Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Perebutan Surat!


__ADS_3

POV: Author


Valeria dan Revan saling diam, mereka hanya memandangi satu sama lainnya. Mata coklat Valeria beradu dengan mata emerald milik Revan.


Kletek.


DOR!


Satu gerakan yang dimulai oleh Valeria, memicu adegan panas di medan itu. Valeria tidak berhenti menembak, begitu juga dengan Revan yang tidak hilang fokus dalam menghindar dan bertahan. Mereka saling unjuk gigi dalam keahlian jarak jauh mereka.


Walaupun sudah tau bahwa nyawa mereka taruhannya.


[Teknik gravitasi nomor 1: pemberat.]


Revan mulai menggunakan kemampuannya lagi, dia meningkatkan berat dari setiap pisaunya sebanyak 10 kilogram. Dengan total sekitar 15 pisau, maka dia bisa mengendalikan logam seberat 150 kilogram dengan tekniknya itu.


ZING!


DUAR! DUAR!


Revan melemparkan dua buah yang langsung menuju ke arah Valeria. Dengan sigap, Valeria langsung menghindar, beruntung dia punya insting yang kuat. Penambahan berat bukan hanya menguntungkan untuk kecepatan, tapi juga daya rusaknya.


Harusnya pisau dengan berat normal, hanya mampu menusuk tanah tanpa membuatnya mengalami kerusakan area. Tapi dengan tambahan berat 10 kilogram ini, selain menambah daya tancap, pisau Revan juga mampu memecahkan tanah layaknya gelas kaca.


"Woah~ kau punya teknik yang mengerikan ya?" ucap Valeria sambil tersenyum. Dia berlari lalu bersembunyi di balik sebuah gedung, meskipun itu tetap saja percuma.


Karena Revan akan menghancurkan semuanya.


DUAR!


DUAR!


DUAR!


"Bersembunyi? Itu adalah pilihan yang bodoh, aku tinggal menghancurkannya kan?" ucap Revan dengan senyum meremehkan. Valeria hanya diam ketika diprovokasi seperti itu, tangannya sibuk mencari stok peluru di dalam celananya untuk dimasukkan ke dalam pistol.


Dalam hati, Valeria sedikit menyesal karena lupa membawa senjata baru miliknya. Jika menggunakan senjata itu, pasti mudah untuk mengalahkan pria ini.


Valeria bersembunyi lagi, dan bersiap untuk menembak Revan.


DOR! DOR!


TRANG!


Seperti sebelumnya, peluru Valeria ditepis tanpa masalah. Meskipun begitu, Valeria tidak menyerah. Dia terus berlari dan berusaha mencari celah untuk menembak.

__ADS_1


Entah apa yang dia rencanakan.


***


POV: Valeria


ARGHH aku lupa membawa senjata baruku! Dan apa-apaan pisaunya itu?! Sangat merepotkan! Ditembak tidak mempan, dipukul nanti tanganku yang hancur! Serius, bahkan besi saja langsung bengkok setelah menerima serangan dari pisaunya!


Kalau begini terus, bagaimana aku bisa menyentuhnya?!


Aku berdiam diri sambil menelan ludahku lelah. Di malam hari bahkan saat bulan masih berada di atas kepala. Kami sudah membuat keributan yang begitu besar di area ini. Aku takut semakin lama kami bertarung, maka ini akan menarik perhatian tim lainnya.


"Tapi ngomong-ngomong, aku kaget bahwa kau masih bisa sadar," ucapnya tiba-tiba. Aku menatapnya dengan bingung, dia mengurangi kewaspadaannya dan menatapku dengan datar.


"Gas itu. Aku kagum bahwa kau masih bisa bangun setelah menghirupnya," ucapnya lagi. Aku langsung tersadar, aku ingat gas apa yang dia maksud. Jantungku mulai berdetak dengan cepat, berharap itu bukan gas yang seperti kupikirkan.


"Itu adalah gas beracun yang diracik oleh dokter terhebat di tim kami. Tapi sepertinya kau memang punya imun tubuh yang kuat ya, tapi bagaimana dengan temanmu?" tanya Revan sambil tersenyum licik. Aku langsung memanas, rasa khawatir dan amarah mulai mengendalikan pikiranku.


Tenanglah Val, jangan termakan provokasinya. Terakhir kali kau bertindak irasional, Seas hampir mati karenamu. Tenanglah ... tenanglah diriku.


"Kau diam saja? Padahal temanmu akan mati loh. Jujur saja kan, selain kau dan si rubah putih, anggota kalian yang lain itu tidak berguna." Revan mendengus lalu memainkan salah satu pisaunya. Mendengar dia berkata bahwa Sky itu lemah, membuatku naik pitam. Dia belum tau rasanya dibakar hidup-hidup ya?


DOR!


TRANG!


"Justru kau yang kasihan, sepertinya dokter terbaik di timmu akan mati sebentar lagi," ucapku lalu meniup asap yang keluar dari ujung pistolku. Bisa kulihat bahwa Revan sedikit tersentak atas apa yang kuucapkan tadi.


"Hah? Apa kau bercanda?" Revan mulai serius, seluruh pisaunya kini menghadap ke arahku. Jantungku berdegup semakin kencang, bukan karena rasa takut atau khawatir seperti tadi.


Ini membuatku jadi lebih bersemangat.


"Kau belum tau sebutan Sky? Doctor of Death, ah tapi ini kurang cocok. Aku lebih suka menyebutnya Crazy Genius," ucapku sambil menyeringai hingga menampilkan gigi taringku.


"Hah! Omong kosong!" Revan langsung melemparkan pisaunya lagi. Aku sudah mengisi ulang peluruku, dan aku juga ada rencana baru.


Aku akan menggunakan teknik 'itu'.


Salah satu teknik istimewa yang diajarkan oleh X.


***


POV: Author


SRING! SRING! SRING! SRING!

__ADS_1


Tanpa diduga, Revan melemparkan seluruh pisaunya ke arah Valeria. Sementara orang yang bersangkutan masih berdiri dengan tenang dan hanya tersenyum.


"Aku harus tenang dulu kan?~," ucap Valeria hingga akhirnya ke-lima belas pisau itu menancap di tempatnya.


DUAR!


Bagaikan dihantam oleh logam seberat 150 kilogram, bahkan tanah di sekitarnya sampai ikut bergetar. Kepulan debu mulai berterbangan dan menghalangi pandangan. Hal ini membuat Revan tidak yakin apakah dia sudah menang atau belum.


"Kenapa kau melihat ke sana terus?".


DEG!


Revan dengan cepat langsung menoleh ke arah kirinya, karena dia mendengar suara Valeria dari sana. Tapi itu salah, Valeria ada di sisi kanannya.


BUAGH!


Valeria menghantam wajah Revan dengan punggung pistol di tangan kanannya. Wajahnya terlihat penuh amarah dan nafsu membunuh. Tidak ada belas kasihan untuk Revan kali ini.


[Teknik mata-mata istimewa: manipulasi kenyataan.]


Itulah nama teknik yang digunakan Valeria. Dinamakan teknik istimewa, karena teknik ini hanya bisa digunakan dalam beberapa keadaan bersyarat.


Yang pertama, musuh harus sangat waspada padamu. Kedua, pastikan musuh tidak bergerak dari tempatnya sedikitpun. Ketiga, kau harus berani untuk maju.


"Ketiga syaratnya sudah terpenuhi. Mampus kau hari ini, sialan! KEMBALIKAN AMPLOPNYA!" teriak Valeria lalu mencengkram kerah baju hitam milik Revan.


BUAGH! BUAGH! BUAGH!


Tanpa ampun dan tanpa henti. Valeria terus memukul wajah tampan Revan dengan pistolnya. Luka lecet, luka bakar karena panasnya ujung pistol. Memberikan dampak yang sangat menyakitkan.


Pluk.


Revan pingsan tak berdaya, dia menjatuhkan amplop itu dari dalam baju hitamnya. Valeria segera mengambil amplop itu dan berniat untuk membunuh Revan.


Tapi ternyata ada orang lain yang mengacau.


TRANGG! CRAANG!


Seketika tubuh Valeria terlilit oleh rantai berwarna biru gelap. Sontak Valeria langsung menatap ke arah orang yang melilitnya.


Wajahnya begitu mirip dengan Revan, mulai dari warna mata, warna rambut, bahkan bentuk wajah.


Dia adalah kembaran Revan.


"Apa yang kau lakukan, pada adikku?"

__ADS_1


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!


__ADS_2