
POV: Seas
"Tck, tempat ini jadi penuh darah. Sampai mati saja mereka masih merepotkan," ucapku kesal sambil membersihkan noda darah di lantai.
FLASHBACK
POV: Author
"Aku jadi sedih jika orang yang mereka kirim ternyata lebih payah dariku," ucap Seas dingin. Tangannya sudah memegang kedua pundak orang di sampingnya.
Kedua orang itu gemetar hingga tak sadar mereka mengompol. Hawa keberadaan Seas bukan main-main, rasanya seperti ditusuk ribuan jarum di kulit mereka.
"Tapi ... aku hanya berniat membiarkan salah satu dari kalian yang hidup." Seas sedikit tersenyum saat mengatakannya.
"Kalian pilih sendiri, mau hidup atau mati? Jika kalian mau hidup ...
Bunuh teman kalian dengan tangan kalian sendiri."
Detik itu juga, kedua orang itu saling bunuh. Mereka tidak peduli lagi dengan misi dan lebih memilih nyawa mereka. Dengan ganasnya mereka saling menancapkan belati ke tubuh temannya.
Hingga akhirnya, sang pita merah lah yang mampu bertahan.
Seas yang berdiri dan menonton kemudian bertepuk tangan atas pemandangan yang dia lihat. Kakinya mulai melangkah mendekati orang yang masih hidup.
"Nah, bawah kedua kepala temanmu ini, dan lemparkan ke meja bangsawan sialan itu. Enyahlah sekarang!" ucap Seas lebih penekanan di setiap kata-katanya. Si pita merah segera berdiri dan mengambil kedua kepala temannya. Sementara tubuh dari rekannya ditinggalkan di rumah ini.
"Sepertinya ini bahkan lebih baik digunakan untuk makanan anjing?" ucap Seas lalu mengangkat kedua jasad tanpa kepala itu.
FLASHBACK END.
POV: Seas
"Yah, tapi aku jadi tidak terlalu bosan!" Aku tersenyum sendiri sambil membersihkan noda darah di lantai. Entahlah, moodku sangat senang hari ini.
Cklek.
Pintu tiba-tiba terbuka, menampilkan X dengan coat hitam miliknya yang masih tertempel salju. X sedikit terdiam saat melihat keadaan rumah yang sangat gelap ini.
"Kenapa ini sangat gelap? ... Dan kenapa ada bau darah?" tanya X terus terang. Seas segera berdiri lalu mencoba mencari lilin.
__ADS_1
"Tadi ada pembunuh yang dikirim ke sini. Tapi jangan khawatir, aku sudah membereskan mereka," ucapku apa adanya.
Ya, memang sudah kubereskan.
X menghela nafasnya sebentar, dia segera melepaskan coatnya lalu duduk di sofa. Mata hitamnya terlihat lebih pekat dari gelapnya rumah ini. Meskipun sekarang gelap, tapi aku tau bahwa matanya sedang menyelidik sesuatu.
"Dimana Valeria dan Sky?" tanya X.
"Mereka sedang berlatih, haruskah kupanggil mereka?" tanyaku. X menggelengkan kepalanya.
"Aku akan memberi mereka pesan saja, kau segera siapkan barang-barang Sky," ucap X. Aku menaruh lap penuh darah di tanganku lalu berlari ke arah kamar Sky.
Beruntung jendela di kamar ini terbuka, sinar bulan sedikit menerangi rumah yang suram ini. Aku mulai mengambil beberapa barang Sky dan memasukkannya ke dalam kantung kain yang cukup besar. Dengan begini, Sky tinggal berangkat saja.
"Nah, sudah selesai!" Aku segera keluar dari kamar Sky lalu berjalan kembali ke ruang tamu.
"Oh? Kalian sudah kembali?" tanyaku saat melihat Valeria dan Sky yang duduk di samping X. Aku segera meletakkan barang-barang Sky dan X berjejeran, sementara barangku sendiri ... kupikir ini sangat sedikit.
"Apa tadi kau sudah bertemu dengan Ron, X?" tanya Sky. X melirik ke arah Sky lalu tersenyum, dia mengangguk pelan sambil menatap TV yang mati.
Sejujurnya ini sedikit menyeramkan karena X jarang tertawa seperti di awal. Ini jadi memberi beban psikologis tersendiri bagi kami.
Aku menelan ludahku gugup, mataku menatap X dengan ragu-ragu. "Kita akan berangkat kapan?" tanyaku pada akhirnya. X mengangkat tangan kirinya, dia meluruskan jari telunjuk serta ibu jarinya. Jam 7.
"Sebenarnya ... apa yang kau pikirkan, X?" tanyaku dengan pelan. X sedikit tersentak saat mendengar perkataanku. Sorot matanya yang lembut itu tersirat kemarahan di dalamnya.
"Tidak apa-apa, aku hanya teringat keluargaku saja," jelas X secukupnya. Aku tidak bertanya apa-apa lagi, karena sepertinya itu topik yang sensitif untuk X.
Kami hanya diam hingga 10 menit berlalu, Valeria akhirnya keluar dari kamarnya.
Brak!
"Nah! Aku sudah siap!" ucap Valeria dengan semangat. X mengulum senyum kecil, dia segera berdiri dan memakai coat hitam miliknya.
"Kalau begitu, ayo berangkat!" ucap X sambil tersenyum. Aku mengangguk lalu segera berjalan ke samping X.
"Hey tunggu! Kemana syal milikmu?" tanya X saat menyadari aku tidak memakai syal yang kugunakan saat pertama datang ke sini.
"Oh ... aku membuangnya karena itu juga tidak berpengaruh," jawabku pada X. Dia menatapku dengan tidak suka, dengan sigap dia kembali masuk ke dalam dan keluar dengan membawa sehelai kain.
__ADS_1
X melingkarkan kain itu ke leherku, tatapannya menjadi lebih rileks daripada saat di dalam rumah tadi.
"Yap! Ayo berangkat!" Sky tiba-tiba muncul di belakangku. Tentu saja aku terkejut.
"Sky ... kenapa kau memakai jaket super tebal itu lagi?" tanyaku dengan tatapan malas. Ayolah, terakhir kali dia memakai jaket itu, dia bahkan tidak bisa bertahan beberapa jam.
"Lepas jaketmu! Ganti dengan ini saja!" Valeria menarik paksa jaket Sky, lalu memakaikan sebuah mantel di pundak Sky.
Tunggu ... sejak kapan mereka jadi romantis seperti ini?
DAN BUKANKAH INI TERBALIK?! KENAPA AKU MERASA SKY JADI PIHAK PEREMPUANNYA?!
Mataku melirik ke arah X, dia menatapku sekilas lalu memaksa kepalaku agar tidak menghadap ke arah Sky dan Valeria. Sepertinya X sudah tahu lebih dulu daripada aku.
"Kita akan bertemu dengan Ron dan Dev di sungai beku sebelah Utara," ucap X sambil menatap ke arah jalanan. Aku mengangguk paham, tanganku menyentuh kain yang dipakaikan oleh X. Rasanya seperti X masih melihat orang lain dalam diriku.
"Ayo kita berangkat!" ucap X lalu dia mulai berlari, aku segera berlari untuk mengikutinya. Mataku melihat ke arah belakang, sepertinya Valeria dan Sky juga sudah mulai bergerak.
Aku melewati salju-salju yang bersinar terkena sinar rembulan. Hingga mataku tak sengaja melihat bangkai mobil milik orang yang kubunuh beberapa hari yang lalu.
Sudah cukup lama juga ya, tak ada yang menyangka akhirnya seperti ini.
Aku masih terus berlari, bisa kurasakan bahwa Valeria dan Sky mulai menyusul ke sampingku. Mataku melihat ke arah samping, Valeria memakai penghangat telinga berwarna biru tua, dia membiarkan rambut coklat kemerahannya itu tergerai di bawah sinar rembulan.
Saat kulihat ke arah Sky juga, sepertinya dia juga sudah bertumbuh. Ada perasaan aneh saat melihat ekspresi Sky yang menjadi dewasa.
Deg.
"Ada orang yang mengikuti?" tanyaku dengan nada sangat pelan. Valeria mengangguk, kami masih terus berlari maju.
"Sky ... hapus jejak kita," perintah X tanpa menoleh ke belakang. Sky mengangguk, dia mengeluarkan sebuah kapsul yang seukuran jari kelingking. Sky menggigit ujung kapsul itu sedikit, lalu melemparkannya ke belakang.
"Babay~," ucap Sky. Beberapa detik kemudian, muncul sebuah dinding es yang cukup besar dan tinggi sekitar 4 meter. Dinding es itu langsung membuat jarak yang cukup besar antara kami dan para penguntit.
..."Haruskah kita menemani mereka bermain?"....
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!
__ADS_1
...
...