Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Hari terakhir ujian tahap pertama! (4)


__ADS_3

"Jadi ... siapa diantara kalian yang suka main sepak bola?"


POV: Author


Suasana di gudang itu begitu mencekam dan terasa menusuk kulit. Ke sembilan orang itu kini waspada pada setiap apa yang mereka lihat.


WHUNG!


TRANG!


Seas mulai menyerang gadis yang membawa kapak cukup besar, tapi gadis itu berhasil bereaksi tepat waktu, jadi lehernya tidak melayang.


"APA-APAAN TADI?! JANTUNGKU RASANYA MAU MELONCAT!" teriak sang gadis dengan lutut yang bergetar. Semua orang di dalam sana jadi merasakan ketegangan yang lebih parah, dalam hati ... mereka mempertanyakan hal ini.


...(Sama-sama kelas 1, tapi kenapa kekuatan kita begitu berbeda?)...


"Hei! Apa diantara kalian tidak ada yang memakai senjata api?" tanya pria yang membawa palu besar di punggungnya.


"Tidak," jawab semua orang serentak.


"Sial! Kita tidak bisa melihat dengan jelas! Cahaya di sini terlalu remang-remang!" kesal seorang gadis yang membawa cambuk di pinggangnya.


Greek.


"Kalau kurang terang karena ruangannya tertutup, bukankah kita hanya perlu membongkar gudang ini?" ucap pria yang membawa palu. Dengan perlahan, pria itu mengeluarkan palu raksasa yang dia simpan di punggungnya. Otot tangannya mulai berkontraksi dan menjadi lebih besar.


"KITA HARUS MENGHANCURKAN DINDINGNYA SUPAYA TERANG!" Pria yang membawa palu itu langsung berlari ke arah dinding di samping kanan. Langkah kakinya begitu cepat meskipun tubuhnya berat.


ZRASH! CRATT!


Pluk.


"Su-suara apa itu? Ake? AKE!" teriak seorang pria yang memanggil rekan dengan palu besar itu. Tapi tidak ada jawaban, keheningan justru menyambut mereka.


"Psst! Bawa ini!" Seas melemparkan kepala pria yang menggunakan palu itu ke arah gadis yang memakai knuckle.


Pluk.


"Hah? Apa ini?" tanya sang gadis sambil berusaha untuk melihat lebih jelas, benda apa yang dia bawa di tangannya.


"Hah ... AAAAAAAAAAA!" Gadis itu histeris dan langsung melemparkan kepala tanpa tubuh ke sembarang arah.


"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!" gelak tawa Seas memberi kesan ngeri pada seluruh lawannya. Bahkan gadis yang memegang kepala tadi sudah kencing di celana.


"Ce ... cepat keluar dari gudang ini!" perintah dari orang yang membawa katana. Ke delapan orang yang masih hidup itu berlari sekuat tenaga menuju pintu keluar.


"Mau kemana? Hm?"


BRUK!


Semua orang itu tersungkur ke depan, yang mereka lihat, adalah sebuah sepatu usang dengan bau amis yang cukup menyengat. Saat mereka mulai mendongak ke atas ...


Mereka melihat mata ungu Seas yang terpancar layaknya iblis.


CRANGG!


Seorang pria yang menggunakan sabit berantai, mulai melancarkan serangan saat dia berdiri. Seas menghindarinya dengan tenang, lalu melompat ke atas pembatas pintu.

__ADS_1


"Kenapa? Kalian tidak suka bola yang kuberikan?" tanya Seas sambil menjilat ibu jarinya.


"... Itu bukan bola!" geram seorang gadis yang memakai knuckle.


"Oh ... iya aku lupa, tadi namanya sepak kepala, bukan sepak bola." Seas tersenyum lebar hingga menampakkan gigi gerahamnya. Mata ungunya terlihat hanya segaris karena lebarnya senyuman.


"Ayo mulai, Lumius."


SRASSSHHH!


Sebuah angin yang bewarna merah darah mengelilingi tubuh Seas, warna merah yang pekat ... seperti darah yang bercampur dengan tanah.


DRRRRKK!


Gudang ini berguncang layaknya terkena gempa, semua mata terpusat pada aura merah yang menguar seperti iblis yang kelaparan.


Aura merah itu mulai berpusat ke dua gelang yang berada di lengan Seas. Mengelili seperti ular peliharaan yang jinak.


Gelang di lengan Seas mulai memudar, berubah menjadi senjata pisau pendek yang mematikan, dagger.


Aura merah itu akhirnya menghilang, memudar ... menyisakan hawa dingin dan bau amis di hidup setiap orang.


Kling.


"Nah, setelah kuingat-ingat, kegelapan itu memang menyenangkan ... tapi aku lebih suka darah," ucap Seas sambil memposisikan kedua daggernya di depan dada. Sedikit kilatan cahaya dari ujung dagger itu mengenai tanah, memberi kesan mengintimidasi pada setiap orang.


Swing!


Pria dengan katana panjang di pinggangnya, mulai mengarahkan sisi tajam katananya ke arah Seas.


Begitu juga dengan pria yang menggunakan sabit berantai. Kedua pria itu tampak siap untuk menghadapi Seas.


"Hmm ... kalau hanya kalian berdua, itu tidak menyenangkan. Kita langsung saja 1 lawan 8!" ucap Seas dengan senyuman yang cerah.


...[Teknik bayangan, nomor 3: Langkah Bayangan.] ...


Fuut.


Bayangan Seas yang berada di depan gerombolan orang itu, seolah berubah menjadi asap yang halus.


NGING!


TRANGGGG!


"KALAU KALIAN BENGONG NANTI KEPALANYA JATUH LOH! HAHAHAHAHA!" Seas langsung menyerang pria dengan katana itu dari depan, langkah kaki si pria terdorong mundur, kekuatan Seas sangat besar.


"HIAAH!" Seorang gadis yang membawa kapak maju dengan spontan saat melihat punggung Seas.


WHUNG!


Fuut.


Satu detik sebelum ujung kapak itu mengenai Seas, dia menghilang entah kemana.


WUSH!


CRANGG!

__ADS_1


"ARGHHH!" Seas langsung menarik rantai dari pria yang membawa sabit, rantai itu sengaja Seas lingkarkan di leher si pria dan menariknya dengan cepat ke arah atas.


"AIKHHH AKK TOLHH- LONGGHH!" Pria itu tergantung di bawah atap dengan posisi leher yang tercekik.


"HEI! CEPAT BANTU DIA MELEPASKAN RANTAINYA!" teriak gadis yang membawa cambuk.


"Bertahanlah sebentar!" Seorang pria yang menggunakan benang baja sebagai senjata, mulai menyusun rencananya.


Tapi sepertinya Seas tidak ingin membiarkan mereka senang.


WHUS!


"Ah ..."


DEG DEG.


Angin berhembus pelan di belakang pria yang memakai katana, kengerian di tengkuk lehernya menjalar hingga ke sumsum tulang. Kakinya seperti dijatuhi batu besar yang membuatnya tak mau bergerak.


"Aku tau kalian berniat memotong rantainya, kalian memang pintar, tapi kalian bodoh dalam merencanakan lebih dalam."


ZRASSHH!


Pluk.


Kepala pria dengan katana itu jatuh ke lantai yang terbuat dari semen ini. Keadaan hening lagi-lagi terjadi, seolah mereka semua menjadi patung, tidak bisa bersuara apalagi bergerak.


Kretek ...


"A ... di-dia ... sudah mati," ucap gadis yang memakai knuckle saat menatap ke arah orang yang tercekik.


"HAHAHAHA TENTU SAJA! KALIAN MEMBIARKAN DIA TERGANTUNG DI ATAS SANA SELAMA BELASAN MENIT! APA KALIAN PIKIR BISA MENYELAMATKANNYA?!" Seas tertawa lepas lagi. Tapi ruangan itu sudah hening, dipenuhi oleh keputusasaan.


"Nah~ sekarang tinggal eksekusi-."


Brak!


ZRASHHH ZRASH ZRASH!


Belum sempat Seas bergerak. Seluruh orang di ruangan ini sudah terpenggal kecuali Seas. Bahkan ada yang tubuhnya terpotonh menjadi beberapa bagian.


Seas masih diam dan mengamati, samar-samar ... Seas melihat benang yang dia kenali. Sebuah benang tipis yang mematikan, benang tipis yang membuat C kerepotan.


Benang dari salah satu teman sekelasnya.


"Kenapa kau mengambil buruanku?" tanya Seas tidak senang sambil menatap ke arah atap yang berlubang.


Mata ungu Seas bertemu dengan mata hitamnya, rambut putih yang berkibar berlawanan dengan rambut hitam miliknya.


Jarinya terlilit oleh puluhan benang baja yang bahkan tidak bisa dipotong oleh pedang biasa.


"Kenapa kau begitu murung~ bukankah aku membantumu agar tanganmu tidak kotor?" tanya pria itu sambil tertawa jahil.


"Kau banyak berubah ya? Ned."


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!

__ADS_1


__ADS_2