
POV: Author
Dira dan Sky. Mereka disebut sebagai anak kembar tak serupa dari salah satu keluarga bangsawan tersohor di Kekaisaran Hyacinth. Namun perbedaan antara reputasi Sky dan Dira itu bagaikan langit dan bumi. Dira dijunjung tinggi dan dibanggakan pada semua orang hingga mereka hafal wajah Dira, sebaliknya, Sky justru dipendam dalam-dalam seperti kotoran yang tak layak muncul di permukaan.
Perbedaan perlakuan yang kentara ini membuat banyak orang berspekulasi yang tidak-tidak. Tentang Sky yang bukan anak kandung keluarga itu, atau bahkan Sky adalah anak haram hasil perselingkuhan entah itu si istri atau sang suami. Tapi pihak keluarga mereka tidak pernah memberi kepastian, sehingga bahkan di dalam rumahnya, Sky sering diberi perlakuan yang tidak menyenangkan.
Meskipun begitu, mereka berdua diberi marga yang berbeda.
Nama panjang Dira adalah Dira Ferano.
Sedangkan Sky adalah Sky Latrix.
Marga asli keluarga bangsawan itu adalah Ferano, entah marga siapa yang mereka masukkan dalam nama Sky.
Sky dan Dira dulu memiliki warna rambut yang sama, coklat kehitaman. Hingga terjadi sebuah insiden yang perlahan merubah warna rambut Sky dan bola matanya.
.
.
.
BRAK!
"HMM! EMMMPPHH!" Sky berusaha meronta ketika tubuhnya diikat dengan tali tambang serta mulutnya dibungkam dengan kain. Tapi tampaknya usahanya sia-sia, tenaga anak kecil tidak akan bisa mengalahkan orang dewasa. Pria itu melempar tubuh Sky masuk ke dalam sebuah koper kayu, dan menguncinya rapat-rapat. Setelah itu dia memasukkan Sky ke dalam mobilnya.
Di dalam koper, Sky sudah lelah meronta, dia diam dan melihat ke luar melalui beberapa lubang dari koper itu.
K-kemana? Aku dibawa kemana?!
Sky mulai panik, dia menangis dalam diam karena suaranya tidak bisa keluar. Cukup lama pria itu berkendara hingga akhirnya mobilnya berhenti, dia segera membuka mobil lalu mengeluarkan Sky dari koper kayu.
"HHMMLPH!" Sky masih berusaha meronta, tapi lagi-lagi itu sia-sia. Dia dibawa masuk ke dalam sebuah pabrik yang entah ada dimana ini. Sepanjang mata memandang, yang dia lihat hanyalah pepohonan yang rimbun seperti hutan.
I-ini dimana?!
__ADS_1
"Jangan memberontak! Apa perlu kupatahkan kakimu supaya kau diam?!" bentak pria itu yang langsung membuat Sky ciut. Sky akhirnya menuruti kemauan pria itu, dia dibawa masuk ke dalam pabrik. Sky menatap pabrik yang terlihat kuno dan usang, seperti tidak terawat. Tapi perasaannya sekarang sangat ketakutan, dia merasakan perasaan tidak aman dari dalam pabrik itu.
Kriet!
Begitu pintu pabrik dibuka, aroma menjijikkan langsung terhirup oleh hidung. Mata Sky membelalak kaget, dia spontan berusaha untuk kabur dari pria itu. Tapi si pria itu memegang tali tambang yang mengikat Sky, sehingga Sky tidak bisa lari jauh darinya.
"HMMMPPP! HMPPHHGG!" Sky berusaha memberontak, dia tidak mau masuk ke dalam pabrik. Dia yakin dengan yang dia lihat, bahwa di dalam sana, ada tubuh manusia yang terbelah-belah. Entah untuk tujuan apa, tapi dia melihat banyak sosok manusia yang ditempel di dinding dengan organ yang hampir keluar.
"Tck! Kau sangat merepotkan!"
SRAKK!
Pria itu menarik tali tambangnya dengan keras, membuat Sky langsung jatuh terduduk ke belakang. Setelah itu si pria mulai menyeret Sky masuk ke dalam sana. Dia mengunci pintunya, dan mulai melepaskan ikatan Sky.
"D-d-dimana i-ini?! Ke-kenapa paman menculikku?!" tanya Sky panik, matanya sudah merah sembab karena terlalu banyak menangis. Bukan hanya itu, beberapa bagian tubuhnya mempunyai banyak lebam karena ikatan yang terlalu kencang dan guncangan saat berada di dalam koper tadi.
Pria itu diam saja, tidak menjawab pertanyaan Sky. Dia menarik pergelangan tangan Sky, memaksa bocah itu untuk duduk di atas sebuah kursi pendek. Pria itu lalu kembali menali tangan dan kaki Sky.
"A-a-apa kau mau uang tebusan? A-aku baca di no-novel biasanya begitu! Ta-tapi aku adalah anak yang dib-dibuang! Jadi it-itu sia-sia!" ujar Sky lagi, namun dengan nada yang sudah lemas. Pria itu tidak menggubris perkataan Sky, dan terus melanjutkan kegiatan menalinya. Hingga setelah tubuh Sky sepenuhnya ditali, pria itu mengambil beberapa kotak besi.
"Hahaha, kau anak yang dibuang? Justru aku beruntung, karena tidak akan ada yang mencarimu," ujar pria itu sambil mengenakan sarung tangan yang terbuat dari plastik hitam.
Ti-tidak ... Leonax, tolong aku!
.
.
.
Malam hari telah berlalu, hingga sekarang matahari sudah ada di atas kepala manusia. Leonax, mencari Sky di seluruh penjuru rumah namun tidak menemukannya.
"... Kemana Tuan Muda? Apa ini masuk akal? Dari pagi hingga siang, tidak ada satupun orang rumah yang melihatnya," ujar Leonax bingung. Dia kemudian kembali berjalan lagi, sampai matanya melihat jalan kecil yang menuju ke arah danau. Leonax segera pergi ke sana, namun sesampainya di sana, dia kembali kecewa karena tidak ada siapapun.
"Kupikir Tuan Muda akan ada di sini, tapi ternyata tidak," ujarnya lagi. Leonax awalnya hendak berbalik, namun matanya melihat bekas aneh di salah satu batang pohon yang dekat dengan pagar tembok. Cekungan-cekungan yang cukup dalam dan teratur, kiri dan kanan. Leonax berjalan mendekati pohon itu.
__ADS_1
"Kemarin ini belum ada," ucap Leonax sembari menyentuh bekas cekungan itu. Bukan hanya itu, Leonax menemukan jejak sepatu dan kaki di atas tanah yang agak becek. Ukurannya terlalu kecil untuk orang dewasa, namun ini pas untuk anak-anak.
"... Masa ini perbuatan Tuan Muda?" Leonax merasa tidak yakin. Dia kemudian melihat ke atas pohon, menemukan sebuah kain yang terikat di salah satu dahannya yang kokoh.
"Sial!" Leonax memanjat dengan cepat ke atas pohon, dia melihat kain yang terikat itu menjulur sampai setengah tembok ini. Leonax menduga bahwa Sky sedang kabur karena merasa sesak di rumah, tapi jika dia tidak kunjung pulang padahal hari sudah terang, entah kenapa perasaan Leonax menjadi kacau.
Leonax turun lagi dari pohon dan bergegas menuju ayah Sky, Tuan aslinya. Beberapa pelayan yang melihat Leonax berlari hanya mengabaikannya, karena mereka tau bahwa Leonax itu sangat peduli pada Sky, jadi jika dia berlari seperti ini, pasti ada kaitannya dengan Sky.
Mereka hanya tidak mau ikut campur pada Tuan Muda yang masa depannya jelas-jelas suram.
Leonax akhirnya sampai di depan ruang kerja ayah Sky. Dengan hati yang berdegub kencang, dia mengetuk pintu itu tiga kali.
Tok tok tok.
"Tuan, ini saya, Leonax." Leonax menunggu sebentar hingga akhirnya ada jawaban dari dalam.
"Masuklah."
Cklek.
Leonax langsung masuk dan dia berdiri dengan agak menunduk di hadapan ayah Sky yang masih berkutat dengan kertas dan tinta. "Ada apa kau menemuiku tengah hari begini? Apa ada masalah?" tanya pria itu tanpa melepaskan pandangan dari kertas di depannya.
"Tuan, Tuan Muda Sky kabur dari rumah, saya mau meminta izin untuk mencarinya keluar," ujar Leonax sopan. Sang ayah yang mendengar masalah yang baru Leonax sebutkan, langsung meletakkan pulpennya dengan kasar, matanya menatap Leonax dengan tatapan kesal.
"Bocah tidak berguna itu kabur? Hah! Menambah pekerjaan saja! Tidak perlu dicari! Justru akan lebih baik jika dia menghilang!" ucap ayah Sky. Leonax memejamkan matanya, jika Sky mendengar ucapan ini, sudah pasti dia akan sangat sakit hati. Tapi ... Leonax tidak bisa menyerah.
"... Saya khawatir dengan Tuan Muda, Tuan. Tuan tidak perlu mengirimkan pasukan, biar saya sendiri yang mencarinya," bujuk Leonax lagi. Sang ayah itu memicingkan matanya tajam, dia tersenyum meremehkan lalu kembali memegang pulpennya dan mengerjakan pekerjaannya di kertas.
"Tidak perlu, lebih baik begini. Sudah, keluarlah!" ujar ayah Sky. Leonax mengangkat kepalanya.
"Tapi Tuan ... "
"AKU BILANG KELUAR!"
TBC.
__ADS_1