
*Masih di flashback saat tengah malam
POV: Author
Di atas sebuah gedung apartemen, Mores dengan menonton pertandingan seru dengan tatapan yang begitu antusias. Ya, dia sedang menikmati pertunjukkan Valeria sedang adu jotos dengan gadis yang bernama Maria.
BUGH!
Valeria menendang dada gadis itu dengan kuat, membuatnya terdorong mundur beberapa langkah. Tidak berhenti sampai di situ, Valeria kembali melayangkan tendangan dari samping yang mengenai pelipis Maria.
BUAGH!
BRUUK!
Tendangan terakhir yang diluncurkan oleh Valeria, membuat Maria terjatuh ke samping. Mereka sudah adu jotos lebih dari 2 jam. Padahal awalnya Maria lebih unggul karena dia bisa memukul Valeria berkali-kali, tapi nyatanya pukulannya tidak berhasil membuat Valeria tumbang. Justru semakin waktu bergerak maju, keadaannya berbalik, Valeria masih punya stamina yang banyak sedangkan Maria sudah kelelahan.
"Hanya begini saja? Ayolah, jika begini, kau bahkan tidak selevel denganku," ucap Valeria terheran-heran. Padahal dari data yang didapat dari X, Valeria yakin kemampuan gadis ini masih cukup mengerikan. Jadi Valeria bertanya-tanya kenapa dia merasa ini terlalu mudah.
"Hihi ... HAHAHAHAHAHA!" Gadis itu tertawa keras. Dia melotot dengan senyuman yang sangat lebar, matanya menatap Valeria dengan tatapan bengis dan penuh nafsu membunuh. Valeria agak tersentak, nafsu membunuh ini pernah dia rasakan dari seseorang, dan itu masih membuatnya agak merinding sampai sekarang.
Ya, nafsu membunuh yang dikeluarkan oleh Maria, mirip dengan nafsu membunuh milik Seas ketika hilang akal.
Nafsu membunuh yang kotor.
Mores yang awalnya hanya duduk tenang langsung berdiri, dia juga ikut merinding merasakan nafsu membunuh seperti ini. "Apa-apaan nafsu membunuh ini? Sial ... gadis itu psikopat!" Mores mengeluarkan bonekanya, dan langsung mengendalikan boneka itu dengan jarum tanpa wujud.
"[Teknik boneka Mores: Pengendali satu boneka.]"
KREIKK!
Boneka itu langsung melesat maju ke arah Valeria dan Maria. Valeria masih berdiam diri, dia hanya melihat ke arah Maria yang masih tersenyum dan menatapnya.
"[Teknik darah kotor: Kipas iblis.]"
SRAAT!
Maria melemparkan kipas tajam yang sebelumnya pernah dia lempar pada Valeria. Tentu saja kali ini Valeria juga berhasil menghindar seperti sebelumnya, tapi ada yang aneh dengan kipas itu.
Csss ... tes tes ...
Pipi Valeria terkena goresan yang cukup dalam. Valeria menyentuh pipinya dan melirik Maria. 'Kenapa? Bukankah tadi aku sudah menghindarinya? Kenapa aku masih terluka?' batinnya memikirkan alasan.
Tap!
Kipas itu kembali ke tangan Maria. Kipas yang awalnya berwarna putih abu-abu, sekarang berubah menjadi hitam dan merah. Kipas itu juga mengeluarkan aura merah yang membuat Valeria teringat seseorang.
"... Rupanya kau sejenis dengan Seas, ya?" gumam Valeria sambil menatap gadis itu tajam.
"Hihihi."
SYAAT!
Dalam sekejap mata, Maria menghilang dari hadapan Valeria. Hal ini membuat Valeria sangat terkejut, kecepatan tidak masuk akal yang bahkan tidak bisa diikuti mata.
__ADS_1
"Di sini~"
Maria muncul di samping kanan leher Valeria, sudah siap memotong lehernya menggunakan kipas tajam.
SRAATT!
TRAANGG!
Untungnya boneka Mores sampai tepat waktu, bonekanya mengeluarkan pedang yang menahan kipas Maria supaya tidak menebas leher Val. Dari kejauhan, Mores berteriak. "MENJAUH! VAL!"
Valeria yang disadarkan oleh teriakan Mores, segera mengambil langkah mundur. Namun naasnya, langkah yang dia ambil diketahui oleh gadis psikopat itu. "Mau lari?"
Syut!
"Tck!" Valeria berdecak kesal, lagi-lagi gadis itu kembali menghilang dari pandangan Valeria.
'Apa yang terjadi? Kenapa dia tiba-tiba menghilang? Apa dia punya teknik seperti milik Seas? Tapi itu mustahil, seni Seas adalah seni terlarang!' dalam hatinya, Valeria terus berpikir, mencari kemungkinan yang ada.
"Aku di sini."
Maria muncul diantara kedua kaki Valeria.
SYAAAT!
WHUSS!
Maria hendak memotong pergelangan kaki Valeria, namun untungnya boneka Mores berhasil menyelamatkan Valeria dengan mengangkat tubuh Valeria ke atas.
"Hm~ pengguna boneka itu cukup merepotkan ya ..." Maria berbicara sambil melirik ke arah Mores yang mengendalikan boneka dari jauh.
'Tidak, tidak boleh! Mores sangat buruk dalam pertarungan jarak dekat!' Valeria melepaskan diri dari boneka Mores, dia terjun ke arah Maria dengan tangan kosong.
"Lawanmu itu aku!"
BUGH!
KREEKK!
Valeria meninju atap apartemen dengan kekuatan penuh, membuat atap itu retak seketika. Tapi saat dia melihat ke arah tinjunya, Maria sudah menghilang entah kemana.
"Di sini~"
Maria muncul lagi dari belakang Valeria. Sekarang dia sudah tidak lagi memegang kipas sebagai senjatanya, dia memegang sebilah pedang yang cukup panjang, bersiap menebas punggung Valeria dari belakang.
"Ukh!" Valeria yang sudah sangat frustasi karena tidak bisa mengikuti gerakan Maria, berusaha bergerak dengan kecepatan yang dia mampu untuk berbalik, menghadap Maria.
Greb!
"Tertangkap kau." Valeria berhasil memegang pergelangan tangan Maria yang sedang memegang pedang. Tapi yang dia lihat, justru Maria yang sedang menyeringai.
"Aku sengaja tertangkap, bodoh~"
BUAGH!
__ADS_1
Maria menendang perut Valeria dengan tendangan lurus dari depan. Tendangan yang sangat kuat dan keras, bahkan membuat Valeria melepaskan genggaman tangannya pada Maria.
SRAAAK! BRUK!
Saking kuatnya tendangan itu, Valeria sampai terpental ke belakang beberapa meter. Akhirnya Valeria berdiam diri sambil berbaring di atas atap apartemen yang rusak.
'Sebenarnya apa sih tekniknya?'
Valeria melihat ke depan, Maria sudah menghilang lagi. Sekarang Valeria tahu seberapa kesal musuh Seas jika melawan bocah laknat itu. Mulut Seas sudah kurang ajar, tapi lebih kurang ajar lagi karena dia tiba-tiba menghilang dan menebas leher orang ketika muncul.
SYAAT!
KREETEEKK!
TRAANGG!
Maria muncul di atas Valeria, namun boneka Mores segera menghadangnya. Pedang gadis itu beradu dengan boneka milik Mores.
'Satu-satunya yang bisa mengikuti gerakan gadis itu sekarang adalah Mores, aku cuma jadi beban jika terus di sini' batin Valeria.
Untuk sejenak Valeria terdiam, tapi dia langsung berdiri dan menatap Mores dengan mata yang melebar.
'Benar juga ... kenapa hanya Mores yang bisa mengikuti gerakan Maria?'
"MORES! APA KAU MASIH BISA MELIHAT GERAKAN GADIS ITU?!" teriak Valeria langsung dari kejauhan. Mores yang sedang fokus melindungi Valeria, jadi agak kesusahan untuk menjawab.
"YA BISA LAH! AKU PUNYA MATA! KENAPA AKU TIDAK BISA MELIHATNYA?!" jawab Mores dengan emosi.
Valeria menyeringai, dia akhirnya menemukan jawaban dari teknik milik gadis ini. "Jadi begitu ya ... Mores masih bisa melihatnya ... hanya aku yang melihat bahwa kau seperti lenyap, padahal tidak," gumam Valeria senang. Dia melirik ke arah boneka Mores yang sedang bertarung melindunginya. Valeria merogoh saku celananya, dia mengeluarkan karet gelang yang berwarna kuning menyala.
"Alasan aku tidak bisa melihat gerakanmu, adalah karena teknik darah kotormu tadi, kan?" ucap Valeria sambil menguncir kuda rambutnya. Dia menyeringai lebar hingga menampakkan gigi taringnya.
"Pantas saja aku heran. Bagaimana bisa orang lemah seperti tadi tiba-tiba menjadi kuat? Kupikir kau bocah setan seperti Seas, tapi ternyata bukan." Valeria melepaskan anting yang dia pakai.
BZZZTT!
Anting itu mengeluarkan listrik kuning yang begitu menyilaukan di tengah kegelapan malam.
"Kau hanyalah bocah yang menggunakan ilusi dengan darah beracunmu. Ilusimu membuatku tidak bisa melihatmu," ucap Valeria sambil tersenyum sinis.
Maria berhenti menyerang boneka Mores, dia menatap Valeria dan tersenyum meremehkan. "Lalu kenapa? Hanya karena kau mengetahui rahasia teknik milikku, bukan berarti kau bisa mengalahkan aku."
Valeria tertawa.
"Tadi ya tadi, sekarang akan berbeda.
Benar, kan? Belmere. Ayo kita mulai."
BZZZZZTTT!
BLAARR!
Anting Valeria mengeluarkan petir yang sangat banyak, dalam sekejap mata, anting itu berubah menjadi senjata api.
__ADS_1
"Belmere, bentuk ke empat, riffle."
TBC.