Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Kedatangan peringkat ke 3.


__ADS_3

Aku harus menemukan obatnya dengan cepat!


***


POV: Seas


"Ugh ... punggungku keram." Aku mengeluh dengan punggungku yang keram dan perih. Sky menyuruhku untuk tetap diam tidak bergerak, dan dia langsung keluar dari rumah ini entah pergi kemana. Sudah lebih dari 45 menit aku harus mempertahankan posisiku, dan ini membuat seluruh sendiku keram.


"Apa kau lelah?" Suara Rabbit membuyarkan lamunanku.


"Menurutmu? Sial ... punggungku juga perih," keluhku lagi lalu menggigit bibir bawahku. Rabbit masih berbaring dan menatapku dengan tatapan datar. Aku yang terus dilihat selama ini, jadi merasa sedikit risih dan tidak nyaman.


Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya, "Hei, kenapa kau melihatku terus?". Aku hanya melirik ke arahnya, dia kemudian mulai membuka mulut.


"Aku baru sadar bahwa warna rambut aslimu adalah hitam."


DEG!


Aku ganti melirik ke arah atas, karena rambutku sedikit panjang aku jadi bisa melihat ujungnya. Dan benar saja, warna putihnya sudah sepenuhnya memudar, mungkin karena dia kalah oleh racun saat aku tercebur di laut beracun.


"Kalau begini, kau benar-benar mirip dengan Arma saat dia masih seumuran denganmu," ucap Rabbit lagi. Aku mengernyit dan menggertakkan gigiku kesal, aku tidak sudi disamakan dengan makhluk sepertinya.


"Pffft, wajahmu jadi lucu kalau kau kesal. Jadi mirip seperti Arma ke dua." Rabbit malah bisa-bisanya tertawa enteng dan lagi-lagi dia mengatakan nama itu.


Sky, ini jika dia kuberi racunmu lagi tidak apa-apa kan? Aku yakin kau pasti rela jika aku membunuh satu parasit dunia seperti Rabbit.


BRAK!


Pintu tiba-tiba terbuka, dan menunjukkan wajah Sky yang terengah-engah, bahkan dia seperti mandi keringat. Tangan kanannya menjaga agar pintu tetap terbuka, sedangkan tangan kirinya memegang sebuah botol kaca yang berbentuk labu dengan cairan kuning cerah di dalamnya.


"Apa itu?" tanyaku pada Sky. Dia berjalan dengan langkah gontai ke arahku, lalu menaruh ramuan di tangannya ke pahaku.


"Minum cepat ... ini ramuan regenerasi sel. Jangan diminum semua ya, sisakan untuk Valeria," gumam Sky yang sudah terkapar di lantai. Aku mengambil ramuannya dan mulai meminum hingga tinggal seperempat sisanya di dalam botol.


"Rasanya unik ya?" Aku sedikit mengecap saat merasakan rasa ramuan itu di lidahku. Sesaat kemudian, aku mulai merasakan nyeri dan rasa gatal yang luar biasa. Tapi hanya untuk beberapa detik, setelah itu rasa nyeri dan gatalnya hilang, saat aku menyentuh punggungku, kulitku langsung rontok, tapi tidak mengeluarkan darah.


Ternyata di dalamnya sudah tumbuh kulit baru, mungkin ini sumber rasa gatal yang kualami tadi?


"Woah ... ini benar-benar hebat? Bagaimana bisa kau membuat obat sehebat in-"


Bruk!


Sial ... kenapa aku jadi pusing dan lapar?


Ah sudahlah ...

__ADS_1


***


POV: Sky


"Loh? Kenapa dia langsung pingsan?" tanya Rabbit saat melihat Seas tergeletak tak berdaya. Aku yang sedang asik tiduran, langsung duduk dan memeriksa kondisi Seas.


"Dia tidak apa-apa, obat yang dia minum ini memang untuk merangsang pertumbuhan sel. Karena itu, saat selnya sudah tumbuh dengan ganas, dia menyerap seluruh energi Seas. Makanya dia sekarang pingsan, pasti dia sangat kelaparan," ucapku sambil memesihkan kulit mati di punggung Seas serta perutnya. Setelah itu, aku lanjut berdiri dan meminumkan ramuannya ke Valeria. Karena efek obat dan racun yang diminumnya tadi tidak memiliki hubungan secara sifat kimia, jadi pasti aman-aman saja, karena mereka akan bereaksi secara terpisah.


Aku menoleh ke arah Rabbit dan memikirkan sesuatu.


Hm ... aku harus menggendong mereka pulang, tapi ini pasti sangat berat. Bagaimana ya? Jika aku minta tolong ke Rabbit, apa dia mau membantu?


"Rabbit, apa kau mau membantu menggendong Seas sampai asrama?" tanyaku sambil menatap Rabbit, tapi dia malah langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Apa?! Kenapa kau menolak?!" Aku menatap Rabbit tajam tapi dia malah menjawab dengan santai, "Aku harus bekerja, peranku adalah sebagai penguji di ujian ke tiga ini. Jika aku membantumu, bukankah nanti akan dikira curang?" Jawabnya dengan nada yang biasa. Aku ingin membantah tapi yang dia bilang memang benar. Tapi aku juga tidak kuat jika harus menggendong Seas dan Valeria bolak-balik.


Tok tok tok!


DEG!


Aku langsung terkesiap saat mendengar suara ketukan pintu, bukan hanya aku, bahkan Rabbit juga terkejut. Aku tidak mendengar jejak kaki, bahkan hawa keberadaannya juga!


"Ups, apa kalian kaget?" Mataku menatap sepasang sepatu coklat kulit yang agak besar ukurannya, dan perlahan-lahan naik ke badannya.


Loh? Rex?


"Halo, apa kau sedang butuh bantuan?" tanya Rex sambil mengedipkan matanya padaku. Aku langsung menghela nafas lega, kupikir dia tadi seorang pembunuh lain yang masuk.


Krt.


"Apa kau benar-benar Rex?" Rabbit sudah mengangkat kakinya, siap untuk menendang wajah Rex. Aku yang kaget masih terdiam, tidak sempat untuk bereaksi.


Kenapa respon Rabbit seperti ini? Bukankah sudah jelas dia adalah Rex? Bahkan kebiasaan kecilnya yang suka menggoda orang juga-


...


Bukankah Rex hanya biasanya menggoda Seas? Kenapa dia menggodaku?


Apa benar dia Rex?


"Keluarlah, Hades."


BLARR!


Api mulai menyelimuti tubuhku, Hades keluar dan mulai membentuk wujudnya.

__ADS_1


Srek.


Aku memasang posisi bertahan, tubuhku membelakangi Valeria serta Seas yang masih tertidur. Prioritasku adalah melindungi mereka. Rex, entah dia Rex asli atau bukan, senyumnya mulai menghilang dan menatap kami dengan tatapan yang horor.


"Hei nak, larilah. Bawa kedua temanmu. Orang yang bisa meniru wujud orang lain ... hanya ada satu orang di dunia ini."


Aku terdiam mendengar perkataan Rabbit. Ya, aku tau dia siapa.


"Sang peniru, peringkat ke 3, pembunuh dengan rangking matahari." Aku menelan ludahku pelan, kenapa top 3 ada di sini?! Siapa yang dia incar? Seas? Aku? Valeria? Rabbit?


Tep.


DEG DEG!


Belum sempat aku berkedip, pria itu menghilang, kini dia berada di belakangku dan Rabbit, dengan tangannya yang menyentuh pundak kami berdua. Rabbit bahkan tidak mampu bereaksi, kecepatan tidak masuk akal macam apa ini?!


"Hades! Teknik-"


DEGG!


A-apa? Tekanan apa ini?


Rasanya kakiku sangat berat, leherku sangat berat, mataku menjadi gelap. Tekanan tidak masuk akal ... ini ... hawa membunuh?


Sial ... aku ingin mengompol rasanya.


Ini ... sangat menakutkan.


"Sssst, jangan takut. Aku tidak ke sini untuk membunuh. Aku hanya akan menengok adik Arma," ucap pria itu sambil berjalan ke arah Seas dengan wujud Rex.


"Hm ... dia benar-benar seperti pinang dibelah dua. Yah ... setidaknya dia pasti akan bertahan hidup." Pria itu lalu kembali berjalan ke arah kami, dan mulai membisikkan sesuatu.


"Aku pergi dulu, jangan khawatir, aku benar-benar tidak berniat untuk membunuh siapapun sekarang."


WHUS!


BRUKK!


"OHOK! OHOK! HUEEKK!" Setelah pria itu lenyap, aku langsung terjatuh ke tanah dan muntah-muntah. Lututku lemas tidak berdaya, mataku masih berkunang-kunang.


"Kau ... tidak apa-apa?" Aku menoleh pada Rabbit yang bertanya.


Deg!


"Rabbit?! Kau!"

__ADS_1


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!


__ADS_2