Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
New Path!


__ADS_3

POV: Sky


Benarkah ...


Benarkah ini adalah pilihan yang tepat? Aku tidak tau, aku tidak tahu apa yang terjadi. Semuanya terasa sangat membingungkan ... ini membuat kepalaku sakit.


Seas yang berteriak agar aku menyelamatkan Valeria, dan Valeria yang berusaha keras melepaskan diri dari sosok pria asing di depan sana. Semuanya ... semuanya ...


Membebaniku.


Aku berbalik badan, mulai berlari dengan Hades di tanganku ke Valeria.


Tapi selanjutnya ... adalah hal yang tidak aku duga ...


CRAT!


***


POV: Author


Waktu rasanya seperti membeku. Telinga dan tubuh Sky merespon suara dan percikan darah hangat yang mengenai tubuh serta wajahnya. Di belakang, Seas tidak bisa berkutik sehingga dia berakhir dengan perutnya yang berhasil dilubangi oleh tangan Razeks.


Di depannya, pria yang menyandera Valeria menusuk ulu hati gadis itu hingga tertembus oleh pisau belati.


Bukan lagi kemarahan atau kesedihan yang Sky rasakan, namun hanya ada ...


Keputusasaan.


'Andai saja aku cukup kuat seperti Seas'.


'Andai saja, aku tidak ragu dalam hal ini ...'


'Aku ... menyerah'.


.


.


.


Di sisi lainnya, para agen tingkat atas, C dan X, bahkan para pembunuh lain, terhenyak dalam suasana hening. Langit yang menghitam karena asap dan polusi, suara derik api yang memakai dinding bangunan, rasanya menjadi semakin sunyi.


"... Perasaan ini ... apakah jangan-jangan, ada yang mengalami hal 'itu'?" X menatap lurus ke langit yang gelap.


Bukan hanya para agen di kekaisaran Hyacinth, namun juga yang ada di Underworld School, mereka juga merasakannya. Perasaan yang membuat merinding namun juga bergairah.


Di dalam ruang kepala sekolah, Rex mengisap cerutu dengan cepat dan dalam, lalu dia hembuskan. "Sky, ya? Aku memang sudah menduga bahwa dia yang akan mengalaminya lebih dulu," ujar Rex dengan cerutu yang tinggal setengah di tangannya.


Ada sebuah alasan khusus kenapa Agen Tingkat Atas hanya ada sangat sedikit jumlahnya. Selain karena tidak banyak yang bisa hidup sampai ke tahap ini, namun ada satu alasan lagi ...

__ADS_1


Yaitu, orang yang akan menjadi Agen Tingkat Atas, harus sudah pernah mengalami satu kali kematian, dan satu kali kebangkitan.


.


.


.


Sky Latrix, sudah membunuh dirinya ketika ia memutuskan untuk kabur dari rumah saat itu. Dan saat ini, di detik ini. Ketika kedua temannya dalam keadaan sekarat, barulah Sky membuka matanya yang sesungguhnya.


Orang bilang, jika tidak pernah merasakan rasa putus asa sampai ingin mati saja, maka orang tidak akan bisa berubah. Begitu pula dengan Sky. Keputusasaan terdalam yang dia alami saat ini, membuat sebuah kekuatan lain bangkit.


Waktu 'Pembuktian' Sky telah tiba.


Api merah yang menyala di sabit Hades, perlahan padam dan digantikan dengan api yang baru. Lebih panas, lebih kuat, dan lebih terang. Api biru yang membakar semuanya.


{KEBANGKITAN SKY: API KEPUTUSASAAN}


.


.


.


POV: Sky


Apa ini?


Pikiranku sangat jernih. Semuanya ... terlihat dengan jelas.


Aku bahkan bisa melihat wajah Razeks yang perlahan berubah menjadi sorot mata penuh kaget dan terkejut. Aku mengangkat Hades, dan langsung mengayunkannya dengan cepat. Bahkan Hades rasanya sangat ringan di tanganku sekarang.


CRAAASHH!


BLAAAR!


Aku melihat apiku mengenai Razeks, pria itu akhirnya melepaskan Seas, dan dia mulai terbakar hidup-hidup. Aku tidak bisa mendengar suara teriakannya, tapi aku tidak peduli.


Selanjutnya, adalah Valeria.


Aku melirik ke arah gadis itu, beserta wajah pria yang menyanderanya. Aku hendak menebas dan membakar pria itu juga, namun sebelum aku melakukannya ... pria itu tiba-tiba muntah darah, tubuhnya perlahan-lahan mulai hancur seperti kaca es yang tipis. Saat aku menoleh ke arah Razeks, dia juga sama. Tubuhnya hancur tiba-tiba.


...


Tidak boleh ... aku belum lega. Aku harus membunuh dan menyiksa mereka sebelum mati! Mereka sudah melukai Seas dan Valeria, beraninya mereka-


Greb.


Gerakanku terhenti, ketika merasakan tubuhku tengah didekap dari depan dan belakang.

__ADS_1


"Sudah cukup, Sky ... sudah cukup ..."


Suara yang rendah namun lembut, aku tau ini adalah suara X.


"Kau sudah bekerja keras, hentikan kobaran apimu ... kau bisa membakar seisi kota, Sky."


Lalu, orang yang memelukku dari belakang adalah ...


"S-Sky ... c-cukup ... tubuhmu ... ikut hangus ..." Suara parau dan serak dari Seas yang masih berusaha tetap sadar untuk menghentikanku.


Aku melihat tanganku yang memegang Hades, dan benar sesuai apa yang Seas katakan. Tanganku, bahkan terlihat hanya tinggal tulang dan beberapa daging hangusnya saja.


Setelah itu, aku merasa tubuhku tiba-tiba kehilangan tenaga. Bersamaan dengan pandanganku yang meredup, aku hilang kesadaran.


***


POV: Author


'Untung saja aku berhasil menghentikannya sebelum semakin parah ... aku harus bersyukur kerusakan yang Sky timbulkan hanya sebatas membakar kota ...' X menggaruk lehernya yang tidak gatal, dia sangat bingung sekarang.


Misi mereka dibatalkan karena semua musuh tiba-tiba mati sendiri. Karena itu, sekarang mereka sedang dalam perjalanan pulang dengan kereta super cepat. Entah bagaimana dengan Nera, C, serta Mores ... C bilang akan menyelidiki sedikit lebih lama, X pulang untuk mengobati tim Seas secepat mungkin. Kereta super cepat ini awalnya hanya beroperasi satu hari sekali, dan harusnya sudah beroperasi tadi pagi.


Namun karena ada pengecualian khusus untuk anggota US, mereka bisa menggunakan kereta ini agar sampai di dekat Underworld School dengan cepat.


Berkat kereta ini, mereka tiba di US hanya dalam beberapa menit. X segera mengangkut ketiganya ke ruang line of death, sebuah ruangan khusus bagi mereka yang benar-benar mendekati ajal.


Setelah mereka bertiga masuk, X hanya bisa menunggu dengan pasrah, apapun yang bisa terjadi nanti adalah hasil akhirnya. Saat pria it sedang termenung serius, seorang wanita mendatanginya.


"X, Rex memanggilmu."


.


.


.


"..." X memasuki ruangan itu dengan sorot mata yang lelah, dan datar. Dia bahkan tidak terlihat selelah ini ketika menjalankan sebuah misi yang berbahaya seorang diri. Di depannya, berdiri Rex yang bersandar di dinding sambil menyesap teh pahitnya.


"... Sky mengalami kebangkitan ya? Bintang apa yang dia dapat?" tanya Rex.


"... Aku tidak yakin ... Sky belum membuka matanya lagi, begitu juga dengan Seas dan Valeria ..." Rahang X mengeras menahan emosi, tangannya terkepal kuat.


Mekipun berhadapan dengan X yang kalap, Rex masih tampak tenang. "... Jangan terburu-buru, X ... aku tau ini mendadak, tapi ... anak-anak itu akan baik-baik saja. Percayalah padaku," ujar Rex dengan senyuman tipisnya.


X hanya bisa memaksakan dirinya untuk mengangguk, meskipun dia sebenarnya tidak percaya, sulit, tapi di satu sisi dia juga mau percaya bahwa mereka akan baik-baik saja.


"X, setelah ini ... mereka akan hidup dengan berbeda. Kau paham kan, apa yang aku maksud?" tanya Rex dengan seringainya.


X mengangguk.

__ADS_1


TBC.


[Arc Dark Diamond, End]


__ADS_2