
POV: Seas
BLARR!
Waduh ... jadi makin panas. Senjatanya ini cukup unik ya, apakah ini jenis senjata yang baru dikembangkan? Hm ... sepertinya dulu Sky pernah melawan senjata yang mirip dengan tipe ini deh, bagaimana ya dulu dia melawannya?
"Seas! Untung saja kau datang!" Aku menoleh ke arah Cedrik yang kini bersembunyi di belakangku. Benar, tidak seharusnya aku begini. Sebagai tim yang kabur, posisiku justru akan semakin sulit jika aku melawannya sekarang.
Tujuan utamaku adalah mengulur waktu.
"Wah sepertinya kau punya seni yang hebat ya! Tapi aku tidak tertarik melawanmu sekarang!" ucapku pada gadis bernama Felra itu. Setelah mendengar perkataanku, gadis itu melotot dan mengepalkan tangannya kuat.
"Apa?!"
Aku hanya bisa tersenyum, tangan kiriku dengan cepat mengangkat pinggang Cedrik dan menaruhnya di pundakku, aku menggendong Cedrik seperti mengangkat karung beras di pundak.
"Kami pergi dulu~," ucapku sambil berbalik arah.
"Hei! Seas! Apa yang kau lakukan?!" ucap Cedrik yang bingung karena tiba-tiba kugendong. Aku tersenyum miring sambil menatapnya. "Jangan muntah ya."
"Hah?" ucap Cedrik bingung.
"[Teknik bayangan: nomor 5, bayangan pohon.]"
***
POV: Cedrik
Hah? Apa maksudnya jangan muntah?? Tunggu ... dia akan menggunakan seni miliknya?
Bayangan pohon? Ini yang bagaimana?
SYUSSSHH!
WHUSSSHHH!
Aku langsung terdiam. Dalam satu detik, Seas sudah berpindah jarak sepanjang 10 meter. Rasanya tubuhku juga ikut terseret oleh gaya gravitasi.
Jadi ini yang selama ini dilihat oleh Seas? Luar biasa ... aku baru tau ada teknik secepat ini.
"APA?! KAU MAU KABUR?! SEAS!" Aku menatap Felra yang sedang marah-marah dari kejauhan. Tapi Seas tidak menghiraukannya dan terus berlari maju. Benar, ujian ke 5 ini bukan hanya tentang kekuatan, tapi juga strategi.
Whusss!
SRAKKK!
Seas berhenti berlari saat sudah cukup jauh dari lokasi tadi. Kemudian dia segera menurunkanku, mata ungunya yang indah itu terkadang membuatku seperti terhipnotis.
"Nah dari sini kau lari sendiri. Aku akan kembali ke daerah musuh," ucapnya sambil menepuk pundakku. Aku tercengang, untuk apa dia kembali ke sana?!
"Hei! Kau mau kembali ke sana?! Kenapa kita tidak kabur saja?" tanyaku lagi. Seas menatapku sambil tersenyum, senyuman yang begitu mengerikan.
"Aku harus ada di sana untuk menyelamatkan tim kita yang tertangkap, aku yakin bukan hanya aku saja yang punya pemikiran seperti ini.
Karena itu, aku tidak bisa ikut kabur bersamamu. Carilah orang yang satu tim dengan kita, dan bergabunglah dengan orang itu," ucap Seas yang membuatku sadar tentang rencananya.
Jadi dia hendak bersembunyi untuk menyelamatkan anggota yang tertangkap nanti ya. Yah jika itu Seas, kupikir dia bisa melakukannya.
Aku menganggukkan kepalaku lalu segera berbalik. "Baiklah! Hati-hati Seas! Jika kau sampai tertangkap, maka kita juga yang akan repot!" ucapku sebelum berlari pergi. Seas tersenyum sambil mengangkat tangan kirinya. Setelah itu aku berlari masuk ke dalam hutan.
__ADS_1
Apa dia akan baik-baik saja ya?
Tapi saat aku menoleh ke belakang, Seas sudah tidak ada.
***
POV: Sky
"Hah ... hah ... hah!" Aku dan Valeria masih terus berlari ke dalam hutan untuk mengulur waktu. Karena kami sudah membuat kesepakatan bahwa kami tidak akan menggunakan Blood Weapon, maka kekuatan serang kami juga sedikit berkurang. Senjata yang bisa kupakai sekarang hanyalah racun, jarum, serta benang.
"Sky, apa kau lelah?" Suara Valeria menyadarkanku. Aku menoleh ke arahnya lalu tersenyum.
Sial ... Valeria bahkan tidak terlihat kelelahan, padahal aku sudah cukup meningkatkan latihan fisikku. Sudah kuduga bahwa harusnya hasilnya tidak akan instan.
Srakk!
Aku kaget karena Valeria tiba-tiba berhenti dan menatap sekeliling. "Kenapa Val?" tanyaku heran. Valeria melirik ke arahku, mataku melihat ibu jari Valeria yang menunjuk ke sebuah arah.
Kami sudah ketauan.
"Bagaimana kalau kita istirahat dulu?" Valeria mendekatiku dan menaruh tangannya di pundakku.
"Ayo buat mereka buta," bisiknya.
Srek.
Aku tersenyum tipis sambil mengeluarkan sebuah botol kecil dengan isi yang berbentuk bubuk halus.
Cklik.
Aku melihat ke arah Valeria yang juga sudah mengeluarkan pistolnya.
***
POV: Author
"Hah? Apa yang mereka lakukan di sana? Mereka diam saja loh," ucap seorang gadis yang memakai tudung dengan hoodie berwarna abu gelap. Gadis itu memegang sebuah sniper laras panjang.
"Ssstt, mereka adalah rekan satu tim dari Rubah Putih. Kekuatan mereka juga bukan main," ucap anak laki-laki yang ada di sampingnya. Mereka berdua bersembunyi di balik pohon besar, dan menunggu kesempatan untuk menyergap Sky serta Valeria.
Prang!
"Suara apa itu? Illa?" tanya anak laki-laki itu.
"Aku tidak tau itu apa, haruskah kita memeriksanya? Ishi?" tanya gadis yang bernama Illa pada Ishi. Laki-laki itu mulai mengeluarkan pedang kecil dengan panjang 40 cm, matanya tidak pernah lolos dari Sky.
"Ishi ... gadis yang bernama Valeria itu menghilang," ucap Illa.
"Kalian mencariku?"
Cklik.
DEG! DEG!
Kedua jantung orang itu langsung berpacu saat melihat Valeria yang ada di sisi kanan mereka lengkap dengan pistol yang siap tembak.
"Ishi, menunduk!" Illa segera membidik ke arah Valeria, sedangkan anak laki-laki yang bernama Ishi itu berguling ke belakang untuk menghindari tembakan.
DOR!
__ADS_1
DOR!
TANG!
Peluru Valeria dan peluru sniper Illa bertabrakan. Tingkat akurasi mereka berdua sangat tinggi, di celah itu Ishi yang sudah siap dengan pedangnya, langsung menerobos maju dengan merunduk ke arah Valeri.
"[Teknik golok: nomor 1, mengeluarkan usus.]"
SYUTTT!
Ishi mengayunkan pedangnya ke arah perut Valeria.
TRANGG!
Tapi sebelum pedang itu mengenai kulit Valeria, pedang itu tertahan oleh benang aneh.
"Harusnya jangan berisik dong kalau mau menyergap, niat jadi pembunuh tidak sih?"
Ishi dan Illa dibuat kaget karena Sky sudah ada di atas pohon, jari-jemari Sky mengontrol puluhan benang besi yang sudah dia sebar di hutan ini selama Valeria mengulur waktu.
Crrr.
Dari benang itu mulai mengalir cairan aneh yang saling terhubung dengan benang lainnya. Sky tersenyum simpul menatap Ishi dan Illa.
"Jangan sampai kena ya, kalian bisa mati loh."
[Teknik racun dan obat: hujan asam.]
TES TES!
SSSHHH!
Puluhan benang yang terbentang di atas dan bawah itu mengalirkan air asam kuat yang deras, tumbuhan serta tanah yang terkena cairan itu langsung meleleh. Dengan Sky sebagai pengendalinya, area hutan bagian ini telah sepenuhnya Sky kuasai.
"Gawat! Ishi! Kemarilah!" Illa menaruh snipernya di punggung dan menerobos paksa ke arah Ishi yang hampir terkena cairan asam.
"[Teknik kamuflase: nomor 1, bersatu dengan udara.]"
Shyussshhh!
Sky dan Valeria hanya diam saat melihat kedua orang di depan mereka menghilang hingga tidak terlihat sama sekali.
"Hei! Hentikan hujan asamnya! Kau bisa membuat hutan sebelah sini botak!" ucap Valeria dari bawah pohon. Sky kemudian mengendurkan benangnya dan menghentikan asam yang dia alirkan dari tadi.
"Sudah! Ngomong-ngomong, teknik gadis itu ... bukankah itu milik salah satu seni terlarang, sama seperti Seas?" tanya Sky sambil melompat turun dari pohon. Valeria mengangguk untuk menjawab pertanyaan Sky.
"Seni kamuflase, seni yang memaksa kulit serta saraf untuk mengubah pigmen tubuh," ucap Valeria.
"Tapi sepertinya seni yang dia gunakan belum sempurna, kalau dia sudah menguasainya dengan baik, harusnya dia bisa menyergap kita sejak awal," ucap Sky lagi. Valeria dan Sky kemudian terdiam, mereka menatap sekeliling mereka yang kebanyakan sudah banyak yang meleleh.
"Hei ... apa kau membawa cairan asam?" tanya Valeria heran. Sky menggelengkan kepalanya.
"Lah? Lalu darimana hujan asam ini berasal?" tanya Valeria lagi.
"Oh! Ini terjadi karena munculnya siklus air di benangku, aku hanya perlu meningkatkan suhunya dan menambahkan sedikit darahku untuk memicu reaksi oksidasi! Darahku kan beracun," jelas Sky yang hanya dibalas kata 'oh' oleh Valeria.
"Lalu sekarang bagaimana? Pasti sebentar lagi akan semakin ramai," gumam Sky bingung.
"Hei! Apa kalian butuh bantuan?!"
__ADS_1
TBC.