Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Teknik baru!


__ADS_3

..."Aku akan menggendongmu."...


POV: Seas


Aku menoleh ke arah X, dia menurunkan tas dan snipernya lalu menggendong Sky di punggungnya.


Mungkin ini memang menyesakkan untuk Sky, dia tidak pernah melakukan aktifitas fisik seberat ini. Yah, aku sudah pernah melakukannya dulu, jadi mungkin karena itu aku tidak terlalu kelelahan.


"Seas, tolong kau bawakan tas dan sniperku," ucap X padaku. Aku mengangguk lalu mengambil tasnya, saat hendak mengambil sniper X, tiba-tiba Valeria merebutnya.


"Aku saja yang membawa ini, biar adil. Kau satu, aku satu!" ucapnya sambil tersenyum. Aku masih cukup bingung, mataku melirik ke arah X yang tampaknya tidak terlalu peduli snipernya dibawa oleh siapa.


"Baiklah, terimakasih Val!" ucapku padanya. Setelah itu kami lanjut berlari lagi. Semakin jauh kami berlari, saljunya juga semakin tebal. Bahkan hawa dinginnya juga terasa menusuk ke tulang.


"Ugh, aku lupa membawa masker!" ucapku pelan, aku bisa melihat uap yang dikeluarkan dari mulutku. Aku berpikir bagaimana caranya agar bisa berlari dengan leluasa di tumpukan salju ini?!


"Bukankah kau sudah di ajari teknik itu oleh C?" tanya X padaku. Aku mengingat-ingat teknik apa yang X maksud.


Hmmm ... percuma! Aku benar-benar tidak ingat apapun tentang teknik yang diajarkan oleh C! Seingatku dia hanya memberi pelajaran yang menyiksa kami!


Apakah aku harus menggunakan 'seni' itu? Tapi bagaimana kalau tubuhku langsung keram? Apalagi di cuaca dingin seperti ini.


"Kita akan menambah kecepatan, sebentar lagi kita sampai," ucap Dev yang berada di urutan paling depan. Aku menganggukkan kepalaku.


Dev mulai menaikkan kecepatannya, sebenarnya dia memakai teknik apa?!


X tidak terlihat kesulitan menyusul Dev, sedangkan aku dan Valeria semakin tertinggal!


"Yang Dev pakai itu adalah teknik melawan gravitasi, kau bisa mengurangi berat tubuh sehingga saat kakimu menekan salju, kau tidak akan jatuh ke dalam, tapi masih berada di permukaan," ucap X di depanku. Dia berbicara cukup keras sehingga aku bisa mendengarnya. Ahh sudahlah! Kalau aku tidak bisa mengejarnya, aku akan tertinggal!

__ADS_1


Aku melihat ke arah ranting pohon. Mataku melihat ke arah Valeria.


"Val, ayo naik ke atas sana," ucapku sambil menunjuk ranting pohon. Dia terlihat seperti baru saja mendapatkan ide cemerlang. Valeria langsung melompat dan menggunakan ranting sebagai pijakannya.


"Nah! Kalau daritadi seperti ini kan lebih mudah!" ucapnya sambil tertawa, aku sudah melompat dan berada tepat di sampingnya.


"Ternyata melakukan ini tidak mustahil ya, untung saja waktu kecil aku suka lihat kartun," ucapku pelan. Aku dan Valeria segera menambah kecepatan untuk mengejar X dan Dev.


Sky malah enak-enakan tidur di punggung X. Dasar!


"Seas, sepertinya saljunya mulai berkurang. Aku juga melihat banyak gedung-gedung di sana!" ucap Valeria sambil menatapku. Tangannya menunjuk sebuah gedung yang terlihat dari sini.


"Itu artinya sebentar lagi kita sampai!" ucapku dengan senang. Dev memberi tanda bahwa kita akan berhenti di sebuah pos di depan sana. Kami mengangguk lalu melompat turun dari atas pohon.


"Kalian bisa mengikuti dengan baik, syukurlah ... kukira pihak Underworld School akan mengirimkan murid yang payah," ucap Dev sambil tertawa kecil. Jujur, perkataannya sedikit berbekas di hatiku.


Ayolah! Aku baru mengikuti 3 kali pelajaran dan sudah disuruh melaksanakan misi?!


"Ayo bangun dasar pemalas! Makan buah ini!" Aku memasukkan buah itu dengan kasar ke mulut Sky. Dia langsung bangun lalu sedikit tersedak. Dia kelihatan marah padaku tapi lanjut memakan buah itu.


"Apa nama buah ini?" tanya Sky. Benar juga, aku tidak menanyakan namanya pada Dev tadi.


"Kalian bisa menyebutnya buah musim panas atau buah api," ucap Dev pada kami. Aku mengangguk lalu memakan buah itu satu biji.


Ahh ... ternyata ini fungsinya. Dia membantu menghangatkan organ dalamku yang terasa membeku. Aku bisa merasakan seluruh tubuhku sangat hangat sekarang.


"Kita akan menunggu mobil dari sini," ucap Dev. X menghela nafasnya pelan lalu mengambil tas serta snipernya yang aku dan Valeria bawa.


"X! Tunggu dulu! Ajari aku teknik yang tadi!" Aku menarik seragam X yang serba hitam. Dia menatapku datar lalu menatap teman-temanku.

__ADS_1


Aku yakin Valeria juga ingin tau seperti apa teknik itu. Yah kalau Sky ... sepanjang jalan tadi dia tidur kan?


"Hmm, bagaimana yah. Teknik yang aku gunakan itu berbeda dengan teknik Dev. Teknik yang kupakai ini sudah menjadi teknik dasar di kelas mata-mata. Sedangkan teknik milik Dev ... seperti yang aku bilang tadi," ucap X sambil mengangkat bahunya. Aku dan Valeria saling bertatapan.


Tunggu, X dari kelas mata-mata? Kenapa aku baru sadar sekarang? Benar juga ... mana ada orang dengan nama X. Sudah pasti itu hanyalah kode.


"Siapa diantara kalian yang tekniknya paling mudah dikuasai?" tanya Valeria langsung ke poin utama. X menggelengkan kepala sebagai tanda tidak tahu jawabannya.


"Itu tergantung pada kondisi fisik kalian, bagiku teknik mata-mata lebih mudah. Tapi kalian sudah tau kan bahwa dibutuhkan syarat khusus untuk masuk kelas mata-mata? Salah satunya adalah kondisi fisik," jelas X. Aku menatap X dengan pasrah, sial! Apa yang harus kulakukan.


"Aku akan mengajarimu, ikut aku." Dev tiba-tiba mengangkatku seperti karung beras.


"Kau juga ikut aku." Dia juga mengangkat Sky tepat di pundak lainnya. Aku dan Sky jadi seperti karung beras sekarang.


"Aku akan mengajarimu Val!" ucap X sambil tersenyum. Hah?! Kenapa hanya Valeria yang diajari X?! Aku juga mau!!


"Tubuh kalian tidak cocok dengan teknik mata-mata. Hanya tubuh gadis itu yang cocok, karena itu kalian akan kuajari teknikku." Dev menurunkan kami di tumpukkan salju. Aku dan Sky jatuh terduduk, bahkan salju ini sudah setinggi mata kami.


Tapi Dev masih berdiri di atas salju seolah salju itu adalah benda keras. Tidak ... ini lebih seperti Dev yang menjadi ringan!


Aku menatap Dev dengan kagum, aku yakin Sky juga terpana melihat teknik in-


"APA APAAN ITU?! KENAPA KAU BISA BERDIRI DI ATAS SALJU SETEBAL INI?!" teriak Sky hingga berdengung di telingaku. Dugaanku salah, dia justru terlihat panik saat ini.


"Masih ada sekitar 6 jam sebelum mobilnya sampai, cepatlah berdiri." Dev berkata dengan ekspresi datar. Ugh, kalau dia jadi pembimbing di sekolah pasti sangat mengerikan.


Aku dan Sky berdiri lalu menghadap ke arah Dev. Dia memberikan kami buah musim panas dan mengisyaratkan kami untuk memakannya.


..."Sambil menunggu mobil, aku akan mengajari kalian dengan cepat."...

__ADS_1


TBC.


__ADS_2