
..."Siluman tikus?"...
POV: Seas
Hah? Apakah ini masih jaman dimana ada hal-hal seperti itu? Oh ayolah ... ini tidak benar-benar nyata kan?
"Bisakah kalian jelaskan pada kami? Mungkin ... seperti apa mereka? Apa yang mereka lakukan? Dan ... jejak apa yang mereka tinggalkan?" tanya X sambil berjongkok di hadapan bocah laki-laki itu. Anak itu menunjuk sebuah gubug di tepi sungai, gubug yang terlihat terbengkalai.
"Pada awalnya, hanya persediaan makanan di desa ini yang hilang secara perlahan. Karena itu penduduk desa mulai mengamankan makanan dengan memasang beberapa jebakan dan melakukan penjagaan setiap malam," ucap anak itu dengan tatapan sendu. Aku ikut berjongkok lalu mengusap kepalanya dengan pelan.
"Setelah penduduk desa melakukan hal itu, makanan di desa ini jadi aman. Tidak ada kejadian serupa yang terulang lagi. Hingga suatu hari ... banyak binatang ternak yang ditemukan dengan kulit terkelupas. Penduduk desa semakin khawatir bahwa tikus-tikus itu kelaparan lalu marah," lanjut bocah itu. Kami masih diam dan mendengarkannya.
"Hingga ada seorang paman tua yang berkata ... 'Jangan takut! Kita buru mereka! Kalau kita bekerja sama pasti semua akan baik-baik saja!'. Karena itu mulai banyak penduduk desa yang mengikuti paman itu berburu di malam hari!" Anak itu menggigil ketakutan. Valeria berjalan ke arah anak itu lalu memeluknya, begitu juga dengan Sky yang memberinya ... sebuah permen? Dapat darimana dia?!
"Hey! Aku juga mau satu!" bisikku pada Sky. Dia berdecih pelan lalu memberiku permen rasa apel. Yah, tidak buruk.
"Tapi mereka tak kembali lagi ... mereka ditemukan dengan keadaan tanpa kulit! Setelah itu, mulai banyak penduduk desa yang mengalami hal sama, bahkan ada yang hanya tersisa pakaiannya saja!" Anak itu lalu menangis dan memeluk Valeria dengan erat. Valeria menepuk punggung anak itu pelan dan menenangkannya.
"Bisakah kalian mengajak kami berkeliling?" tanya Sky pada anak perempuan dengan rambut coklat. Anak itu mengangguk lalu berjalan lebih dulu.
Kami mulai mengikuti mereka, dan melihat-lihat kondisi desa ini.
"Ugh! Baunya!" Aku menutup hidungku. Ini bahkan lebih busuk dan anyir daripada bau di mansionku! Desa ini sangat gelap, tidak ada pencahayaan yang menerangi tempat ini.
Benar-benar mirip seperti desa yang ditinggalkan. Tidak ... ini lebih mirip seperti desa yang dibantai.
Kami berhenti di tengah desa ini. X mulai berjalan sendiri lalu melihat kondisi jalanan. Aku dan Sky juga mulai melihat-lihat kondisi rumah.
Valeria berjaga di sana untuk melindungi anak-anak kecil itu.
"Sky ... rumah ini sangat bau!" ucapku sambil menahan muntah. Sky mengangguk setuju lalu memberiku sebuah obat.
"Obat apa ini?" tanyaku pada Sky.
Sky menoleh ke arahku dan berkata, "Minumlah kalau kau tak ingin muntah." Setelah itu dia mulai memeriksa kondisi lantai.
__ADS_1
"Ini sudah dibiarkan kosong cukup lama, debunya sangat tebal," ucapnya setelah menyentuh lantai dengan jarinya. Sudut mataku melihat sebuah tumpukan benda di pojok rumah. Apakah ini benar-benar sesuai dengan yang kupikirkan?
"Bagaimana kalau kita coba cek rumah lainnya?" tanyaku pada Sky. Dia mengangguk, kami segera keluar dari rumah itu dan memeriksa rumah lainnya.
"Oh! Sky Sky!" Aku menepuk pundaknya beberapa kali. Sky menoleh padaku dengan tatapan datar.
"Di sana ada peternakan!" ucapku sambil menunjuk sebuah kandang sapi di pinggir kebun. Sky dan aku berjalan ke arah sana, bahkan beberapa meter dari sini sudah tercium bau khas peternakan, dan ... beberapa bau darah sapi dan kambing.
"Kalau beruntung, kita bisa menemukan bangkai binatang," ucap Sky lalu melompati pagar. Aku juga ikut melompat dan mengikuti Sky dari belakang.
"Untuk apa bangkainya?" tanyaku penasaran, kadang aku tak paham dengan cara berpikir Sky.
Sky menghela nafasnya lalu berbalik menatapku. Matanya melihatku dengan datar lalu dia menepuk pipiku.
"Ada apa sih?!" protesku.
"Kita bisa tau apakah yang memakan hewan-hewan itu benar tikus atau bukan, setiap hewan punya ciri khusus dalam gigitan mereka," ucap Sky lalu berjalan kembali.
Kami sudah sampai di depan sebuah kandang yang besar, pintu berwarna biru kecoklatan terpampang di hadapan kami.
"Aku akan membukanya," ucapku.
Bunyi decitan pintu ini cukup keras.
Tepat setelah aku membuka kandang ini, semerbak bau anyir dan kotoran hewan tercium di hidungku. Sky sudah mengenakan maskernya dan mengeluarkan jarumnya untuk berjaga-jaga.
Sial ... aku tidak bawa masker.
"Mungkin aku ak- huek! Aku akan menunggu di lu- huek! Lu-luar! Dah!" Aku hendak berlari meninggalkan Sky tapi Sky menggenggam tanganku lebih dulu.
Dia memegang daguku dan membuatku menoleh ke arahnya, tangannya membelai telingaku dan ... memakaikan masker padaku.
"Untung saja kau bawa lebih!" ucapku dengan senang. Sky memutar bola matanya malas. Kita mulai masuk dan melihat-lihat kondisi.
"Kau bawa senter?" tanya Sky. Aku mengangguk dan mengeluarkan senter kecil yang kusimpan.
__ADS_1
"Disana ada bangkai sapi!" ucapku saat melihat ke sudut kandang ini. Aku dan Sky bergegas ke sana dan memeriksa kondisi bangkai sapi itu.
"Hey ... ada yang aneh," ucap Sky dengan pelan tapi aku masih bisa mendengarnya. Aku menatap bangkai itu lalu memperhatikan bekas lukanya.
"Yah ... sepertinya firasat kita sama. Apakah kita harus membunuh mereka?" tanyaku pada Sky. Dia berdiri lalu berlari keluar, aku mengikutinya sambil berlari juga hingga kita sampai di luar kandang peternakan.
"Kenapa kau berlari?" tanyaku pada Sky. Dia mengatur nafasnya lalu menoleh padaku.
"Sejak kapan kau sadar?" tanya Sky padaku. Aku mengingat-ingat sebentar.
"Sejak mereka bilang tak ada penduduk di sini?" jawabku padanya. Sky menatapku dengan bingung.
"Sudahlah! Bukankah kita harus bergegas?! Ayo kita susul X lebih dulu!" ucap Sky. Aku mengangguk setuju dan kita mulai mencari X.
Sky mencari dengan menelusuri celah rumah, dan aku mencari lewat atap. Haish! Dimana sih X? Sangat susah mencari dimana dia berada!
Bruak!
Aku mendengar sesuatu. Kulangkahkan kakiku mendekat ke sumber suara.
"X? Apakah itu kau?" tanyaku pada bayangan hitam yang berdiri di depan tong.
"Ya, ini aku!" Dia menoleh padaku sambil tersenyum. Sebenernya aku cukup takut jika dia bukan X ... membayangkannya saja sudah merinding. Kukira dia ... bukan makhluk hidup.
"Ayo kita kembali X, sudahi permainannya," ucapku lalu turun dari atap. X tertawa kecil sambil mengusap rambutku dengan lembut.
"Yah, ayo! Ngomong-ngomong, dimana Sky?" tanya X, aku mengangkat bahuku dan menggelengkan kepala.
X menghela nafasnya kecil lalu berkata, "Pasti dia akan baik-baik saja, ayo kita ke Valeria sekarang." X berlari mendahuluiku.
Dia sangat cepat ... bagaimana bisa aku menyusulnya?!
Setelah berlarian selama 4 menit, akhirnya aku sampai di tempat tadi. Valeria dan X masih bermain dengan anak-anak. Dan Sky sudah di sampingku dengan membawa jarum beracun.
"Bukankah sudah waktunya selesai bermain drama?" ucapku sambil berjalan ke arah anak-anak itu.
__ADS_1
..."Iya kan? Para kanibal?"...
TBC.