Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Serangan balik?


__ADS_3

..."Kalau kau mau, aku bisa mengajarimu."...


POV: Seas


Aku menatap Valeria dengan tatapan terkejut. Begitu juga dengan Sky yang tampak shock dengan perkataan Valeria.


"Kau 'kan pengguna senjata jarak jauh, bagaimana bisa kau mengajariku senjata jarak dekat?" tanya Sky. Aku mengangguk setuju, bagaimana bisa Valeria yang hanya memegang pistol bisa mengajari Sky cara menggunakan schyte?


"Hei! Apa kau lupa aku juga belajar bazoka?" ucap Valeria sambil menaikkan sebelah alisnya. Aku terdiam sejenak, bazoka juga adalah senjata berat walaupun tipenya jarak jauh.


"Tapi meskipun begitu, cara bertarungnya tentu akan sangat berbeda!" ucapku pada Valeria. Kami bertiga terdiam.


"Em, yang kau bilang itu benar juga sih. Tapi kupikir setidaknya aku bisa memberitahu dasarnya pada Sky," ucap Valeria sambil merapikan rambut yang menutupi matanya.


"Oh! Kalau begitu, sepertinya Valeria bisa membantumu Sky!" Aku mengangguk setuju.


Jika hanya dasarnya saja, kupikir Valeria akan mampu mengajari Sky.


"Baiklah! Kalian berlatihlah dahulu! Aku akan pergi keluar sebentar," ucapku lalu berdiri.


"Mau kemana?" tanya Sky. Aku berjalan ke arah pintu, lalu membukanya.


"Aku akan melihat keadaan Ron terlebih dulu," ucapku lalu keluar dari kamar itu.


Brak!


Mataku melihat ke sekeliling, mencari dimana keberadaan X. Tapi rumah ini begitu sepi, seolah tidak ada siapapun di sini selain aku, Sky dan Valeria.


"Dimana X?" gumamku pada diri sendiri. Aku berjalan ke arah ruang tamu, TVnya masih menyala. Tapi tak ada seorangpun di sini.


Mataku melihat sebuah kertas di atas sofa, tertindih oleh remot dan bantal.


Apa itu?


Aku berjalan untuk mengambilnya, mataku mencari siapa pengirim surat ini. Di bawahnya, tertanda ada nama 'X' di sana.


[Aku akan memberitahu Ron dan Dev lebih dulu. Kalau ada yang membaca surat ini, tolong bantu aku menyiapkan keperluan untuk berangkat.


Barang-barangnya ada di kamar dengan pintu hitam.]


Aku membaca surat itu seolah ada suara X di sana. Setelah mengetahui apa yang harus kulakukan, aku segera melipat kembali suratnya dan berjalan ke arah pintu hitam.


Tidak sulit menemukannya, karena itu adalah kamar X sendiri. Aku segera membuka kamarnya, begitu gelap dan ada kesan misterius.


"Apa X meninggalkan snipernya?" tanyaku saat melihat senjata kesayangannya masih terjejer rapi di pinggir ranjang. Aku mengambil senjatanya, tanpa sengaja sebuah foto terjatuh dari sana.


"Ini ... siapa?" ucapku pelan. Ada seorang anak yang begitu mirip dengan X, dan ada juga seorang anak yang berambut pirang di sebelahnya. Aku mendapat perasaan tidak nyaman saat memegang foto ini.

__ADS_1


Lebih baik aku kembalikan ke tempatnya tadi, aku tidak ingin mendapat masalah nantinya.


"Sepertinya hanya ini saja?" ucapku sambil melihat barang-barang X di tanganku. Selain sniper, X juga membawa beberapa barang lainnya. Tapi tidak sebanyak bawaanku dan teman-teman.


Cklek.


Aku menutup pintu kamar X dengan pelan. Setelah itu mataku melihat ke sekeliling rumah ini. Keberadaan Sky dan Valeria sudah tidak kurasakan, sepertinya mereka sudah keluar untuk berlatih.


Tunggu, mereka sudah keluar? Tapi aku tidak melihat mereka membawa senjata berat yang mereka sebut sebelumnya!


Lalu dari mana mereka mendapatkan benda itu? Apakah itu masih sama seperti yang diberikan oleh Venom?


Ah, aku jadi ingat Venom lagi. Kapan misi ini berakhir sih?


Aku segera menepis pemikiranku, lalu duduk di sofa sambil menunggu malam tiba. Awalnya aku berniat untuk menemui Ron dan Dev, tapi karen X sudah menemui mereka, lebih baik aku yang berjaga di rumah.


Mataku menatap ke arah TV yang menyiarkan sebuah acara hiburan, meskipun aku tidak sepenuhnya fokus saat melihatnya. Di dalam kepalaku, aku masih memikirkan waktu saat aku menyusup di mansion itu.


Saat aku sudah menemukan adanya teknik lain, selain langkah bayangan.


Bayangan pohon.


Sebenarnya seni ini punya berapa teknik? Kenapa kurasa aku baru menemukan sedikit?


Perlukah aku kembali ke mansion? Sepertinya aku masih menyimpan buku yang kupelajari saat itu.


Brak!


"Apa?!" Aku sedikit terkejut saat sebuah runtuhan salju mengenai kaca jendela. Saat tahu bahwa itu hanya salju, aku segera menenangkan jantungku yang berdetak cepat.


Aku menyandarkan kepalaku ke sofa, sambil menutup mata.


Deg.


Tidak ada pohon di samping rumah ini. Tidak ada gedung tinggi yang bersebelahan dengan rumah ini.


DARI MANA SALJUNYA DATANG?!


PRANG!


Lampu tiba-tiba pecah. Seluruh rumah ini menjadi gelap. Aku segera berdiri dan berlari ke sudut ruangan, melindungi bagian punggungku serta mempersempit arah serangan yang mungkin datang.


Ini cara yang sama seperti yang kugunakan untuk mengacaukan lelang kemarin, apakah mereka mengirimkan pembunuh bayaran?


Hahaha, bodoh sekali. Haruskah kukirim kepala mereka pada sang tuan?


Dan benar saja. Dari balik gelapnya malam. Aku melihat sekelompok orang dengan jubah hitam. Mereka masuk melalui atap dan jendela. Beruntung di rumah ini hanya ada aku seorang.

__ADS_1


Aku tersenyum.


Sepertinya aku tidak akan bosan lagi.


***


POV: Author


"Dimana anak itu?" tanya orang dengan pita merah di jubah hitamnya.


"Aku tidak melihatnya dimanapun!" jawab orang dengan pita biru. Mereka kini berkumpul di ruang tamu. Saling bertatapan dengan ekspresi bingung.


"Aneh, padahal tadi aku yakin dia sedang bersandar di sofa," ucap orang dengan pita kuning.


"Tiga orang ya? Tidak kurang? Bukankah kalian terlalu meremehkanku?" Suara Seas terdengar.


Ketiga orang itu langsung memasang posisi waspada. Mata mereka menilisik gelapnya rumah ini.


"Dimana kau? Cepatlah keluar. Aku akan membuatmu mati tanpa rasa sakit," ucap orang dengan pita merah.


"HAHAHAHA!" tawa Seas menggelegar di rumah ini. Ketiga orang itu saling bertatapan lalu sang pita kuning mulai maju dan menghilang.


"Kalau kau tidak keluar, maka kami yang akan mencarimu," ucap si pita biru.


"Di rumah kecil ini, kau pikir bisa sembunyi dimana?" ucap si pita merah dengan nada meremehkan. Tidak ada jawaban dari Seas, keheningan lagi-lagi melanda rumah ini.


"Kalian pikir aku sembunyi? Tidakkah pikiran kalian yang terlalu pendek?" Suara Seas kembali terdengar setelah keheningan yang lama.


"ARGHH!"


"APA?!" Si pita biru mulai panik saat mendengar teriakan rekannya. Dia mendekatkan dirinya pada punggung rekan pita merah.


Detak jantung mereka sekarang berpacu layaknya kuda. Sambil waspada, di pikiran mereka harusnya sadar. Lawan mereka bukanlah seorang amatir.


Dak! Tuk! Tuk!


"A-apa?" ucap si pita merah sambil gemetar. Dalam kegelapan malam, kepala rekan mereka menggelinding di lantai.


Tep.


Seas muncul di tengah-tengah mereka. Sambil memegang pundak kedua orang itu, Seas tersenyum lebar. Matanya menatap mereka seperti sebuah permainan.


"Katakan pada tuanmu, jika ingin menghabisiku. Kirimkan orang yang lebih layak."


...ZRASH!...


TBC.

__ADS_1


Jangan lupa likenya ya guys!


__ADS_2