
POV: Sky
Aku diam sambil menatap wajah mereka satu-persatu. Bentuk kelopak mata, warna iris matanya, lekuk alis dan kerutan di dahi mereka ... aku yakin mereka adalah orang yang bekerja di rumah ini.
"Kalian aneh sekali, kalau mau membunuhku, kenapa kalian repot-repot memakai penutup wajah? Lagipula tidak ada orang yang akan peduli padaku," ucapku dengan seringai tipis. Keempat orang itu sedikit tertegun, jujur saja, aku sedikit kecewa sekarang.
Kupikir pria tua itu akan mengirimkan pembunuh profesional, tapi malah mengirimkan beberapa orang amatiran seperti ini. Lihat saja, mereka bahkan tidak berani melihat mata rekan mereka yang baru saja aku tusuk.
"Haaahh." Aku menghela nafas, lalu menatap mereka dengan tajam.
Baiklah, kalau begitu, rencananya diubah. Aku akan kabur dengan kakiku sendiri.
"Dengar, aku hanya akan menyisakan satu orang yang hidup. Siapapun yang hidup nanti, larilah, temui ayahku dan bilang, bahwa Sky berhasil kabur," ucapku sambil mengarahkan ujung paluku ke wajah mereka. Keempat orang itu tersentak, mereka saling menatap satu sama lain.
"Kau bercanda? Kau pikir bisa mengalahkan kami? Kau? Yang hanya seorang anak kecil?" ucap salah satu dari mereka. Aku hanya tersenyum untuk membalas ucapannya.
"Secara fisik, memang tidak bisa. Tapi aku adalah orang yang selalu bersiap, kedatangan kalian ke sini juga sudah aku ketahui.
Dan persiapannya juga sudah matang. Sekarang aku hanya harus membunuh kalian." Aku mengangkat paluku lalu menghantamnya pada pria yang sedang aku injak.
CRAATT!
"Selanjutnya." Aku menatap mereka dengan tatapan tajam.
.
.
.
POV: Author
Malam itu, kamar Sky terlihat sangat terang. Kobaran api menghiasi ruangannya seperti sedang berdansa dengan malam. Noda darah mulai menguap karena api yang begitu panas, mayat-mayat yang kepalanya hancur tak berbentuk juga mulai melepuh hingga tidak bisa dikenali lagi.
"Hah! Hah! Hah!" Salah satu dari seorang pembunuh itu berlari dengan kaki kirinya yang tertancap palu. Dia berlari kesetanan dengan sorot mata yang penuh ketakutan. Dari kejauhan, di bawah bayangan sebuah pohon. Seorang anak laki-laki terlihat mengintip dengan mata kuningnya.
"... Sudah selesai," ucap Sky lalu berbalik badan, menghilang ke dalam balik pohon. Sky sudah menyiapkan rencana pelarian diri ini sejak dulu, jadi dia sudah mempersiapkan lubang kecil untuk kabur dari bawah pagar tembok.
Sky melewati lubang itu dengan tenang, lalu berjalan lagi tanpa arah.
__ADS_1
"Sekarang ... kemana ya?"
.
.
.
POV: Sky
Aku hanya berjalan tanpa arah dengan seluruh tubuhku yang terkena cipratan darah. Sejauh ini, jalan yang aku lalui hanyalah tanah beraspal dengan lampu jalanan yang terang. Tidak akan ada seorang pun yang lewat sini karena sering ada berita pembunuhan terjadi di sini.
Aku terus berjalan dengan melihat ke depan, namun langkahku terhenti ketika melihat sebuah kejadian aneh. Lampu jalanan yang ada di depanku, satu-persatu mulai mati. Aku tidak tau apa yang terjadi, jika memang benar ada pembunuh yang datang, aku sudah tidak punya senjata ataupun ramuan, tenagaku juga sudah mencapai batasnya.
"Tubuh anak kecil ... sangat merepotkan," gumamku pelan. Aku melihat kegelapan itu semakin datang padaku, hingga akhirnya lampu yang ada di sebelahku juga sudah mati.
Sepertinya ... lebih baik jika mati di sini, kan?
Aku duduk di tengah jalan, menutup mataku menunggu malaikat mengambil nyawaku yang tidak berharga ini. Suara langkah kaki semakin mendekat, tapi entah kenapa, suara ini justru membuatku semakin tenang.
Disaat kupikir akan ada senjata tajam yang menusuk jantungku, atau sebilah pedang yang memotong leherku, aku justru merasakan sebuah tangan yang terbalut sarung tangan yang kasar, sedang mengusap pelipisku.
Dia seorang laki-laki?
"Bukankah kau datang untuk membunuhku? Aku sudah menunggumu," ucapku tanpa membuka mata. Tangan yang sedang mengusap pelipisku rasanya agak tersentak, untuk sejenak tangan itu diam tak bergerak. Tapi perlahan-lahan, tangan itu mulai bergerak turun ke pipi, kemudian ke leherku.
"... Kenapa kau mau mati?" tanyanya lagi.
"... Tidak ada alasan aku harus bertahan di dunia ini, aku ... sudah lelah mencoba bertahan hidup sendirian," ucapku dengan rasa nyeri di dalam hati. Padahal kupikir aku sudah melepaskan semuanya, tapi ternyata aku tetap terluka di dalam diri.
"... Lehermu sangat kecil dan rapuh, kau kurang makan ya?" tanya pria itu lagi.
"Tidak usah banyak tanya, cepat lakukan apa yang kau ingin lakukan," ucapku agak kesal, pria ini sudah menaruh tangannya di leherku. Kalau mau mencekik ya cekik saja aku, malah banyak tanya.
"... Oke."
Mendengar jawaban darinya, aku mempersiapkan hati dengan mantap. Tapi setelah aku menunggu lama, aku tidak merasakan tangannya mencekik leherku. Justru tangan itu malah menjauh, dan digantikan dengan sesuatu yang hangat mengelilingi leherku.
Aku penasaran, jadi akhirnya aku membuka mata. Saat aku melihat apa yang dia lakukan padaku, dia memberiku sebuah syal berwarna hitam dengan beberapa bekas terbakar.
__ADS_1
"... Kenapa?"
"Kenapa apanya?" Pria itu bertanya tanpa dosa. Aku begitu marah, kenapa aku selalu tidak mendapatkan apa yang aku inginkan? Bahkan kematian sekalipun?
"Kenapa kau tidak membunuhku? Apa kau kasihan padaku?" tanyaku padanya. Saat aku menatap pria itu, akhirnya aku melihat wajahnya. Rambut hitam yang dipotong pendek, serta mata hitamnya yang terlihat lebar. Di mata kirinya, ada bekas luka yang menjalar cukup panjang. Dia memakai setelan jubah hitam dengan celana panjang.
"Aku? Kasihan padamu? Tentu saja tidak. Hidupku juga mengenaskan, buat apa aku kasihan padamu?" ucap pria itu. Aku menggertakkan gigiku menahan emosi.
"Kalau begitu bunuh aku!" ucapku dengan suara yang agak tinggi. Pria itu tidak bergeming, di tengah kegelapan dengan cahaya yang sangat minim, satu-satunya yang terlihat menonjol adalah senyumnya yang menampakkan gigi taringnya.
"Aku tidak membunuh orang yang sejenis denganku," ucap pria itu.
"AKU! AKU TIDAK PUNYA ALASAN LAGI! MESKIPUN KAU TIDAK MEMBUNUHKU SEKARANG, AKU JUGA PASTI AKAN MATI BEBERAPA HARI LAGI!" Aku berteriak, kesal, marah, sedih. Tidak ada yang bisa aku lakukan sebagai anak yang baru beranjak remaja, apalagi karena penampilanku yang mencolok, pasti hanya masalah waktu sampai ayah menemukan aku.
"Hmmm lalu? Jika aku memberimu alasan hidup, apa kau akan mengambilnya?"
"Hah?" Aku menatap mata pria yang kini sedang menatapku dengan tatapan yang tegas, tajam, dan ada rasa nafsu yang aneh di dalam sana. Perasaan yang tidak jelas ini perlahan membuat hatiku berdesir.
Kupikir ... aku sudah melepaskan semua perasaan, dan tinggal menyerah saja, tapi kenapa ...
Kenapa aku begitu haus akan perasaan ingin hidup? Apakah karena mata hitam itu?
Atau ... karena hawa nafsu tidak berdasar yang menyorot dari matanya.
"Jawab aku, apa kau akan mengambilnya?" tanya pria itu lagi, kini dia berjongkok, menyetarakan tingginya denganku.
"A- aku ..."
Aku menelan ludahku yang terasa begitu serat. Di depan sosok mata yang terlihat menggoda, rasanya seperti membuatku haus akan sesuatu yang tidak bisa terpenuhi.
"Aku mau ...," ucapku agak pelan. Tapi aku yakin pria itu mendengarnya. Karena sekarang, aku bisa melihatnya menyeringai.
"Aku mau ... AKU MAU! AKU AKAN MENGAMBILNYA! Aku ... aku ingin merasakan hidup untuk sekali lagi, aku mohon ... bawa aku." Tangisku rasanya akan pecah, mataku mulai berair dan pandanganku menjadi buram.
"... Bagus. Aku berjanji kau tidak akan menyesali pilihanmu.
Sekarang, ayo ikut aku, ke Underworld School."
TBC.
__ADS_1