Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Penelitian Sky!


__ADS_3

..."Tahun ini, akan jadi ujian yang meriah."...


POV: Seas


Yah, meskipun X bilang bahwa kita harus berlatih. Tapi aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Jadi seharian ini aku hanya berbaring di kasur sambil sesekali bermain daggerku. Sky juga tidak keluar kamar sama sekali, aku tidak tau apa yang dia lakukan. Mungkin fokus pada penelitian racunnya?


Valeria juga diam saja beberapa hari ini, biasanya dia akan langsung mengacau begitu masuk ke dalam asrama kami. Venom juga sepertinya sibuk dengan sesuatu, aku tidak bisa merepotkannya lagi.


Tok tok tok!


"Seas! Apa kau di dalam?" Suara Sky terdengar dari luar kamarku. Aku langsung bangun dari tempat tidur dan berjalan cepat ke arah pintu.


Cklak!


"Ada apa?!" tanyaku dengan antusias. Sementara Sky malah datang dengan wajah serius. Dia masih memakai baju khas laboratorium dan bahkan memakai kacamatanya juga. Aku menatap ke arah tangan kanannya yang membawa beberapa sampel darah serta larutan kimia.


"A-apa itu?" tanyaku lagi dengan ekspresi ketakutan.


"Kau ingat bahwa aku membawa beberapa sampel darah dari anak-anak kanibal waktu itu?" ucap Sky dengan ekspresi polosnya. Aku terdiam sejenak, mengingat-ingat kejadian mana yang dia maksud.


Oh ... apa ini tentang desa yang seluruh penduduknya dimakan oleh anak kecil kanibal?


#bab 26,28,29.


Jadi Sky membawa sampel darah mereka? Untuk diteliti?


"Jadi, apa yang kau temukan?" tanyaku lagi.


"Ikutlah ke kamarku, ada yang mau aku tunjukkan ... dan sebenarnya, aku juga bingung ... apakah aku harus melaporkan hal ini atau tidak," ucap Sky dengan nada yang pelan di akhir kalimat. Aku mengekori Sky dari belakang, sambil mengamati jubah putih Sky yang memanjang hingga ke kaki.


"Nah, kita sudah sampai! Selamat datang di kamarku!" ucap Sky lalu dia membuka pintu.


Cklek.


Begitu pintu terbuka, aura dingin serta bau obat kimia menyeruak masuk ke hidungku. Entah bau apa saja ini, tapi baunya sangat kuat dan menyengat. Sky terlihat terkejut lalu segera menghalangiku untuk masuk.


"Tunggu! Aku akan memcarikanmu masker dan kacamata!" ucapnya dengan panik lalu segera menutup pintu.

__ADS_1


Brak!


Cklek!


"Nih! Pakai!" Sky langsung keluar lagi dengan masker dan kacamata khas laboratorium yang mirip dengan yang dipakainya. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya yang seperti ini, tapi aku segera mengambil masker dan kacamata itu lalu memakainya.


Setelah kupakai semua, aku berjalan masuk ke dalam kamar Sky.


Cklek.


Pintu kamar Sky tertutup. Aku disuguhkan dengan pemandangan yang menurutku sangat keren. Mungkin karena aku tidak pernah masuk ke laboratorium sebelumnya.


Aku hanya pernah masuk ke dalam gudang yang berisi emas dan berlian.


"Wah ... tak kusangka kau menaruh semua alatmu di sini. Padahal luas kamar ini tidak jauh beda dengan kamarku, tapi kau mengatur semuanya dengan sangat baik!" ucapku kagum sambil mengamati sebuah larutan kimia yang sedang dipanaskan di atas api kecil oleh Sky.


"Biasa saja, ngomong-ngomong ... itu adalah hal yang mau aku tunjukkan padamu, coba lihat ke dalam mikroskop," ucap Sky sambil melirik ke arah mikroskop di samping kiriku. Aku mengangguk dan mulai melihat ke dalam mikroskop tersebut.


"WOAH!" teriakku saat melihatnya.


"Tidak, hehehe. Apa maksudnya ini?" tanyaku sambil menjauhkan wajahku dari mikroskop. Sky menghela nafas kecil lalu berjalan mendekat ke arahku.


"Kau pasti sadar bahwa anak-anak yang waktu itu kita lawan, memiliki kekuatan dan kecepatan yang tidak wajar sebagai manusia. Karena itu aku mencoba meneliti dan membongkar hingga ke susunan DNA mereka.


Tapi ... justru yang membuatku lebih terkejut. Perubahan DNA mereka sudah mencapai tahap genotipe, dan bukan fenotipe tapi," ucap Sky dengan ekspresi serius.


"Maaf Sky. Aku tau kau sudah menjelaskan dengan keren.


Tapi aku benar-benar tidak paham dengan bahasa yang kau gunakan!" ucapku dengan pasrah.


"Hmm, bagaimana ya menjelaskannya. Sebenarnya, ada dua pengertian tentang genotipe dan fenotipe semenjak aku masuk ke Underworld School.


Kalau sesuai dengan contoh pada kehidupan nyata, genotipe adalah gen bawaan dari orangtua, ini mencakup tampilan luar mereka. Sementara fenotipe, adalah ciri fisik yang terbentuk dari gabungan genotipe dan faktor lingkungannya.


Dan yang kumaksud itu, sel mereka sudah bermutasi bahkan sejak mereka belum dilahirkan. Artinya, ada yang melakukan percobaan pada orangtua atau bahkan kakek nenek mereka. Ini adalah tipe mutasi gen yang lambat dan butuh waktu beberapa generasi," jelas Sky dengan rinci. Aku mengangguk karena sedikit paham dengan yang Sky maksud.


"Jadi maksudnya, anak-anak itu adalah hasil mutasi gen dari percobaan yang dilakukan pada pendahulu mereka?" tanyaku secara ringkas.

__ADS_1


"Tepat sekali." Sky mengangguk yakin. Aku dan Sky saling diam, kami hanya bertatapan dan saling berpikir.


"TUNGGU- JADI ADA ORANG YANG MELAKUKAN PERCOBAAN LEBIH DULU?!" teriakku saat sadar dengan keadaan yang aneh ini. Sky mengangguk lagi.


Sial, berarti orang ini sudah melakukan eksperimen pada manusia lebih dulu beberapa tahun. Tidak, mungkin sudah sekitar 100 tahun lalu! Dan mutasi gen itu dimulai saat ini! Karena ini adalah tipe mutasi gen yang lambat, kita tidak tau efeknya kecuali saat dia sudah menjadi berbahaya!


"Bukankah kita harus melaporkan ini pada pihak sekolah?" tanyaku sambil menutup wajah dengan telapak tangan. Sky terlihat gugup, dia menautkan jari-jarinya dengan kaku.


"Temani aku ya? Aku takut berhadapan dengan Rex," ucap Sky dengan nada yang pelan. Aku jadi ingin tertawa sekarang. Itu memang tidak perlu diragukan lagi, kesan awal aku bertemu Rex juga sangat menakutkan.


Bagaimana tidak? Baru mau daftar sekolah saja dia memberiku tes dengan menyuruhku minum racun. Siapa yang tidak trauma?


"Baiklah! Aku akan menemanimu! Apakah kita tidak mengajak Valeria?" tanyaku di akhir kalimat. Sky tampak berpikir beberapa kali. Padahal kupikir mereka sudah akrab, kenapa Sky masih ragu-ragu begini?


"Kita ajak saja dia, aku tidak terbiasa dengan Valeria yang jadi pendiam," ucap Sky yang akhirnya setuju. Aku mengangguk pelan lalu segera berjalan ke arah pintu.


"Aku akan ganti baju dulu, masker dan kacamatanya akan kutaruh di depan pintu ya?" ucapku sambil melambaikan tangan pada Sky. Dia mengangguk sambil tersenyum lembut.


Cklek.


Nah! Waktunya ganti baju! Aku tidak sabar ke asrama Valeria!


***


"Terimakasih atas tumpangannya pak!" ucapku sambil membungkukkan badan pada pria dengan topeng burung gagak. Pria itu terlihat senang meskipun dia tidak membuka topengnya.


Tin tin!


"Hati-hati di jalan!" ucapku dan Sky secara bersamaan. Yah, kami baru tau bahwa lokasi Valeria sangat jauh dari asrama kami. Daripada lelah berjalan, lebih baik kami minta tumpangan. Dan beruntung ada seorang pembunuh yang sedang berangkat untuk misinya.


Kami kemudian mencoba berbicara dengannya dan minta tumpangan. Untung saja dia mau. Dan bahkan dia termasuk ramah pada kami. Setelah kami turun dari mobil, kami berhenti di depan sebuah gedung yang cukup tinggi dan suram. Bahkan ini lebih buruk dari asrama kami.


..."Apakah ini benar asrama Valeria tinggal?" ...


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!

__ADS_1


__ADS_2