
POV: Author
Di gang sempit itu, kedua pria tampak berdiri. Suasananya begitu mencekam dan mengerikan. Satu diantara mereka tengah terduduk dengan luka yang cukup dalam, sedangkan pria lainnya tampak berdiri biasa tanpa luka yang berarti.
"... Gawat, aku tidak bisa menang melawannya," gumam Seas sambil menekan perutnya yang masih mengeluarkan darah. Secara naluri, Seas tau bahwa dia tidak bisa menang melawan sosok yang bernama Razeks ini.
Bahkan dari tadi, Razeks juga belum menggunakan seninya sama sekali.
"Ayo, apa kau sudah menyerah?" tanya Razeks, pria berambut kuning yang memiliki banyak pitak. Mata hitamnya terlihat begitu kosong dan tanpa jiwa, ekspresinya terlihat sangat menikmati kesakitan Seas.
Seas terdiam, dia menatap kedua dagger khusus miliknya, Lumius. Kalau aku menggunakan teknik 'itu' apakah ada kemungkinan aku bisa menang? Batin Seas sambil terus menimbang-nimbang.
Teknik yang dia maksud, adalah kutukan darah.
Teknik tidak terkendali yang bahkan bisa merenggut nyawanya. Tapi, jika aku menggunakan teknik itu, lalu aku pingsan. Tidak ada jaminan bahwa akan ada seseorang yang menyelamatkanku nanti.
Tapi jika aku juga terus begini ... apakah aku bisa kabur?
"Apa kau memikirkan untuk kabur? Khekekekekkeekek!" Suara Razeks menyadarkan Seas dari lamunannya. Seas menatap laki-laki itu dengan tajam dan penuh pengamatan.
Aku tidak bisa menunggu untuk belajar teknik nomor 0. Kalau begitu, aku harus melakukan yang kubisa.
Sret.
Seas berdiri, dengan langkah yang agak terhuyung, dia menegakkan daggernya, bersiap untuk bertarung. Razeks yang melihat bahwa Seas siap bertarung lagi, mulai tersenyum dan mengeluarkan jarum kaca miliknya.
"Bagus! Begini baru menarik!" serunya senang. Seas mengabaikannya. Dia menutup mata, mulai mencari cara di dalam otaknya.
Ayo, pikirkan Seas. Apa yang bisa membuatmu selamat, dan apa yang bisa membuatmu memenangkan pertarungan ini. Ayo ingat-ingat apa yang diajarkan oleh C. Materi pelajaran yang membuatmu hampir mati setiap harinya.
Seas menarik nafas panjang, lalu mulai membuka matanya. Sorot matanya berubah, kini dia terlihat lebih tenang dan lebih mengamati.
"... Pembunuh itu, tidak bertarung dari depan." Seas berucap sangat pelan, hingga Razeks sendiri tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
"Kau bilang apa?" Razeks menyipitkan matanya.
Namun hal itu adalah kesalahan pertamanya. Menyipitkan mata saat mengamati Seas, adalah hal yang bodoh. Karena detik itu, Seas tiba-tiba menghilang dari pandangannya.
Razeks yang baru tersadarkan, langsung melihat ke kiri dan kanan. Dia mencari pergerakan Seas di dalam tempat gelap ini. "Kau bayangan yang pandai berlari ke sana kemari ya?" ejek Razeks yang sayangnya tidak digubris oleh Seas.
WHUSS!
Seas muncul dari sisi kiri, dengan posisi ujung pisau dagger yang dia arahkan ke dada Razeks. Tapi seperti sebelumnya, Razeks berhasil menyadari rencana Seas tepat sepersekian detik sebelum terlambat. Jarum kacanya mulai digerakkan, menahan dagger besi milik Seas.
TRANG!
Dentingan yang singkat, namun kini terdengar lebih keras.
__ADS_1
Alasannya sederhana, Seas mulai mengurangi pergerakan yang tidak berguna, dan menambahkan kekuatan otot di tiap serangannya.
"Kau benar-benar ahli membuat kaget!" ucap Razeks sarkas. Dia sedikit kesulitan menjaga keseimbangan karena Seas muncul dari titik buta pandangannya. Seas menyadari hal itu, dia langsung menendang tumit Razeks dengan kekuatan yang cukup besar, membuat pria dewasa itu hendak terjatuh ke samping kanan.
"Sial!"
"[Teknik embun jarum: nomor 1, seribu jarum kaca.]"
Razeks akhirnya menggunakan seni miliknya. Dalam satu detik, di depan wajah Seas kini terbang belasan jarum kaca. Mata Seas ganti melihat ke wajah Razeks.
"Heh, kena kau." Razeks tersenyum lalu menjilat bibirnya sendiri.
SRAATT!
Jarum-jarum itu melesat bagaikan peluru dari pistol. Begitu cepat dan tidak bersuara. Beruntung Seas bisa menghindar, walaupun pipi kanannya kini memiliki 3 goresan yang mengeluarkan darah.
"..." Seas melompat beberapa meter ke belakang, tangan kanannya mengusap pipinya yang terluka. Perih dan agak sensitif. Tapi Seas tidak mengeluarkan ekspresi apapun saat mengusap darahnya.
Kini punggung tangan kanan Seas berwarna merah, darah yang berasal dari pipinya itu masih terus mengalir. Begitu juga dengan luka yang ada di perutnya.
"... Hah bangsat. Akhirnya aku tau rahasia jarummu. Pantas saja lukaku tidak menutup daritadi." Seas berdecak kesal, dia merasa dirinya sangat bodoh karena baru menyadari trik dari senjata yang Razeks pakai.
"Oh ya? Memangnya jika kau sadar, kau bisa melakukan sesuatu?" tanya Razeks dengan senyuman miring yang meremehkan. Walaupun yang dia katakan memang benar, Seas yang sekarang, tidak memiliki cara untuk mengatasi hal itu.
Jarumnya terbuat dari sesuatu yang bening. Gara-gara itu, aku jadi tidak berpikir bahwa jarum itu memiliki racun ataupun hal lainnya. Tapi ternyata aku salah.
"Aku memang tidak bisa melakukan apapun pada luka ini. Tapi ... aku menemukan sesuatu yang menyenangkan," ucap Seas diiringi senyuman yang licik. Razeks menaikkan sebelah alisnya, menatap Seas dengan pandangan tertarik.
"Benarkah? Tunjukkan padaku," tantang Razeks. Seas mulai melangkahkan kakinya mundur ke belakang, masuk ke dalam kegelapan.
Razeks masih diam, melihat apa yang akan Seas lakukan.
"[Teknik bayangan: nomor 3, langkah bayangan.]"
Syush.
Seas menghilang di dalam kegelapan. Razeks dengan sigap mengeluarkan jarum kacanya, matanya menelisik ke kiri dan kanan.
SYUT!
Sebuah jarum kaca terlempar cepat ke sisi belakang Razeks, namun beruntung dia menyadarinya.
TRANG!
Razeks menangkis jarum itu dengan jarum yang masih dia genggam di tangannya. Mata Razeks melebar, dia menyadari bahwa jarum yang menyerangnya, sama dengan jarum yang dia gunakan.
Ya, Seas memungut jarum Razeks yang tergeletak di tanah, dan dia gunakan untuk menyerang Razeks.
__ADS_1
Karena sejak awal aku tau, pertarungan jarak jauh itu merugikanku. Jadi ... aku akan mengalahkannya dengan caranya sendiri!
SYUT SYUT SYUT!
3 buah jarum terlempar lagi dengan cepat, Razeks masih bisa bereaksi walaupun dia masih agak kaget.
"Jadi ini cara yang kau bilang?" ujar Razeks yang tersenyum miring.
"Salah. Tapi ini yang kumaksud."
JREB!
CRAAT!
Jarum kaca itu menancap tepat di bahu Razeks, pelakunya adalah Seas yang muncul dari atas Razeks. Mata hitam Razeks langsung melotot, dia menatap Seas dengan murka.
"Aku memang tidak bisa menghentikan pendarahannya, jadi aku tinggal membuatmu mengalami hal yang sama, kan?" Seas tersenyum lebar hingga menampakkan gigi taringnya.
"Sialan!"
WUSH!
JREBB!
Razeks tanpa basa-basi mengarahkan jarum kaca yang dia pegang pada Seas, remaja laki-laki itu berhasil menahan jarumnya walaupun harus mengorbankan telapak tangannya.
"... Bagus, ini yang kuincar," gumam Seas sambil melihat telapak tangannya yang kini tertusuk oleh jarum kaca Razeks. Namun bukannya mencabut jarum kacanya, Seas malah menarik telapak tangannya, yang membuat jarum kaca itu ikut tertarik bagaikan menempel di tangan Seas.
"Apa?!"
"Kau harus merasakan hal yang sama denganku," jawab Seas sambil melayangkan jarum kaca itu ke leher Razeks.
JREBB!
CRAATT!
"AARRGHHH!" Karena Seas masih terus menempel di tubuh Razeks sejak luka pertama tadi, serangan Seas kali ini tidak terelakkan. Serangan cepat dengan jarum kaca yang tertancap di telapak tangannya, dia buat melukai leher Razeks hingga mengucurkan darah segar yang melimpah.
Razeks langsung terhuyung menerima serangan fatal dari Seas, tapi dia masih bisa mempertahankan kesadarannya. Dia langsung membalikkan badannya, berusaha menjatuhkan Seas yang terus menempel di punggungnya.
SYUT!
Seas melompat mundur, menghindari serangan dari Razeks.
Kedua pria itu saling terdiam dengan nafas yang memburu, luka dari Seas di leher Razeks, membuat pria berambut pitak itu kehilangan banyak darah. Sedangkan di sisi Seas, sejujurnya dia juga sudah agak kesulitan, rasa sakit di perutnya semakin lama juga semakin tidak karuan.
"... Kau benar-benar bocah yang licik."
__ADS_1
TBC.