Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Mansion lelang.


__ADS_3

..."Berarti ... organisasi ini lumayan besar sehingga Seas harus berhati-hati dalam melangkah!"...


POV: Seas


Sial! Aku ketiduran! Sekarang sudah jam 9 kurang 15 menit. Aku segera melompat dan turun dari atas atap, lalu berlari mencari mobil yang akan berangkat.


Mataku melihat sebuah cahaya terang dari sebelah gudang. Aku segera ke sana, ternyata pria itu sedang berbincang dengan orang yang memakai jas hitam.


Aku menatapnya dengan tajam, seperti berkata 'jangan bilang siapapun', lalu masuk ke dalam bagasi mobil.


"Hoo?! Ini sangat banyak! Kita akan sangat kaya malam ini!"


"Padahal nyonya hanya bilang ada satu orang, tapi ternyata kalian berhasil menangkap lebih banyak!"


"Kau akan mendapat bonus besar kali ini! Sampai jumpa!"


Pria dengan jas itu berbalik dan berjalan ke arah mobil. Aku segera menunduk dan berdiam di belakang.


Cklek! Brak! Brmm!


Aku memperhatikan jalanan dari kaca samping mobil, beruntung mobil ini tidak punya spion tengah, jadi aku bebas melakukan apa saja.


Hoo, dia tidak lewat jalan raya. Karena itu dia tidak butuh spion tengah ya? Dia melewati jalanan yang cukup ekstrim.


Pria itu membawa mobil ini ke sebuah bukit. Aku mengintip ke arah tujuannya. Ada sebuah mansion yang luar biasa besar di sana, bahkan ada banyak orang juga. Sepertinya organisasi ini tidak bisa diremehkan.


Saat sudah mendekati gerbang masuk, aku berdiri lalu melompati kursi, menuju ke arah pria dengan jas.


Bagh!


Aku memukul tengkuknya hingga dia pingsan lalu keluar dari mobil. Sebelum ada yang sadar, aku segera masuk ke dalam hutan dan mengamati dari atas pohon.


"Nah ... jadi bagaimana caraku masuk?"


Aku masih diam dan mengamati keramaian dalam mansion itu, kepalaku jadi sakit memikirkan bagaimana aku masuk ke sana ya? Apakah aku harus menyekap salah satu pelayannya?


Tapi aku tidak melihat ada pelayan yang keluar selama ini. Ugh, aku jadi mengantuk. Ini membosankan.


Mobil yang kunaiki tadi sudah masuk ke dalam, sepertinya dia sudah sadar. Yah, meskipun begitu dia tidak tau siapa yang menyerangnya.


Sepertinya aku harus menghubungi X. Aku meraba saku di celanaku.


...

__ADS_1


Sial, aku lupa tidak mengambil ponsel yang kumasukkan ke baju anak tadi! Arghhh Seas bodoh! Kenapa kau bisa lupa?! Itu ponsel pemberian Venom loh?!


Aku merutuki diriku sendiri di atas pohon, sebuah suara mengalihkan perhatianku.


"Apa?! Jadi kau tidak bisa hadir?! Bagaimana ini? Aku tidak punya pasangan untuk masuk ke dalam~," ucap seorang nyonya dengan dress berwarna ungu. Pakaiannya terlihat glamor, bahkan jaket yang dipakainya juga terlihat mewah.


"Aha~ sepertinya aku punya ide," ucapku sambil tersenyum miring. Aku melepaskan rompiku, menyisakan kaos panjang berwarna hitam. Begitu juga dengan sabuk berat yang melingkari pinggangku, jadi hanya tinggal celana hitam polos.


"Akan kusimpan di sini!" ucapku sambil menaruh barang-barangku di sela-sela pohon. Aku menatap dagger yang kuselipkan.


Sepertinya lebih baik aku membawanya, aku segera mengambil dagger itu lagi dan memasukkannya ke dalam kaos, untung saja dagger ini punya sarung, jadi tidak akan melukai perutku.


Aku menata rambutku sebelum turun dari pohon, yak! Kupikir ini sudah bagus! Aku melompat turun dan berjalan ke arah nyonya tadi.


"Selamat malam nyonya," ucapku sambil tersenyum. Nyonya itu membeku, sampai menjatuhkan dompetnya.


"Ya ampun~ kamu sangat tampan! Ada apa ini?~," tanyanya sambil bergelayut di lenganku. Tahan Seas tahan ... padahal harusnya lenganku adalah aset Venom.


"Begini nyonya, saya ingin masuk ke dalam juga, apakah anda bisa membantu saya?" tanyaku dengan nada memelas, tak lupa dengan ekspresi anak anjing yang sudah kulatih. Ini adalah cara yang ampuh saat Venom marah.


"Kyaaa! Kamu sangat menggemaskan! Sudah-sudah ayo masuk denganku!" Nyonya itu langsung menggeretku masuk. Hehehe, rencana wajah tampan berhasil.


Setelah memasuki gerbang, aku disambut oleh pesta para bangsawan. Astaga ... ini benar-benar parah. Kupikir setidaknya akan ada rasa anggun dan kesopanan dalam tiap gerakan mereka.


Ini lebih mirip seperti hewan. Mereka minum hingga mabuk, dan bahkan ... ada yang berhubungan intim di dalam sini.


Aku merasakan sesuatu yang kenyal di siku ku? ... Aku melirik ke arah nyonya yang tadi. Bulu kudukku merinding saat dia membuka jaketnya.


"Apakah kamu tidak ingin melakukannya?" ucap nyonya itu sambil mengusap dadaku. SIAL! AKU HARUS BAGAIMANA?!


A-AKU BELUM PERNAH MELAKUKANNYA!


Bohong jika aku bilang tubuh nyonya ini tidak bagus. T-tapi aku tidak ingin melakukan hal itu dengannya! Aku menelan ludahku dengan susah payah.


Tapi wanita ini malah semakin menurunkan pakaiannya! Oh Tuhan, cobaan macam apa ini?


Deg!


Aku merasakan sesuatu yang kenyal di siku satunya ... SEJAK KAPAN PARA WANITA INI BERKUMPUL DI SINI?!


"Wah Nyonya Mei, kau membawa anak yang tampan hari ini~," ucap seorang perempuan dengan dress hitam selutut. Aku bahkan bisa melihat pakaian dalamnya.


...

__ADS_1


ASTAGA JAGA MATAMU SEAS! KAU HANYA BOLEH MELIHAT PUNYA VENOM!


APA?! KENAPA PIKIRANKU MESUM SEPERTI INI?! PUNYA VENOM?! SADARLAH SEAS!


"Nah anak tampan~ ayo buka bajumu~." Seorang perempuan memelukku dari belakang lalu membuka resletingku.


... Tidak ada pilihan lain. Aku akan menggunakan teknik itu!


...[Teknik nomor 3. Langkah bayangan.]...


Dengan cepat aku sudah berada beberapa meter di depan para wanita tadi. Tapi mereka tidak sadar karena sibuk bermain dengan ilusi bayanganku.


Lebih baik aku segera lari sebelum mereka sadar! Keperjakaanku dalam bahaya! Aku bersembunyi di samping tembok setelah persimpangan, lalu membenarkan resleting yang terbuka.


"Dasar! Hampir saja aku-," ucapku sambil menghela nafas.


...


"Aku ... akan menenangkan pikiranku lebih dulu," ucapku lalu berjongkok dengan lemas. Tak kusangka menjaga kesucian itu sesulit ini.


"Akan kubunuh mereka nanti." Aku menatap dingin ke arah tembok di depanku. Para wanita dengan hawa nafsu itu, tidak akan kusisakan hidup setelah malam ini.


"Perhatian, 10 menit lagi pelelangan akan dibuka, mohon segera berkumpul di aula lantai 3," ucap seorang butler yang berotot sambil membawa nampan. Para bangsawan itu menyudahi aktifitas hawa nafsu mereka dan mulai merapikan pakaian.


Aku pergi ke arah yang berlawanan dengan mereka, lagipula tujuan kita sama.


Lantai 3.


Aku keluar dari jendela, dan mulai memanjat naik. Saat melewati lantai dua, mataku melihat jubah dengan bulu emas yang diletakkan di lantai. Hm ... sepertinya itu ... tidak asing? Entahlah.


Aku segera naik lagi dan membuka jendela lantai 3. Setelah masuk, aku berlari dan mencari dimana aulanya.


"NAH MARI KITA BUKA ACARA PELALANGAN HARI INI!"


Aku mendengar suara dari balik tembok, dengan cepat aku berlari dan menuju ke arah ruangan itu. Dan benar saja ... banyak manusia yang diperdagangkan di sini.


Mereka bahkan tidak diberi baju, dibiarkan telanjang seperti barang dagangan. Para bangsawan akan membeli mereka yang tubuhnya menarik untuk disentuh atau dinikmati.


Bahkan ada bangsawan pria yang juga membeli pria. Dan sebaliknya juga. Mereka benar-benar hanya menuruti nafsu mereka, dan orang yang dijual juga dipakaikan kalung anjing? Astaga.


"Hmm, bagaimana ya," ucapku sambil mengusap daguku. Aku menutup mataku, memikirkan rencana yang tepat.


"Oh benar. Begitu saja!" Aku mengeluarkan daggerku sambil tersenyum licik.

__ADS_1


..."Tidak akan ada yang bisa keluar dari ruangan ini."...


TBC.


__ADS_2