
POV: Author
Sedangkan di sisi Agen C. Pria itu masih terdiam di lokasi yang dia porak-porandakan. Matanya menatap ke arah alat komunikasi yang baru saja dia injak hingga hancur tak berbentuk. "... Apa jangan-jangan sejak awal mereka tau tentang kedatangan kita?" tebak C sambil bergumam. Tiba-tiba di pikirannya terlintas tentang isu bahwa ada pengkhianat di Underworld School yang belum tertangkap.
Jika pemikirannya benar, maka hal seperti kedatangan mereka ke negara ini pasti sudah dibocorkan pada pihak musuh. C berdecak kesal, dia segera mengambil alat yang rusak itu dan mengantonginya ke dalam saku.
"Kau, ... Agen C, kan? Aku tidak salah lihat?" Suara seorang wanita mengalihkan perhatian C. Suara yang tidak asing dan terdengar ramah, membuat C menolehkan kepala pada wanita itu.
Agen C melihatnya, sesosok perempuan yang memakai gaun hitam panjang dengan rambut hitam lurus yang terurai. Mata hitam wanita itu mempunyai gemerlap seperti bintang di langit malam.
C masih mengingatnya.
"Nera?" tanya C tidak percaya. Wanita itu lalu tersenyum hangat, senyuman yang benar-benar tulus dan senang.
"C! Aku tidak menyangka kau akan datang lagi ke negara ini!" ucap Nera sambil berlari ke arah C. Wanita itu lalu memeluk C dari depan, membuat Agen C langsung kaku karena bingung harus bereaksi bagaimana.
"Nera ... kupikir kau sudah pindah ke negara lain setelah kejadian itu," ujar C bersamaan dengan dirinya yang mendorong Nera menjauh. Wanita itu memegang tangan C yang mendorong pundaknya pelan, dia tersenyum simpul sambil menatap pria yang ada di depannya.
"Kejadian itu, membuatku dan rekanku berhutang padamu, C. Karena itu, kami menetap di sini, dengan harapan bisa membantumu jika kau datang kembali.
Dan di sinilah kau sekarang, kau memberikan harapan bagi kami untuk membayar hutang budi ini." Nera menutup matanya lalu tersenyum, dia mengingat kejadian di masa lampau saat C dan rekannya menyelamatkan dirinya. Sedangkan C yang mendengar pernyataan Nera, masih menatap wanita itu dengan tatapan datar.
"Nera, kami menyelamatkanmu waktu itu, hanya sebuah kebetulan belaka. Karena kau terlibat di misi kami! Kau tidak harus membayar hutang budi apapun!" tegas C yang langsung dibalas dengan gelengan kepala oleh Nera. Sorot mata hitam wanita itu menatap C dengan tekad yang yakin, tak tergoyahkan.
__ADS_1
"Keputusan kami sudah bulat, C. Kami akan membantu kalian di misi kali ini. Dan aku yakin kau sudah merasakannya, misi kalian sudah bocor. Aku mendapat firasat bahwa misi kali ini akan sangat berbahaya, C," ujar Nera yang langsung membuat C menahan marah. Dugaannya terkait pengkhianat di dalam Underworld School semakin menguat. Tapi dia tidak bisa menemukan bukti apapun, pengkhianat itu bersembunyi dengan sangat baik di dalam Underworld School.
"... Begitu ya, baiklah. Bantuanmu aku terima, Nera. Terimakasih," ucap C yang baru saja menenangkan pikirannya. Nera tersenyum, dia mengeluarkan sebotol air putih dari tas hitam yang dia gantung di lengannya.
"Itu air pemulih stamina, minumlah," ucap Nera yang langsung dituruti oleh C. Dan benar saja, setelah meminum air itu sampai habis. C merasa tenaganya meledak-ledak. Semua rasa kantuk dan lelahnya setelah perjalanan panjang menghilang tanpa jejak.
"Ah ngomong-ngomong, berapa orang yang Underworld School kirimkan untuk misi kali ini?" tanya Nera setelah melihat C membuang botol kosong miliknya. C menyeka mulutnya sedikit berair, lalu menatap ke arah langit.
"5 orang, 2 agen tingkat atas termasuk aku, dan 3 murid andalan kami," ujar C yang langsung mendapat sorot mata kaget oleh Nera.
"Murid?! Mereka masih murid, C! Apa yang Rex pikirkan sampai mengirimkan muridnya ke misi yang sangat beresiko ini?!" ucap Nera tak percaya. Sedangkan C yang baru saja mendengar ucapan Nera, justru merasa lucu. Murid yang Nera anggap kemampuannya masih amatir, justru pernah menjadi sorotan yang bahkan bisa menggemparkan dunia bawah.
Baik itu Seas, Sky, atau bahkan Valeria. Ketiga anak itu memiliki latar belakang yang luar biasa. Yah, C tidak berniat untuk memberitahu Nera secara langsung. Dia ingin membiarkan Nera terkejut melihat ketiga muridnya sendiri.
"Nanti kau akan tau, mereka bukanlah murid biasa. Aku malas menjelaskannya, lebih seru jika kau melihatnya sendiri," ujar C dengan senyuman yang lebar. Nera yang awalnya panik, langsung dibuat bingung dengan perubahan ekspresi Agen C. Dia bertanya-tanya apakah ada yang lucu dengan ucapannya tadi. Namun C menjawab dengan gelengan kepala.
"Hanya Valeria?" tanya C dengan penekanan. Nera awalnya diam sejenak, namun berbagai spekulasi langsung menerpa pikirannya.
"Iya, hanya dia sendiri. Jangan-jangan ...," ucapan Nera terhenti, dia dan C saling bertatapan dengan serius.
"SIALAN! MEREKA MENYERANG PARA MURID TERLEBIH DAHULU!" C langsung berlari kencang, begitu juga disusul oleh Nera yang ikut berlari. Meskipun Nera menggunakan gaun, namun dia tetap bisa berlari dengan cepat karena Nera juga seorang pembunuh.
"Kau bilang mereka awalnya ada 3, bagaimana dengan yang 2?!" tanya Nera agak berteriak. C masih menatap tajam ke arah jalanan yang sepi, pikirannya tidak ada di tempat saat ini.
__ADS_1
"Aku yakin Seas akan baik-baik saja, tapi Sky ... aku benar-benar khawatir dengannya," ucap C dengan suara yang lirih, namun masih bisa didengar oleh Nera. Mendengar kedua nama muridnya yang C sebutkan, Nera langsung mengingat kedua nama itu dan berusaha ikut mencari keberadaan mereka.
C yang menduga bahwa Seas pasti baik-baik saja dan malah khawatir pada Sky, sebenarnya bukanlah hal yang salah. Karena kemampuan Seas memang lebih unggul daripada Sky.
Namun itu tidak berlaku jika lawan yang Seas hadapi, berada di level yang terlalu tinggi.
.
.
.
"Haah ... tidak asik. Bukankah kau terlalu membosankan? Seas?" ujar Razeks yang berdiri di atas tubuh yang berlumuran darah. Tangan kiri Razeks sesekali mengusap rambut putih tubuh itu, membuatnya tercemar dengan warna merah.
Ya, itu adalah tubuh Seas yang sudah terkapar sekarat. Hidup Seas berada di pertengahan antara hidup dan mati. Di atas tubuhnya, Razeks duduk dan dengan santainya mengotori tubuh Seas dengan darah yang tercampur tanah.
"Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak berniat menjawab pertanyaanku?" tanya Razeks pada Seas yang tak sadarkan diri. Tentu dia tak akan mendapat jawaban apapun. Namun hal itu membuat pria tak waras itu merasa kesal. Dia segera berdiri dan menarik rambut Seas hingga tubuh remaja itu terangkat ke atas.
Dia menatap wajah Seas dengan penuh amarah, walaupun kini Seas menutup matanya karena tidak sadar, tampaknya pria itu masih melampiaskan kekesalannya pada Seas karena berhasil melukai dirinya.
"... Aku berniat untuk memotong beberapa kaki dan tanganmu. Tapi tampaknya itu tidak perlu, lagipula ini hanya masalah waktu sampai kau mati kehabisan darah," ucap pria itu dingin. Dia lalu melepaskan tarikan rambutnya pada Seas, membuat sang empu kembali jatuh dengan kepala yang terbentur tanah.
Razeks kemudian menepuk-nepuk kedua tangannya, membersihkan darah kering yang jelas tidak bisa bersih jika tidak ada air. "... Waktunya berburu mangsa selanjutnya," ucapnya lalu melompat tinggi ke atas gedung.
__ADS_1
Dia meninggalkan tubuh Seas yang sekarat di dalam gang itu.
TBC.