Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Membuat penawar! Atau racun?


__ADS_3

Kalau tidak salah, dulu Seas pernah kehabisan darah, dan dia diberi darah tambahan bukan?


Tapi darah jenis apa itu?


Kenapa darahnya bisa sekuat ini melawan racun?-batin Valeria.


POV: Sky


Entah sudah berapa menit aku berkutat tanpa henti di hadapan alat laboratorium sederhana yang kubawa. Aku sudah menemukan materi penyusun racun di lautnya, sekarang aku sedang mencoba untuk menyusun materi pembaliknya.


Aku bersyukur karena Valeria punya tubuh yang kuat, karena itu racunnya tidak menyebar dengan cepat. Dan yang paling ajaib adalah kondisi Seas, semakin kritis dirinya, maka darahnya akan semakin menguat. Bahkan bisa dibilang, darahnya mulai memakai racun di tubuh Seas. Tapi racunnya juga tidak berhenti menyebar, karena itu sekarang akhirnya Seas mencapai tahap keseimbangan.


Racunnya terus dimakan, tapi racunnya juga tetap menyebar.


Tapi keseimbangan ini tidak akan bertahan lama, kalau ada satu saja sel yang lelah dalam tubuh Seas, maka Seas akan langsung mati. Bahkan sekarang saja sudah bisa dibilang Seas hampir mati, lagi.


Sial, penyusun materi ini sangat sulit, karena laut Underworld School adalah laut yang sudah melalui banyak sejarah, racunnya juga lebih sulit untuk dibuat penawarnya. Kalau aku meneruskan cara seperti ini, nyawa Seas malah akan semakin dalam bahaya.


Apa yang harus kulakukan?


Aku duduk termenung sambil menggoyangkan botol penelitian yang masih berisi racun tadi.


...


Tunggu, ada satu cara lagi bukan? Cara yang paling ekstrim, dan ini adalah cara yang banyak digunakan di buku novel.


Melawan racun dengan racun.


Aku hanya harus mengubah susunan materi pembentuk racun dari laut beracun, dan mengubahnya menjadi racun baru yang sama kuatnya. Ini akan lebih mudah karena aku tidak perlu mencari materi pembaliknya, tapi ... resiko yang diterima tubuh Seas juga cukup besar.


Tapi sudah tidak ada waktu, mau tidak mau aku harus mencobanya.


Aku mulai mencampur berbagai bahan kimia lagi dan mulai membuat yang lain. Racun dari laut beracun memiliki warna gelap pekat yang mengerikan, kalau begitu, susunan lain dari racun pembentuknya adalah ... racun darah, racun yang paling cocok untuk Seas.


Tes.


BRRRRLLLRPPPP!


Suhu di botol kaca ini naik dan berubah menjadi mendidih secara tiba-tiba, warna hitam pekat mulai berubah menjadi warna merah pekat yang cerah, benar-benar mirip dengan darah. Aku meneteskan racun itu ke sebuah botol lainnya untuk diminum oleh Valeria.


"Valeria, bantu aku mengangkat kepala Seas," ucapku pada Valeria. Gadis itu segera berdiri dan mulai menegakkan kepala Seas. Dengan hati-hati, aku meminumkan racun darah yang masih panas itu ke dalam mulutnya.


Kert.


Aku bisa merasakan tangannya yang berubah menjadi kaku, dan jari-jarinya yang mulai mengeras. Berarti saraf Seas bereaksi pada racun darah dan mulai terkena infeksinya.


"Oh? Ini racun yang sama seperti milik Seas?" Aku kaget karena tiba-tiba Valeria sudah ada di sana, dia memegang botol yang kugunakan untuk memisahkan sedikit racun di tubuh Seas.


"Tunggu, kau bisa tau bahwa itu racun?" tanyaku kaget.


"Karena racun itu biasanya warnanya menarik, dan yang warnanya jelek itu penawar," jawab Valeria yang membuatku shock. Sebuah jawaban yang sederhana tapi kuakui kebenarannya. Racun memang warnanya sangat menggoda, sedangkan penawar warnanya malah membosankan.


"Kuminum ya?"


Glek.


"LOH?! HEI AKU BELUM MENGATUR DOSISNYA!" Aku berteriak panik saat Valeria malah langsung menegak racun tadi tanpa pertimbangan.


"Hm ... rasanya unik ya? Seperti rasa semangka busuk," ucap Valeria sambil mengusap bibirnya. Aku mendekat ke arah Valeria dan melihat matanya dengan seksama.


Apa dia benar-benar baik-baik saja? Apa kemampuan tubuh Valeria juga sudah mencapai tahap untuk bisa menahan reaksi dua racun yang berbeda?


Bruk.


Baru saja aku kagum pada Valeria, tapi dia malah langsung pingsan.

__ADS_1


Anak bodoh ... sekarang ... mereka memintaku untuk merawat diri mereka berdua? Ini ... sangat merepotkan.


"KKAKK! KKAAKKK!"


Suara gagak? Tumben sekali ada suara burung di Underworld School.


...


LOH BENAR JUGA?! KENAPA ADA BURUNG GAGAK DI SINI?! APALAGI INI MASIH DI DAERAH LAUT BERACUN, HARUSNYA TIDAK ADA HEWAN YANG MENDATANGI LAUT INI KECUALI PENGHUNI ASLINYA!


Aku dengan cepat merebut pistol Valeria serta memasukkan obat-obatan tadi ke dalam jas laboratoriumku dengan tergesa-gesa. Dari jendela, aku mengintip gagak yang berputar-putar di atas rumah yang kami tempati.


Mereka? Sepertinya aku pernah melihat mereka saat ujian ke 3 dimulai kemarin. Anak dengan jubah bulu hitam di sana, auranya sangat mengerikan. Dua orang rekannya juga tidak kalah mengerikannya, satu orang berotot dengan tongkat super panjang, dan perempuan kecil berkucir dua dengan crossbow di tangan kirinya.


Kenapa ... mereka di sini? Apakah mereka sudah menemukan bahwa Rabbit ada di sini?


Tunggu- bukankah ini bisa jadi kesempatan? Aku bisa memanfaatkan kondisi saat ini. Tapi ... sepertinya aku harus memeriksa bahan apa saja yang kubawa, aku harus membuat ramuan 'itu' agar bisa menyentuh Rabbit.


***


POV: Author


"Hei Reksa! Kau yakin Rabbit ada di sini? Bukankah tempat ini terlalu terbuka sebagai tempat bersembunyi?!" ucap orang yang berotot sambil menatap Reksa, orang yang mengenakan jubah hitam. Reksa hanya melirik ke arah orang itu tanpa bicara sepatah kata apapun.


"Lili, tembakkan panahmu ke arah Barat Daya," perintah Reksa yang langsung ditanggapi oleh Lili, gadis berkucir dua dengan crossbow di tangan kirinya.


"Ay ay ay ay kapten!" Lili tersenyum lebar sambil mengisi ulang panah crossbownya dengan 20 anak panah.


Tlik.


Lili mulai membidik ke arah Barat Daya, matanya menatap tajam seolah ada sesuatu di sana.


Klik.


Satu anak panah tertembak dengan cepat, anak panah itu melesat menembus angin pantai yang cukup kencang ini. Tapi tiba-tiba anak panah itu lenyap begitu saja.


"Aku akan mengembalikannya~"


WHUNG!


Anak panah itu kembali ke depan wajah Lili, namun gerak refleks Lili sangat bagus, dia langsung mendongak dan mencondongkan badannya ke belakang, sehingga anak panah tadi hanya lewat di atas wajahnya saja.


Reksa tersenyum miring saat melihat Agen Rabbit yang berdiri sambil menyilangkan kakinya, menghadap ke arah mereka. "Bersiaplah, Gio." Reksa menyibakkan jubah hitamnya, memunculkan pedang samurai sepanjang satu setengah meter yang berwarna gelap pekat.


"Dimengerti, bos." Gio memberikan respon, Gio adalah orang yang penuh otot tadi. Gio melakukan pemanasan dengan melenturkan jari-jarinya serta area sendi lututnya. Gio tersenyum tipis sambil menatap Rabbit.


Syut.


Dalam hitungan detik, Gio kini sudah berada di depan Rabbit bersama dengan kepalan tinju tangan kanannya.


DUARR!


Ledakan hebat mulai terdengar, pasir hitam yang tertiup angin membuatnya terlihat seperti badai pasir. Beberapa detik setelah bunyi keras itu terdengar, Rabbit keluar dari sana tanpa luka sedikitpun, lalu disusul Gio yang melompat ke arah Rabbit.


Sring!


Rabbit menoleh ke arah samping, mendapati ujung pedang Reksa yang sudah siap untuk menusuk mata Rabbit.


Whus!


Rabbit menghindari tebasan pedang Reksa sekaligus bersiap untuk menendangnya dengan kaki kanan.


Greb!


"Apa?" Rabbit menoleh ke arah kaki kanannya, yang ternyata sudah dipegang oleh Gio. Tak lama kemudian tangan Reksa juga sudah berhasil menyentuh bahu Rabbit.

__ADS_1


"Ha- kerjasama kalian benar-benar luar biasa." Mendengar pujian dari Rabbit, Reksa dan Gio hanya tersenyum, Gio mengeratkan genggamannya pada kaki Rabbit, lalu membanting Rabbit ke arah pasir.


DUAR!


Karena tenaga Gio yang sangat kuat, Rabbit terhempas layaknya kertas dan membuat ledakan di atas pasir.


"Ehe! Giliranku!" Lili dengan santainya menyentuh lengan Rabbit yang terbaring di atas pasir sambil tersenyum cerah.


"Nah, kalau begitu, apa kami lulus?" tanya Lili dengan nada yang senang, Rabbit terkekeh mendengar suara Lili, dia segera duduk lalu menganggukkan kepalanya.


"Ya, kalian lulus. Kerjasama kalian luar biasa. Aku bahkan tidak sempat melakukan apapun," ucap Rabbit pada mereka. Setelah itu mereka tersenyum dan mulai membantu Rabbit untuk berdiri.


"Apakah kami yang pertama?" tanya Reksa.


"Bukan, kalian bukan yang pertama, ada seorang anak lain yang sudah lulus lebih dulu," jawab Rabbit yang membuat wajah Reksa jadi cemberut. Alisnya mengernyit dan matanya memicing tajam. "Memangnya siapa dia-"


Whus!


Belum selesai Reksa bicara, sebuah hal aneh tiba-tiba terjadi. Lokasi mereka berubah, harusnya mereka kini masih ada di pantai beracun, tiba-tiba berpindah ke dataran es yang licin dan susah dipijak.


Kriiittttt.


"Siapa?!" Gio membalikkan badannya saat mendengar suara nyaring, mirip seperti besi yang digesekkan ke benda keras. Dari kejauhan, terlihat Sky yang datang sambil menyeret schyte miliknya, Hades.


"Persetan dengan menyembunyikan kemampuan, kami akan lulus ujian hari ini," gumam Sky sambil terus berjalan ke arah Rabbit.


"Oh?! Bukankah kau anak yang terkubur di pasir tadi?! Wah! Aku tidak menyangka kau punya senjata yang keren!" Rabbit berbicara dengan nada senang sambil menatap Sky, sedangkan anak berambut kuning itu hanya membalasnya dengan senyuman.


[Teknik sabit Hades: nomor 1, Lorong Neraka.]


BLARR!


Sky mengayunkan sabitnya dari atas ke bawah dan memutar-mutarnta beberapa kali, hal ini membuat api yang keluar dari Hades mulai membesar dan membentuk sebuah pusaran api raksasa. Pusaran api ini melesat lurus dan panjang tanpa terpotong secara horizontal ke arah Rabbit.


"Oho~ lumayan!" Rabbit mengangkat kaki kirinya, bersiap untuk menendang teknik Sky.


Kena kau,-batin Sky.


SRET.


Tiba-tiba Rabbit terpeleset, dia melupakan fakta bahwa dia sedang berdiri dia tas dataran es yang licin. Saat dia hendak pergi, api panas milik Sky sudah sampai di depan matanya.


BLARRR!


SYUT!


SRETTT!


TRAKK!


Lili, Reksa, serta Gio berhasil menghindari teknik sabit Hades milik Sky, walaupun Sky memang tidak berniat untuk menyerang mereka, seluruh perhatian Sky hanya tertuju pada Rabbit. Mata kuning Sky tidak melepaskan pandangannya dari kobaran api yang mulai padam di atas dataran es itu.


Trek.


Saat kobaran apinya sudah lenyap, Sky juga menyadari bahwa Rabbit sudah tidak ada.


"Teknik yang cukup kuat ya, tapi sayangnya kurang cepat." Rabbit sudah ada di samping Sky, sambil menyentuh ujung schyte milik Sky.


"Heh, aku tau. Karena itu adalah rencanaku."


Prang.


Sky menjatuhkan satu botol mungil yang berisi cairan berwarna merah tua.


"Bloody blooming."

__ADS_1


__ADS_2