siol tidak melewatkan kesempatan. Dia terus menyerang Seas membabi buta, tidak membiarkan Seas melawan balik sedikitpun.
__ADS_1
TANG! TANG! CRANG! KRIANGG!
'Apa-apaan anak itu?! Kenapa dia tidak terlihat terdesak?!' batin Siol sambil terus menyerang Seas. Sedangkan anak laki-laki dengan pupil ungu itu masih terus bertahan tanpa mengedipkan mata merahnya. Kuda-kudanya kokoh bagaikan beton.
'Sial! Aku mulai lelah!' batin Siol dan hendak berlari mundur. Seolah merespon gerak tubuh Siol, Seas ganti menerjang maju.
Tes.
Darah menetes dari kedua mata Seas, begitu juga dengan kedua telinganya. Siol yang melihat Seas maju dengan kondisi seperti itu. Jadi teringat sebuah legenda.
Tentang keluarga yang dikutuk oleh darah mereka sendiri.
"APA KAU DARI KELUARGA VELDAVEOL?!" tanya Siol sambil berusaha menahan serangan Seas. Tapi anak laki-laki itu tidak menjawab, dia terus menghujani Siol dengan serangan. Siol semakin terdesak saat merasakan tenaga Seas yang semakin kuat di setiap serangan.
"Ukh! Aku tidak boleh kalah di sini!" ucap Siol dan mengambil posisi meringkuk, dia bersiap menerkam perut Seas.
SRAT!
Sesuai perkiraannya, serangan Seas akan meleset di atasnya. Siol segera menerjang dan mendorong perut Seas ke belakang. Bersamaan dengan jatuhnya Seas, Siol mengangkat tangan kirinya, membuat sebuah gerakan aneh.
..."[Teknik terlarang pengguna salju: Gunung Es]"...
Dalam hitungan detik, seluruh salju dalam radius 2 kilometer berkumpul mengitari Seas, seperti berniat mengubur Seas hidup-hidup. Siol hanya diam dan melihat Seas yang akan mati, dia mulai masuk ke dalam celah salju dan kabur.
"... Sepertinya ini bukan pertama kali aku melawan teknik seperti ini ... mirip teknik siapa ya?" gumam Seas bersamaan dengan salju yang akan menimbunnya. Entahlah, bagi Seas salju ini sangat lambat. Bahkan Seas masih mampu melihat di mana Valeria terseret salju.
GRASKK!
Kini Seas dan Valeria sudah sepenuhnya terkubur. Sedangkan Siol bersandar di bawah pohon dengan nafas terengah-engah, tekniknya ini sangat menguras tenaga.
"Dengan gunung es berketinggian lebih dari 2 kilometer ini, tidak mungkin anak itu masih hidup, kan?" gumam Siol. Dia segera mengambil jubahnya yang dia tinggalkan, dan segera memakainya.
"Memang benar bahwa teknikmu mirip dengan Agen Spinx ya? Tapi dengan versi yang lebih kuat."
Deg.
"Terlambat."
ZRASH!
Seas sudah ada di samping Siol dan langsung melancarkan serangan. Siol yang kaget tidak sempat bereaksi, akhirnya dia terkena luka fatal di pinggang kirinya.
"Kau! Bagaimana bisa kau lolos?! Bahkan dengan menggotong gadis itu?!" tanya Siol dengan nada marah, dia menunjuk Valeria yang digendong Seas di pundak kanan. Seas memiringkan kepalanya, dia menatap Siol dengan ekspresi datar yang menyeramkan.
"Dia itu temanku loh? Mana mungkin aku meninggalkannya," ucap Seas sambil menaruh Valeria di tanah. Karena semua saljunya terangkat, jadi sekarang Seas berpijak di atas tanah.
"Kau punya seni yang hebat ya? Mau kutunjukkan seni milikku?" tanya Seas tanpa ekspresi. Siol menelan ludahnya gugup.
__ADS_1
"Hah! Mana mungkin anak amatir sepertimu punya seni?! Kau hanya menakutiku 'kan?!" teriak Siol sambil membuat gerakan lagi. Tatapan matanya tajam ke arah Seas, seolah mengatakan 'kali ini tidak akan lolos'.
"[Teknik terlarang pengguna salju: Hujan Seribu Jarum!]" ucap Siol, salju yang menggunung itu mulai terangkat dan terpecah-pecah. Mereka membentuk jarum berukuran satu meter tiapnya.
"MATILAH KAU KALI INI!" Siol menurunkan jari telunjuknya. Dalam hitungan detik, seluruh jarum itu turun.
ZRASHH!
Seas masih diam, matanya terus mengeluarkan darah. Mulutnya mulai terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu.
..."[Teknik nomor 4: Permata Palsu]"...
TANG! TANG! TANG! TANG!
Hujan jarum salju yang mengenai Seas langsung terpental-pental. Bahkan ada yang hancur. Tubuh Seas seolah menjadi sangat keras hingga baja saja tak mampu menggoresnya. Siol yang melihat itu jadi terdiam, lututnya mulai bergetar saat melihat Seas yang diam saja di bawah tekniknya.
Tanpa terluka sedikitpun.
"Seni itu ... BAGAIMANA BISA KAU MENGUASI SENI ITU?!" Siol berteriak. Dia mulai menggerakkan tangan kirinya lagi.
"Itu bukan seni yang bisa dikuasai manusia! HIAAAH!" Siol melemparkan lagi jarum salju dari tangannya. Tapi Seas masih tak bergeming, semua jarum salju yang keras itu bagai mengenai sebuah kristal.
"Benarkah? Tapi aku manusia loh?" ucap Seas. Tubuhnya mulai menjadi lemas lagi, dia bisa berjalan dan mulai mendekat ke arah Siol.
Siol yang tahu bahwa semua serangannya sia-sia mulai gemetar ketakutan, dihadapan kekuatan mutlak yang tidak bisa dia lawan. Tapi di sisi lain, dia menolak untuk kalah karena harga dirinya.
"Sekarang, matilah kau-" ucapan Seas terpotong.
Bruk!
Seas langsung ambruk. Siol masih mematung, dia segera berdiri dan melihat ke arah Seas. Ternyata Seas pingsan karena kehilangan terlalu banyak darah. Wajar saja, dari tadi matanya tidak berhenti mengeluarkan darah.
"Ha ... HAHAHAHAHA! AKU YANG MENANG SIALAN! KAU YANG AKAN MATI HARI INI!" Siol tertawa sambil menutup mata kanannya, dia membuat sebuah pisau salju di tangan kirinya.
..."[Teknik mata-mata: Peluru Bayangan]"...
DOR!
CRAT!
Tangan Siol berlumuran darah, dia menatap ke arah Valeria yang bangun dengan terhuyung. Mata Valeria menatap nyalang ke arah Siol.
..."Maafkan aku, Seas."...
TBC.
JANGAN LUPA LIKENYA YA GUYS!
__ADS_1