
..."Waktunya pesta~."...
POV: Author
DUARR!
Peluru Valeria melayang bebas langsung ke arah pria bertudung yang hendak membidik. Ledakan dari peluru bazoka itu membuat pria tadi terpelanting menjauh, tapi tetap bisa mendarat dengan aman. Valeria tetap fokus dengan seorang pria bertudung lainnya yang terlihat diam.
Dari kedua temannya yang sudah mengeluarkan senjata, Valeria menduga bahwa pria di belakangnya adalah seorang pengguna obat-obatan. Valeria menjaga jaraknya dengan baik diantara kedua orang yang mengepungnya, berusaha mengimbangi agar tidak terjadi bentrokan yang merugikan.
Sementara itu di sisi lainnya, Seas masih terus menyerang tanpa ampun pada pria dengan pedang panjang.
TRANG TRANG TRANG!
Suara dentingan baja antara pedang dan dagger itu terdengar nyaring. Bahkan orang yang melihat mereka saja sampai merasa sesak karena pertarungan tanpa celah ini.
TRANGKKKKK!
DUAGH!
Pertarungan panjang ini diakhiri dengan tendangan pria berperang pada lutut Seas, hal ini terpaksa membuat Seas mundur beberapa langkah kebelakang untuk menghindari cedera pada sendinya.
"Kemampuanmu tidak buruk sebagai murid tahun pertama," ucap pria dengan pedang di tangannya. Seas mengeratkan pegangannya sambil menatap pria itu heran. Berbagai pemikiran muncul di otaknya, menduga apa yang sebenarnya terjadi.
Dia bilang ... apa? Bukankah harusnya dia juga murid tahun pertama? Tapi kenapa dia berkata seperti itu? ... TUNGGU! JANGAN-JANGAN ... DIA ADALAH AGEN TINGKAT ATAS?!-,batin Seas.
"Tapi sayangnya, di ujian kali ini kau harus gagal. Keponakanku harus lolos ujian agar dia mendapat jaminan kesuksesan sebagai seorang pembunuh," ucap pria itu dengan nada suara yang dingin. Dia memutar lengannya perlahan, membentuk sebuah lingkaran dengan ujung pedang lancipnya di udara.
Detik itu juga, Seas bisa merasakan sesuatu yang berbeda.
Perasaan yang berbahaya.
Seas tahu bahwa dia harus berlari saat itu, instingnya yang mengatakan bahwa dia harus pergi. Tapi saat dia membalikkan badannya, matanya terpaku pada Valeria yang berusaha bertahan melawan dua orang sendirian.
Sebuah konflik batin muncul di dalam diri Seas. Lari atau pergi? Bertahan hidup seorang diri atau melindungi dan mati? Seorang agen tingkat atas di depannya ini, tidak mungkin mengalah dengan mengeluarkan sedikit kekuatannya. Dia punya tujuan yang jelas untuk membunuh Seas dan rekan-rekannya, tidak ada alasan bahwa agen itu harus mengurangi kekuatan.
__ADS_1
Bagaimana ... ini? Aku ... harus apa? Aku takut. Sorot matanya sama seperti sorot mata kakakku. Jika aku pergi, bagaimana Valeria? Bagaimana dengan Sky yang masih bergulat dengan obat-obatan? Aku ... harus bagaimana?-,batin Seas.
Di tengah kebimbangan itu, senjata Seas bergetar. Layaknya seorang budak yang memanggil tuannya, senjata itu mulai berbicara di dalam kepala Seas.
[Benar. Teruslah lari dan bertahan hidup. Seperti kecoa.]
DEG!
DEG!
DEG!
Jantung Seas berpacu dengan cepat, layaknya dinaiki oleh seorang penunggang kuda. Seas tahu dengan jelas dialog milik siapa ini.
Itu adalah kakaknya, perkataan kakaknya yang pertama kali membuat Seas tidak berdaya dan ingin mati saja.
"Ha ... HAHAHAHAHAHAHAHAHA! KAU BENAR! KAU SELALU BENAR! KENAPA AKU HARUS LARI?" Seas tertawa kencang bahkan berteriak di tengah tegangnya adrenalin ini. Mata ungu Seas perlahan menyala, warna putih tulangnya kini digantikan dengan merah kehitaman.
"Seas?" Valeria menatap penuh rasa takut kepada Seas. Dia juga masih ingat kapan pertama kali Seas seperti ini. Yaitu saat berhadapan dengan Siol, di negeri bersalju. Seas menunjukkan gejala yang sama, dia memberi perasaan tertekan pada orang lain di sekitarnya.
"Paman~ mau kuberitau sesuatu? Di jalan seorang pembunuh, tidak ada kata sukses ataupun gagal. Yang ada hanya satu, kau kuat mental atau tidak?" tanya Seas dengan mulut yang terus mengeluarkan darah. Pria dengan pedang itu mulai merinding, perasaan tertekan yang dia rasakan dari Seas mulai menjalar ke saraf kulitnya.
"Ti-tidak! SEAS! JANGAN HILANG KENDALI! SEAS!" teriak Valeria yang tidak terdengar lagi oleh Seas. Valeria berusaha untuk berlari ke arah Seas, tapi dua orang pria tadi malah menghalanginya. Hal ini membuat Valeria naik pitam, kedua pria ini tidak sadar seberapa berbahayanya Seas sekarang.
"Bisakah kalian minggir sebelum leher kalian putus?" tanya Valeria dengan penekanan di setiap kata-katanya. Tapi kedua pria di depannya malah hanya tertawa dan tersenyum meremehkan, mereka berdua segera membuka tudung, memperlihatkan dua orang pria dengan rambut pirang dan putih.
"Memangnya apa yang bisa dia lakukan? Dia masih seroang siswa biasa, tidak mungkin dia bisa menang melawan agen tingkat atas seperti kami," ucap pria dengan rambut pirang. Dia menyentuh rambut Valeria dengan lembut, sambil menuangkan sebotol cairan berwarna biru kristal ke tubuh Valeria.
"Lebih baik kau diam, katanya mati membeku itu hal yang paling menyakitkan loh?" Pria itu tersenyum hingga menampilan deretan giginya. Tubuh Valeria perlahan tertutup oleh es, sedikit demi sedikit, es itu menjalar mulai dari kaki hingga ke ujung leher Valeria.
"Hah ... kalian benar-benar tidak bisa diselamatkan, selamat tinggal. Semoga di kehidupan kalian yang selanjutnya, kalian jadi kecoa saja." Valeria menutup mata dan mulutnya saat es itu mulai menutup wajahnya. Kini seluruh tubuh Valeria sudah tertutupi oleh gumpalan es yang tebal dan berkilau layaknya kristal.
"Teknik pedang bulan: nomor 1, bulan sabit yang terang." Pria dengan pedang itu mengayunkan pedangnya secara menyilang. Bagai goresan halus yang dituangkan di atas kanvas, garis pedangnya menghasilkan cahaya kuning keemasan yang menerjang ke arah Seas.
Kretek kretek.
__ADS_1
Seas memiringkan lehernya ke kiri dan kanan, melihat teknik pria itu seolah hidangan yang lezat.
[Teknik bayangan: Nomor 1, garis lurus.]
Seas memotong secara vertikal dengan dagger di tangan kanannya, bagaikan bereaksi dengan kutukan Seas, dagger itu berubah menjadi hitam pekat dari yang awalnya silver terang.
TRANG!
ZRASHHHH!
Teknik milik pria itu dipotong jadi dua oleh teknik Seas. Angin berhembus kencang menerjang tubuh Seas hingga kebelakang. Bekas dari potongan teknik tadi, membuat goresan di tanah layaknya kuku dari dewa.
Seas segera bangun, meskipun wajahnya sudah tertempel kerikil dan tanah, dia tetap berjalan dengan tegap sambil tersenyum.
Cring.
Seas menaikkan kedua dagger sejajar dengan dada, mata ungu hitamnya menatap si mangsa buruan di depannya.
[Teknik bayangan: nomor 5, bayangan pohon.]
WUSH!
Detik selanjutnya, Seas sudah berada di belakang pria berpedang, Seas melompat dengan posisi kedua kaki yang terlempar di udara, sementara tangan kirinya bersiap untuk memotong leher si pria dengan dagger.
Cring.
TRANG!
Mata Seas langsung tertuju ke arah pria yang menembakkan anak panah dengan pelontar ke arah daggernya. Sudut bibir Seas terangkat lebar, dia menggigit bibir bawahnya seolah menahan nafsunya.
..."Kelincinya ada 3?"...
TBC.
Jangan lupa like dan komennya ya guys!
__ADS_1