Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Seas yang teracuni.


__ADS_3

POV: Seas


Ukh ... dimana ini? Kenapa rasanya keras? Bukankah tadi aku sedang terjatuh di atas pasir?


...


HAH?!


"TUNGGU INI DIMANA?!" Aku langsung berteriak tiba-tiba.


"WHOAA!"


BRUK!


Orang yang awalnya menggendongku langsung menjatuhkanku karena terkejut. Aku langsung bisa merasakan bagian belakang tubuhku seperti patah, mungkin pinggulku keseleo.


"Tunggu ... kau?" Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalamnya.


"Apa kau baik-baik saja? Se-Seas?" Orang itu bertanya padaku dengan nada yang khawatir. Aku masih bingung dengan siapa orang ini, tapi setelah kuamati lebih lama lagi ...


Aku tau dia adalah Ruo.


"Ru ... o?" tanyaku ragu. Penglihatanku menjadi lebih baik, pandangan yang buram kini menjadi jernih, di depanku, ada remaja laki-laki dengan rambut merahnya, menatapku dengan tatapan khawatir.


Greb!


Eh? Apa?


Aku terdiam sejenak, mencoba memahami situasi saat ini. Ruo memelukku dengan erat, sangat erat rasanya hingga aku tidak bisa bernafas dengan baik.


"Tu-tunggu ... ses-sak!" ucapku sambil menepuk-nepuk pundaknya. Ruo yang sadar langsung menjauhkan tubuhnya dan memegang pundakku, matanya menatap ke arah mataku dengan serius.


"Kau ingat siapa namamu?" tanyanya.


"Tentu saja, kenapa tidak?" tanyaku bingung.


"Apa kau ingat tanggal berapa saat kau pingsan?" tanya Ruo lagi.


"... Mungkin 26?" jawabku bingung.


Mendengar jawabanku, Ruo menghela nafas lega. Dia langsung menatap ke arah dua orang di belakangnya.


"Aman! Dia tidak hilang ingatan!" ucap Ruo sambil mengacungkan jempolnya. Aku yang masih bingung hanya bisa diam dan mengerjapkan mata beberapa kali.


"Tunggu! Siapa kalian?!" tanyaku saat sadar bahwa mereka adalah orang asing. Dengan cepat aku mencoba untuk berdiri, tapi ... aku tidak bisa.


Kaki-ku ... tidak bisa digerakkan.


"He-hei ... kakiku kenapa? Bisa ... kalian jelaskan?" tanyaku mencoba bicara setenang mungkin. Ketiga orang itu hanya diam, mereka menatapku dengan tatapan iba.


"Katakan ... KENAPA DENGAN KAKIKU?!" bentakku keras. Ruo menutup matanya rapat-rapat, lalu mengusap wajahnya dengan pelan.


"Kau ... diberi racun pelumpuh dalam dosis yang mematikan. Telat sedikit saja ... mungkin otot jantungmu juga akan lumpuh. Yang bisa kami berikan sekarang hanyalah pertolongan pertama," ucap Ruo dengan ekspresi yang kecewa. Mendengar hal itu, aku langsung merasa murka. Di tengah ujian seperti ini, kenapa aku harus mengalami hal ini?


Aku menutup mataku, mencoba menahan rasa kesal di dalam hati.

__ADS_1


"Oh! Tunggu! Mana Sky dan Valeria?!" tanyaku saat baru sadar bahwa aku tidak lagi di arena gladiator.


Mendengar pertanyaanku, seorang remaja laki-laki dengan rambut hitam serta mata biru, kini datang menghampiriku. Dia berjongkok di hadapanku dan menelan ludahnya gugup.


"Sebenarnya ... ada cerita yang cukup panjang setelah kejadian di arena gladiator." Remaja laki-laki itu mulai berbicara tapi sambil menundukkan wajahnya.


"Cerita?" tanyaku bingung.


"Jadi ... sebenarnya setelah kita mengalahkan pembawa acara itu ..."


***


FLASHBACK


POV: Cedrik


Aku menatap kagum ke arah perempuan dengan rambut gelombang yang berwarna coklat kemerahan ini. Dia membawa senjata berat itu tanpa beban, bukan hanya itu ... keluesan gerakan, akurasi tembakan, pengambilan keputusan dalam sepersekian detik.


Apa ada perempuan yang sehebat ini selain dia?


"Wow! Kau luar biasa!" Remi bersorak senang sambil mengalungkan tangannya dari samping ke leher Valeria.


"Tentu saja~," ucap Valeria sambil menyibak rambutnya.


BZZZT!


Bazoka besar itu mulai mengeluarkan petir, dan langsung berubah menjadi anting. Anak yang bernama Valeria itu dengan tenang mengambil anting itu lalu mulai memakainya.


PASHHH!


"Sial! Ruo! Remi! Kalian dimana?!" teriakku. Tapi tidak ada jawaban, asap ini malah semakin pekat, dan mulai berbau aneh.


Aku bukanlah anak dari jurusan obat dan racun, aku tidak tau ini beracun atau tidak. Dan ... meskipun ini beracun, aku juga tidak punya pilihan selain menghirupnya! Skala gas ini terlalu besar, sebelum keluar dari sini, bisa saja kami akan terbunuh lebih dulu!


"Hahahaha! Bagus! Bagus! Kalian sangat luar biasa! Sudah kuduga ... Underworld School tidak pernah mengecewakan!" Suara itu tiba-tiba muncul tanpa arah. Aku tidak bisa menebak asal suaranya, bagiku semuanya terdengar sama.


Apakah karena asap ini?


"Siapa kau?! Keluarlah!" teriakku lagi.


"UHUK! UHUK!"


"Sky?!" Aku baru ingat bahwa Sky yang pingsan tidak bisa mengatur pernafasannya. Secara spontan aku langsung berjongkok dan memangku kepala Sky di pahaku. Aku menyobek sedikit lenganku, dan mengikatnya di hidung Sky dengan tidak rapat.


Ini bisa menyaring udaranya untuk beberapa saat. Tapi ini gawat, aku harus segera keluar dari sini! Kondisi Sky dan Seas yang paling dirugikan kali ini!


Aku menggendong Sky lagi, lalu hendak berlari keluar.


"Kau mau pergi? Boleh saja. Tapi kalau kau pergi, anak yang bernama Seas itu akan mati."


DEG!


"Apa?!" tanyaku marah.


"Kami sudah memberinya obat pelumpuh dengan dosis yang mengerikan. Yah~ walaupun kami juga bingung kenapa dia masih bisa bergerak tadi. Pasti karena darah terkutuknya yang membantunya untuk tetap bisa bergerak.

__ADS_1


Hihihi, tapi sekarang sudah selesai. Bahkan darah terkutuk sekalipun, tidak akan bisa menyelamatkannya."


Aku terdiam kaku, di dalam kondisi seperti ini. Aku yakin pasti Ruo dan Valeria akan maju untuk tetap di sini.


Tapi ... jika Ruo menggendong Seas, maka dia tidak punya pilihan selain mundur.


Jadi hanya Valeria saja yang akan maju?


Srek.


"Ng? Sky? Kau sudah sadar?" Aku merasakan gerakan di punggungku, tangan yang selama ini lemas di pundakku, kini mengepal kuat dan berusaha mendorong bahuku.


"Turunkan aku." Sky berbicara dengan nada yang sangat dingin.


"Apa? Tapi bukankah kau masih terlu-."


"AKU BILANG TURUNKAN AKU!" Sky membentakku, hatiku terasa berat untuk menurunkannya. Tapi ... aku juga tidak punya hak untuk menolak kemauannya.


Tap.


"Kau mau ke mana?! Bukankah kau masih sakit?!" tanyaku saat melihat remaja laki-laki berambut kuning, yang berjalan sempoyongan itu.


"Ayo mulai, Hades."


BLAARRRR!


WHUSSSS!


Asap hitam ini terdorong mundur. Api yang keluar dari senjata Sky bukan main panasnya, bahkan asap yang ada di sekitarnya sampai terdorong menjauh.


"Beraninya ... mereka memberi racun pada Seas?" Pelan, sangat pelan. Tapi aku yakin dia mengatakan hal itu.


BZZZZTTT!


JDAAARRRR!


Dari arah lain, aku mendengar suara petir yang menyambar dengan keras.


WHUSSS!


Angin berhembus kencang, awan hitam mulai datang layaknya dipanggil oleh seseorang. Asap pekat yang menyelimuti kami, ikut terbang tertiup oleh angin kencang tadi.


Kini aku bisa melihatnya dengan jelas.


Anak laki-laki dengan yang diselimuti api.


Dan anak perempuan yang memiliki kilatan di tubuhnya.


"Maju kau dasar baj*ngan!" ucap Sky serta Valeria bersamaan.


FLASHBACK END.


TBC.


Jangan lupa like dan komennya ya guys! Biar aku makin semangat nulisnya:3

__ADS_1


__ADS_2