Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Sky si Siput (9)


__ADS_3

POV: Sky


"... Apa maksud anda? Bu-bukankah anda memang harus pulang? Apakah Tuan Muda tidak rindu pada saya? Pada Tuan Muda Dira?" Suara Leonax terdengar agak kaget dan gugup. Meskipun begitu, aku masih bisa merasakan bahwa dia tulus mengatakannya. Bukan hanya dari nada suaranya, tapi kantung matanya yang terlihat sangat hitam, serta perawakannya yang jadi lebih kurus dari terakhir kali aku melihatnya, bahkan pipinya sekarang terlihat sangat tirus.


Tapi apa gunanya itu semua?


Satu tahun lebih, itu bukanlah waktu yang pendek bagiku.


Harapanku yang ingin melihatmu, kini sudah menghilang sepenuhnya, Leonax.


"Aku tidak pernah merindukan mereka. Begitu juga denganmu, Leonax," ucapku sambil tersenyum. Sorot mata Leonax berubah, cahaya di matanya terlihat meredup, seolah memendam rasa sakit.


"Meskipun begitu ... anda harus pulang, Tuan Muda. Saudara anda ... maksud saya Tuan Muda Dira. Sekarang sangat merindukan anda. Dia bilang dia bisa bunuh diri jika tidak melihat anda hari ini," ucap Leonax dengan kepala yang tertunduk. Aku diam sejenak dan berpikir. Memang diantara semua orang di rumah itu, yang paling peduli padaku hanya Leonax dan Dira.


Tapi kepedulian mereka tidak berguna di depan ayah dan ibu.


Bagaimana ini ... haruskah aku pulang? Tapi aku sangat malas melihat wajah mereka sekali lagi.


"Terimakasih anak manis, balas dendam yang kamu lakukan itu benar-benar sempurna."


"Terimakasih karena sudah memberikan bunga yang paling indah untuk kami."


"Pulanglah, dengan umurmu yang sekarang, kamu hanya akan kembali dimanfaatkan oleh orang lain."


Suara-suara itu kembali terdengar untuk beberapa saat, sampai akhirnya menjadi hening sepenuhnya. Tapi jika dipikir-pikir, yang dikatakan oleh mereka itu benar. Dengan umurku yang masih berusia 8 tahun, tidak ada hal yang bisa aku lakukan sendirian di dunia ini.


Kalau begitu ... aku pulang saja. Nanti aku akan pergi lagi jika sudah waktunya.


Aku menyentuh kedua pipi Leonax, membuatnya mengangkat kepala untuk menatap mataku. Setelah itu aku tersenyum tipis.


"Baiklah, antar aku pulang, Leon."


.


.


.


Aku turun dari punggung Leonax yang memaksaku agar digendong olehnya. Kini kami semua sudah sampai di kediamanku yang dulu.


"Woah, kenapa ramai sekali di sini?" ucapku heran saat melihat puluhan pelayan yang bekerja di rumah ini tengah berdiri berjejer di depan rumah, seperti sengaja untuk menyambutku.


Padahal biasanya aku akan gugup jika bertemu dengan orang yang tidak aku kenal. Tapi aku tidak tau kenapa ... rasanya sekarang aku tidak gugup.


Justru aku merasa muak berada di rumah ini.


"Sky!"

__ADS_1


Suara Dira terdengar di telingaku bersamaan dengan suara langkah kaki yang cepat. Aku menoleh ke asal suara itu, melihat Dira yang berlari ke arahku dengan air mata yang mengalir.


Greb!


"Syukurlah kau selamat Sky, syukurlah," ucap Dira dengan tangisan yang deras. Dira memelukku dengan begitu erat. Aku membalas pelukannya dengan menepuk-nepuk punggungnya pelan.


"Ya, aku pulang, Dira." Mataku melihat ke arah sesosok suami istri yang kini menatapku dengan datar.


"Karena terlalu ada di luar, sekarang kau bahkan mewarnai rambutmu ya? Itu pantas denganmu," ucap orang yang dulu kuanggap sebagai ibuku. Ya ... kenapa aku tidak sadar dari dulu.


"Dira, aku sudah menuruti kemauanmu. Sana pergi ke kamar dan belajar," ucap orang yang pernah aku panggil dengan sebutan ayah. Dira segera melepaskan pelukannya padaku lalu menatapku dengan sendu.


"Kita akan bertemu lagi nanti, sampai jumpa. Aku berjanji, lain kali aku akan melindungimu," ucap Dira sebelum dia berlari menjauhiku. Dira berlari ke arah rumah yang kemudian segera disusul oleh ayah dan ibunya.


Benar, itu adalah ayah dan ibunya.


Bukan ayah dan ibuku lagi. Karena aku sudah tidak menganggap mereka seperti itu.


Wanita yang langsung mencibir warna rambutku yang berubah, dan mengira bahwa aku sengaja mewarnainya tanpa menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Dan pria kolot yang tampak begitu tidak rela putranya memelukku seperti tadi.


Bukankah keluarga ini ...


Adalah komedi terlucu yang pernah aku lihat?


"... Tuan Muda Sky," panggil Leonax yang ada di belakangku. Aku menoleh dan menjawabnya. "Ada apa?".


"Saya bersumpah ... akan menemukan kebenaran dibalik kasus penculikan anda," ucapnya serius. Aku tersenyum getir mendengar perkataannya.


Kalau sudah ketemu, lalu apa? Itu tidak seperti sifat mereka akan berubah hanya karena mereka tahu kebenarannya.


Karena manusia sejak dulu selalu seperti itu, mereka menolak fakta yang ada di depan muka mereka.


Karena dulu aku juga bagian dari manusia yang bodoh seperti mereka.


"... Lakukan sesukamu. Aku mau mandi lalu tidur," jawabku tanpa ambil pusing. Aku segera berjalan masuk ke dalam rumah, mengabaikan tatapan mata para pelayan yang menatapku dengan iba, benci, dan ada juga yang tidak peduli atau hanya penasaran.


Aku berjalan dengan riang menuju kamarku, sampai aku berhadapan dengan seorang wanita yang pernah aku sebut sebagai guru.


"Heh! Kau masih hidup rupanya! Beruntung sekali ya?" ucap wanita itu sembari menatapku tajam. Aku diam sejenak untuk berpikir, lalu segera tersenyum lebar.


"Benar, aku beruntung sekali ya? Aku juga mau lihat apakah guru beruntung sepertiku?" tanyaku sambil mengeluarkan palu yang aku simpan di samping celanaku. Wanita itu langsung kaget, dia menatapku dengan tatapan yang tajam namun juga tersirat rasa takut di dalamnya.


"Tidak cukup menjadi bodoh, sekarang kau juga jadi psikopat?" cibir wanita itu sambil melangkah mundur. Aku tetap diam di tempatku, menatapnya dengan senyuman.


Ah, aku sudah muak.


WHUSS!

__ADS_1


BUAGHH!


CRAATT!


Aku melemparkan palu yang kupegang tepat ke pelipisnya. Wanita itu langsung pingsan tanpa sempat berteriak. Darah mulai mengalir membasahi lantai rumah ini.


"Waduh ... apa dia mati? Aku tidak sengaja." Aku berjalan ke arahnya untuk memeriksa denyut nadinya. Tapi ...


Ya dia memang mati.


Tubuhnya masih hangat, hanya saja nadinya sudah tidak berdenyut. Bagaimana ya, ah sudahlah. Nanti juga akan ada yang menemukan mayatnya.


"Hm~ hm hm~" Aku kembali berjalan lurus ke arah kamarku sambil bersenandung ria. Hari ini adalah hari yang bahagia karena aku sudah bebas dari siksaan. Aku tidak mau jadi sedih hanya karena wanita tidak berguna itu.


"KYAAAAA!!"


Suara jeritan perempuan mulai terdengar dari tempatku membunuh wanita tadi. Pasti beberapa pelayan perempuan yang menemukannya. Biarkan saja mereka mengurusnya sendiri.


Mereka tidak akan bisa melapor pada pihak yang berwajib. Meskipun aku adalah anak yang tidak dianggap di keluarga ini, aku tetaplah anggota sah dari keluarga ini.


Kekuasaan itu ... luar biasa ya?


Sesampainya di kamar, aku segera masuk ke kamar mandi, membasuh bajuku yang baunya sudah sangat tidak enak. Apalagi ada noda darah dan bau kimia juga di sini. Setelah mandi, aku kemudian berbaring di ranjang.


Sebenarnya sangat berdebu, tapi aku tidak peduli. Aku sudah terlalu malas untuk membersihkannya. Aku tinggal membunuh pelayan yang bertugas untuk membersihkan kamarku saja karena dia lalai.


PRANG!


"KWAKK! KWAAKK!"


Aku terkesiap dan langsung berdiri dari tempat tidurku. Mataku menatap ke arah seekor burung gagak yang masuk hingga memecahkan kaca jendela. Burung itu berhenti tepat di atas meja belajarku. Di kakinya, terselip sebuah gulungan kertas yang berhiaskan pita hitam.


"Kwak Kwak!" Gagak itu mendekat ke arahku, dan mengarahkan kakinya yang ada kertasnya itu ke arahku juga. Aku mengerutkan kening, menatap gagak itu dengan heran.


"Kau mau aku membukanya?"


"Kwak!"


Pasti aku sudah gila karena berbicara dengan gagak.


Aku melepaskan pita yang mengikat kertas tadi dari kaki gagak dan langsung mengambil kertasnya. Setelah itu, gagak tadi langsung pergi lewat kaca yang barusan dia pecahkan.


"Gak jelas." Aku menghela nafas pelan, dan membuka gulungan surat itu.


"Hah? Apa ini? Orang gila?" Aku menatap surat yang hanya berisikan satu kalimat saja.


'Lewati jalan yang gelap, kau akan menemuinya. Datanglah ke sini, Underworld School.'

__ADS_1


TBC.


__ADS_2