Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
The Abandoned Diamond (1)


__ADS_3

Rasanya ... ada yang mengawasi.


POV: Seas


Sejak beli biskuit peluru, dan roti bunglon. Perasaan ini tidak menghilang. Aku jadi tidak bisa makan dengan tenang, rasanya seluruh indraku jadi terpaku pada orang asing itu. Tapi Valeria dan Sky tampaknya tidak menyadarinya.


Bagaimana ini? Haruskah aku bergerak seorang diri? ... Atau aku tunggu saja sampai dia yang bergerak duluan?


"Sean!"


Deg!


"Astaga ... aku kaget! Kenapa kau berteriak padahal aku di sampingmu!" ucapku pada Sky dengan ekspresi marah. Bocah berambut kuning itu tampak cemberut, dia menatapku dengan tatapan tajam.


"Apa yang kau pikirkan sih? Aku memanggilmu berkali-kali tapi kau tidak menjawab! Masih untung aku hanya berteriak! Hampir saja aku siram asam kuat!" balas Sky ganti. Aku lalu tertawa canggung, kemudian ganti menatap Valeria. Dia masih sibuk memakan beberapa makanan lain yang kami beli.


"... Ada serangga yang muncul. Aku tidak tau itu serangga beracun atau serangga biasa," ucapku sambil melihat ke arah jalan di depan. Sky dan Valeria langsung terdiam, mereka menatapku dengan tatapan serius.


"Kapan munculnya?" tanya Valeria.


"Sejak kita beli bolu awan? Mungkin juga bisa lebih awal, tapi aku baru menyadarinya tadi," jawabku dengan senyuman yang lebar. Pembicaraan kami mungkin sedikit mencurigakan, karena itu aku berusaha berakting seperti orang yang sedang bercanda.


"Apakah mau kita tangkap?" tanya Sky. Aku menggelengkan kepala, lalu mengeluarkan sebilah pisau lipat dari saku.


"... Tidak perlu. Kita bisa mengirim surat ancaman."


Cling.


Aku mengeluarkan ujung pisau yang tadinya terlipat, lalu langsung memutar badanku ke belakang. Dengan cepat, aku melemparkan pisau itu ke arah perasaan diawasi ini berasal.


WHUSSS!


Entah itu kena atau tidak. Tapi ini bisa menjadi pemberitahuan.


Bahwa kami tau jika mereka melihat kami, maka kami juga melihat mereka. Aku masih diam dan berdiri, menanti apa yang akan datang.


SYUSH!


JREBB!


Tes ... tes ...


Pisauku langsung dikembalikan bagai kilat. Dalam sekejap mata, pisau itu melesat, menggores pipiku hingga mengeluarkan darah. Pisau itu lalu tertancap di tanah, belakangku.


"Ha ... hahaha!" Aku tertawa kecil. Tubuhku mulai berbalik, lalu berjongkok. Kuambil pisau lipatku dan kusimpan dalam saku. Tangan kiriku mengusap darah yang menetes ke bawah.


"... Rupanya mereka serangga hama."


.


.


.


POV: Author


Sementara itu di sisi lain, X masih sibuk membeli ikan goreng rasa vanila. "Permisi bu~ mau beli yang rasa vanila satu!" ucap X senang. Selama menunggu ikan gorengnya matang, dia bersenandung ria. Hingga dia juga merasakan perasaan yang mengganjal.


"Hm~ suara sumbang yang tidak enak didengar," ucap X sambil tersenyum. Matanya menatap ke atas sebuah gedung yang gelap.


.


.

__ADS_1


.


Sedangkan pada agen C. Pria itu sedang duduk di pinggir bangunan, menatap langit berbintang. "... Pada akhirnya aku kembali ke sini. Rei, apa kau merindukanku?" gumam C seorang diri.


Srek srek.


"C! Apa yang kau lakukan di sana?"


Dari dalam semak-semak, C mendengar suara Seas yang bertanya. Pria itu langsung menatap ke arah semak-semak. Dia tidak langsung menjawab, dia diam dan memerhatikan lebih dulu.


"Kenapa kau ada di sini? Bukankah kau sedang bersama yang lain? Dimana mereka?" tanya C balik.


"Oh mereka? Mereka sedang asik menjelajahi pasar kuliner hahaha!" jawabnya dari balik semak-semak.


"Oh, benarkah? Siapa mereka ... ah, aku lupa namanya," ucap C sambil berusaha mengingat-ingat.


"Entahlah, aku juga tidak terlalu ingat. Kita juga baru bersama dalam misi kali ini," jawabnya lagi. C langsung menundukkan kepala, tangannya menutup mulut sambil melirik ke arah semak-semak itu.


"Tidak terlalu ingat? Apa kau bodoh?"


Syut.


DUUAARR!


Dengan kecepatan super, C terlihat seolah lenyap, hanyut dalam angin. Detik selanjutnya dia langsung ada di balik semak-semak itu, memukul tanah hingga menyebabkan ledakan udara.


"... Tck, ini hanya penyambung suara!" C membuang alat elektronik yang dia temukan. Di atas tanah dan semak-semak yang kacau, C menginjak alat itu hingga rusak.


"Keparat peniru suara!" geram C dengan wajah yang menyeramkan.


.


.


.


Cklik.


Dor!


Di sebelah kirinya, Valeria sudah mengeluarkan pistol dan langsung menembak ke arah tadi. Namun sepertinya pelakunya sudah kabur.


"... Aku tidak merasa kena apapun. Dia sudah lari," ujar Valeria tanpa senyuman. Valeria segera mengeluarkan kain lap berwarna hitam, dan mulai membersihkan pistolnya.


"Kita berburu hama nih ceritanya?" tanya Valeria.


"... Ini menjengkelkan, acara makan-makan kita terganggu," ucap Sky dengan agak murung. Seas tertawa kecil, tangannya lalu memukul pelan punggung Sky. "Kita bisa makan-makan lagi setelah misi selesai!" ucap Seas dengan senyuman yang lebar.


Tring cring!


Sky mengeluarkan beberapa jarum tajamnya serta benang khas yang dia gunakan. "Benar, kita harus menyelesaikan misi lebih dulu. Ayo berburu hama."


WHUS!


Ketiga orang itu menghilang dari keramaian. Bagai bayangan yang melesat di antara gedung-gedung. Ketiga remaja itu tidak terjamah oleh penglihatan manusia. Mereka melompati gedung-gedung tinggi dan terus mencari target.


Cling.


Deg!


Ujung mata Sky melihat sekelebat cahaya kecil yang terpancar. Dengan sigap dia segera melemparkan satu jarum ke arah cahaya itu.


TRANG!

__ADS_1


Sebuah bunyi benturan antar besi tercipta. Di titik jatuh jarum Sky, terdapat satu jarum asing lainnya. Musuh kami adalah pengguna jarum!


"Seas! Bersiaplah! Serangan mereka akan datang!" teriak Sky. Bocah rambut kuning itu melompat ke samping. Dia merapatkan diri ke arah Seas dan Valeria.


"Lindungi punggung kalian!" ucap Valeria sigap. Ketiga remaja itu saling memunggungi masing-masing, mereka melindungi punggung rekannya.


SYUSHH!


Tak lama setelah itu, ratusan jarum yang tajam datang dari berbagai arah. Bagai hujan yang menghantam dari langit, tidak ada tempat yang terlewatkan.


TRANG TRANG TRANG TRANG!


Mereka bertiga berusaha bertahan sebisa mungkin. Seas yang menghadang jarum dengan daggernya, Sky menghadang jarum dengan jarum miliknya, dan Valeria yang menggunakan sisi pistolnya.


"Sial! Mereka sebenarnya dari arah mana sih?!" ucap Seas bingung. Rasanya seperti tidak ada jalan keluar. Mereka bagai bertarung dengan sosok yang tak berwujud.


"Arrrghhh! Seas! Tolong aku!"


Dari bawah gedung, suara teriakan Agen X terdengar. Ketiga remaja itu merespon suaranya dengan cepat. "Itu X?! Apa yang terjadi?!" tanya Valeria sambil terus sibuk bertahan.


"Entahlah! Seas! Coba kau yang hampiri!" tambah Sky.


"Baiklah, tunggu sebentar!" Seas keluar dari formasi bertahan. Dia melesat ke asal suara X tadi. Jadi yang bertahan dari hujan jarum sekarang hanyalah Sky dan Valeria.


Tap tap tap!


"X! Kau dimana?! Apa yang terjadi?!" Seas sudah turun ke bawah gedung dengan melompati banyak jendela. Gelap dan lembab, bau lumut dan jamur dinding. Sepanjang mata memandang, Seas tidak menemukan keberadaan X.


"... X?" panggil Seas sekali lagi. Dia mulai memelankan langkah kakinya. Matanya mencari tanpa henti.


"Kaboom!"


DEG DEG!


JREB!


"AKH!" Seas lengah, dia melihat perut sisi kirinya yang tertusuk jarum. Dengan respon yang terlambat, Seas berusaha membalik badannya dan menggapai pelaku.


Namun saat Seas menoleh, orang itu sudah menghilang.


Dang!


"Khekhekhe! Sudah lama tidak berjumpa, utusan Underworld School!"


Seas langsung menoleh ke asal suara. Di tengah kegelapan, di atas sebuah tong pembuangan sampah. Seorang pria berdiri tegap dengan jubah panjang yang menjuntai. Wajahnya tidak terlihat jelas karena dibalut oleh kegelapan.


Satu-satunya hal yang Seas ingat saat itu, hanyalah suara serak dan mata hitam bulat miliknya.


"... Siapa kau?" tanya Seas tenang.


"Aku? Khekhekhe! Bukan orang yang penting, aku hanya menjalankan peran sebagai malaikat maut kalian di sini," jawabnya diselingi tawa yang buruk. Tapi, mendengar jawaban pria itu, Seas justru menahan tawa.


"... Kau? Menjalankan peran malaikat maut? Apa kau pelawak?" tanya Sean balik. Mata ungunya kini mulai memancar tajam, menyiratkan niat membunuh yang kuat.


"Apa kau pernah bertemu dengan malaikat maut? Kenapa kau begitu yakin bahwa kau bisa menjalankan perannya?" Sean mulai melangkah maju, tangannya memegang jarum yang masih tertancap di perutnya.


"Biar kukatakan satu hal."


CRATT!


Sean mencabut jarum itu dengan paksa, membiarkan darah segar mengalir dari lubang yang tercipta. Mata ungu Seas langsung menatap mata bulat hitam milik pria itu.


"Malaikat maut jadi-jadian, tidak bisa membunuh malaikat maut yang asli."

__ADS_1


TBC.


__ADS_2