
"Ya. Kita akan ke Death Garden."
POV: Seas
"Apa? Death Garden? Kenapa ke sana?" tanya Sky dengan tatapan bingung. Aku segera melipat kertas peta di tanganku, dan menatap ke arah Sky sambil tersenyum.
"Rabbit itu pasti akan ada di sana, karena Underworld School itu luas, dia pasti akan berada di sebuah lokasi yang menonjol di suatu distrik di Underworld School.
Dan di distrik pusat saat ini, salah satu tempat yang paling menonjol selain gedung Underworld School adalah ... Death Garden.
Lokasi itu begitu sempurna karena memiliki banyak tempat untuk sembunyi, dan juga memiliki medan terjal yang cocok untuk memperlambat gerakan bagi pemula seperti kita," jelasku pada Sky. Valeria segera meregangkan otot tubuhnya dan mulai menguap. Dia tersenyum ke arahku dan Sky, senyuman yang tajam dan mengerikan.
"Hehe, aku punya rencana."
***
POV: Author
Seas dan Sky saat ini sudah sampai di Death Garden. Tanah dengan rumput hitam yang tumbuh menjulang dan rimbun, batang pohon yang besar dan banyak duri di setiap inci batangnya, serta bunga beracun yang tumbuh memenuhi taman ini.
Seas segera bertatapan dengan Sky begitu mereka menginjakkan kaki di tanah Death Garden. Sky yang paham apa maksud tatapan Seas, segera mengeluarkan sebuah ramuan kecil dengan warna putih.
Whus!
Prang!
Sky melemparkan ramuan tadi ke arah depan, begitu pecah, muncullah asap tebal yang begitu tebal.
"Ayo mulai." Seas berbisik pelan pada Sky.
Whus!
Kedua bayangan mereka kini menghilang, menyisakan kesunyian di Death Garden dengan kabut putih yang mengepul tebal.
Tring.
Sebuah kilatan cahaya tiba-tiba muncul. Dan disusul oleh sesuatu.
DUARRR!
WHUSSSSS!
Ledakan super besar terjadi, angin kencang tadi menghembuskan seluruh gas putih yang menghalangi, dan menampakkan agen Rabbit yang kini dikejar oleh Seas.
"Hahahaha! Kau bisa tau aku ada dimana! Luar biasa!" puji Rabbit pada Seas yang tak berhenti mengejarnya. Seas hanya diam dan terus mengejar Rabbit.
Rabbit naik ke atas pohon dan disusul oleh Seas, kecepatan keduanya begitu tinggi, hingga rasanya sulit diikuti oleh mata.
"Hm~ kau cukup cepat juga ya~ bagaimana kalau begini?" Rabbit berhenti sejenak di atas pohon, lalu menendang ranting pohon yang ada di bawah kakinya.
KRAK!
Ranting pohon itu patah, dan saat itu Seas sedang melompat, hendak menerkam Rabbit. Tapi Rabbit menyeringai, dia segera melemparkan ranting penuh duri itu ke arah Seas.
WHUS!
KRAKK!
Seas dengan tenang mengeluarkan dagger lamanya, dan memotong ranting tadi menjadi dua bagian. Saat ranting tadi telah terpotong, Seas juga baru sadar bahwa Rabbit sudah menghilang.
"Sial. Sudah kuduga tidak akan mudah menjebaknya," ucap Seas lalu diikuti dengan helaan nafas.
"Hehe ... tapi tidak masalah. Itu sudah masuk di prediksi Valeria." Seas tersenyum tipis, mata ungunya menatap ke sebuah benang yang tergantung di dahan pohon.
__ADS_1
"Jebakan jarum, dimulai sekarang."
KRINCING!
Sebuah suara lonceng terdengar dari arah Barat, Seas langsung melesat berlari ke arah sana. Dan benar saja, dia langsung menemukan Rabbit yang berusaha melepaskan lonceng kecil di atas kakinya.
"Tidak akan semudah itu. Karena lonceng tadi sudah diolesi oleh lem super lengket buatan temanku yang jenius," ucap Seas samb bersiap untuk melemparkan dagger ke arah Rabbit.
WHUS!
Seas melemparkan dagger di tangan kanannya dengan cepat.
TRANG!
Tapi Rabbit bisa menepisnya seolah itu bukan masalah besar. Seas tersenyum miring, mata ungunya menatap topeng kelinci itu dengan licik.
Pssh!
Sebuah gas ungu mulai menguap dari dalam gagang dagger Seas. Bersamaan dengan keluarnya asap ungu tadi, Seas mulai melompat mundur menjauhi area gas.
Gas itu adalah gas tidur yang dibuat oleh Sky dengan dosis 400% lebih kuat, coba kita lihat, sejauh mana agen tingkat atas bisa menahan kandunga gas tadi?,-batin Seas.
"Hahaha, percobaan yang bagus. Tapi harusnya kau juga memperhitungkan jika agen tingkat atas bisa kabur."
DEG!
Seas menoleh ke belakang, suara Rabbit yang terdengar mengerikan muncul secara tiba-tiba di telinga Seas.
Trak.
Apa?,-batin Seas.
Rabbit memasukkan sebuah granat ke dalam kaos Seas. Seas yang tidak sempat bereaksi, hanya bisa ternganga sambil menatap tangan Rabbit shock.
Klik.
Prashhh!
Sebelum granat itu meledak, baju Seas tiba-tiba berlubang karena ada peluru yang menembusnya. Rabbit menoleh ke asal peluru, dan melihat Valeria yang tengah membidik dengan pistolnya.
"Aku tidak akan membuat rekanku mati dengan mudah. Bukankah kau juga harusnya memperhitungkan kerjasama kami," ucap Valeria dengan nada yang percaya diri. Rabbit terkekeh mendengar penuturan Valeria.
Greb.
"Hah?" Rabbit menatap ke arah kerah bajunya yang dicengkeram oleh tangan kiri Seas. Anak dengan mata ungu itu tersenyum sambil menggenggam granat di tangan kanannya.
"Hehe, aku harus mengembalikan granat yang tadi kau masukkan bukan?" ucap Seas sambil memasukkan granat tadi ke dalam baju Rabbit. Seas langsung menjauh setelah memasukkan granatnya, matanya tidak lepas dari Rabbit yang mulai terlihat bercahaya.
DUARRR!
WHUSSS!!
Ledakan besar muncul dan menciptakan angin yang cukup kuat. Setelah angin tadi mulai menipis, Rabbit juga menghilang. Seas tahu bahwa dia pasti melarikan diri, tidak mungkin bagi agen tingkat atas mati hanya karena granat mungil.
"Hehe ... AKU LOLOS TES YEYYY!" Seas bersorak kesenangan. Valeria muncul dari balik pepohonan dan menghela nafas lega. Begitu juga dengan Sky yang keluar dari bawah tanah, ternyata dia bersembunyi di sana.
"Yah, kalau begitu rencana awal kita berhasil. Selanjutnya, kita akan membuat Sky lolos dalam tes. Karena Seas sudah lolos, berarti Seas akan lebih mudah untuk menggenggam dan menyentuh Rabbit, kita memanfaatkan lubang itu untuk membuat Sky lolos nanti," jelas Valeria sambil memasukkan pistolnya ke dalam baju. Seas masih tersenyum penuh kebahagiaan, karena dia berhasil menyentuh Rabbit.
Srak.
"Oh? Ada kertas yang jatuh?" Seas memungut kertas yang jatuh dari lubang lengan baju seragamnya. Kertas dengan bentuk persegi panjang mungil serta warna emas yang berkilap di bagian belakangnya.
Seas membuka kertas itu, dan melihat secarik tulisan yang ada di dalam sana.
__ADS_1
Hai hai hai! Selamat pada konstestan pertama yang lulus! Ini adalah surat kelulusan ekslusif dan ada hak khusus di dalamnya! Simpan baik-baik untuk ujian ke-4 nanti!
Seas melongo membaca isi surat dari kertas tadi.
"Hah? Aku yang pertama? Serius?" Seas berkata tidak percaya. Valeria dan Sky juga ikut shock, mereka sama sekali tidak menduga bahwa Seas akan jadi orang pertama yang lulus dalam ujian ke-3.
Hanya dalam setengah hari semenjak ujian ini dimulai.
***
"Hahaha! Bukankah ini rekor di Underworld School?! Ada anak yang menyelesaikan ujian mengejar agen tingkat atas hanya dalam setengah hari!
Keluarga Veldaveol memang monster ya?!" Rex tertawa kencang sambil memegang kopi, dan duduk bersandar di kursi empuk bagaikan singgasana itu.
"Serius?! Woah ... aku tau dia memang berbakat, tapi aku tidak menyangka bahwa dia akan secepat ini," ucap agen Spinx yang masih berdiri tegap menatap belakang kepala Rex.
"Itu hanya beruntung saja, mereka menebak lokasi Rabbit dengan sempurna. Kalau bukan karena keberuntungan, apa mungkin mereka bisa menemukan lokasi Rabbit?" Agen Cat berucap dengan remeh sambil meminum kopi yang Rex buatkan.
"BRRRTT! PRSSSSSHHHH!" Belum sedetik Cat menyeruput kopinya, tapi dia langsung menyemburkan lagi. Cat memasang ekspresi shock saat melihat ke dalam kopi.
"... Rex sialan, kenapa kau memasukkan kelereng beracun ke dalam kopi ini?!" Cat menaruh gelas kopinya dan hanya bisa menggerutu di belakang Rex. Orang yang merasa disebut hanya bisa tertawa sambil terus menatap jendela.
"Bagaimana, jika itu bukanlah kebetulan?" Pertanyaan Rex membuat perhatian Spinx dan Cat tertuju pada dirinya. Sambil memandang kota yang gelap dan suram ini, keheningan melanda ruangan itu.
"Kenapa kalian berpikir bahwa mereka ke sana itu kebetulan? Apa kalian lupa siapa saja anggota tim Seas?" tanya Rex lagi. Spinx dan Cat terdiam, tidak mungkin ada agen tingkat atas yang tidak tau nama Sky dan Valeria. Mereka adalah monster yang sebenarnya bisa disandingkan dengan Seas.
Hanya saja mereka tumbuh lebih lambat daripada Rubah Putih di tim mereka.
Valeria, sang peramal takdir.
Dan Sky, si penyihir dunia.
Diantara banyaknya julukan yang beredar, Valeria dan Sky juga sudah mendapatkan julukan itu. Hanya masalah waktu hingga nama mereka terkenal nantinya.
"Monster hanya bisa berkembang jika bertemu monster, yah kurasa perkataan itu tidaklah salah."
***
POV: Seas
Aku tak henti-hentinya menatap kertas dengan kilap cahaya keemasan di tanganku. Fakta bahwa aku sudah lulus ujian saja membuatku sangat senang, apalagi aku adalah orang pertama yang lulus.
Bisa kalian bayangkan seberapa senang aku sekarang.
Tapi ... aku tidak suka ditatap dengan tatapan seperti itu.
Aku melirik ke arah Valeria dan Sky yang memandangku dengan tatapan iri. Sepertinya mereka tidak terima bahwa aku mendapat hak khusus di ujian ke-4 nanti.
"Oh ayolah, tidak ada satupun dari kita yang memprediksi hal ini bukan? Apa masih perlu kalian marah seperti ini?" tanyaku dengan ekspresi wajah yang cemberut. Valeria lagi-lagi hanya menghela nafas dan Sky hanya diam dan menatapku malas.
"Justru karena kau beruntung makanya kami iri. Sial, tau begini harusnya aku saja yang menyentuh Rabbit tadi!" ucap Valeria kesal.
"Kau benar, harusnya aku saja yang menyentuhnya tadi," ucap Sky yang ikut menimpali. Valeria langsung melirik ke arah Sky dengan tajam, tanpa basa-basi dia langsung mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya ke kepala Sky.
"HAH?!" Sky yang kaget langsung menunduk, dan itu membuat tembakan Valeria meleset. Setelah itu mereka lanjut untuk saling tembak-menembak. Sedangkan aku? Hanya duduk di atas tanah sambil menatap drama yang seru.
Aku menatap kertas tadi dan terpikirkan sesuatu.
Tunggu, jika ada hak khusus, tidak mungkin ini hanya diberikan untuk orang pertama saja. Apakah ada angka khusus? Atau ketentuan khusus juga?
Harusnya ada, tapi apa ya?
TBC.
__ADS_1
Jangan lupa likenya ya guys!
Sengaja aku bikin setengah kali lebih banyak heheh!