
..."Ayo kita mulai satu lawan satu dengan adil~"...
POV: Walker
Sial, aku masuk dalam perangkap yang merepotkan. Tubuhku sudah berlumuran darah, rasa perih di seluruh tubuh ini juga menganggu konsentrasiku!
Dia murid C kali ini? Tidak buruk juga!
"Kau ... lumayan hebat!" Aku tersenyum pada anak perempuan itu. Dia membalas senyumanku dan melesat ke arahku dengan belati di kedua tangannya.
"Hmm~" Aku melompat ke belakang, menunggu momen yang tepat untuk menyerang, meskipun tubuhku perih, setidaknya indra ku kembali.
Siapa anak itu? Oh iya, kalau tidak salah namanya Fani ya.
"Namamu Fani kan? C pasti bangga punya murid sepertimu!" Aku menggunakan teknikku, dalam sekejap aku ada di belakangnya. Dia tampak terkejut, yah tapi itu terlambat.
Duag!
Aku menendang tepat ke arah wajahnya. Ho? Dia sudah memasang posisi bertahan! Refleknya bagus juga!
"Cih, sangat disayangkan aku hanya diperbolehkan menggunakan 25% kekuatanku! Padahal aku ingin melihat seberapa kuat dirimu." Aku menendang ke arahnya, tapi dia berhasil menghindar.
Aku melesat lagi ke arahnya, dan lagi-lagi dia hanya bertahan.
"Ada apa? Bukankah kau tadi sangat bersemangat?" Aku terus melesat dan menendangnya tanpa henti, tak apa. Kita lihat sampai mana kau bisa bertahan!
"Semangatku masih sama seperti tadi kok, kurang sedikit lagi, rencanaku selesai." Anak itu masih tersenyum ke arahku. Hahaha!
POV: Fani
Argh! Tetap saja tendangannya sangat sakit! Tanganku seperti patah saat tendangannya kuterima dengan tanganku.
"Sedikit lagi ... satu lagi saja!" Aku bergumam pelan. Jujur saja, kepalaku sudah sangat pusing sekarang. Walker itu tak kenal lelah, dia melesat dan menendang.
Seolah menari di atas angin. Aku benci mengakuinya! Tapi, seluruh gerakannya sangat sempurna! Tidak ada gerakan yang sia-sia dalam tendangannya!
"Wah~ om kau hebat sekali! Bahkan dengan tubuh seperti itu kau masih bisa menyerang seganas ini~" Aku mencoba memancing emosinya, tapi dia hanya tersenyum dan terus menendangku!
Kalau begini terus, rencanaku tidak bisa dilaksanakan!
"Dengan kemampuan seperti ini, tidak mustahil bagimu untuk masuk ke kelas atas. Biar kutebak, kau adalah yang terbaik di kelasmu?" Om Walker berhenti menyerang dan bertanya padaku.
Aku mengatur nafasku dan menurunkan posisi bertahanku.
"Terbaik di kelas ya ... secara data yang ada, mungkin aku memang yang terbaik. Tapi ... Menurutku ada yang lebih baik dariku," ucapku sambil melemparkan pisau belati di tangan kiriku ke arahnya.
Tang!
"Hoo, jadi kau bilang ... meskipun secara data kau adalah yang terbaik, tapi ada yang membuatmu takut di kelas?" Om itu dengan mudah menangkisnya! Tidak masalah... Semoga dia tidak sadar!
"Yah ... aku juga sudah memikirkan hal ini beberapa kali. Jika aku bertarung dengannya, apakah aku punya peluang menang? Jawabannya tidak," ucapku dengan nada yang agak sedih. Walker mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Siapa dia?" Walker mendekat ke arahku.
"Kau tau? Anak yang dibawa oleh perempuan berambut hijau keemasan! Namanya Seas, Seas Veldaveol," ucapku. Walker tertegun, dia berhenti melangkah ke arahku, wajahnya terlihat seperti mengingat sesuatu.
"Hoo ... ternyata dia adik psikopat itu." Walker bergumam tapi aku bisa mendengarnya.
Psikopat? Siapa? Adik? Seas punya kakak?
"Yah wajar kau merasa kalah darinya. Secara bakat, kau ada 2 langkah di bawahnya. Bahkan Venom sampai tertarik membawanya ke sini!" Walker tertawa kecil.
Aku melemparkan belatiku yang tersisa padanya.
Tang!
"Kenapa kau membuang belatimu dengan sia-sia?" Om itu tersenyum dengan menjijikkan! Dia melesat ke arahku.
"Darimu aku belajar, bahwa semakin efisien rencana yang kubuat. Semakin pasti kemenangan akan terlihat." Aku menarik benang besi yang terikat di kedua belati itu.
Belati itu terbang kembali ke arahku, berlomba dengan Walker siapa yang lebih cepat sampai padaku.
"Tidak buruk, tapi itu tidak akan mampu mengejarku!" Walker menambah kecepatannya. Melesat ke arahku seperti magnet.
Aku tersenyum.
...[Akhirnya kesempatan datang!]...
Aku menghembuskan nafasku dengan berat, mencoba fokus pada jarum yang kusembunyikan di punggungku.
"Langkah terakhir, pelajaran titik vital. Titik yang membuat orang mati suri!" Aku mengeluarkan jarum saat Walker sudah 5 meter di depanku.
Deg.
Aku yakin dia akan sampai bahkan tidak sampai satu detik.
Deg.
Dia sudah sangat dekat, wajahnya berada tepat di depan wajahku. Hawa membunuh menguar dari tubuhnya.
Deg.
Sekarang!
Jreb!
"Hehe sayang sekali... Sudah kubilang bukan? Pisau itu tak mampu mengejarku!"
Aku terduduk di tanah, perutku terasa sangat sakit. Di sepatunya ternyata ada duri.
"Sial ... padahal tinggal sedikit lagi!" ucapku lirih. Apakah aku akan gagal di pelajaran ini?
"Nah kau sudah gagal~" Walker hendak menutup mataku dengan kain hitam. Hingga tiba-tiba ... .
__ADS_1
Duar!
"Ukh! Ini bom asap yang sama seperti tadi!" Walker melompat keluar dari asap itu.
"Tidak apa-apa, hirup saja asapnya. Itu akan membuatmu tidak merasa sakit!"
Suara ini ... aku kenal suara ini!
"Ned!" Aku menarik Ned hingga dia tersungkur ke arahku. Ah, aku sangat senang bertemu pria dengan rambut hitam ini.
"Kau bisa ke sini? Rutemu?" Aku menatap Ned dengan khawatir. Ned tersenyum simpul dan menepuk pucuk kepalaku pelan.
"Agen tingkat atas yang mengejarku tidak terlalu merepotkan, dia terlalu ceroboh karena meremehkanku. Dan ... sepertinya kau yang mendapat agen merepotkan haha!" Ned mengusap kepala dan punggungku. Ah ... ini membuat semua kegelisahan ku menghilang.
"Ayo lanjutkan rencanamu, hanya perlu menancapkan satu jarum saja kan?" Ned mengenggenggam tangan kananku. Aku tersenyum lalu mengangguk.
"Sudah tidak sakit?" Ned bertanya sambil melihat ke arah perutku.
"Uhum! Sudah tidak! Ayo lanjutkan!" Aku menggenggam tangan Ned erat. Ned membalas genggamanku.
"Aku akan melemparmu!" Ned mengangkat tubuhku dan melemparmu keluar dari kabut. Seluruh indraku mati rasa, jadi ini yang dirasakan Walker ... lumayan efektif.
"Kau ceroboh!" Walker tiba-tiba ada di sampingku.
"Kau yang masuk jebakan!" Ned menarik benang besi yang sudah dia siapkan sebelum melemparkan bom.
Benang besi itu mengikat Walker hingga ke ujung jarinya.
"Nah ... selamat tidur om. Nanti kalau ketemu malaikat kematian bilang aku ya, aku penasaran bagaimana wujudnya!" Aku tersenyum lalu menancapkan jarum terakhir di lehernya.
Tidak ada darah yang keluar, karena itu bukan titik vital. Tapi dia tidak akan bangun jika jarum itu tidak dicabut.
Aku terjatuh, tapi Ned berhasil menangkapku. Tunggu ... posisi ini!
"NED TURUNKAN AKU! AKU BUKANLAH SEORANG PUTRI!" Aku meronta, Ned tidak mendengar dan tetap menggendongku di depan dadanya.
"Nanti lukamu semakin parah, begini saja, kau pandu aku ke arah rutemu. Toh tujuan kita sama kan?" Ned tersenyum jahil.
"Ugh! Baiklah ... ." Aku mengalah, perutku terasa geli, dan dadaku terasa gatal. Apa ini?!!
***
POV: C
"Oh? Walker kalah? Aku tidak merasakan energinya lagi hahaha! Lumayan juga, Ned dan Fani!"
"Nah ... ."
..."Bagaimana dengan Erea dan Ruo ya?"...
TBC.
__ADS_1