Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Penyimpangan


__ADS_3

POV: Seas


Pria itu masih menatapku dengan lekat. Aku menelan ludahku dengan susah, aku menatap matanya dengan takut. Hingga aku sadar.


Salah satu matanya buta.


"Dengarkan perkataanku." Pria itu menjauh dariku dan menatap kami semua bergantian.


"Kalian yang berada di sini, pasti memiliki sebuah tujuan, atau bahkan ambisi. Kedepannya, akan semakin banyak darah yang kalian lihat! Sebuah nyawa akan menjadi oksigen yang kalian hirup!" ucapnya dengan lantang.


Dia tidak salah, tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku masih takut dengan kata 'membunuh'.


"Kalian marah pada kertas emas karena teman kalian terbunuh? Kalau begitu kenapa kalian tidak menyadarinya lebih awal?" Semua mata kini menatapku.


"Karena kalian semua lemah! Kalian hanya panik dan tidak berusaha mencari tau!" Dia berteriak sangat keras. Mereka semua menundukkan kepalanya.


"Alasanku masih menggunakan cara ini, agar kalian tau bagaimana rasanya nyawa kalian di ujung tanduk! Dalam sekolah ini, semua yamg kalian lakukan itu menggunakan nyawa sebagai jaminannya!" Pria itu menunjukkan mata kirinya yang buta. Seluruh siswa terdiam, tidak ada yang berani membuka suara.


"Pelajaran hari ini telah selesai! Kembalilah! Dan ingatlah betapa lemahnya kalian!" Pria itu kemudian meninggalkan kami. Dia melompat begitu saja dan menghilang di balik bayangan malam.


Aku menatap kertas emas di tanganku lalu membuangnya. Tanganku masih bergetar, kakiku terasa tidak bertenaga.


"Hei ... ."


Aku menoleh ke samping kananku. Mereka semua bergerumbul, menatapku dengan ... tatapan bersalah?


"Terimakasih! Kalau bukan karenamu ... pasti kami juga menjadi abu." Mereka semua membungkukkan badannya. Aku tertegun, tidak tau apa yang harus kukatakan pada mereka.


"Um ... yah! Tidak apa-apa! Aku juga minta maaf ...," ucapku ragu-ragu. Mereka semua menggelengkan kepala.


"Mereka mati itu bukan salahmu, tapi kami semua hidup berkatmu!" ucap seorang perempuan dengan rambut sebahu berwarna biru laut.


Perkataan perempuan itu membuat hatiku menjadi lebih tenang. Mereka semua kemudian berpamitan dan pergi lebih dulu. Aku masih diam, sambil memerhatikan gudang yang sudah berubah menjadi abu.


"Benar juga, bukankah aku ke sini untuk membunuh kakakku?" gumamku. Aku berjongkok dan menyentuh abu di tanah.

__ADS_1


"Tapi aku hanya berniat membunuh kakakku! Aku ... tidak berniat membunuh mereka ... ." Aku meremas abu di tanganku. Air mataku hampir menetes.


"Ho? Kau si kertas emas bukas? Kenapa kau masih ada di sini?" Pria itu kembali, tapi dengan pakaian yang lebih santai. Aku tidak berniat menjawab pertanyaannya.


Pria itu berjongkok di sampingku, ikut menyentuh abu yang ada di tanganku.


"Mereka yang datang ke sini, pasti memiliki tujuan. Entah itu menjadi kuat, mewujudkan ambisi, membangun pondasi, atau membalaskan dendam." Dia membersihkan abu yang ada di tanganku.


"Kau juga begitu kan?" tanyanya sambil tersenyum padaku. Aku mengangguk dengan kikuk.


"Dulu ... aku mirip denganmu ... ." Pria itu mulai bercerita. Aku enggan mendengar ceritanya, tapi aku tidak ingin dibunuh karena tiba-tiba pergi saat dia bercerita. Sial!


"Aku juga anak yang memiliki pedoman, aku hanya akan membunuh orang yang ingin aku bunuh. Mirip sepertimu," ucapnya dengan nada yang sedih, tapi juga seperti meremehkan dirinya sendiri.


"Dulu aku berpikiran naif seperti itu. Hingga ... aku menjalan sebuah misi bersama rekanku." Dia berdiri lalu menyibak udara kosong.


Angin berhembus dengan kencang, menerbangkan semua abu di tanah ini. Bahkan kayu-kayu yang hangus juga ikut terbawa angin.


Aku membulatkan mataku saat melihat sesuatu dari balik reruntuhan kayu.


Sebuah makam ... tidak, ada banyak makam di sini.


"Biasanya, yang bertugas membunuh adalah rekanku. Tapi saat itu, dia sedang dalam keadaan yang terpojok, dan akulah satu-satunya yang bisa membunuh menteri itu." Tatapan matanya menjadi sayu, terlihat penyesalan di dalamnya.


"Karena prinsip naifku itu, aku ragu untuk membunuhnya. Dan karena itu, rekanku mati," sambungnya. Aku terdiam, angin berhembus pelan menggoyangkan rambut perak putih miliknya.


"Aku tidak menyangka menteri itu membawa senjata kimia ... tidak, seandainya aku tidak ragu, maka rekanku tidak akan terbunuh karena melindungiku." Dia tersenyum sambil menatap langit yang mendung.


"Karena itu, kau tidak membunuh mereka, tapi teman mereka yang terlalu lemah karena tidak bisa melindungi rekan mereka. Dan malah menyalahkanmu, itu adalah tindakan terbodoh yang pernah kulihat ... dan pernah kulakukan." Senyumnya menghilang. Matanya menatap lurus ke depan.


"Mereka tidak menyalahkanku ... mereka datang dan berterimakasih padaku ... meski aku tidak paham, kenapa terimakasih mereka terasa sangat menyakitkan bagiku." Aku membuka suara. Air mataku jatuh bersamaan dengan kata terakhirku. Pria itu menepuk pucuk kepalaku dengan lembut.


"Aku tidak akan mengatakan prinsipmu itu salah ... tapi, daripada prinsip membunuh orang yang ingin aku bunuh. Bukankah lebih baik membunuh orang yang pantas dibunuh?" Pria itu mengusap kepalaku lembut, dan aku masih terisak sambil mengusap air mataku.


Duak!

__ADS_1


Aku terkejut dan segera menoleh ke arahnya. Pria itu menunjukkan posisi bertahan dengan kedua tangan berada di depan kepalanya.


"Hah? Venom?" Aku terkejut karena Venom tiba-tiba menendang pria itu.


"Apa yang kau lakukan C? Kenapa kau membuatnya menangis?" Venom terlihat sangat marah, dia mengeluarkan senjatanya.


Senjatanya ... sebilah kipas?


Kipas itu terlihat berkilau dengan warna hijau dengan gambar ular dan bunga di tengahnya.


"Whoa whoa! Tenanglah. Aku tidak melakukan apapun padanya, hanya sedikit berbagi cerita. Benarkan nak?" Dia menurunkan tangannya dan menatapku sambil tersenyum. Aku menatap Venom lalu mengangguk.


Venom melipat kipasnya dan memasukkannya kembali.


"Baiklah aku pergi dulu! Aku tidak ingin menganggu masa muda kalian hahahaha!" Dia menghilang dengan melompat lagi ... tunggu dia tadi juga menciptakan angin dengan kibasan tangan?!


Memangnya dia manusia super?!


"Apakah C menganggumu?" Venom memegang pundakku, membuatku menatap matanya.


"Oh jadi namanya C?" tanyaku saat baru sadar bahwa namanya adalah C.


"Itu bukan namanya, hanya kode miliknya." Venom menjawab pertanyaannya dengan cepat.


"Dia tidak mengangguku, meskipun ada beberapa hal yang membuatku tidak nyaman ...," jawabku sambil tersenyum canggung. Venom melotot setelah mendengar bagian akhir dari kalimatku.


"Hah? Aku akan membuat kedua matanya buta!" Venom hendak pergi menyusul C tapi aku menahannya.


"Kau ingin menyusulnya?! Kau gila?! Dia punya kekuatan super! Entah apapun itu! Lebih baik tidak berurusan dengannya!" Aku panik karena Venom sepertinya benar-benar akan bertarung dengannya.


"Hah? Apa maksudmu?" tanya Venom.


"Di-dia bisa menghasilkan angin kencang hanya dengan mengibaskan tangannya! Bukankah itu sangat mengerikan? Bayangkan jika dia serius memukul! Kita akan terbang sampai negeri sebelah!" ucapku tergesa-gesa. Venom menatapku dengan bingung.


"Secara peringkat, aku lebih kuat darinya. Dan jika yang kau maksud kekuatan super ... itu bukan kekuatan super ... entahlah ... besok dia akan menjelaskannya padamu, sekarang ayo pulang!" Venom menarik tanganku dan membawaku ke mobilnya. Sebenarnya aku senang karena Venom mau mengantarku.

__ADS_1


Oh ... tapi aku akan kembali ke asrama ... asrama sialan! Arghhh!


TBC.


__ADS_2