
..."Yang kuatlah yang bertahan hidup."...
Aku terdiam, atmosfer di ruangan ini terasa sangat menekan. Keringat dingin mulai membasahi tubuhku.
"Dia akan hidup."
Suara Venom menyadarkanku. Aku menoleh ke arahnya, dan dia tersenyum padaku.
"Dia akan hidup, karena aku yang akan melindunginya," ucapnya tenang. Rex tertawa dengan keras.
"Baiklah-baiklah. Nah Venom keluarlah dulu." Rex menjentikkan jarinya, lalu beberapa orang datang dengan membawa teh.
"Kau tidak akan melakukan apapun padanya kan?" tanya Venom sambil menatap tajam ke arah Rex. Rex menggelengkan kepalanya, setelah itu Venom keluar dari ruangan.
Saat Venom menutup pintu, barulah aku merasakan tekanan yang menusuk di seluruh kulitku. Rex masih menatapku dengan senyuman di bibirnya. Jujur ... aku sedikit tidak nyaman dengan itu.
"Aku baru pertama kali melihat Venom seperti itu," ucap Rex.
Aku masih menatapnya dan duduk diam dengan tenang. Rex menuangkan teh itu dalam tiga gelas yang berbeda.
"Karena itu, aku tidak ingin kau membuatnya kecewa," ucapnya dengan pelan. Aku menelan ludahku gugup.
Tiga gelas? Bukankah disini hanya ada kita berdua?
"Dan sejujurnya ... kau sedikit menarik perhatianku," ucapnya lalu menyeringai. Seluruh tubuhku merinding saat itu. Dia tidak bergerak dari tempatnya, tapi auranya begitu menekan sampai aku tidak ingin bergerak sedikitpun.
"Nah sekarang. Di depanmu ada 3 gelas. Dua diantaranya beracun, pilihlah satu. Kalau kau berhasil, artinya kau bisa menjadi murid di sekolah ini," jelas Rex.
Aku mengambil satu gelas yang berada tepat di depanku. Dan mulai mencium aromanya. Lalu mengambil sisanya dan mencium aromanya.
...[Tidak ada perbedaannya!]...
Aku berpikir keras. Ketiganya memiliki aroma yang sama. Lantas apa yang membedakannya?
Aku terdiam beberapa menit, sambil mengamati ketiga gelas berisi teh itu.
"Apa kau menyerah?" Rex menopang dagunya dan menatapku. Aku menggelengkan kepalaku.
Kalau aku ingin membunuh seseorang dengan menaruh racun di minumannya. Apa yang akan kulakukan? Menaruh racun di dalam teh? Kalau aku melakukan itu maka semua orang yang meminumnya akan ikut mati.
__ADS_1
Menaruh racun di dasar gelas? Tapi itu pasti akan mengubah aromanya dan harusnya aku tau bahwa itu beracun.
...[Di pegangan gelas?]...
Tidak. Kalau ada racun di pegangan gelas, pasti racun itu akan bereaksi ketika terkena kulit. Dan aku sudah menyentuh ketiga gelas itu, tapi aku masih hidup.
...[Jadi dimana?]...
"Ayolah nak, aku mulai mengantuk ... kalau kau menyerah juga tak apa, aku akan memberimu tes yang lebih mudah." Rex mengedipkan matanya padaku. Aku tersenyum kikuk, tapi... Aku masih belum ingin menyerah.
Brak!
Aku terkejut saat Venom tiba-tiba membuka pintu.
Ekspresi Venom terlihat menyeramkan, apa dia marah?
"Sudah kuduga! Aku penasaran kenapa kau menyuruhku keluar sangat lama! Rex! Hentikan tes sialan ini!" Venom berjalan cepat ke arah Rex lalu mencengkram kerahnya.
"Whoa whoa whoa! Tenanglah cantik! Lagipula, kau masih belum menyerah, kan?" Rex melirik ke arahku.
"Ya." Aku tersenyum pada Rex. Aku mengambil salah satu gelas itu lalu meminumnya.
"Cepat muntahkan!" Venom menggoyangkan bahuku. Aku diam selama beberapa menit. Setelah itu aku berdiri dan menatap ke arah Rex.
"Aku berhasil Rex. Aku tidak mati," ucapku dengan bangga padanya. Rex tertawa kecil lalu memungut gelas yang pecah di lantai.
"Sejak kapan kau menyadarinya? Padahal tadi kau masih kebingungan," ucap Rex lalu berjalan ke arahku.
"Aku berpikir, saat ingin membunuh dengan racun pada saat ada banyak orang. Dimana tempat paling efektif aku menaruh racunnya," ucapku sambil mengambil gelas yang masih utuh.
"Daripada menaruhnya di dasar gelas atau di pegangan. Akan lebih meyakinkan kalau aku menaruh racun di tepi gelasnya," ucapku yakin
Rex tertawa keras. "Kau benar-benar pintar, tapi apa yang membuatmu sadar bahwa gelas yang kau minum itu aman?" tanya Rex lagi.
"Saat aku mencium satu persatu aroma tehnya, aku juga memerhatikan detail dari gelasnya. Dan aku sadar... Hanya gelas itu yang memiliki tepi berwarna biru, sedangkan lainnya berwarna ungu. Yah meskipun itu adalah taruhan apakah tebakanku benar atau salah," jawabku dengan tenang lalu menaruh kembali gelas teh yang masih utuh.
Rex tersenyum dengan bangga ke arahku. Rex menjentikkan jarinya, beberapa orang datang dan memberikan Rex sebuah kertas.
"Seas Veldaveol, mulai sekarang kau adalah murid dari Underworld School! Aku akan menjelaskan beberapa hal yang perlu kau ketahui, sebaiknya kau pasang telingamu karena aku tidak akan mengulangi hal yang sama!" Rex mulai menulis sesuatu di kertasnya.
__ADS_1
"Seperti yang kau tau, ini adalah sekolah untuk para pembunuh. Banyak pembunuh hebat yang dilahirkan dari sini. Salah satunya adalah kakakmu." Kalimat terakhir Rex membuatku tersentak.
Aku tidak tau bahwa kakakku adalah ... oh benar, kakakku adalah seorang pembunuh.
"Ada lima kelas di sekolah ini, tiga kelas untuk pemula, dan dua kelas untuk profesional. Kelas pemula disebut juga dengan kelas pembunuh, kelas profesional disebut dengan kelas code name dan spy," jelas Rex sambil menunjukkan gambar dari monitor yang ada di belakangnya.
"Venom yang ada di sampingmu, dia berasal dari kelas code name ,"ucap Rex. Aku menoleh kearah Venom. Aku menatapnya dengan tatapan kagum. Aku tidak menyangka dia adalah salah satu pembunuh profesional.
Tunggu ... apakah hal ini pantas untuk dikagumi?... Sepertinya otakku mulai salah dalam membedakan mana yang benar dan salah...
"Nah untuk kelas pembunuh dibagi menjadi tiga jurusan.
Kelas pembunuh: pertarungan jarak dekat.
Mereka dilatih untuk melakukan pertarungan fisik, baik dengan senjata maupun tanpa senjata. Senjata yang mereka gunakan untuk latihan biasanya adalah belati pendek dan sebuah knuckle.
Kelas pembunuh: pertarungan senjata api.
Seperti namanya, kelas ini lebih mengutamakan senjata api dalam seni bela dirinya. Mereka akan dilatih untuk menajamkan insting dan Indra mereka. Dan juga diajarkan melakukan pertahan dengan senjata api itu. Senjata umum yang dipakai adalah pistol dan stun gun.
Kelas pembunuh: ahli obat dan racun.
Di kelas ini kalian lebih dilatih untuk meracik racun dan obat-obatan. Meskipun ini terlihat remeh, tapi banyak juga anak yang lulus dari kelas ini dan menjadi pembunuh tingkat atas. Salah satunya adalah Venom.
Lalu untuk kelas profesional.
Kelas code name: senjata khusus.
Kelas ini menggunakan sebutan untuk menutupi nama asli mereka. Daripada angka dan huruf, mereka menggunakan nama panggilan yang menggambarkan ciri khas mereka. Seperti Venom. Dan tentu saja, mereka yang berada di sini tidak hanya menguasai satu bidang, dan sudah melebihi standar masuk agar bisa masuk ke kelas ini.
Kelas spy: ahli strategi dan pengumpulan informasi.
Yah kelas ini tidak jauh berbeda dengan kelas sebelumnya. Tapi kelas ini hanya menggunakan satu huruf atau satu angka untuk panggilan mereka. Sesuai namanya, mereka yang masuk ke sini harus memiliki kecerdasan yang tinggi dan kemampuan menyusup yang handal," jelas Rex panjang.
Aku mengingat semuanya di dalam kepalaku.
"Nah Seas." Rex mematikan monitornya dan menatapku.
..."Kelas apa yang akan kau pilih?"...
__ADS_1
TBC.