
POV: Author
Di ruang kelas yang sepi itu, ada dua anak kecil yang tengah berkutat dengan selembar kertas. Di depan mereka, seorang wanita bermuka garang tengah mengawasi keduanya. Tangan kedua anak kecil itu tidak berhenti menari, menulis huruf demi huruf, angka demi angka.
"Bu! Aku sudah selesai!" teriak seorang anak laki-laki yang langsung melambaikan kertasnya di udara. Wanita yang awalnya menatap dengan garang, langsung tersenyum manis. Tangannya meraih kertas anak yang berteriak tadi, dan mulai memeriksa hasil pekerjaannya.
"Sempurna! Anda mendapat nilai sempurna, Tuan Muda Dira!" seru wanita itu bahagia. Tak lama kemudian, anak di sebelahnya baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
"S-s-saya juga sudah se-selesai!" ucap anak itu yang dengan gemetar dia memberikan kertasnya. Senyum wanita itu perlahan memudar, dia menerima hasil pekerjaan yang baru selesai dan mulai memeriksanya.
"... Delapan puluh. Sangat disayangkan, Tuan Muda Sky. Tapi anda sudah berusaha melakukan yang terbaik," ujar wanita itu lalu menaruh kertas Sky di bawah kertas Dira. Wanita itu lalu menggandeng tangan Dira, dan mengajaknya dengan lembut.
"Tuan Muda, bagaimana kalau kita berikan hasil ujian ini pada Nyonya?" tanya wanita itu yang langsung ditanggapi dengan senyuman oleh Dira. Keduanya mulai berjalan keluar dari ruangan, tanpa mempedulikan Sky yang juga ingin digandeng seperti Dira.
Apa, mereka sengaja meninggalkanku?
Tidak, kan? Aku juga mau digandeng seperti itu ...
Sky keluar dari ruangan itu seorang diri, dengan kaki kecilnya dia melangkah pelan, hingga dia sampai di ruangan yang berisi guru, Dira, dan juga orangtuanya. Sky masuk ke dalam ruangan yang pintunya tidak tertutup itu, melihat Dira yang sedang dipeluk dan begitu disayang oleh kedua orangtuanya.
"Tuan Muda Dira sangat membanggakan, beliau bisa menjawab semua soal dengan benar dan mendapatkan hasil yang sempurna," ujar guru wanita itu dengan senyuman yang senang.
"Benarkah? Anakku memang yang paling pintar!" ucap sang ibu sambil mengacak-acak rambut Dira, dan mencium keningnya beberapa kali. Setelah itu giliran sang ayah yang mengangkat tubuh Dira dari belakang, menggendongnya ke atas tubuhnya.
"Apa ada yang kau inginkan sebagai hadiah?" tanya sang ayah dengan wajah yang senang. Dira tampak berpikir sejenak, saat dia tengah melihat ke sana kemari, matanya melihat Sky yang masih diam di ujung pintu.
"Ah! Bagaimana kalau kita berlibur ke taman? Aku dan Sky sudah lama tidak bermain ke sana!" ujar Dira dengan wajah yang bahagia. Begitu mendengar nama Sky disebut, ketiga orang dewasa yang ada di sana langsung menatap Sky dengan tatapan datar. Sang ibu melirik ke arah guru wanita itu.
__ADS_1
"Tuan Muda Sky mendapatkan nilai 80, cukup pintar walaupun masih di bawah Tuan Muda Dira," ucap wanita itu dengan sedikit menundukkan kepalanya. Suasana di ruangan ini berubah menjadi dingin, membuat Sky merasa tidak nyaman.
"... Dira, apakah tidak ada hal lain yang kau inginkan? Bukan jalan-jalan bersama, tapi hadiah yang hanya untuk dirimu saja," ujar sang ayah lagi. Sky menatap nanar ke arah sang ayah, lalu ke arah Dira.
"..." Dira terdiam, senyuman yang ada di wajahnya memudar ketika melihat mata Sky yang berkaca-kaca. Dira kemudian melihat ke arah sang ayah.
"Tidak, Yah. Aku hanya mau jalan-jalan bersama dengan Sky. Aku ingin kita bermain bersama seperti dulu," ucap Dira tegas. Sang ayah ganti menatap ke arah sang ibu, lalu menghela nafasnya. Wanita yang katanya ibu dari Sky kini berdiri, dia berjalan mendekati Sky dan mulai membisikinya sesuatu.
"Katakan kalau kau tidak mau."
Saat itu, jantung Sky rasanya seperti diremas hingga kering.
Kenapa? Kenapa harus begitu?
Sang ibu mengambil jarak antaranya dirinya dan Sky, lalu mulai bertanya dengan nada yang lembut.
"Bagaimana, Sky? Apakah kamu mau? Hm?" tanya sang ibu dengan senyuman yang manis, tapi tidak dengan tangannya yang sedang menyentuh pundak Sky. Tangan yang tadinya mengacak-acak dan membelai Dira, kini justru mencengkeram pundak Sky dengan erat.
"Sky bilang dia tidak mau, dia pasti ingin belajar sendirian supaya bisa mendapat nilai yang bagus sepertimu. Yasudah, kita berangkat bertiga saja," ujar sang ibu yang tampaknya membuat Dira sedikit kecewa.
Padahal aku juga mau ikut, kenapa tidak boleh?
Sky meninggalkan ruangan itu tanpa suara, dia berjalan keluar secara perlahan, dan menghilang dari balik pintu. Sky memilih untuk kembali ke kamarnya, dia berjalan melewati lorong panjang yang gelap. Satu-satunya cahaya yang Sky lihat, hanyalah cahaya bulan yang menembus jendela dari sisi lorong.
Sky memasuki kamarnya yang sempit dan suram, berbeda dengan kamar Dira yang berhiaskan emas serta cahaya, kamar Sky bermandikan kegelapan serta debu yang kusam. Sky berbaring di tempat tidur yang agak kecil dan serba putih, dan perlahan dia mulai menangis.
Tok tok tok!
__ADS_1
"... Tuan Muda Sky?" Suara seorang pria terdengar dari luar kamar. Sky menghentikan tangisnya, dan melihat pintu kamarnya yang masih tertutup.
"Masuklah," jawab Sky dengan suara khas orang setelah menangis. Pintu itu kemudian terbuka, memunculkan sosok penjaga yang masih berseragam lengkap dengan pedang yang terselip di pinggangnya.
"Astaga, apa anda menangis lagi?" tanya Leonax sambil mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, dan mulai membersihkan mata Sky yang basah.
"K-kenapa kau ke sini?" tanya Sky setelah Leonax selesai mengelap wajahnya. Leonax tersenyum tipis dan duduk di lantai, di sebelah ranjang Sky.
"Saya mendengar suara seseorang yang menangis sendirian, jadi saya ke sini untuk menemaninya," ucap Leonax santai. Leonax mulai menutup matanya, dan berkata lagi.
"Tidurlah, Tuan Muda. Besok saya akan mengajarkan hal yang menarik untuk anda," ucap Leonax lagi. Sky menuruti perkataannya, dia segera menutup mata, berusaha untuk tidur. Tapi sekeras apapun Sky mencoba, dia tidak bisa melakukannya. Pada akhirnya Sky kembali membuka matanya, dan memilih untuk melihat bulan purnama dari jendela kamar.
"Apakah anda tidak bisa tidur?" Pertanyaan Leonax membuat Sky terkejut, Sky menoleh ke arah Leonax yang melirik Sky dengan tatapan mata yang bingung.
"I-iya, aku tidak b-bisa tidur," ucapnya ragu-ragu. Leonax tersenyum tipis, lalu menepuk kepala Sky pelan.
"Mau saya bacakan cerita?" tanya Leonax.
"... A-apa itu tidak masalah?" Sky menatap Leonax dengan tatapan mata yang berbinar. Tidur sambil dibacakan cerita adalah salah satu kegiatan favorit Sky. Sayangnya sekarang, orangtuanya hanya mau membacakan cerita untuk Dira saja.
"Tentu saja, itu wajar bagi anak usia 7 tahun untuk minta dibacakan dongeng sebelum tidur," jawab Leonax lembut. Leonax segera berdiri, mengambil sebuah buku bersampul hijau yang ada di atas meja belajar Sky.
"Dokter ... kematian?" Leonax terdiam, dia menatap buku dewasa yang ada di kamar Sky. Leonax ganti menatap ke arah Sky yang tampaknya menunggunya untuk bercerita.
"A-aku suka buku i-itu! Ceritanya ke-keren!" ucap Sky dengan mata berbinar. Leonax tertawa kecil dan mengacak-acak rambut Sky.
"Anda punya selera yang unik, ya? Baiklah! Akan saya bacakan, jangan takut ya," ucap Leonax dengan senyuman yang lebar. Sky mengangguk dengan cepat, dia segera membetulkan selimutnya dan mencari posisi tidur yang nyaman. Leonax mulai membacakan novel itu, pelan dan serius.
__ADS_1
Hingga akhirnya Sky terlelap malam itu.
TBC.