
POV: Seas
Aku tidak ingat berapa hari yang telah berlalu, tapi sepertinya ... ujian tahap pertama akan selesai malam ini jam 12. Dan beruntung lukaku juga sudah sembuh, sepertinya Sky tidak tidur beberapa hari untuk membuat obat semanjur ini.
Brak!
"Seas! Apa kau sibuk?!" Valeria membuka pintu kamarku dengan tiba-tiba. Aku terdiam sejenak karena terkejut, lalu segera menggelengkan kepalaku.
"Tidak ... ada apa memangnya?" tanyaku sambil menatap Valeria.
Kami sudah pergi dari gedung tempat kami dirawat. Sky meyakinkan Venom dan Bloom bahwa dia akan menyembuhkan kami dengan usahanya sendiri. Dan ajaibnya, Sky benar-benar melakukan apa yang dia janjikan.
Sekarang kami tinggal di asrama Valeria. Sama halnya seperti asrama kami, asrama Valeria ini hanya ditinggali oleh kami bertiga. Valeria berkata, siswa lainnya sudah mati dan ada yang pulang ke rumah karena cacat.
"Sky memintaku untuk membawamu ke laboratorium penelitian. Mata kananmu masih belum sembuh total bukan?" ucapnya sambil berjalan mendekatiku. Aku mengangguk dan segera turun dari kasur.
"Baiklah! Ayo!" Aku segera menarik pergelangan tangan Valeria dan membawanya berlari keluar dari kamar.
"Tu-tunggu! Bagaimana dengan suratnya?!" tanya Valeria sambil menengok ke belakang, ke arah kamarku.
"Ada di tempat yang paling aman. Karena hari ini, pasti akan jadi hari yang panjang!" ucapku semangat sambil terus berlari dengan Valeria. Aku dan Valeria berlari terus hingga ke kamar tempat laboratorium Sky.
Tok tok tok!
Brak!
"SKY! APA KABARMU!" sapaku sambil membuka pintu dengan paksa. Sky yang masih sibuk membuat beberapa larutan, langsung tumpah karena terkejut oleh suaraku.
"Kalau kau mau mendobrak pintunya, lalu buat apa kau mengetuk tadi?!" geram Sky sambil menginjak larutan yang menyala api di lantai. Itu adalah larutan yang tadi tumpah, siapa sangka bahwa larutannya akan langsung terbakar.
"Bukankah itu termasuk sopan santun?" tanyaku sambil berjalan ke arah kursi di samping Sky.
"Mengetuk pintu sebelum masuk itu memang sopan santun. Tapi aku tidak pernah mendengar mendobrak setelah mengetuk pintu adalah sopan santun!" ucap Sky sambil cemberut. Aku hanya tertawa kecil melihat Sky yang geram padaku. Setelah mengamatiku cukup lama, dia segera berbalik dan mengambil sebuah senter dari laci mejanya.
"Biar aku lihat kondisi matamu," ucap Sky sambil mendekatkan senternya ke mataku.
"Hm ... sudah tidak terlalu buruk. Bagian mata yang rusak juga sudah mulai sembuh. Ah ... ini sudah dibilang sembuh sih, asal jangan sampai terluka lagi," ucap Sky sambil menjauhkan senternya dari mataku. Aku bersenandung senang sambil melihat Sky yang kembali fokus ke penelitiannya.
"Kali ini, apa lagi yang akan kau buat?" tanyaku antusias.
"Larutan cloning," jawab Sky tanpa menoleh ke arahku. Aku hanya diam sambil melihat Sky yang fokus.
__ADS_1
Cloning ya? Kalau tidak salah ... itu adalah penggandaan? Tapi sangat sulit membuat cloning yang sama persis dengan benda aslinya, apakah Sky sudah menemukan suatu rumus aneh lagi?
Oh ... dan ngomong-ngomong, kenapa Valeria sangat diam?
Aku melirik ke arah Valeria.
"... Pantas saja dia diam, ternyata dia tertidur." Valeria terlihat tidur nyenyak di atas lantai, bahkan tanpa bantal ataupun selimut.
"Biarkan saja. Oh! Ngomong-ngomong, apa kau tau nama senjata Valeria?" tanya Sky sambil tetap fokus.
"Aku tau, namanya Belmere. Hahaha! Dia memberikan nama yang cantik untuk senjatanya!" ucapku sambil tertawa kecil. Aku menatap ke arah Valeria sekali lagi, memperhatikan rambut coklat merahnya yang tampak berkilau terkena pantulan cahaya penelitian Sky.
Senjata ya ... hari itu, aku berbincang cukup lama dengan Lumius. Ternyata dia tidak selalu bisa berkomunikasi denganku, hanya ada syarat tertentu yang membuatnya bisa berbicara padaku.
Katanya, saat aku hampir mati ... dan saat aku berhadapan dengan guncangan mental yang luar biasa.
Oh, dan ada lagi ... aku baru tau bahwa sikap senjata itu mirip dengan tuannya. Karena itu ... bayangan gelap yang waktu itu kasar padaku ... mungkin adalah pribadi lain di dalam diriku.
Yah, tidak apa-apa sih.
"Seas!"
"Ada apa?! Kau membuatku terkejut!" ucapku kesal karena Sky berteriak di depanku. Aku tadi memang sedang melamun sih.
"Kau tiba-tiba diam saat sedang kuajak bicara! Mana mungkin aku tidak panik!" ucap Sky sambil menjewer telingaku. Aku mengaduh kesakitan, tapi Sky terlihat tidak peduli pada keluhanku.
"Mereka datang loh, mau sampai kapan kalian santai seperti ini?".
Tiba-tiba Valeria bersuara. Aku dan Sky langsung melihat ke arahnya, dia masih duduk di lantai sambil menutup mulutnya yang menguap.
"Jumlahnya sangat banyak ... mungkin sekitar 21 orang?" ucap Valeria sambil tersenyum lebar. Aku dan Sky saling bertatapan, sepertinya prediksi Sky benar-benar tepat.
"Berarti 7 tim? Prediksimu benar-benar menakutkan Sky," ucapku sambil melihat Sky.
Mungkin sekitar 2 hari yang lalu, Sky sudah memberi peringatan kepada kami. Bahwa ada sekitar 7 tim yang akan menyerang asrama ini tepat pada hari terakhir ujian tahap 1.
Dan aku tidak menyangka bahwa akan ada 7 tim yang benar-benar datang!
"Tentu saja. Karena aku yang membuatnya seperti itu," gumam Sky sambil menatap kosong ke luar jendela.
"Hah? Apa maksudmu?" tanyaku.
__ADS_1
"Aku yang mengajak mereka bekerja sama untuk menyerang bersamaan. Dan aku juga sengaja agar membuat mereka menyerang di hari terakhir, karena ... ini adalah hari saat kau sudah sembuh," jawab Sky dengan tatapan yang dingin. Bahkan senyuman Sky terlihat menyeramkan saat ini.
Prang!
Kaca jendela pecah, sebuah granat menerobos masuk ke ruang laboratorium ini. Aku dan Valeria saling bertatapan sejenak, lalu mengangguk bersamaan.
"Sampai jumpa nanti, Sky!".
DUAR!
***
POV: Author
DUAR!
PSSH!
Granat itu meledak, membuat seluruh laboratorium Sky ikut terbakar habis bersama dengan ledakannya. Dari balik kabut asap hitam yang mengepul di ruangan itu, Sky berdiri dengan jas putihnya yang masih bersih tanpa debu.
"Halo, kalian sudah datang ya?" tanya Sky sambil menatap 6 orang yang berada di atap.
Sky mengeluarkan sebuah botol kaca yang berbentuk lingkaran, dan mulai menjatuhkannya.
PRANG!
WUSHH!
Angin berhembus kencang saat botol itu pecah, anginnya menerbangkan seluruh asap dan memadamkan api yang masih berkobar. Jubah putih Sky terlihat berkibar seirama dengan hembusan angin yang kuat itu.
"Kau hanya sendirian? Dimana rekanmu?" tanya salah satu pria berambut pirang dengan baju crop top berwarna hitam. Sky mengangkat bahunya sambil menutup mata.
"Sepertinya kau sudah pasrah ya?" tanya pria lainnya yang memakai baju kebesaran hingga menutupi kedua tangannya, serta celana pendek yang berada di atas lutut.
"Entahlah ... aku tidak tau ini disebut pasrah atau sombong. Tapi aku merasa bisa menyelesaikan kalian sendirian," jawab Sky dengan senyuman yang cerah, hingga menampilkan deretan gigi depannya yang rapi.
"Ayo mulai, Hades."
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys! Komennya juga!
__ADS_1