Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Pertanyaan ke 7? (2)


__ADS_3

"Beritahu aku, Seas. Apa itu kegelapan, apa itu cahaya, dan apa itu bayangan?"


POV: Seas


Tes.


Dingin.


Tes.


Suara ... air?


Aku membuka mataku perlahan, menatap ke arah kegelapan di sekelilingku. Indraku terasa hampa, aku tidak bisa merasakan apapun.


Tes.


Kecuali bunyi air yang terus menetes sejak tadi.


"Di dalam jalan yang gelap dirimu tersesat ..."


"Siapa?!" Aku tersentak saat terdengar suara wanita itu. Tapi aku tidak bisa melihat dia ada di mana.


"Di dalam kegelapan itu maka kau akan temukan cahaya."


Ini ... pertanyaan ke 7!


Sringg!


Bersamaan dengan suara yang menghilang, seberkas cahaya mulai datang. Ukurannya mungkin hanya sekecil kancing baju, tapi cahayanya sangat terang. Aku berdiri dari dalam kegelapan itu, lalu berjalan menuju cahaya.


"Apa? Kenapa kau juga ikut bergerak?!" Langkah kakiku perlahan menjadi semakin cepat mengikuti cahaya yang terbang dengan cepat. Cahaya itu seolah menuntunku ke suatu tempat dalam kegelapan tanpa dasar ini.


"Hah ... hah ... hah ..." Aku terdiam saat cahaya itu berhenti. Nafasku seperti membeku di dalam paru-paru, kepalaku kembali berdenyut sakit ketika aku melihat tempat ini lagi.


Kenapa ... kenapa aku harus melihat mansionku lagi?


"Kenapa ... kau mengantarku ke sini?" Aku bertanya dengan nada yang letih pada cahaya itu. Bukannya diberi jawaban, dia malah menghilang ditelan kegelapan. Akhirnya hanya ada aku sendiri di depan rumah yang seperti mimpi buruk bagiku.


Tapi tempat ini lebih terang daripada tempat yang tadi, sehingga walaupun tanpa cahaya tadi, sepertinya aku masih bisa melihat.


Apakah ini ... ujian ke 7 nya? Berarti aku harus masuk bukan?


Aku menelan ludahku gugup, rasa takut yang telah mengakar hingga sarafku, seolah memberatkan kakiku dalam melangkah. Dengan langkah yang pelan dan lebar, aku membuka pintu megah namun suram di depanku.


Krieeettt.


DEG DEG!


"A-apa ini?" Aku tersentak saat melihat bagian dalam mansionku. Bukannya melihat dinding, justru aku melihat pintu depan labirin semak-semak yang entah sebesar apa.


BLAM!


Pintu di belakangku tertutup dengan cepat dan keras, seolah mengatakan bahwa aku sudah tidak bisa mundur. Aku mulai melangkah maju dengan ragu-ragu, semak-semak yang kulihat ini bukanlah tumbuhan biasa. Aku yakin pernah membacanya di salah satu buku catatan Sky, bahwa ini adalah tumbuhan beracun yang mematikan, terlebih pada bagian getahnya.


"Apakah aku harus ... menemukan jalan keluarnya?" gumamku pada diri sendiri. Aku berjalan masuk ke dalam labirin yang gelap ini, menyusuri setiap jalan dan belokan yang kutemui. Sering juga kujumpai jalan buntu hingga mengharuskan aku untuk berputar kembali.

__ADS_1


Tidak apa-apa, aku hanya harus menemukan jalan keluarnya.


***


"Labirin haram, sudah lebih dari 3 jam aku di dalam sini dan masih tidak ketemu jalan keluarnya!" Aku berteriak kesal sambil bersimpuh di lantai yang dingin. Kakiku sudah lelah berlarian ke sana kemari mencari jalan keluar, tapi pada akhirnya juga tidak ketemu.


Sial, labirin ini ... seperti hidup. Bagaimana bisa aku tidak menemukan jalan keluarnya sedikitpun! Seolah semua jalan yang kulalui memang buntu!


Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.


"Haruskan aku mencari lagi?" tanyaku pada diri sendiri. Aku kembali terdiam sembari menatap semak-semak yang menghalangi jalanku.


Atau ... aku hancurkan saja semuanya? Kalau aku menerobos lurus dan menghancurkan labirin semak ini, bukankah aku akan menemukan jalan keluarnya?


Tapi ... apa tubuhku bisa bertahan dari racunnya? Ah sial, ini membuatku frustasi.


"Hiks ... hiks ... hiks ..."


DEG!


Sial! Apa-apaan itu?! Kenapa ada suara orang yang menangis?! Ini membuatku merinding!


Aku mengeluarkan daggerku dan mulai berjalan mengendap-endap, menuju sumber suara ini. Tubuhku terasa sedikit merinding tiap kali suara tangisannya terdengar, semakin dekat, dan semakin jelas.


Aku terhenti lagi, menatap semak-semak yang menjulan tinggi di sekitarku.


"Hiks ... hiks ... hiks ..."


Di balik semak-semak ini, ada anak yang menangis.


"[Teknik bayangan: nomor 1, garis lurus.]"


SRAKKK!! SRAKKK!


Semak yang menghalangi ini kurusak hingga berlubang. Tak disangka dinding semak ini termasuk cukup tebal, membutuhkan dua kali gerakan agar aku bisa menembus semak ini.


Tapi tunggu ... kenapa di sini ... semakin gelap.


Tes.


Ukh, racun yang keluar dari getah semak itu juga mulai menyebar di udara.


"Hiks ... hiks ... hiks ... "


Aku menatap ganti ke arah kegelapan yang lebih pekat.


"Hei! Kau siapa?! Apa kau baik-baik saja?!" Aku sedikit berteriak sambil berjalan ke dalam kegelapan itu. Langkah kakiku terasa semakin tidak nyaman, hatiku berdegup kencang menerka apa yang akan muncul.


Cepyak cepyak!


Apa? Sepatuku basah? Memangnya apa ini?


Aku mengangkat kaki kiriku ke samping dan mulai menyentuh sepatuku yang sepertinya masuk ke dalam suatu genangan. Aku mengarahkan bekas basah itu ke hidungku.


"... Bau ... darah?"

__ADS_1


WHUSSS!


Aku terdiam begitu angin kencang menerpaku, di depanku ... kini terlihat sesosok anak yang seumuran denganku. Dia terduduk sambil menangis di tengah genangan darah.


Dia ... aku?


"Seas ... kau mau lari kemana lagi?"


DEG! DEG!


DEG DEG DEG!


Suara ini ... suara yang selalu menghantui mimpiku di setiap malam. Suara yang membuat tubuhku kaku setiap mengingatnya.


Dan suara yang membuat amarahku bergejolak di setiap katanya.


"Ka ... kak?" Aku menoleh dengan pelan ke asal suara yang kini masih ada di dalam kegelapan. Sedikit demi sedikit, sosok yang kulihat di malam terakhir saat itu muncul. Kakakku yang memakai setelan jas serba putih dengan noda darah yang banyak.


Datang pada kami berdua dengan membawa cambuk berduri.


"Hah? Ha ... HAHAHAHAHA! KENAPA ADA 2 SEAS DI SINI?!" Dia melotot dan kemudian tertawa setelah melihat kami berdua. Aku melirik ke arah diriku yang satu lagi, dia berhenti menangis, tatapan matanya penuh ketakutan seraya menatap cambuk berduri yang masih memiliki darah di sana.


"Baiklah baiklah~ diantara kalian berdua ... siapa Seas yang asli? Aku harus menghadiahkan kematian untuknya yang telah menungguku," ucapnya sambil terus bergerak maju.


GREEKKK!


Aku tau ini adalah mimpi buruk, jika tidak, kenapa sekarang semak-semak ini mulai mengeluarkan sulur dan menahan kaki kami berdua?


"AAAAAAA! TIDAK! AKU TIDAK MAU MATI! AKU TIDAK MAU MATI! TIDAK TIDAK TIDAK TIDAK TIDAK!" Aku menatap ke arah diriku yang mulai histeris sambil berlindung di belakang tangan mungilnya sendiri. Memangnya tanganku dulu seperti ranting ya?


Tapi menghadiahkan kematian bagi yang menunggunya? Benar juga ... dulu saat aku lari darinya, aku juga menunggunya untuk datang dan membunuhku.


Tapi ...


Aku sudah lama melepaskan diriku dari ketakutan masa lalu.


"Kau akan menghadiahkan kematian bagi mereka yang menunggumu? Lalu ... apa yang akan kau berikan pada mereka yang mencarimu?" Aku memaksakan kakiku untuk melangkah maju, sulur semak beracun yang menahan kakiku, putus namun kembali tumbuh, terus seperti itu berulang kali.


"Hah? Apa maksudmu? Apa kau akan menggantikan adikku yang ada di belakangmu untuk mati?" Pria ini bertanya sambil memainkan cambuk berdurinya. Aku tersenyum dan terus berjalan ke arahnya, hingga jarakku dan tubuhnya hanya 1 meter.


"Tidak, aku akan membantumu membunuhnya."


SYUNG!


JLEBB!


Aku melemparkan daggerku hingga mengenai kepala 'Seas' yang tengah menangis di tengah lautan darah.


Aku tidak membutuhkan Seas yang lemah. Dan aku membutuhkan wujud kakakku sebagai objek balas dendam. Jadi, yang harus kubunuh di sini bukanlah kakak.


Tapi diriku sendiri.


"Aku tidak akan jatuh ke lubang yang sama kali ini."


TBC.

__ADS_1


__ADS_2