Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Lembaran baru


__ADS_3

POV: Seas


Begitu aku terbangun, aku sudah berada di kamarku. Padahal ingatan terakhirku bahwa aku sedang ... melawan C!


Ah ... kita sudah menang.


Aku turun dari kasurku, pisau yang biasanya membuatku jantungan di pagi hari kini terlihat seperti mainan bagiku.


"Ack!" Aku berlutut sambil memegang pergelangan kaki kiriku.


"Sepertinya beberapa ototku masih keram," ucapku pelan sambil memijat kaki.


Cklek!


"Seas? Kau kenapa?" tanya Sky lalu dia berlari kecil menghampiriku. Dia mengalungkan tanganku ke pundaknya dan membantuku berdiri.


"Duduklah dulu!" titah Sky, aku mengangguk lalu duduk di pinggir kasur. Sky berjongkok dan memegang pergelangan kaki kiriku.


"Ini masih lumayan keras, bukankah kemarin efeknya tidak separah ini?" tanya Sky dengan tatapan iba padaku.


"Ehe, apakah kau punya obat? ... atau mungkin minyak urut?" tanyaku agak canggung. Sky mengangguk lalu dia berjalan keluar dari kamarku.


"Bagaimana dengan yang lainnya ya? Ah sudahlah, lagipula nanti kita akan bertemu lagi!" ucapku sambil tersenyum.


"Ho? Kau sudah bangun ternyata!"


Aku kaget dan segera menoleh ke arah pintu. Ternyata itu Rex, dia sedang bersandar sambil memperhatikanku.


"Ada urusan apa kau kesini Rex?" tanyaku cuek, bagaimana tidak? Ada rumor yang beredar bahwa Rex mengoleksi fotoku dan memajangnya di dinding kantor!


Aku bukannya percaya pada rumor itu, tapi lebih baik menjaga jarak agar rumornya tidak jadi semakin buruk!


"Ey~ ey~ ey~ jangan terlalu cuek pada orang tua~ kau tak sadarkan diri selama 3 hari. Dan aku harus bolak-balik ke sini untuk memastikan kau sudah bangun apa belum! Aduh~ tulangku ini sudah tua~" ucap Rex dengan nada yang ... mengesalkan bagiku.


"Ini adalah surat dari C, kelas kalian telah berakhir untuk saat ini. Kalian akan dimasukkan dalam tim baru yang terdiri dari campuran jurusan lain," ucap Rex sambil memberikan sebuah surat padaku. Aku tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Rex, jadi aku hanya diam dan membaca suratnya.

__ADS_1


Untuk Seas


Ini aku, C. Kau sudah berusaha keras di kelas kita terakhir kali. Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan di surat ini. Yang pertama, kita akan jarang bertemu karena ini adalah kelas terakhir untuk saat ini. Entah kapan lagi kita akan bertemu, pelajaran dasar sudah kuajarkan pada kalian. Yang kedua, kau akan dimasukkan dalam tim yang anggotanya tak lain teman satu asramamu, dan perempuan dari kelas senjata api, Valeria. Yang ketiga, setelah ini kalian akan mendapat misi pertama kalian, aku berharap kau tetap hidup sampai kita bertemu lagi nanti.


Dari C.


Aku membaca surat dari C sampai selesai, ada perasaan hampa yang aneh tak bisa kujelaskan.


"Rasanya sangat cepat ...," gumamku pelan. Rex berjalan ke arahku lalu duduk di sampingku.


"Jangan lupakan tujuan utamamu kemari. Banyak manusia yang datang dan pergi di kehidupan kita. Sebagai seorang pembunuh, kita sudah mengambil jalan yang tercela. Aku tidak pandai menghibur orang, tapi ada satu hal yang ingin kukatakan padamu. Selama kalian masih berada di jalan yang tercela ini, malaikat kematian pasti akan mempertemukan kalian," ucap Rex lalu menghidupkan rokoknya.


Aku hanya diam sambil mendengarkan perkataannya, sudut mataku melihat bahwa Sky masih terdiam di depan pintu, wajahnya terlihat ragu-ragu untuk masuk. Aku tertawa kecil lalu menatap ke arah Sky.


"Masuklah, tidak apa-apa," ucapku pada Sky, Rex ikut menoleh pada Sky lalu tersenyum simpul. Sky mengangguk dengan malu-malu, pipinya terlihat sedikit merah.


"Aku sudah membawakan apa yang kau mau. Tunjukkan kakimu yang sakit!" ucap Sky, dia terlihat sedikit lebih canggung di depan Rex.


Aku menunjukkan kaki kiriku pada Sky, dia mulai mengoleskan minyak itu pada kakiku dan memijatnya dengan pelan.


"Tahanlah," ucap Sky sambil fokus pada pijatannya.


"Pelan-pelan bodoh! Ahh!" Cara memijat Sky benar-benar buruk! Rasanya seperti kakiku dijadikan adonan kue. Ditarik, ditekan, diolesi minyak.


"... Kalau ada yang mendengar suara kalian dari luar. Pasti mereka berpikir kalian sedang melakukan hubungan di atas kasur," ucap Rex sambil menatap kami dengan datar.


"OH IYA! REX KUDENGAR KAU MEMAJANG FOTOKU DI KANTORMU?!" tanyaku sambil marah saat teringat topik ini. Sky juga ikut terkejut karena kakiku tak sengaja menendang mukanya.


"Oh? Apakah ada rumor seperti itu? Hmm ... sepertinya aku harus menyembunyikan fotomu," ucap Rex dengan tenang. Aku dan Sky sangat shock. Dia bahkan tidak menyangkalnya!


"Untuk apa kau memasang fotoku di kantormu?" tanyaku sambil memakaikan selimut ke tubuhku. Begitu juga dengan Sky yang bersembunyi di belakangku.


"Untuk berfantasi tentangmu," jawab Rex dengan senyum licik di wajahnya. Aku merinding seketika.


"Aku normal Rex," jawabku sedikit takut.

__ADS_1


"Tak ada tau kalau kau belum mencoba," ucap Rex sambil mendekat ke arahku. Aku memeluk Sky dan Sky juga memelukku.


"AAAAA!" Aku berteriak sambil bersembunyi di balik selimut.


"Hentikan itu Rex!"


Aku mendengar suara Venom. Rex tertawa kecil lalu mundur beberapa meter dariku.


"Ayolah kau tau aku hanya bercanda~" ucap Rex sambil tersenyum ke arah Venom. Aku menghela nafasku lega lalu melepaskan pelukanku dengan Sky.


"Bercandamu merusak mental anak itu," ucap Venom ketus, Rex malah tertawa lalu melihat ke arahku.


"Benarkah Seas?" tanya Rex. Dia masih tetap tertawa.


" ... " Aku tak memberikan jawaban pada Rex. Kalau jujur, ya. Aku mengalami trauma berat hari ini.


"Rex tidak memasang fotomu di dinding. Itu adalah foto kakakmu saat seumuran denganmu. Kalian sangat mirip tapi juga sangat berbeda," jelas Venom lalu dia berlutut di depanku. Aku membulatkan mataku.


"Tu-tunggu Venom?! Ada apa?!" ucapku panik sambil menatap Venom dengan bingung. Venom mengeluarkan sebuah perban dari sakunya lalu memakaikannya ke kaki kiriku.


"Jangan terlalu sering menggunakan teknik itu. Tubuhmu belum sanggup menahan efeknya, kalau kau terburu-burub... justru malah akan merusak dirimu sendiri," ucap Venom. Setelah dia selesai memakaikan perban, dia berdiri lalu menyeret Rex keluar dari kamarku.


"Aw! Aw! Venom! Oiya! Jangan lupa temui aku besok di kantorku Seas! Sampai jum ... PA?!" ucap Rex, sepertinya Venom menyeret Rex dengan kasar hingga Rex sedikit berteriak di akhir kalimatnya.


"DAN AJAK JUGA TIM BARUMU!" ucap Rex dari kejauhan, aku mengangguk sambil tertawa kecil. Begitu juga dengan Sky yang tertawa di sebelahku.


Kami berpindah ke kursi yang dekat dengan jendela di kamarku. Mengawasi langit mendung yang tak pernah cerah.


"Aku tak menyangka kita akan jadi satu tim!" ucap Sky senang. Aku juga senang, walaupun ada rasa sedih karena berpisah dengan teman sekelasku.


Yah tidak apa-apa.


...[Setelah ini, lembaran baru akan dimulai.]...


TBC.

__ADS_1


__ADS_2