
POV: Seas
Ghost sialan! DIA TIDAK MEMBERITAHUKU BAGAIMANA CARA KELUAR DARI TEROWONGAN! Untung saja ada agen lain yang mengetahui keberadaanku, dan membantuku keluar dari sana.
Hampir saja aku jadi gelandangan yang dilupakan di Underworld School. Yah ... kalian masih ingat 'kan bahwa aku tidak punya rumah? Gara-gara Rex bodoh itu asrama kami hancur semua.
Sekarang aku sedang berada di pusat kesehatan Underworld School. Ini bukanlah tempat dimana aku dirawat dahulu, tempat ini lebih bagus dan punya perawatan yang lebih baik.
Walaupun sama-sama suram.
Aku tengah duduk bersandar di atas kursi, sambil menatap ruangan yang dilapisi kaca di depanku. Ya ... di dalam kamar ini ada Sky serta Valeria yang terbaring tidak sadarkan diri. Entah sudah berapa hari berlalu, mungkin 3 hari, tapi mereka tak kunjung sadar.
"Dasar ... bukankah yang kena racun aku? Kenapa malah kalian yang tidak bisa bangun?" Aku bergumam pelan, menatap kedua rekanku dengan sorot mata yang sedih. Sebenarnya ... aku juga sudah mendapat himbauan dari Venom tentang ujian yang kami laksanakan.
Tapi apakah aku bisa mengikutinya seorang diri? Tanpa Sky dan Valeria, hal ini sangat berat bagiku tentunya.
"Seas, lagi-lagi kau masih di sana?" Sebuah suara yang tak asing mengagetkanku. Dia adalah Venom, perempuan berambut hijau yang pertama kali datang untuk mengubah hidupku.
"Iya ... aku tidak bisa meninggalkan mereka. Walaupun aku tau ujiannya penting, tapi ... rasanya hampa melakukannya tanpa mereka." Aku berkata dengan tatapan yang agak ragu-ragu serta bimbang. Aku tidak lupa tujuanku masuk ke sini, tapi merasa sangat tidak adil jika aku melangkahi rekanku yang sudah membantuku sampai sejauh ini.
Ini juga bukan pertama kali kita dihadapkan di depan situasi hidup atau mati.
"Aku paham perasaanmu. Tapi bagaimana dengan perasaan mereka? Apakah kau tidak memikirkannya?" Venom bertanya secara tiba-tiba. Aku langsung membuka mataku lebih lebar, berusaha mencerna apa maksud Venom.
"Bayangkan perasaan mereka jika mereka tau mereka gagal di ujian ke-dua ini. Walaupun mereka berhasil melindungimu, tapi mereka pasti juga merasa sedikit sedih dan kecewa.
Aku tau kau berusaha menjadi rekan yang baik dan pengertian di sini. Tapi ... bukankah membawakan mereka tiket ujian ke-3 akan lebih membuat mereka senang?" Ucapan Venom menyadarkanku tentang sesuatu. Balas budi tidak hanya ditunjukkan melalui kata-kata saja, tapi juga perlakukan bukan?
Benar. Mereka sudah mempertaruhkan nyawa mereka untukku, sekarang giliranku!
Aku segera bangkit dari tempat dudukku lalu berlari menjauhi Venom.
"Terimakasih Venom! Aku titip temanku lebih dulu!" ucapku tanpa menoleh ke arahnya. Aku tidak tau reaksi macam apa yang kini Venom tunjukkan? Senyuman kecil? Atau bahkan dia tertawa? Entahlah, aku tidak peduli hal itu sekarang.
Tiket ujian ke-3. Aku datang!
***
Butuh waktu lebih dari 4 jam bagiku untuk menemukan mercusuar ini. Tidak ada mobil yang beroperasi, dan aku juga tidak bisa memakai mobil untuk sampai ke sini. Kalau aku memakai mobil, pasti akan menarik perhatian tim lainnya.
__ADS_1
Karena posisiku sekarang adalah sendirian, aku harus hati-hati. Posisiku sangat merugikan sekarang, baik secara jumlah maupun kekuatan. Aku harus bergerak dengan cermat.
Whus!
Aku melompat ke atas sebuah rumah kosong, dan mulai berlari di antara atap itu. Mungkin karena dulu aku sudah pernah berlari diantara tumpukan salju tebal, rasanya pergerakanku sangat jauh berbeda. Aku juga sangat menyadarinya baru-baru ini, langkah kakiku yang kini tidak lagi bersuara, pernafasanku yang makin lama makin lancar.
Atau bahkan insting serta naluriku yang berkembang pesat kali ini.
Whus!
Aku akhirnya sampai di depan pintu mercusuar yang berada di tepi pantai Underworld School. Saat aku melihat ke arah pantainya, aku baru sadar bahwa pasir pantai di sini sangat hitam, bahkan airnya juga hitam ... tapi mungkin warna hitam di laut itu pantulan awan.
Dengan hati yang berdegup kencang, aku mengetuk pintu kayu di depanku sebanyak 3 kali. Perasaanku lebih gugup lagi karena pintunya tidak kunjung dibuka, dan suasana hembusan angin pantai yang dingin ini membuat perasaan makin tidak enak.
Satu menit, lima menit, hingga lima belas menit, pintu kayu ini tidak kunjung terbuka.
Tunggu, apa jangan-jangan aku salah pintu? Atau aku salah mercusuar? TAPI DI SINI MERCUSUARNYA HANYA ADA SATU KOK?! PINTUNYA JUGA HANYA ADA INI?!
TIDAK MUNGKIN 'KAN PINTU YANG ASLI ADA DI ATAS SANA?!
...
Tidak mungkin ... kan?
AH BODOAMAT LAH, AKU PANJAT SAJA!
Aku langsung melompat kecil dan berpegangan pada tembok yang sedikit mencuat. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
"[Teknik bayangan: nomor 5, bayangan pohon.]"
SHEESS!
Dalam sekejap aku sudah berada di depan kaca mercusuar itu, dalam waktu hitungan detik sebelum aku jatuh, mataku mencari celah masuk ke dalam mercusuar ini.
Kanan? Kiri? Atas? Bawah? Depan? Belakang? Atau jangan-jangan pojok?
Pojok!
Mataku melihat celah kecil yang berada di bawah kaca, dengan posisi menghadap ke bawah. Aku langsung mengayunkan tanganku untuk mencari pegangan di sekitar sana, dan mulai berayun agar bisa masuk lubangnya.
__ADS_1
Yap! Berhasil!
Tak!
Aku mendarat dengan mulus setelah memasuki lubang kecil tadi. Mataku lalu melihat sekeliling.
Gelap, pengap, dan sangat sunyi. Apakah tempat ini kedap suara?
Loh? Kedap suara? Bukankah tadi ada lubangnya?
Aku menoleh lagi ke atas, dan benar saja ... ternyata lubangnya sudah menghilang. Kalau begini hanya ada beberapa kemungkinan.
Ini adalah jebakan, atau ini adalah ujian.
Aku mulai berjongkok, tanganku menyentuh bidang yang tengah kupijak. Teksturnya halus dan sedikit berdebu, tapi tidak licin. Bisa dipastikan bahwa ini adalah semen. Aku mulai berdiri, dan berusaha untuk menemukan dinding mercusuar ini.
Ini juga sama, semen ya? Tapi tidak ada lampu di sini. Bagaimana caranya melihat?
Klek.
Eng? Apa yang kupijak?
NGINGGG! WHUSSS!
Tiba-tiba suara berisik datang, bersamaan dengan itu, aku juga menyadari sesuatu. Lampu mercusuar ini menyala. Kalian tau kenapa?
Karena yang tadi kuinjak adalah saklar untuk menyalakannya.
DESAINER MANA YANG MELETAKKAN SAKLAR LAMPU DI BAWAH?! APA PERLU AKU YANG AJARI?!
Aku mengutuki diriku sendiri yang sangat ceroboh. Karena mercusuar ini menyala terang, pasti akan ada banyak orang yang datang kemari. Padahal aku belum bertemu dengan orang yang Ghost maksud!
"Tidak apa-apa, kau sudah lulus ujian ke-2."
Deg!
Aku menoleh ke kiri dan kanan, suara ini datang tiba-tiba tanpa peringatan.
"Lihatlah ke atasmu."
__ADS_1
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!