
***
Sisa waktu ujian ke 5, 3 menit.
***
POV: Valeria
Apa? Seas juga menyerang? Aku baru tau. Kupikir aku benar-benar harus menerobos seorang diri. Selain itu, sepertinya beberapa rekan tim hitam lainnya juga membantu. Terutama anak yang bernama Ned dan Edrin.
Sejak dulu, pengguna benda lentur dan energi penghancur selalu merepotkan.
Aku melihat ke arah bocah laki-laki berambut abu-abu dengan mata biru, dia adalah Edrin. Dia bertarung dengan tangan kosong, tapi meski begitu. Seni yang dia kuasai adalah salah satu seni yang menakutkan.
Namanya seni malefic.
Malefic sendiri adalah energi kehancuran yang menurut legenda bisa memusnahkan satu negara. Aku tidak menyangka ada pengguna seni itu di Underworld School.
BUAGH!
Aku melihat Edrin yang memukul ke arah tanah. Tak lama kemudian tanah itu mulai berguncang, dan langsung meledak seperti ada bom di bawah sana, padahal itu adalah reaksi kuat dari malefic yang dia pancarkan.
Aku juga melihat ke arah Seas dan Fani yang dengan mudah menerobos pertahanan tim hijau dan membuat mereka panik, di sisi lain, Ruo sedang menghancurkan area ini bersama dengan Ned yang membantunya. Jika seperti ini terus, bahkan tim hijau akan terlalu terlambat dalam menggunakan seni mereka.
Aku menatap ke arah Seas, dan dia juga menatapku. Tatapannya terlihat sedikit terkejut, tapi dengan cepat dia kembali mengabaikanku. "Baguslah, sepertinya dia tau rencanaku."
***
POV: Seas
Lah? Ada Valeria juga? Kalau begitu ini akan jadi lebih mudah! Valeria kan masih punya teknik itu! Jika perkiraanku benar, maka Valeria baru akan terjun ke lapangan saat satu menit terakhir!
"SEAS! APA YANG KAU LAMUNKAN!"
SRAAATT!
CRANGG!
Sebuah rantai kuat mengikat kedua pergelangan tanganku. Aku melirik untuk memastikan siapa pelakunya, yah dan tentu saja adalah Alio. Tidak ada yang bisa menggunakan benda lentur sebaik ini kecuali dia. Alio sepertinya masih menyimpan cambuknya, dan memilih menggunakan rantai untuk menahanku.
"Kenapa rantai?" tanyaku pada Alio. Dia sedikit kaget karena bertanya padanya.
"Apa maksudmu?" tanyanya balik. Aku tersenyum lalu menunjuk ke arah rantai di kedua lenganku.
"Jangan terlalu fokus padaku, nanti kau tidak akan bisa melihat yang sebenarnya loh." Aku tertawa kecil sambil menggenggam rantai itu erat.
SRAAAAKKK!
Aku menarik paksa rantai di tanganku hingga Alio ikut terlempar ke sini. Bersamaan dengan itu, aku bisa merasakan bahwa ada seseorang di belakangku yang siap menembakkan sesuatu. Entah itu peluru atau justru bius. Yah tidak masalah ... karena tujuanku hanyalah mengulur waktu.
Hingga Valeria menggunakannya.
Sisa waktu, 1 menit.
Sekarang, Valeria.
"[Teknik mata-mata istimewa: Hantu Kabut.]"
__ADS_1
Wush.
Ya, sebuah teknik istimewa yang merupakan kebalikan dari teknik manipulasi kenyataan. Jika manipulasi kenyataan hanya bisa digunakan saat semua perhatian tertuju pada kita, maka hantu kabut hanya bisa digunakan jika kita tidak mendapat perhatian sedikitpun.
CRAAANGG!
Kedua rantai di lenganku langsung terputus, begitu juga dengan jaring Ned yang ada di atas langit. Bersamaan dengan itu, Fani, Edrin, dan Ruo langsung mundur. Aku menoleh ke arah rekan tim hitamku yang ditahan. Tapi lokasi itu sudah kosong.
Valeria sudah berhasil.
Nah sekarang, aku tinggal kabur.
"Sisa waktu, 10 detik."
Suara yang berasal drone mulai terdengar. Tim hijau yang telat menyadarinya, akan semakin terlambat jika mereka lebih telat lagi.
"SIAL! KITA KECOLONGAN! AKU TIDAK TAU INI ULAH SIAPA TAPI TANGKAP SEAS!"
"KEPUNG DIA!"
"JANGAN BIARKAN DIA LOLOS LAGI!"
Sreet sret sret!
Dalam sekejap tim hijau sudah mengepungku. Mereka melingkariku seolah aku ayam di dalam kandang.
"Kali ini kau tidak akan bisa kabur! Seas!" ucap Alio sambil membentangkan cambuknya. Aku tersenyum tipis padanya.
"Alio ... bayangan itu tidak bisa ditangkap."
Terlebih, selama aku berada di tempat gelap seperti Underworld School. Bayangan akan selalu lebih pekat daripada cahaya.
"JAGA SEAS!"
"5."
"AWASI DIA! JANGAN SAMPAI DIA MENEROBOS DENGAN TEKNIKNYA LAGI!"
"4."
Aku memasukkan kedua daggerku ke sarungnya yang ada di pinggang. Lalu mengedarkan pandanganku ke sekitar.
"3."
"Apa yang dia lakukan?" gumam Alio bingung menatapku.
"2."
"Aku? Tentu saja kabur dong."
"1."
"[Teknik bayangan: nomor 3, langkah bayangan.]"
"0."
WUSHHH!
__ADS_1
Aku melompat ke atas, meninggalkan bayanganku yang ada di bawah sana. Bersamaan dengan itu, seujung tali terulur ke arahku dan tentu saja kutangkap dengan senang hati.
Tali itu kemudian menarikku masuk ke dalam hutan. Tim hijau baru sadar aku ada di atas setelah terdengar suara tarikan.
"HAH! JADI DIA KE ATAS?! PANTAS SAJA AKU MENOLEH KE KIRI DAN KANAN TIDAK ADA!" ucap Barka kesal sambil melemparkan palunya ke tanah. Aku menjulurkan lidahku sebelum akhirnya tertutup oleh dedaunan.
TRIRIRIRIRIRIRIRIRIRIIIIIINGG!
"UJIAN KE 5 SELESAI!"
"Tim hijau tidak berhasil menangkap satupun tim hitam, dan dim hitam berhasil meloloskan diri di saat terakhir!"
Ini adalah suara Agen C dari drone. Aku kini duduk di atas pohon bersama dengan Ned.
"SELURUH PESERTA, KEMBALI KE TITIK KUMPUL!"
***
"Hei ini tidak adil! Bukankah harusnya para tawanan tidak boleh menggunakan kekuatan di dalam area penahanan?!" ucap Lili yang tidak terima karena timnya kalah.
"Apa? Tapi kan Seas belum kalian tahan. Yang kalian lakukan hanya mengepungnya, padahal harusnya kalian menangkapnya dan menaruhnya di pusat penahanan itu baru benar!" Remi membalas ucapan Lili yang membuat gadis itu tersulut emosi.
"Apa?! Tapi-"
BRAK!
Kami semua langsung diam. Agen C datang sambil melemparkan sebuah batu besar ke depan kami. Agen C mulai mengeluarkan satu batang rokok dan menyulutnya dengan korek api.
"Fyuh, hasilnya sudah ditentukan. Dan Seas tidak melanggar aturan. Yang kalah adalah tim hijau, dan yang menang adalah tim hitam. Hasil akhir adalah yang terpenting di sini," ucap Agen C dengan penekanan di setiap kata-katanya. Hasilnya, semua orang yang ada di sini diam, tidak ada yang melawan perkataan C.
Agen lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas dan membolak-baliknya. Matanya melihat kertas di depannya cukup lama.
"Hm, sesuai yang diumumkan sebelumnya. Akan ada 2 tim yang tereliminasi di ujian ke 5 ini. Mau langsung kubacakan saja? Jangan sakit hati ya," ucap C lalu membuka lembar kertas terakhir.
"Tim pertama yang tereleminasi, adalah tim yang beranggotakan Barka, Seidon, dan Rota.
Tim kedua, Kasan, Dicy, dan Ricy.
Kedua tim ini, dinyatakan tidak lolos dari ujian ke 5. Selain tim yang disebutkan tadi, bersiaplah untuk menuju area ujian ke 6." Setelah membacakan hasilnya, kami berjalan mengekori punggung C. Aku bisa melihat 6 anak ini yang terdiam dengan ekspresi kosong dan hampa. Ada yang menangis dan juga terlihat kesal.
"Bangs*t!"
Deg!
"Hah? Sky? Kau gapapa?" Aku mendengar umpatan Sky yang ternyata ada di sebelah kiriku. Aku menelan ludahku gugup, sungguh ... baru kali ini aku melihat Sky semarah ini. Valeria juga kelihatannya sedang agak kesal.
"Hei ... kalian berdua kenapa?" Akhirnya aku bertanya sambil menepuk pundak mereka berdua.
***
"... ANAK ANJING DIA?! MANA! BIAR KUGOROK LEHERNYA! SUDAH KUDUGA ADA YANG TIDAK BERES DENGAN TIM ORANG SINTING ITU!" Aku langsung mengeluarkan daggerku dan hendak berlari ke arah tim Van. Tapi Valeria menahan tanganku dan Sky menahan kakiku.
Aku tidak habis pikir dengan mereka! Van yang sengaja bunuh diri dengan menyerahkan dirinya pada tim hijau! Dan sekarang Aran serta Cassio yang mengorbankan Sky?!
"Aku juga ingin begitu, tapi kita tidak bisa bertindak sembrono. Apalagi kita semua juga peserta ujian," ucap Valeria dengan hembusan nafas yang kesal.
"Benar, tapi aku benar-benar ingin membunuh mereka sekarang!" ucapku sambil berusaha menahan emosi. Setelah Valeria dan Sky melepaskan pegangan mereka, aku duduk bersila sambil menarik nafas panjang.
__ADS_1
"Kita harus fokus di ujian ke 6. Kita balaskan saja dendam ini di ujian ke 7, di pertarungan individu."
TBC.